
Anna langsung terlonjak kaget ketika namanya dipanggil oleh Salman, dia pun menatap Salman dengan kesal sambil mengeluarkan buku pelajarannya.
"Belum, Pak. Maaf belum fokus," jawab Anna sambil membuka buku dan segera menyelesaikan soal yang diberikan Salman.
"Lucu juga lihat wajahnya yang kayak gitu," batin Salman.
"Oke, segera kerjakan!" titah Salman dengan senyum penuh kemenangan karena berhasil mengerjai Anna.
"Dia tuh sengaja banget ngagetin aku kayak gitu. Dasar ...." Anna menggantungkan kalimatnya dan melihat Salman yang juga sedang menatapnya.
Sepersekian detik kedua manik mata Anna dan Salman saling bertemu. Entah kenapa Anna merasa jadi salah tingkah ketika mendapati Salman yang menatapnya seperti itu. Hatinya jadi sedikit terganggu oleh tatapan Salman yang Anna sendiri tidak tahu kenapa Salman bisa menatapnya seperti itu.
"Hati aku kenapa tiba-tiba berdebar seperti ini, aishhh dia berhasil buat aku jadi jantungan," batin Anna sambil menundukkan pandangannya karena memang dia harus mengerjakan soal.
Tidak butuh waktu lama Anna sudah menyelesaikan soal yang diberikan oleh Salman. Dia menyerahkannya ke depan untuk diperiksa oleh Salman.
"Tuh, kan aku masih bisa belajar dengan baik," bisik Anna pelan yang hanya bisa didengar oleh Salman, karena yang lain pada fokus mengerjakan soal.
"Tetap saja, tadi kamu tidak fokus karena baper," sahut Salman sambil menatap Anna lekat.
Setelah mendapatkan nilai dari Salman, Anna langsung buru-buru membawa bukunya kembali dan jangan ditanya lagi, hati Anna semakin berdegup kencang ketika melihat wajah Salman dari jarak dekat.
"Ahhhh kenapa jadi seperti ini sih," gerutu Anna sambil memegang dadanya untuk merasakan jika jantungnya yang hampir lepas dari tempatnya.
Setelah mengetahui ada beberapa siswa yang bisa menyelesaikan soal, Salman kembali memaparkan materi barunya. Dia menjelaskan dengan begitu rinci dan cara mengajarnya pun mudah dipahami oleh Anna.
Anna tidak sadar jika saat memperhatikan Salman yang sedang memaparkan materi, dia terus-terusan menatap Salman tanpa berkedip. Dia baru menyadari jika laki-laki yang kini menjadi guru matematikanya mempunyai wajah yang tampan, dan kharismatik.
__ADS_1
Anna senyum-senyum sendiri ketika mengingat kembali saat dia nonton bareng dengan Salman, dia tidak pernah menyangka jika pesona Salman mampu mengalihkan rasa marahnya pada Adit, dan untuk beberapa saat dia mampu melupakan Adit.
"Kalau di pikir-pikir saat di luar sekolah Pak Salman lebih frendly. Bahkan dia enggak terlihat canggung sama sekali, padahal kita baru saling kenal ... itu pun hanya sebatas kenal di sekolah saja. Kira-kira bakalan ketemu secara kebetulan lagi enggak, ya?" tanya Anna dalam hati, yang justru mengharapkan bisa bertemu lagi dengan Salman di luar sekolah.
Waktu istirahat sudah tiba, Anna dan kedua temannya, Anita dan Amara berjalan ke arah kantin. Saat di tengah-tengah jalan, Adit langsung menarik tangan Anna dan tindakan Adit tidak luput dari pandangan Ferdy.
"Lepasin, Dit. Kamu apa-apaan sih." Anna berusaha untuk menghempaskan tangan Adit, tetapi tenaganya kalah kuat dengan Adit.
"Lo jangan kasar sama cewek." Ferdy datang bak pahlawan yang menolong Anna agar terlepas dari Adit.
"Lo jangan ikut campur, ini urusan gue sama pacar gue," hardik Adit tidak terima jika Ferdy ikut campur.
"Sama cewek sendiri aja lo kasar, heran gue." Ferdy malah terlihat seperti menantang.
"Syirik aja lo bisanya," cibir Adit seraya menarik kembali Anna.
"Woiiii sama cewek itu yang halus dong, jangan kasar kayak gitu," teriak Ferdy saat melihat Adit menarik Anna, dan suara teriakan Ferdy terdengar oleh Salman yang saat itu ingin pergi ke kantin bersama guru-guru yang lainnya.
"Dasar, ya. Anak-anak sekarang rebutan cewek terang-terangan udah biasa. Beda jaman kita dulu, ketemu cewek aja susah," sahut Pak Amir.
Salman hanya tersenyum, dia melihat ke arah Adit yang terlihat menarik Anna untuk menjauh dari Ferdy. Hatinya jadi kembali bergemuruh ketika melihat Anna dipegang tangannya oleh laki-laki lain.
Rasa cemburu menggelitik hati Salman. Dia buru-buru menepis rasa yang semestinya tidak harus hadir dalam hatinya, karena memang Anna bukan siapa-siapa dirinya.
Sekuat apa pun Salman mencoba untuk tidak terpengaruh oleh rasa cemburu yang hadir, tetap saja dia merasa marah pada Adit yang berani menarik-narik tangan Anna begitu saja. Bahkan, jika mendengar teriakan Ferdy tadi, Salman yakin jika Adit pasti menarik Anna dengan paksa.
"Aku kenapa malah kepikiran dia terus, sadar Salman ... itu bukan urusan kamu," batin Salman terus menyangkal semua rasa yang mulai tumbuh untuk Anna.
__ADS_1
Ya, Salman secara tidak langsung sudah jatuh cinta pada Anna, gadis yang mampu mengetuk hatinya yang sudah lama mati, tetapi Salman tidak berdaya dengan perasaannya, sebab statusnya bukan lagi seorang laki-laki single, melainkan seorang suami dari seorang perempuan yang berada jauh di luar kota sana.
Meskipun Salman tidak mencintai istrinya, tetapi dia masih menghargai pernikahannya, dan dia tidak ingin terlalu jatuh dalam pesona Anna yang semakin hari semakin membuatnya malah makin jatuh cinta.
Sementara itu, Anna yang terus-terusan ditarik oleh Adit, dia segera menghempaskan tangannya ketika Adit membawanya ke bawah pohon yang dekat dengan lapangan olahraga.
"Mau kamu apa sih, Dit? Bisa, kan tidak narik-narik kayak gini," teriak Anna sambil memegang lengannya yang agak merah karena ditarik Adit.
"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu. Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa datang, Mama aku tiba-tiba mengajak aku untuk ke luar kota hingga aku tidak bisa mengabari kamu. Ponsel aku ketinggalan di rumah," jelas Adit.
"Kalau memang seperti itu, kenapa saat aku bilang aku akan berangkat kamu juga bilang sama seperti aku. Jika memang ibu kamu mengajak kamu untuk ke luar kota, harusnya jauh sebelum itu, dan jika memang mendesak seperti itu, kamu pasti punya waktu satu atau dua menit untuk mengabari aku jika kamu tidak bisa pergi. Alasan kamu terlalu di buat-buat," sahut Anna mengeluarkan rasa ragunya dengan alasan Adit.
"Sorry ... aku benar-benar gak sempat." Adit memasang wajah memelasnya.
"Aku tidak suka kamu bohongi, Dit. Bukan karena masalah kamu tidak datangnya, tetapi aku merasa jika kamu hanya mempermainkan aku saja," tegas Anna.
"Aku tidak punya niat untuk mempermainkan kamu, Na. Aku benar-benar minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Please ... maafkan aku, ya." Adit memohon agar Anna memaafkannya.
Jika kamu berani mengingkari janji lagi, aku tidak akan pernah memaafkan kamu lagi," pungkas Anna seraya meninggalkan Adit yang masih berdiri di bawah pohon.
****
Hai ... hai ... hai ...
Maaf lama tidak update. Kemarin-kemarin Aku sedang berduka, Adik bungsu aku meninggal dunia, dan aku benar-benar tidak bisa konsentrasi karena masih merasa kehilangan.
Mohon doanya mudah-mudahan aku sehat dan bisa menemani teman-teman semuanya di sini.
__ADS_1
Jangan lupa untuk vote n like-nya, ya.
Semoga sehat selalu.