
"Maaf," ucap Salman seraya mengusap bibir Anna.
"Kamu nyuri first kiss aku," sahut Anna malu-malu.
"Maaf, ya." Salman menatap lekat mata Anna yang saat ini masih dalam posisi tiduran.
"Ish ... kalau di film gak kayak gini?" keluh Anna seraya menutup wajahnya.
"Hahahaha ... jadi udah berani nih nonton film yang ada kiss-nya? Matanya udah gak di tutup lagi?" sahut Salman seraya mengusap-ngusap kepala Anna.
"Aku tuh udah 23 tahun ... udah dewasa. Jadi, udah gak perlu di sensor lagi," jelas Anna percaya diri.
"Kalau udah dewasa berarti udah bisa aku ajak ke pelaminan dong," jawab Salman cepat.
"Itu mah tunggu aku selesai dulu," jawab Anna cepat.
"Janji, ya ... aku bakalan nangih janji kamu setelah selesai semuanya." Salman tersenyum.
"Iya. Makanya jangan macam-macam ... masih lama halalnya," goda Anna.
"Aku cuma berani ini ... cuma satu macam aja. Swear gak akan berani yang aneh-aneh," jawab Salman tegas.
"Ya ampun kamu serius amat, bercanda kelesss," cibir Anna seraya tersenyum.
"Itu artinya?" Salman memasang isyarat.
"Gak ada artinya," jawab Anna sambil terkekeh.
"Zeanna," Salman mengacak rambut Anna.
"Ish rambut aku jadi berantakan," keluh Anna dan Salman merapikan kembali rambut Anna seraya menarik Anna ke dekapannya.
"Seandainya bisa seperti ini terus," ucap Salman seraya menyesap aroma shampoo Anna.
"Bisa," jawab Anna cepat sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Salman.
Salman menaikkan satu alisnya. "Bisa?" ulang Salman.
"Iya, ini buktinya," jawab Anna seraya membalas dekapan Salman.
"Malam ini aku boleh tidur di sini?" ucap Anna kemudian.
"Tumben, biasanya kamu nolak," jawab Salman.
"Aku lagi pengin aja. Masih rindu mungkin," jawab Anna seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Salman.
"Gak bakalan dicariin sama ibu kost?" selidik Salman yang tidak ingin nantinya malah jadi masalah buat Anna.
"Enggak, Ibu kosnya gak pernah bertanya kecuali kalau aku bawa cowok baru bakalan banyak tanya," jelas Anna.
"Ya udah malam ini tidur di sini aja, biar sekalian malam mingguan," sahut Salman antuasias.
"Enggal malam mingguan, aku mau tidur full," jawab Anna sambil menggoda Salman.
__ADS_1
"Iya, iya ... aku gak bakalan ganggu," pungkas Salman.
Berada di pelukan Salman membuat Anna merasakan kedamaian dan kenyamanan. Selama hampir 7 Minggu Anna dan Salman bersama, baru kali ini Salman mencium bibir Anna. Selebihnya dia hanya berani memeluk dan mendekap tubuh Anna sambil tidur pun baru berani dia lakukan sekarang.
"Percayalah aku tidak mungkin akan melakukan hal-hal yang akan membuat kita rugi, Zea. Aku tahu batasannya," ucap Salman ketika memeluk Anna yang sambil tiduran.
"Iya, aku percaya," jawab Anna cepat.
"Zea," panggil Salman seraya melonggarkan dekapannya.
"Hemmm," sahut Anna.
"Perasaan kamu manggil aku hanya kamu, kamu dan kamu, gak pernah dengar manggil yang bener," ucap Salman yang seketika membuat Anna mengerutkan keningnya.
"Emang aku harus manggil apa?" jawab Anna malah melemparkan kembali pertanyaan pada Salman.
"Gini aku kasih contoh. Kalau misalkan ada tamu, terus kamu manggil aku ... nah, untuk ngasih tahu aku manggil akunya kayak gimana?" Salman penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Anna.
"Itu ada tamu datang ... kayak gitu," jawab Anna yang langsung disambut gelak tawa oleh Salman.
"Kalau ngasih tahunya berteriak?" lanjut Salman.
"Ya kayak tadi aja, tapi suaranya ditinggikan," sahut Anna.
"Zea." Salman menarik napasnya panjang.
"Emang kamu mau aku panggil apa? Bapak lagi?" ucap Anna cepat.
"Enggak ... aku bukan gurumu lagi," sahut Salman cepat.
"Terserah asal jangan Bapak aja," sahut Salman.
"Oke, aku panggil nama aja, oke?" tawar Anna.
"Terserah, asal jangan panggil aku Bapak, nanti dikiranya aku pacaran sama anak dibawah umur," jelas Salman yang langsung membuat Anna tertawa.
"Bener, kan aku masih di bawah umur," goda Anna.
"Iya di bawah aku," tegas Salman seraya kembali mendekap tubuh Anna.
"Hai," panggil Anna sambil menusuk-nusuk dada Salman dengan telunjuknya.
Salman melonggarkan pelukannya kemudian menatap Anna dengan alis yang berkerut.
"Kenapa jadi hai?" selidik Salman.
"Rasanya gak sopan kalau mesti manggil nama. Nanti aku dikiranya anak songong yang gak bisa manggil orang yang lebih tua dengan benar," jelas Anna.
"Gak apa-apa, aku gak keberatan ... daripada Bapak aku gak mau," jelas Salman.
"Salman," ucap Anna ragu-ragu.
Salman tersenyum. Suara panggilan namanya terdengar merdu.
__ADS_1
"Aku suka," sahut Salman sambil mencubit pipi Anna.
***
Malam hari, Anna yang berniat untuk nginap di rumah Salman. Dia terpaksa harus meminjam pakaian Salman untuk berganti. Anna mengganti pakaiannya dengan kaos oblong Salman yang jika dipakai Anna hanya menutupi sebagian paha Anna saja.
"Anggap aja aku lagi pakai hotpants," gumam Anna seraya menatap dirinya di pantulan cermin kamar Salman.
"Zea, udah ganti bajunya?" teriak Salman sambil mengetuk pintu kamar.
"Udah, masuk aja," sahut Anna yang memang sudah terbiasa memakai pakaian pendek seperti itu.
"Zea, kenapa gak pakai training?" tanya Salman ketika melihat Anna yang hanya memaki kaosnya saja.
"Gerah ... lagian ini aku udah kayak lagi pakai hotpants, jadi gak apa-apa, kan?" sahut Anna.
"Kamu jangan bikin aku khilap karena kamu yang mancing-mancing pakai baju seperti itu," gertak Salman.
"Kan kamu udah janji gak bakalan macam-macam. Awas aja kalau berani." Anna malah balik mengancam Salman.
"Enggak, aku gak mau beresiko," tegas Salman seraya mencari celana pendek yang biasa dia gunakan ketika tidur.
"Nih, kalau gerah pakai yang ini aja. Ini pendek dan gak bakalan bikin gerah," tegas Salman.
"Kamu sih tadi malah ngasih aku training panjang, kan jadinya aku kepanasan," kilah Anna seraya mengambil celana pendek untuk dia pakai di kamar mandi.
"Huh untung saja dia nurut, kalau enggak ... aku gak bisa bayangin kalau malam ini tidak akan terjadi sesuatu," batin Salman.
Salman duduk di tepi kasur seraya membawa bantal untuk dirinya tidur di ruang televisi. Dia tidak mungkin menyuruh Anna tidur di ruang televisi, karena pasti Anna tidak akan nyaman.
Anna keluar dari kamar mandi dan melihat Salman sudah siap untuk membawa bantal.
"Kamu mau ke mana?" tanya Anna sambil berdiri di depan Salman.
"Mau tidur di luar," jawab Salman seraya berdiri.
"Kok di luar? Di sini aja," jawab Anna.
"Kan kamu di sini," jawab Salman cepat.
"Ya, kita berbagi tempat tidur aja. Ini tempat tidur gede, jadi muat untuk kita," jelas Anna.
"Kita tidur di kasur yang sama? Kita tidur bareng?" ulang Salman meyakinkan.
"Iya, tinggal pakai pembatas bantal guling aja biar gak melewati batas kita," jawab Anna santai.
"Yakin?" ulang Salman meyakinkan keputusan Anna.
"Iya, lagian di rumah sakit aku sama dokter jaga laki-laki sering tidur bareng, gak masalah," jelas Anna yang membuat Salman melotot.
"Kamu sering tidur bareng sama cowok?" Nada bicara Salman naik satu oktaf.
"Iya, di meja tunggu, kan ada kursi dua, aku pakai kursi yang satu orang lain satu lagi. Sambil duduk pun masih bisa tidur," jelas Anna.
__ADS_1
"Ish kamu mikir aku tidur bareng di kasur seperti ...." Anna menggantungkan ucapannya.
"Enak aja, aku tuh tidur di kursi sambil duduk. Bukan hanya aku ... orang lain juga sama kayak gitu. Pikiran kamu tuh kejauhan," cibir Anna yang seketika membuat Salman tersenyum lega, karena ternyata tidur bareng ala Anna adalah tidur di kursi pada meja yang sama yang saling berseberangan.