
"Nah kalau seperti ini Mami ngerti. Anna sih ngejelasinnya pakai ribet jadi Mami nganggapnya bukan seperti ini," sahut Raina.
"Kalau gitu, segera bawa orang tuamu ke rumah, dan kalau bisa minggu-minggu ini supaya jika kedua keluarga sudah setuju, bulan depan kalian bisa langsung menikah," tegas Raina yang sontak membuat Anna melongo.
"Tadi aja sok-sokan gak setuju sekarang paling semangat," cibir Anna.
"Itu karena penjelasan kamu yang kurang Mami pahami. Makanya kalau ngasih penjelasan sama orang tua itu harus jelas biar gak salah paham," sahut Raina tidak ingin kalah.
"Ah alasan," ketus Anna yang masih saja kesal dengan Maminya.
"Salman ... inilah sikap buruk Anna, dia tidak pernah mau mengalah sekalipun sama maminya sendiri. Apa kamu yakin dengan pilihan kamu," ucap Alex yang tidak ingin Salman menyesal akhirnya.
"Saya sudah tahu sifat Zeanna. Sama saya aja dia gak pernah mau ngalah," sahut Salman seraya tersenyum.
"Saya menerima Zeanna, seperti apa pun sifatnya," sambung Salman.
"Apaan sih malah jadi ngomongin aku?" keluh Anna.
"Sayang ... bukan ngomongin kamu, Papi cuma lagi buka aib kamu yang gak pernah mau ngalah," jelas Alex seraya tersenyum.
Anna memanyunkan bibirnya. Tapi meskipun seperti itu dia senang karena hal yang dia takuti akhirnya sudah lewat.
"Urusan Bang Fais gimana?" lanjut Anna.
"Itu urusan kita, Sayang. Kamu gak perlu khawatir," sahut Alex menenangkan.
"Saya juga mau ijin untuk membawa Zeanna ketemu sama Ibu di kota XX, paling lama dua hari. Bagaimana?" ucap Salman minta ijin.
"Silahkan, Papi yakin kalian bisa menjaga diri kalian dari hal-hal yang dilarang, iya, kan? Papi percaya sama kalian," sahut Alex memberi ijin.
"Ya, udah sekalian kita ketemu sama Abang aja," sahut Anna.
"Gak usah. Kamu fokus sama ibunya Salman dulu. Fais urusan Papi," tegas Alex melarang.
"Baiklah," sahut Anna sambil melirik ke arah Salman yang tersenyum ke arahnya.
***
Alex dan Raina pulang ke kotanya dan hari ini Anna akan meminta cuti untuk tidak masuk kerja. Dia mengambil cuti selama 4 hari, meskipun Salman minta 2 hari, tapi Anna ingin menghabiskan waktu santainya dulu sampai akhirnya nanti masuk lagi kerja.
"Kamu udah ngajuin cuti?" tanya Salman ketika menjemput Anna pulang dari rumah sakit.
"Udah, besok baru keluar surat cutinya," jawab Anna seraya menyandarkan punggungnya di sandaran jok.
"Aku akan pesan tiket pesawat sekarang, biar besok setelah surat cuti keluar kita bisa langsung berangkat. Kita ambil penerbangan sore aja, ya?" sahut Salman meminta persetujuan.
__ADS_1
"Terserah aja," jawab Anna.
"Mau tidur di apartemen?" tawar Salman.
"Enggak, aku belum packing," jawab Anna.
"Packing sekarang aja biar cepat," sahut Salman lagi.
"Tumben ngajakin aku nginep, ada apa? Kok aku jadi curiga," tanya Anna penuh selidik.
"Aku lagi pengin meluk kamu, cuma itu," jawab Salman jujur.
"Hahaha ... ketagihan, ya," goda Anna sambil mengacungkan telunjuknya menunjuk ke Salman.
"Iya, kenapa?" sahut Salman sambil tersenyum.
"Hahahaha ... tubuh aku mengandung cafein, hingga kamu jadi ketagihan," lanjut Anna tertawa.
"Jadi, ya nginep?" ulang Salman dan Anna mengangguk.
Salman seperti biasa menunggu Anna di depan gerbang. Anna segera membereskan pakaian yang akan dia bawa ke rumah calon mertuanya dan juga pakaian untuk ganti malam ini.
hanya butuh waktu 20 menit, Anna sudah kembali dengan koper kecilnya dan kembali masuk ke mobil Salman.
"Udah, gak ada yang ketinggalan?" tanya Salman.
"Mau masak apa beli?" tanya Salman.
"Masak aja. Kebanyakan beli belum tentu sehat," jawab Anna tegas.
Kalau untuk urusan makanan Anna selalu ingin menyiapkannya sendiri. Kadang-kadang beli jika sudah sangat capek, dan tidak memungkinkan untuk masak.
Anna dan Salman udah sampai di apartemen. Dia menyimpan kopernya dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Zea," panggil Salman lembut.
"Apa kamu gak capek?" sambung Salman.
"Aku udah biasa kayak gini, kecuali kalau bener-bener capek pasti aku langsung tepar," sahut Anna.
"Nanti setelah menikah, mau tinggal di sini atau di kota dengan Mami kamu?" tanya Salman yang ditanggapi gendikkan bahu oleh Anna.
"Terserah kamu aja," jawab Anna.
"Jangan selalu terserah aku, dong," protes Salman.
__ADS_1
Anna memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Salman.
"Kalau di kota kelahiran aku ... kamu mau kerja apa? Dan aku?" tanya Anna seraya menunjuk pada dirinya sendiri.
"Kalau di sini ... kerjaan kamu udah jelas, aku juga," lanjut Salman.
"Apa aku boleh menarik kesimpulan jika kamu pengin tinggal di sini?" tebak Salman hati-hati.
"Mungkin," jawab Anna ambigu.
"Aku serius, Sayang ... kalau misalkan kamu mau tinggal di kota kelahiranmu, aku masih bisa kerja di tempat Yayasan yang ayah tinggalkan, sekolah kamu dulu," jelas Salman.
"Enggak ... aku mau di sini aja. Biar tenang. Kalau di sana Mami pasti bakalan ngomel-ngomel," keluh Anna.
"Jadi ceritanya kamu masih marah sama Mami kamu?" goda Salman sambil melipat kedua tangannya.
"Udah ah, lagian kawinnya aja belum udah mikirin tempat tinggal, pusing," keluh Anna lagi sambil memutar tubuhnya.
Salman buru-buru memeluk Anna dari belakang. Dia menggoda Anna karena ucapan Anna.
"Kalau untuk kawin gak perlu nunggu sampai satu bulan lagi, sekarang juga bisa," goda Salman sambil berbisik.
"Apaan sih," sahut Anna tersipu.
Salman memutar tubuh Anna untuk kembali menghadap ke arahnya.
"Aku udah gak sabar nunggu waktu satu bulan. Rasanya sudah seperti satu abad," ucap Salman seraya mengusap-ngusap pipi Anna.
"Mau dicoba?" goda Anna dengan berani.
Salman menaikkan satu alisnya dan kemudian menyentil kening Anna.
"Kamu tuh kalau bicara suka mancing-mancing aku." Salman terkekeh dan Anna tertawa puas.
"Habisnya gak sabaran amat. Di mana-mana satu bulan tuh sama, gak seabad," jawab Anna terkekeh.
"Rasanya masih seperti mimpi, Zea. Aku bisa menyentuh pipimu seperti ini, memelukmu bahkan aku sudah bisa ...." Salman menggantungkan ucapannya dan ucapan terakhirnya langsung dia prakteknya dengan mencium bibir Anna dengan lembut dan bernapsu.
Anna yang sudah mulai terbiasa dengan hal yang sedang Salman lakukan, dia pun merespon dan mengalungkan tangannya di leher Salman agar ciuman mereka bisa berlangsung lama tanpa lepas.
"Nanti ketika di rumah Ibu, kita gak mungkin tidur satu kamar. Jadi, aku sengaja ngajak kamu tidur sekarang biar nanti ketika di rumah Ibu aku bisa tidur dengan nyenyak karena sudah memeluk kamu semalaman malam ini," ucap Salman ketika melepaskan bibirnya dari bibir Anna.
"Kirain kamu bakalan berani ngajak aku tidur bareng di rumah ibumu," goda Anna.
"Jangan, Sayang ... Ibu orangnya panatik kayak Mami kamu," jelas Salman.
__ADS_1
"Hadeuh gimana coba kalau ibunya sama kayak Mami," batin Anna.