
Anna menatap dalam iris mata Salman yang saat ini tengah menatapnya lekat. Anna mencoba mencari kebohongan dari apa yang diucapkan oleh Salman, tapi sia-sia. Anna tidak menemukan kebohongan dari tatapan Salman.
"Jangan membuat janji yang pada akhirnya tidak akan pernah kita tepati. Aku turut iba dengan apa yang sudah kamu lalui, tapi aku tidak ingin dianggap sebagai orang ketiga yang menyebabkan hubungan kalian kandas." Anna menghela napasnya panjang.
"Satu tahun ... hanya satu tahun kita akan bertemu seperti ini, setelah aku lulus aku yakin kamu akan melupakan aku ... jangan sampai goyah hanya karena gadis labil seperti aku," lanjut Anna.
"Iya, aku cinta sama kamu ... tapi, aku pun cukup tahu diri untuk tidak memupuk cinta ini. Aku yakin aku bisa melupakan perasaan ini seiring berjalannya waktu. Jangan pernah menyia-nyiakan amanat yang sudah orang tuamu bebankan padamu," sambung Anna.
"Aku tidak akan berjanji apa-apa. Jika suatu hari nanti kita ditakdirkan untuk bertemu lagi dengan status kita yang berbeda ... maka jadikan hari ini sebagai awal dari persaudaraan kita. Aku tidak ingin ketika kita bertemu nanti kita tidak saling menyapa hanya karena gara-gara perasaan kita." Anna tersenyum.
"Pulanglah ... semakin lama kamu berada di sini maka akan semakin sulit bagi kita untuk melupakan perasaan kita masing-masing. Aku akan tetap menghargai dan menghormatimu sebagai guru aku, sebagai laki-laki dewasa yang memberikan aku cinta dengan begitu tulus dan sebagai laki-laki yang tidak akan pernah bisa aku miliki," ucap Anna dengan terbata.
"Aku mencintaimu, tapi cinta ini salah ... akan lebih salah lagi jika ada orang lain yang mengetahuinya. Maka dari itu, simpan rapat-rapat perasaan ini agar rahasia cinta kita tetap aman terjaga dalam hati kita masing-masing," sambung Anna yang tanpa bisa dia cegah air matanya lolos begitu saja.
Salman yang tidak bisa berkata apa-apa, dia langsung memeluk Anna dengan begitu hangat. Dia mengusap-ngusap kepala Anna dengan hati yang tercekat.
"Maafkan aku, Zeanna," ucap Salman seraya mencium puncak kepala Anna.
"Aku akan menghormati keputusan kamu. Aku akan menyimpan perasaan aku dengan rapat-rapat dalam hati aku. Semoga hal yang terbaik selalu menyertai hidupmu." Salman melonggarkan pelukannya dan menatap lekat Anna.
Perlahan Salman mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Netranya beradu dan senyum manis terukir di wajah Salman yang pada detik berikutnya bibir Salman sudah mendarat di kening Anna.
"Aku akan selalu mencintaimu, Zeanna," ucap Salman seraya melepaskan kecupan hangatnya.
Anna tersenyum. Jika boleh jujur jantungnya hampir saja berhenti berdetak ketika Salman mencium keningnya dengan begitu hangat. Ini adalah kali pertama Anna merasakan bibir hangat Salman mencium keningnya seperti tadi.
"Pulanglah ... kamu butuh waktu untuk istirahat. Sebentar lagi si Bibi akan datang," ucap Anna yang tidak lagi disanggah oleh Salman.
__ADS_1
"Cepat sembuh, ya," sahut Salman seraya beranjak dari duduknya dan mengusap-usap kepala Anna.
Anna hanya mengangguk sambil menatap nanar Salman yang hendak pergi dari kamar rawatnya.
Perasaan Anna jauh lebih tenang ketika sudah mengungkapkan semua yang ada pada hatinya dan perlakuan Salman yang tadi sungguh membuat Anna jauh lebih tegar, karena Salman tidak mempersulitnya.
"Ini hanya cinta monyet ... aku tidak boleh terbawa suasana oleh keadaan ini ... aku yakin bahkan sangat yakin jika nanti aku bisa menemukan jodoh yang lebih baik darinya," batin Anna.
Keesokan harinya, Raina dan Alex langsung pulang setelah mendapatkan kabar jika putri bungsunya masuk ke rumah sakit. Raina begitu khawatir ketika melihat Anna yang saat ini tengah tertidur.
"Anna ... maafkan Mami, Sayang ... kalau Mami tahu kamu sakit Mami gak bakalan ikut sama Papi," ucap Raina sambil menciumi wajah anak gadisnya itu.
"Aku juga gak tahu kalau aku DBD, Mi. Aku tuh cuma merasa lemas dan aku cuma demam biasa, tapi ternyata saat ini aku memang dalam fase ini," sahut Anna.
Anna yang kemarin sore sudah bisa bicara diplomatis pada Salman, sekarang justru malah seakan-akan terbawa suasana. Anna menjawab setiap pertanyaan ibunya itu dengan jawaban logis dan dewasa.
***
"Mami ... kalau aku ngambil kedokteran gimana?" tanya Anna ketika duduk santai bersama kedua orang tuanya.
"Di kota kita gak ada kedokteran, Sayang," sahut Raina cepat.
"Gak apa-apa, kan aku ngambil kuliah di luar kota?" sambung Anna.
"Ini masih lama, Sayang ... kita diskusikan lagi nanti, ya," kilah Raina yang tidak mungkin langsung menolak keinginan Anna yang ingin kuliah di luar kota.
Keesokan harinya Anna berangkat ke sekolah. Dia diantar oleh papinya dan ketika melewati halte, Anna sengaja membuka kaca jendelanya agar Salman lihat jika Anna sudah bergerak maju.
__ADS_1
Anna menatap Salman dari pantulan spion, dan untunglah Salman melihat, karena Anna membuka kaca jendela sampai ke bawah.
"Jangan dibuka kayak gitu, Na ... dingin," tegur Alex.
"Iya, Pi ... barusan aku merasa pengap jadi aku buka biar ada udara yang masuk," kilah Anna beralasan.
"Buka sedikit saja kalau kamu merasa pengap, ini pakai AC," sahut Alex kemudian.
"Huh ... untung aja Papi gak curiga," batin Anna.
Sesampainya di sekolah, Salman tidak langsung turun dari mobil, dia menuliskan pesan singkat pada Anna.
[Zea, nanti setelah pulang sekolah bisa kita bicara? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kamu. Aku gak mungkin mengatakannya lewat pesan seperti ini.]
Tring!
Suara notifikasi pesan masuk membuat Anna segera mengambil ponselnya. Anna membaca pesan dari Salman dan Anna meyakini satu hal jika mungkin Salman hanya cari alasan untuk kembali mendekatinya.
"Kan aku udah pernah bilang jika kita tidak perlu saling bertemu," batin Anna seraya menuliskan jawaban pesan untuk Salman.
[Maaf, aku tidak bisa.]
Anna segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan dia masuk ke kelasnya yang baru.
Salman yang sudah tidak mengajar di kelas XII menyulitkan dia untuk mencari alasan untuk bicara dengan Anna, sehingga apa yang ingin dia sampaikan pun tidak bisa.
Hari-hari terus berlalu, tidak terasa dua minggu sudah Salman terus-terusan mengirim pesan yang serupa pada Anna sehingga membuat Anna frustrasi sendiri. Anna memblokir nomor Salman agar Salman tidak lagi mengirimi dirinya pesan lagi.
__ADS_1
Pesan terakhir yang Salman kirimkan pada Anna terbaca oleh Anna dengan ucapan yang memelas dan memohon, tapi Anna tidak ingin membuat hatinya goyah dengan perasaan cinta salahnya.
"Aku pasti akan bisa melupakannya, dengan aku memblokir nomor ponselnya itu artinya dia pun pasti akan bisa melupakan aku," batin Anna.