
Senin, hari yang biasanya paling tidak disukai oleh kebanyakan orang karena sudah enak liburan, sekarang justru begitu sangat dinantikan oleh Anna. Dia sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan ulangan akhir semesternya agar segera bisa pergi liburan ke tempat sang kakak tercinta.
"Anna ... jangan ceroboh kalau ngerjain soal. Baca yang teliti dan jangan tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Ingat waktu gunakan sebaik-baiknya," ucap Raina seraya menyiapkan sarapan untuk putri bungsunya.
"Iya, Mami ... perasaan setiap kali aku mau UAS amanat Mami pasti akan sama seperti itu, Mami udah kayak walikelas aku aja yang ngingetin buat mengerjakan soal dengan baik," sahut Anna yang justru malah membuat sang mami marah.
"Kamu tuh harusnya bersyukur karena Mami selalu ngingetin kamu, coba bayangin orang lain ... belum tentu ibunya peduli dan seperhatian seperti Mami," tegur Raina pada Anna.
"Ada apa lagi sih ... Mami sama Anna tiap pagi bisanya ribut mulu. Ada masalah apa lagi?"
Alex yang baru saja turun dari tangga mendengar anak dan istrinya sedang berdebat. Bukan hanya pagi ini, hampir setiap hari Anna dan maminya selalu saja mempermasalahkan masalah-masalah sepele. Raina yang begitu over protective sedangkan gadis di usia seperti Anna lagi senang-senangnya bebas dan tidak suka jika orang tua terlalu ikut campur, padahal niat orang tua baik.
"Mami tuh yang mulai," keluh Anna.
"Mami cuma ngingetin dia untuk tidak buru-buru mengerjakan soal, eh anakmu itu gak mau Mami ingetin," sahut Raina menjelaskan.
"Anak kita," ralat Alex seraya tersenyum dan menarik kursi meja makan untuk sarapan pagi.
"Papi ... emang dulu Nenek kayak Mami? Apa emang setiap ibu akan seperti Mami?" ucap Anna mencari tahu.
"Setiap ibu pasti akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sekarang kamu mungkin merasa Mami kamu itu cerewet atau banyak ngatur, itu semua tanda cinta dan kasih sayang orang tua sama kita, Sayang. Nanti kamu pasti akan merasakan apa yang Mami kamu rasakan. Jadi, kurangin, ya, ngebantah atau melawan ucapan Mami kamu," jawab Alex diplomatis.
"Aku gak ngebantah ... cuma aku bosan aja kalau tiap hari diingetinnya itu-itu mulu," rajuk Anna.
"Oke, nanti Papi akan minta Mami kamu untuk mengubah ...." Belum juga Alex menyelesaikan ucapannya, Raina sudah muncul dan menyela ucapan Alex.
"Mengubah apa, Pi?" tanya Raina penuh selidik.
"Mengubah kebiasaan belajar, Mi," sahut Alex seraya menarik tangan istrinya agar ikut duduk bersama untuk sarapan.
__ADS_1
Mereka bertiga sarapan dalam diam. Tidak ada yang membuka obrolan sampai akhirnya sarapan selesai.
Anna pergi menggunakan sepeda motor. Seperti biasa Anna melihat ada mobil Salman yang selalu menunggunya di halte dan ketika Anna membunyikan klakson motornya, Salman pun langsung mengikuti Anna dari belakang.
"Zea ... dengan melihat kamu seperti ini pun aku sudah merasa bahagia, rasa rindu aku sudah sedikit terobati ketika melihat wajah kamu," gumam Salman yang sekarang sedang fokus menyetir.
"Entah sampai kapan Pak Salman akan melakukan ini untuk aku. Apa aku salah jika mengartikan perhatian dan perlakuan Pak Salman adalah bukan sekedar guru pada muridnya? Aku merasa apa yang dilakukan oleh Pak Salman adalah bentuk perhatian dari seorang laki-laki dewasa pada wanita, apa mungkin Pak Salman punya perasaan sama aku? Tapi kalau iya, pasti Pak Salman udah mengungkapkannya, lah ini sudah hampir 3 bulan cuma gini-gini aja dan gak pernah ada indikasi untuk menjurus ke obrolan itu. Tapi meskipun bibir tidak bicara tapi perlakuan dan sikapnya sudah menunjukkan sesuatu yang signifikan dan sudah mengerucut pada satu kemungkinan, cinta," batin Anna ketika melihat Salman yang keluar dari mobil dan terlihat tersenyum padanya.
Anna kaget ketika Salman berjalan mendekat ke arahnya. Anna yang sedang memarkirkan sepeda motornya di parkiran khusus siswa dia tidak mengira jika Salman aku menghampirinya.
"Apa kabar?" sapa Salman seperti sudah lama tidak bertemu, padahal cuma hari sabtu dan minggu saja.
"Baik," sahut Anna seraya melepas helm-nya.
"Kerjakan soal-soalnya dengan baik. Jangan tergesa-gesa," sambung Salman.
"Oh, ya? Tapi intinya kamu mesti ngerjain soal dengan sungguh-sungguh, agar bisa nangih hadiah dari saya," sambung Salman dengan senyum renyahnya.
Ketika Salman dan Anna sedang terlihat ngobrol, Adit yang baru datang dia melihat pemandangan yang sungguh mengganggu matanya. Dia kesal karena akhir-akhir ini dia sering melihat jika Anna sering berbincang-bincang dengan gurunya itu.
"Apa mungkin Pak Salman sengaja ngancam aku agar bisa dekat dengan Anna, huh licik sekali," gerutu Adit dalam hati.
Anna yang melihat hampir banyak orang yang sudah datang dia pun memasang isyarat pada Salman untuk ijin masuk lebih dulu. Dia tersenyum seraya melangkahkan kakinya masuk ke area kelas.
"Anna!" panggil Adit ketika Anna berjalan menuju kelasnya.
Salman yang sedang berjalan ke arah ruang guru turut mendengar suara panggilan Adit pada Anna.
Anna berhenti dan menoleh ke arah Adit dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Gimana belajarnya?" tanya Adit basa-basi.
"Baik," sahut Anna cepat.
"Kamu makin dekat, ya, sama Pak Salman," sambung Adit.
"Bukan hanya aku, orang lain juga makin dekat karena emang Pak Salman guru kita," sahut Anna tegas.
"Tapi sama aku enggak." Adit menyeringai.
"Mana aku tahu. Kalau kamu ingin deket sama Pak Salman kenapa gak coba pendekatan saja, yang lain banyak yang dekat karena emang Pak Salman friendly," pungkas Anna seraya kembali melanjutkan langkahnya.
"Setelah selesai UAS, jalan yuk!" ajak Adit.
"Maaf, aku gak bisa," tegas Anna.
"Kenapa? Takut aku gak datang lagi?" selidik Adit.
"Jadi pacar aja gak datang, apalagi sekarang ... gak ada alasan untuk kita pergi dan jalan bareng, kan?" cibir Anna.
"Kamu masih dendam sama aku?" Adit menghalangi jalanan Anna.
"Kalau aku dendam pasti aku udah membalasnya. Apa aku pernah membalasnya?" cibir Anna lagi.
"Aku hanya tidak ingin menjadikan sesuatu yang fatal terjadi, Dit. Antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Jika orang lain bisa bersahabat dengan mantan ... aku tidak, karena bagi aku yang namanya mantan tetap saja mantan karena orang yang berpisah tidak akan ada yang baik-baik saja, dan tidak ada yang namanya mantan terindah," tegas Anna.
Dari kejauhan Salman memperhatikan Anna dan Adit yang tampak sedang berdebat. Salman yakin jika saat ini Anna sedang merasa BT oleh sikap Adit, dia tahu karena dilihat dari mimik wajah Anna serta gesture Anna yang seperti sedang menghardik Adit.
"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?" batin Salman merasa tidak suka jika Anna dekat dengan Adit.
__ADS_1