
Salman tersenyum bahagia merasakan begitu indahnya berboncengan dengan Anna dengan sebelah tangan memegang tangan Anna dan sebelahnya lagi memegang stang motor.
"Sumpah ini pengalaman pertama aku boncengan sambil meluk kayak gini," batin Anna yang juga merasakan rasa yang sama persis seperti Salman.
Hampir 30 menit Salman dan Anna berboncengan. Sampai di suatu tempat wisata yang tidak jauh dari taman kota, Anna turun dari motor dengan mata yang jelas-jelas menunjukkan jika dia begitu senang.
"Pernah ke sini?" tanya Salman.
"Belum, aku baru tahu sekarang kalau di sini ternyata ada tempat seindah ini," sahut Anna dengan mengedarkan pandangannya.
"Saya dong orang pertama yang ngajak kamu ke sini," goda Salman.
"Iya lah, kalau bukan Bapak siapa lagi. Abang aku tuh sibuk ... ngajakin aku jalan-jalan kalau hari sabtu minggu, padahal aku di sini dua minggu tapi gak diajak main ke sini. Kalau bukan karena motor baru ... kayaknya mendingan liburan di rumah Mami aja," jelas Anna yang spontan membuat Salman mengerutkan keningnya.
"Motor baru?" ulang Salman memastikan.
"Iya, aku dijanjikan akan dibelikan motor baru kalau aku liburan selama dua minggu di sini," jelas Anna dengan tersenyum.
"Hahaha ... kirain kamu beneran kangen sama Abangmu, ternyata gara-gara motor baru." Salman tersenyum seraya meraih tangan Anna untuk masuk ke area wisata.
"Aku matre, ya," sahut Anna dengan tersenyum juga.
"Enggak juga. Kan memang sudah sewajarnya cewek itu harus matre, biar cowoknya giat nyari uang," sahut Salman logis.
"Iya lah harus rajin nyari uang, kan beli motor gak bisa pakai BPJS," kilah Anna.
"Kamu tahu arti BPJS?" Salman menghentikan langkahnya.
"Badan Penyelenggara Jaminan Sosial," jawab Anna cepat.
"Salah," kilah Salman cepat juga.
Anna mengerutkan keningnya. Rasanya jawaban dia sudah benar tapi masih dianggap salah oleh Salman.
"BPJS tuh Butuh Pelukan Juga Sentuhan," bisik Salman tepat di telinga Anna.
Anna spontan menoleh ke arah sumber suara dan ketika Anna menoleh, wajah Salman tepat ada di hadapannya. Netra keduanya saling bertemu dan keduanya sama-sama saling menyelami arti dari sorot mata dari keduanya.
__ADS_1
Jarak wajah Anna dan Salman hanya beberapa inci saja. Jika saja Salman berani, rasanya dia sangat ingin sekali mengecup bibir pink Anna yang terlihat begitu menggoda dirinya. Namun, Salman tidak bisa melakukannya karena dia tidak ingin membuat Anna kecewa.
"Mata kamu indah, Zea," ucap Salman spontan.
Anna yang sadar jika jarak wajahnya begitu dekat, dia berusaha untuk sedikit menjauh agar jantungnya tidak berhenti berdetak.
"Zea," sambung Salman memanggil Anna.
"Iya," sahut Anna dengan kembali menatap ke arah Salman.
"Kamu cantik," ucap Salman dengan begitu berani mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan sejak dulu.
"Jangan bikin aku baper, Pak," sahut Anna malu-malu.
"Sungguh ... kamu cantik," lanjut Salman.
"Hahaha ... Bapak bikin hidung aku terbang aja." Anna berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak terlihat baper oleh Salman.
"Aku serius," bisik Salman seraya kembali menggenggam tangan Anna dan melanjutkan langkahnya lagi.
"Apa arti dari semua ini? Apa dia berusaha untuk mengungkapkan perasaannya sama aku? Tapi kalau aku langsung meyakini anggapan aku ini ... itu artinya aku geer oleh candaannya," batin Anna.
Anna dan Salman jalan-jalan sambil terus berbincang-bincang dan juga pegangan tangan.
Jika ada yang melihat apa yang Salman lakukan pada Anna sudah sangat pasti mereka menganggap jika Salman adalah kekasih Anna.
***
Puas dengan jalan-jalan, Salman mengantarkan Anna pulang. Salman terus senyum-senyum sendiri ketika tangan Anna masih terasa menempel di pinggang dirinya.
"Ah kalau sudah bisa diajak nikah kayaknya mendingan aku langsung ajak nikah aja," batin Salman sambil masuk ke rumahnya selepas mengantar Anna pulang.
"Salman," panggil ibunya Salman yang membuat Salman menoleh.
"Ada apa, Bu?" sahut Salman.
"Kamu dari mana? Pagi-pagi udah pergi dan jam segini baru balik," tanya ibunya Salman.
__ADS_1
"Aku habis jalan-jalan aja, Bu. Udah lama gak keliling," jawab Salman santai.
"Kamu tuh harusnya kalau mau pergi keliling bilang sama istrimu. Tadi pagi dia nyari-nyari kamu ... eh tahunya kamu malah keliling jalan-jalan gak jelas," cibir ibunya Salman.
"Kata siapa gak jelas, orang aku jelas kok ngajak Zeanna jalan-jalan. Dan itu membuat mood booster aku kembali full," batin Salman.
"Tadi Vania bilang jam 2 siang kamu harus ke alamat yang dia tulis di kertas yang di atas meja. Dia juga tadi buru-buru karena ada banyak urusan," jelas ibunya Salman menjelaskan.
"Iya, Bu."
Salman masuk ke kamar dan ketika mencari kertas yang di maksud oleh ibunya adalah alamat butik yang biasa Vania kunjungi.
"Untuk apa aku harus ke sana? Mungkin nganter dia beli pakaian," batin Salman sambil menyimpan kembali kertas tersebut dan masuk ke kamar mandi.
Bayangan Anna yang terlihat begitu cantik membuat Salman mandi sambil senyum-senyum sendiri. Mandi pun terasa begitu nyaman ketika membayangkan wajah Anna yang sedang tersenyum manis.
"Zeanna ... sungguh aku ingin menjadikan kamu istriku. Tapi apa mungkin aku bisa melepaskan Vania? Apa Ibu akan menyetujui dengan apa yang aku inginkan? Aku tidak mencintai Vania dan aku hanya mencintaimu, Zeanna," gumam Salman seraya mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Selepas mandi, Salman memilih naik ke atas tempat tidur. Dia mencoba untuk tidur siang dan karena perasaannya sedang dilanda mabuk cinta, Salman tidak bisa tidur karena bayangan Anna selalu muncul.
Tring!
Notifikasi pesan masuk pada ponsel Salman terdengar.
[Jangan lupa jam dua, aku langsung menunggu kamu di tempat.]
Salman yang sedang membayangkan dirinya dengan Anna, sekarang jadi cemberut efek dari pesan yang dikirimkan Vania padanya.
"Mau tidak mau aku harus pergi juga," batin Salman yang akhirnya memilih untuk menemui Vania di tempat yang sudah dijanjikan.
Salman tiba ketika Vania sudah menunggu sekitar 15 menit yang lalu. Vania merajuk dan bergelayut manja di lengan Salman, tapi bayangan Salman tetap fokus pada Anna yang sejak tadi memeluknya di motor.
"Bahkan rasanya berbeda," batin Salman yang entah kenapa dia tidak merasa gelenyer apa pun pada tubuhnya.
"Salman coba dulu jas yang ini!" pinta Vania antusias.
Salman tidak banyak bicara. Dia langsung mencoba pakaian yang dipilih oleh Vania.
__ADS_1
"Gimana? Nyaman, gak?" tanya Vania dengan mata berbinar ketika melihat suaminya begitu tampan dengan jas yang dia pilih secara khusus.