Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Adit Hilang Muncullah Ferdy


__ADS_3

Adit yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Anna barusan, dia langsung mengejar Anna setelah melepas helm-nya.


"Maksud kamu apa, Na?" tanya Adit seraya menahan tangan Anna.


"Kamu gak usah jemput aku lagi. Kamu tahu, kan kalau aku dilarang pacaran, dengan kamu datang ke rumah seperti tadi secara tidak langsung kamu mengumumkan kalau kamu itu pacar aku," jelas Anna kesal.


"Tadi aku gak bilang seperti itu," kilah Adit.


"Orang tua aku lebih peka ketimbang kamu, Dit. Emang untuk apa seorang cowok datang ke rumah pagi-pagi dan yang lebih parahnya lagi kamu kakak kelas aku, mereka sudah menduganya langsung jika antara aku dan kamu ada apa-apanya," jelas Anna dengan nada bicara kesal.


"Kolot banget pikiran orang tua kamu," cibir Adit.


"Aku gak suka kamu bicara seperti itu tentang orang tua aku, Dit," tegas Anna dengan nada tegas.


"Capek tahu aku ngadepin kamu kayak gini," pungkas Adit seraya meninggalkan Anna yang saat itu ingin memakinya tetapi tidak bisa karena Adit keburu pergi.


"Aku juga capek," gerutu Anna sambil memutar tubuhnya dan melanjutkan kembali langkahnya.


Dari arah kejauhan, Salman melihat Anna yang sedang beradu mulut dengan Adit. Hatinya sedikit kecewa karena melihat Anna yang berboncengan bareng Adit, tetapi seketika rasa kecewanya itu langsung hilang ketika melihat Anna yang tampak kesal sama Adit.


"Kenapa aku malah senang melihat mereka bertengkar? Harusnya aku tidak seperti ini," batin Salman.


Hari ini sungguh membuat Anna jadi orang paling sial. Setelah pagi hari kesal gara-gara dijemput Adit, sekarang datang Ferdy yang langsung main tarik-tarik saja gak jelas.


"Fer ... lepasin dong, ngapain sih lo narik-narik gue," gerutu Anna sambil mencoba melepaskan tangan Ferdy.


"Hai semua ... perhatian," teriak Ferdy di kantin sambil tidak melepaskan tangan Anna.


"Lo mau apa? Jangan cari perkara deh," bisik Anna sambil menatap ke sekeliling.


"Anna ... cara gue mungkin tidak seromantis kebanyakan cowok pada umumnya, satu hal yang perlu lo tahu, gue cinta sama lo ... dan selamanya gue tidak bisa berpaling ke lain hati," ucap Ferdy menembak Anna secara langsung, dan ini entah yang ke berapa kalinya, karena Ferdy sering mengungkapkan perasaannya pada Anna.

__ADS_1


"Gue tidak butuh jawaban sekarang, satu hal yang perlu lo ingat, jika semua orang yang ada di sini akan menjadi saksi akan cinta gue sama lo yang tidak pernah berkurang," sambung Ferdy.


"I love you Zeanna."


Suara riuh semua orang yang ada di kantin mengganggu ketenangan Salman yang saat itu tengah berbincang-bincang dengan rekan guru yang lainnya di taman depan ruang guru.


Kantin memang diposisikan hampir berdekatan dengan ruang guru, sehingga ketika ada suara ribut dari kantin, hampir semua guru berlari ke arah kantin karena takut akan terjadi apa-apa apa siswa di sekolahnya.


Salman pun ikut bergabung bersama guru yang lainnya, dan saat masuk ke kantin matanya langsung menatap wanita yang sudah mengganggu pikirannya sedang berdiri dengan seorang pria sambil dikelilingi oleh para siswa yang lainnya.


"Apa kamu bersedia menjadi pacar aku, Zeanna?" tanya Ferdy sambil memberikan Anna cokelat.


Rahang Salman mengeras menahan amarah karena tidak suka jika perempuan yang sudah mengisi hatinya itu ditembak secara langsung oleh pria lain.


Aku tidak bisa, Fer, maaf," jawab Anna sambil mencoba tersenyum.


"Gak apa-apa, aku akan setia menunggu sampai kamu mengatakan 'iya'," sahut Ferdy tetap kalem.


"Kirain ada apa, ternyata pertunjukan Ferdy yang lagi-lagi ditolak," ucap salah satu guru sambil mengajak Salman untuk kembali lagi ke ruang guru.


"Lagi-lagi? Artinya sudah sering?" sahut Salman.


"Iya, si Ferdy dari kelas X ngejar-ngejar Anna, tetapi keduluan sama si Adit, dasar remaja jaman sekarang ... dikit-dikit main viral aja," sambung salah satu guru.


Salman tersenyum masam ketika mendengar penjelasan salah satu rekan gurunya. Dia sungguh merasa tidak suka jika ada lelaki lain yang mendekati Anna seperti itu, tetapi dia tidak punya hak apa-apa. Namun, hatinya tidak bisa menerima jika Anna sampai dekat dengan laki-laki lain.


Sementara itu, Adit yang saat itu ada di kantin dia hendak mendekat ke arah Ferdy, tetapi jawaban Anna membuat dirinya mengurungkan niat untuk melakukannya.


Adit berlari keluar mengejar Anna yang langsung keluar dari kantin setelah acara pernyataan cinta dari Ferdy. Lagi-lagi dia menahan Anna untuk pergi sambil mencengkram tangan Anna.


"Sakit, Dit," keluh Anna ketika Adit yang sengaja mencengkram tangan Anna.

__ADS_1


"Sama aku kamu sakit, sedangkan sama si Ferdy kamu diam. Apa kamu menyukainya?" tanya Adit dengan ketus.


"Kalau aku menyukainya, udah aku terima pengakuan cintanya. Kamu jangan cari masalah lagi, Dit," jawab Anna dengan suara yang dibuat senormal mungkin.


"Jangan dekat-dekat lagi dengan si Ferdy," pungkas Adit sambil melepaskan cengkraman tangannya.


Anna hanya bisa menarik napasnya panjang, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia berjalan dengan gontai untuk masuk ke kelasnya lagi. Rasanya sungguh luar biasa, pagi lupa sarapan, dan istirahat tidak bisa beli makan gara-gara ada gangguan dari Ferdy.


"Anna ... kamu dari mana?" tanya Anita sambil menghampiri sahabatnya yang baru masuk ke kelas.


"Tadi ketemu sama Adit," sahut Anna malas.


"Si Ferdy makin hari makin berani aja, gak tahu apa kalau lo udah jadian sama si Adit," ucap Amara.


"Biarin aja, yang pengin gak pernah gue ladenin," tegas Anna sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Bel berdering pertanda jika waktu istirahat sudah habis. Anna yang merasa kesal dengan kejadian yang menimpanya, membuat mood-nya untuk belajar hilang seketika.


Anna terlihat malas untuk mengikuti belajar pada jam sekarang, tetapi dia tidak bisa meninggalkannya, karena sekarang saatnya belajar matematika.


Salman masuk ke kelas Anna dengan perasaan yang sedikit agak terganggu oleh kejadian-kejadian yang sudah dilakukan oleh Anna dengan Adit serta Ferdy. Dia berusaha untuk tetap tidak terprovokasi oleh keadaan, karena memang seharusnya dia tidak seperti itu.


Salman mengabsen satu per satu murid yang ada di kelas Anna, saat memanggil nama Anna, Salman sedikit agak mengeraskan rahangnya, karena tiba-tiba saja kesal saat ingat Anna di pegang oleh Ferdy dan dibonceng oleh Adit.


"Zeanna," panggil Salman dengan wajah datar.


Merasa namanya dipanggil Anna buru-buru mengacungkan tangannya, dan menatap Salman yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.


"Kenapa aku merasa bersalah dengan melihatnya menatap aku seperti itu," batin Anna.


"Aku tidak ingin jika ada laki-laki lain yang menyentuh kamu, Zea," batin Salman

__ADS_1


__ADS_2