
Anna panik, dia menatap ke arah Salman yang juga terlihat panik.
"Kenapa gak hati-hati, jadinya repot," batin Salman.
"Sayang ... obatnya udah kamu belikan ternyata," ucap Salman seraya memasang isyarat pada Anna untuk mengikuti permainannya.
"Ah iya, tadi sekalian aku belanja, Mas," jawab Anna cepat.
"Ini obat siapa?" ulang ibunya Salman.
"Ini tuh obat istrinya teman aku, Bu. Dia mau ikut KB, tapi tidak ingin langsung berhubungan dengan bidan atau dokter karena trauma, bahkan ke apotek aja dia gak mau karena trauma juga. Jadinya, dia konsul sama aku dan kebetulan aku ngobrol sama Zea, dan Zea mau membantu membelikan obat KB-nya. Gak kebayang kalau aku yang harus beli, nanti penjaga apoteknya banyak tanya dan aku bingung karena gak tahu, kalau Zea pasti tahu karena dia, kan dokter," jelas Salman berbohong menutupi keadaan yang sebenarnya.
Anna yang mendengar Salman rela berbohong demi menutupi kesalahannya pun merasa tidak enak hati karena secara tidak langsung biang Salman berbohong adalah dirinya.
"Sampai segitunya kamu berbohong menutupi aku, Mas. Maafkan aku," batin Anna.
"Kok ada orang yang kayak gitu? Trauma sama tenaga kesehatan dan ke apotek," sambung Ibunya Salman masih belum percaya.
"Pasti ada, Bu. Meskipun jarang ditemui, tapi setidaknya ada orang yang mudah trauma oleh sesuatu hal karena pengalaman pahit yang pernah di derita orang tersebut. Contohnya ada orang yang takut sama rambutan, padahal rambutan enak. Tapi karena ada alasan satu hal karena trauma hingga ada orang yang seperti itu," jelas Anna memberikan pengertian untuk menutupi kebohongan yang sudah mereka ciptakan.
"Ibu pikir ini punya kamu. Awas kalau kamu minum pil kB ... nanti bisa menghambat kesuburan dan bisa-bisa susah untuk punya anak," sahut ibunya Salman.
Deg!
Salman terhenyak mendengar penuturan ibunya barusan. Selama ini Anna mengkonsumsi pil KB dan Salman baru tahu jika efek dari pil KB itu akan berdampak buruk pada Anna.
"Apa Zea tidak tahu? Tapi masa iya dia tidak tahu, dia itu dokter," batin Salman yang merasa khawatir.
"Tentu aku akan mengingatnya, Bu," pungkas Anna.
Anna segera membawa belanjaan ke dapur. Dia menata semua bahan makanan yang sudah dia beli ke lemari pendingin dan lemari kering.
Pikirannya terus melayang pada hal-hal yang belum terjadi sama sekali.
__ADS_1
"Apa Ibu akan percaya? Atau Ibu hanya pura-pura percaya? Rasanya tidak akan mungkin ada orang yang rela membelikan pil KB untuk orang lain," batin Anna.
"Apa aku salah karena menunda kehamilan aku sendiri? Aku hanya ingin mempersiapkan diri aku sebaik-baiknya sampai anti aku siap menjadi seorang ibu," batin Anna.
"Kenapa?" tepukan tangan di bahu Anna membuyarkan lamunan Anna.
"Aku lelah, mau istirahat dulu, Mas," sahut Anna seraya beranjak dari dapur ke kamar.
Selama di kamar, Anna hanya diam mematung sambil menatap ke arah luar. Dia benar-benar merasa bersalah pada ibunya Salman dan terutama pada Salman.
Air mata Anna tiba-tiba saja meluncur dari matanya indahnya. Dada Anna terasa sesak ketika apa yang sudah dia putuskan sendiri justru malah melibatkan orang lain untuk ikut berbohong juga.
"Jika Ibu tahu gimana? Jika Ibu tahu aku berbohong gimana?" batin Anna.
"Tapi tidak mungkin juga aku tiba-tiba mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Mas Salman pasti bakalan kena marah juga. Aku takut Ibu akan kecewa," batin Anna.
Suara pintu kamar terdengar terbuka, Anna buru-buru menyeka air matanya dan memutar-mutar bola matanya serta menarik napasnya agar tidak ketahuan sehabis menangis.
"Aku lagi ngadem dulu, Mas," sahut Anna seraya memutar tubuhnya menghadap Salman.
Anna menatap Salman dalam. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Salman dan menikmati hembusan napas Salman yang begitu terasa hangat.
"Kamu kenapa?" tanya Salman dengan pertanyaan tidak biasa.
"Emang aku gimana?" sahut Anna cepat.
"Jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku, Zeanna," tegas Salman.
"Enggak! Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Aku kapok kalau harus berbohong lagi sama kamu," jelas Anna sambil tersenyum meyakinkan.
"Untuk masalah Ibu, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika kresek yang berisi obat akan jatuh," sambung Anna.
"Gak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati lagi. Untuk hari ini kita masih bisa menutupinya, mudah-mudahan ini adalah kebohongan kita yang pertama dan juga terakhir," jawab Salman dengan membalas senyuman untuk Anna.
__ADS_1
"Lagian masa koas aku tinggal satu bulan lagi, Mas. Setelah itu aku tidak akan mengkonsumsi pil itu lagi," jawab Anna.
"Syukurlah," jawab Salman cepat.
"Tapi ...." Anna menggantungkan ucapannya.
"Apa?" sahut Salman cepat.
"Apa aku akan langsung bisa hamil?" tanya Anna.
"Hai Zeanna ... kamu itu dokter, kenapa harus meragukan hal yang belum terjadi. Lagian sebelum kamu memutuskan untuk mengkonsumsi pil itu tentunya kamu sudah tahu plus minusnya bukan?" sahut Salman dengan memberikan kembali pertanyaan.
"Iya, biasanya jika kita sudah tidak mengkonsumsi pil KB maka akan cepat hamil, berbeda dengan jenis KB yang lainnya," jelas Anna.
"Nah, itu kamu tahu. Kenapa sekarang malah ragu?" tanya Salman.
"Aku takut aja karena kita sudah berbohong, Mas." Anna menatap sendu suaminya.
"Semua ini pasti akan terlewati, Sayang ... jangan dulu under estimate gitu ah, aku gak suka," sahut Salman.
"Rasanya masih seperti mimpi aku punya suami sebaik kamu, Mas. Kamu begitu pengertian sama aku. Kamu begitu sabar menghadapi aku yang masih sering bikin kamu jengkel," ucap Anna dengan tatapan sendu.
"Justru aku yang beruntung telah menikahi kamu. Gadis belia yang dulu aku kejar, kecewa karena keadaan aku hingga pada akhirnya kita bertemu dengan status yang berbeda."
"Gadis belia yang sudah menggetarkan hatiku, memberikan cinta dan memberikan banyak warna dalam kehidupan aku," lanjut Salman.
"Gadis belia yang berubah dewasa, tapi tetap manja dan juga makin cantik," sambung Salman seraya mencubit hidung Anna.
"Akulah yang paling beruntung, Zeanna ... aku menuntut begitu banyak hal darimu, tapi sedikit pun kamu tidak mengeluh. Aku akan tetap menunggu hingga pada akhirnya status kita kembali berubah menjadi orang tua." Salman tersenyum dan mencium pipi Anna dengan gemas.
"Apa pun yang kamu lakukan asalkan jangan lagi menutupinya dari aku, aku pasti akan mendukung kamu, Sayang. Kita bisa melewatinya bersama. Lagian Ibu tidak akan selamanya tinggal bersama kita, jadi tidak perlu khawatir ... oke," lanjut Salman.
"Terima kasih, Mas. Aku makin mencintaimu. Aku makin sayang sama kamu," sahut Anna seraya memberikan kecupan hangatnya di bibir Salman.
__ADS_1