
"Saya bukan penguntit, buat apa ngikutin pacar orang, nanti bisa-bisa saya dimarahi sama pacar kamu itu," cibir Salman sambil terkekeh geli, karena ternyata berhadapan dengan Anna, dia bisa juga bercanda seperti itu.
"Hahahaha ... ternyata penakut juga." Anna tak kalah mencibir Salman.
Mereka tertawa dan kemudian Anna kembali fokus melihat ke arah penjual jagung bakarnya.
"Bapak mau jagung bakar?" tanya Anna tiba-tiba teringat untuk membalas traktiran Salman waktu itu.
"Boleh," sahut Salman cepat.
"Bang jagungnya tambah lagi satu, ya," ucap Anna pada penjual jagung dan langsung diangguki oleh penjualnya.
"Kamu sering main ke sini?" tanya Salman berusaha untuk mencari tahu kebiasaan Anna.
"Sering, Tuh si Abang tukang jagung udah sering lihat muka aku di sini," sahut Anna sambil terkekeh, karena memang kenyataannya Anna sering nongkrong di taman. Baik itu dengan teman-temannya atau di sendirian yang sengaja nongkrong di taman.
"Sepopuler itu, kah?" tanya Salman menggoda.
"Yeayyy ... Si Bapak gak percayaan amat sih jadi orang. Kalau gak percaya, tuh tanyain aja langsung." Anna mengerucutkan bibirnya yang seketika membuat Salman tergoda ingin mencicipi bibir ranum Anna.
Salman langsung mengendalikan kembali otaknya yang mulai tidak beres, dia pun malah benar-benar menuruti ucapan Anna untuk bertanya pada penjual jagungnya.
"Bang ... kenal sama orang ini?" tunjuk Salman pada Anna.
"Itu langganan saya, Mas," sahut penjual jagung menyakinkan.
"Ish kamu tuh jadi orang gak bisa dibilangin, ya," cibir Anna yang spontan memanggil Salman dengan panggilan akrabnya, bukan lagi Pak atau Bapak, melainkan kamu.
Salman yang mendengar Anna memanggilnya dengan sebutan akrab seperti itu, jangan ditanya lagi, hatinya makin berbunga-bunga. Salman sekarang sudah seperti anak ABG yang sedang pendekatan dengan cewek incarannya.
"Siapa tahu kamu cuma iseng ngerjain saya," sahut Salman dengan tatapan yang tidak lepas dari Anna.
Jagung bakar pun akhirnya matang, penjual jagung memberikan dua jagung pada Anna, dan langsung dibayar oleh Salman.
__ADS_1
"Loh kok jadi Bapak yang bayarin? Ini aku loh yang mau bayar," ucap Anna ketika jagungnya sudah di bayar oleh Salman.
"Gak apa-apa ... lagian mana ada cowok yang di bayarin sama cewek, enggak banget," tegas Salman sambil menerima satu jangung yang diserahkan oleh Anna.
"Yah ... utang aku jadi makin banyak, dong. Tadinya aku beli jagung ini buat bayarin traktiran Bapak waktu itu," jelas Anna sambil meniup-niup jangung yang masih panas.
"Utang? Saya gak merasa meminjamkan uang sama kamu," sahut Salman tidak suka.
"Ya emang sih, cuma aku gak enak aja masa terus-terusan di bayarin sama Bapak. Lain kali aku yang bayar, ya," sahut Anna antusias sambil memasang wajah imutnya.
"Oke." Hati Salman merasa sangat senang, karena dengan jawaban Anna barusan artinya Anna secara tidak langsung menginginkan bertemu lagi dengannya di luar.
Keesokan harinya, Anna bersiap-siap seperti biasa untuk berangkat ke sekolah. Anna yang baru menuruni anak tangga dikejutkan oleh suara yang tidak asing di telinganya, siapa lagi kalau bukan Adit. Ya, Adit datang memberanikan diri mengajak Anna untuk berangkat ke sekolah bareng.
"Kamu teman satu kelasnya atau gimana?" tanya ibunya Anna penuh selidik sebab melihat tanda kelas di lengan baju Adit beda dengan kelas Anna.
"Saya Kakak kelasnya Anna, Tante. Kebetulan sekalian lewat saya jemput Anna," sahut Adit.
Anna yang sudah mendengar suara Adit sedang bicara dengan Maminya, dia segera menghampirinya.
"Ada siapa, Mi?" tanya Alex seraya menghampiri Raina di ruang tamu.
Mata Alex langsung terkejut ketika melihat Adit yang datang ke rumahnya. Alex pernah beberapa kali melihat Adit ketika sedang jalan bersama ibunya.
Ibunya Adit adalah Lia, mantan pacar Alex saat kuliah dulu, dan Lia juga yang pernah mencoba mencelakai Raina beberapa kali ketika Lia aktif mengajar di sekolah yang sekarang dipegang oleh Alex. (Biar jelas baca kisah Pacarku Guru Bahasa Inggris, supaya tahu asal mula Alex membenci Lia).
"Ini ada temennya, Anna," jawab Raina sambil menatap suaminya sekarang terlihat bingung.
"Mi ... aku boleh, kan berangkat bareng Adit?" tanya Anna dengan wajah memelas.
"Bawa sepeda motor aja, biar nanti pulangnya gampang." Bukannya Raina yang menjawab, justru malah Alex yang langsung menjawab.
"Dit bentar, ya," pamit Anna meninggalkan Adit ketika kedua orang tuanya meninggalkan Anna dan Adit.
__ADS_1
"Pi ... Papi ... aku boleh, ya, berangkat bareng Adit, sekali ini aja, Pi ... please," bujuk Anna pada Alex.
"Biasanya juga kamu bawa sepeda motor sendiri," sahut Raina ikut menimpali.
"Mi ... please ngertiin aku sekali ini saja. Aku kasihan sama dia jika aku nolak untuk pergi bareng dengannya. Aku janji ini yang pertama dan yang terakhir." Anna mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan sebagai tanda dia tidak akan ingkar janji.
"Baiklah. Papi pegang ucapan kamu. Ini yang pertama dan yang terakhir," tegas Alex sambil menyesap kopi buatan istrinya.
"Terima kasih, Papi." Anna berhambur memeluk ayahnya.
"Aku tidak ingin jika Anna bergaul dengan anaknya Lia. Bisa-bisa dia bakalan terus membangkang jika tidak buru-buru aku cegah," batin Alex.
Sementara itu, Anna langsung mengajak Adit untuk berangkat ke sekolah. Anna melewatkan satu hal ketika berangkat ke sekolah, yaitu dia tidak sarapan terlebih dahulu.
"Kamu kenapa jemput aku?" tanya Anna ketika Adit sudah mulai mengemudikan motornya.
"Emang gak boleh jemput pacar sendiri?" sahut Adit malah terkesan ngeyel.
Entah kenapa hati Anna jadi merasa tidak suka dengan sikap Adit yang seperti ini. Dia merasa jika Adit tidak bisa menghargai dirinya di depan keluarganya sendiri.
"Terserah kamu saja," pungkas Anna karena merasa sudah tidak ada gunanya lagi bicara baik-baik sama Adit.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Anna tidak lagi bicara. Dia hanya menatap kosong tanpa menghiraukan jika Adit terus-terusan mengajaknya bicara.
Anna turun dari motor Adit dan wajah Anna langsung terlihat masam karena kesal sama Adit.
"Anna ... kamu kenapa? Kok kayak yang gak suka jika aku jemput kamu," selidik Adit.
"Maaf, sepertinya kamu tidak bisa menjemput aku lagi, Dit." pungkas Anna seraya berjalan menuju kelasnya
Adit yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Anna barusan, dia langsung mengejar Anna setelah melepas helm-nya.
"Maksud kamu apa, Na?" tanya Adit seraya menahan tangan Anna.
__ADS_1
"Kamu gak usah jemput aku lagi. Kamu tahu, kan kalau aku dilarang pacaran, dengan kamu datang ke rumah seperti tadi secara tidak langsung kamu mengumumkan kalau kamu itu pacar aku," jelas Anna kesal.