
Anna harus bisa bersikap bijak ketika menyikapi masalah yang sedang dia alami. Rasanya tidak adil jika dia tidak memberikan Adit kesempatan lagi. "Mudah-mudahan saja kejadian ini tidak akan terulang," batin Anna.
Anna menyusul kedua temannya di kantin. Saat masuk ke kantin, Anna melihat ada gurunya yang tadi sempat membuat dia salah tingkah. Lagi-lagi Anna tidak sengaja menatap Salman yang justru sekarang sedang menatap juga padanya.
Anna buru-buru mengendalikan matanya supaya tidak menatap gurunya tersebut. Dengan senyum mengembangnya Anna melewati meja yang sedang diduduki oleh Salman dan guru-guru yang lainnya dengan sopan.
Senyum Anna membuat hati Salman merasa tenang karena ternyata rasa khawatirnya pada Anna yang ditarik oleh Adit seperti berakhir baik-baik, sebab Anna tidak terlihat marah. Namun, setelah rasa khawatirnya hilang, sekarang muncul rasa cemburu lagi ketika membayangkan jika Anna dan Adit baikan.
"Salman ... jangan terus memikirkan orang lain. Ingat istrimu," batin Salman terus-terusan mengingatkan akan posisinya. Tetapi tetap saja rasa cinta yang sudah mulai tumbuh menginginkan hal lebih dari sekedar hanya memikirkan paras Anna yang cantik.
"Zeanna ... kamu sudah berhasil mengobrak-abrik hati aku," batin Salman sambil melirik Anna dengan ujung ekor matanya.
"Na ... Si Adit gak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya Amara yang terdengar jelas oleh Salman karena kursi mereka memang tidak jauh.
"Enggak ... kalau dia ngapa-ngapain aku, udah aku lawan juga kali," sahut Anna menenangkan kedua sahabatnya.
"Syukurlah ... gue khawatir jika lo di apa-apain sama dia." Anita ikut menyahuti.
"Kalian ada masalah apa sih, kenapa gak bilang sama kita." Amara penasaran dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya, dan selain Amara, ternyata Salman pun penasaran dengan penjelasan Anna. Oleh karena itu, dia sengaja memfokuskan pendengarannya supaya bisa menguping apa yang sedang mereka bicarakan.
Anna hanya memilih untuk mengendikkan bahunya ketimbang harus menjawab. Dia tidak ingin jika masalah pribadinya diumbar pada orang lain, meskipun pada sahabatnya sendiri.
Salman yang tak kunjung mendapatkan penjelasan dari hasil mengupingnya, dia memilih mengambil ponselnya yang ada di saku, kemudian dia memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Anna.
[Zea ... saya harap kamu baik-baik saja. Ingat setiap masalah pasti akan bisa diselesaikan dalam keadaan kepala dingin, jangan terlalu membebani pikiran kamu dengan hal-hal yang belum pasti, bicarakan baik-baik supaya tidak terjadi salah paham. Maaf bukan saya ikut campur, hanya saja karena saya tahu kamu nonton sendiri, akhirnya saya sedikit tahu tentang masalah yang mungkin sedang kamu hadapi dengan pacar kamu itu.]
Salman memasukkan kembali ponselnya setelah berhasil mengirimkan pesan pada Anna.
Anna merasakan ponselnya bergetar, dia melihat nama sang pengirim pesan, dan Anna buru-buru membuka pesan yang dikirim Salman, dan membacanya dengan seksama.
__ADS_1
Anna tersenyum membaca pesan dari Salman, dia merasa begitu tenang ketika membaca pesan yang dikirim oleh gurunya itu. Perasaan kesal pada Adit pun sedikit memudar, karena teralihkan oleh perhatian Salman yang begitu membuat Anna jadi merasakan sesuatu yang tak biasa di hatinya.
[Terma kasih, Pak. Aku baik-baik aja, kok.]
Anna langsung mengetikan pesan balasan untuk Salman ketika sudah selesai membaca pesannya. Anna langsung tersenyum ketika melihat dengan ujung ekor matanya, Salman membaca pesan yang dia kirim.
"Kenapa aku mesti perhatian sama dia, dan kenapa juga tidak bicara secara langsung, ini malah kayak yang pacaran backstreet aja, duduk dengan posisi yang dekat tetapi ngobrol lewat pesan," batin Salman tersenyum senang ketika membaca pesan balasan dari Anna.
***
Keesokan harinya, Anna yang selalu menyediakan stok makanan ringan di kamarnya, dia mengetahui jika stok-nya sudah hampir habis.
Dia buru-buru turun ke bawah untuk meminta uang pada Maminya. Dia langsung bergegas pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kamu hati-hati ... Jangan keluyuran lama-lama di luar," ucap Raina, maminya Anna saat melihat Anna yang sudah siap dengan helm-nya.
"Jangan terlalu malam. Maksimal jam 7 malam sudah di rumah," tegas Raina.
"Makasih Mami cantik." Anna memeluk Maminya dan segera melajukan sepeda motornya untuk pergi ke rumah Anita kemudian setelah itu pergi ke minimarket.
Di stop-an lampu lalu lintas, Anna menghentikan laju sepeda motornya, karena lampu lalu lintas berwarna merah. Kemudian di sisi kanan Anna ada sebuah mobil yang juga berhenti tepat di sisi Anna.
Anna yang sedang fokus melihat lampu lalu lintas tidak sadar jika pengemudi mobil itu adalah Salman.
Salman yang saat akan melihat lampu lalu lintas ke sebelah kanan, dia melihat ada gadis yang membuat dia hampir tidak bisa tidur, karena terus memikirkannya. Salman membuka jendela kaca mobilnya dan sedikit berteriak memanggil Anna.
Merasa ada yang memanggil namanya, Anna langsung melirik ke arah sebelah kanan dan ternyata ada Salman yang sedang tersenyum manis padanya.
"Mau kemana?" tanya Salman.
__ADS_1
"Ke rumah Anita," jawab Anna.
Salman hanya tersenyum membalas jawaban Anna, karena memang lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.
Anna membunyikan klakson sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda pamit pada Salman. Salman pun hanya bisa tersenyum membalas Anna yang hendak pergi menuju tujuannya.
Sesampainya di rumah Anita, ternyata Anna melihat Anita yang hendak keluar. Dia belum sempat membuka helm-nya, dan langsung balik lagi, karena Anita akan pergi bersama keluarganya.
Anna yang berniat ingin makan jagung bakar di taman kota, dia pun memilih untuk pergi sendiri ke taman kota untuk membeli jagung bakar.
Anna berjalan mengitari taman kota yang kalau sore hari selalu di penuhi oleh orang-orang yang pacaran, ataupun mereka yang hanya duduk nongkrong, dan juga orang seperti Anna yang hanya ingin membeli jagung bakar saja.
Anna mendekati penjual jagung bakar yang terlihat cukup banyak pembelinya. Dia duduk sambil menunggu pesanannya dibuatkan.
"Bukannya mau ke rumah Anita?"
Suara yang belakangan ini menghiasi telinga Anna, tiba-tiba saja terdengar jelas di telinga Anna yang sedang menunggu jagung bakarnya.
Anna melirik ke sumber suara, dan ternyata Salman sudah duduk persis di sampingnya.
"Pak Salman ... ngapain di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Salman, Anna justru malah balik bertanya.
"Pertanyaan saya belum kamu jawab. Saya lagi jalan-jalan aja," jawab Salman.
Oh ... kirain ngikutin aku," goda Anna, yang seketika membuat Salman melotot.
"Eitt ... jangan dulu marah, Pak. Bercanda. Anita-nya pergi sama mamanya, jadinya aku nyangkut di sini sendirian," jelas Anna ketika melihat Salman yang melotot ketika digoda olehnya.
"Zea ... bisa-bisanya kamu menggoda aku seperti itu, andaikan kamu tahu aku sungguh senang bisa bertemu lagi sama kamu," batin Salman.
__ADS_1