Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Makin Dekat


__ADS_3

"Antar saya ke toko buku dulu, ya," ucap Salman ketika mereka selesai makan siang.


"Oke," sahut Anna senang, sebab tadinya dia ingin bicara seperti itu, tapi keduluan sama Salman.


Mereka berjalan beriringan menuju ke toko buku. Selama di toko buku Salman dan Anna terpisah, karena memang barang yang ingin mereka beli berbeda.


Salman sudah mendapatkan apa yang dia cari, sebuah buku filsafat yang selalu menjadi teman ketika Salman sendirian di rumah. Salman menunggu Anna di kasir, tetapi ternyata Anna masih tampak sedang membaca sebuah buku.


"Udah dapat?" Pertanyaan Salman berhasil membuat Anna terlonjak kaget, karena sedang fokus membaca.


"Bapak, ngagetin."


Anna mengelus-elus dadanya sebagai tanda dia kaget.


"Kamu tuh baca atau melamun?" ucap Salman sambil melihat buku yang sedang dibaca oleh Anna.


"Kamu suka baca novel?" tanya Salman dengan berharap jawabannya adalah iya.


"Suka. Emang kenapa?"


Anna mengambil satu jenis novel lagi, karena dia berencana untuk membeli 2 novel.


"Kata orang kalau wanita yang suka baca novel itu katanya type wanita yang romantis," jelas Salman dengan menggoda Anna yang malah memanyunkan bibirnya.


"Romantis ... kayaknya aku belum tahu apa aku termasuk ke type itu atau malah sebaliknya." Anna terkekeh sambil mengajak Salman untuk membayar.


"Sini novelnya, biar sekalian saya yang ngantri." Salman mengambil novel yang sedang dipegang oleh Anna.


"Aku aja, Pak. Masa aku cuma nungguin," tolak Anna sambil berusaha mengambil novel yang sekarang sudah beralih tangan ke tangan Salman.


"Gak apa-apa. Ini bagian cowok," pungkas Salman sambil masuk ke antrian kasir.

__ADS_1


Anna hanya tersenyum, dia menatap Salman yang sekarang sedang menatap ke arahnya juga. Ada perasaan yang tidak biasa ketika Anna sedang diperhatikan oleh Salman seperti itu.


Antrean di kasir memang tidak terlalu panjang, sehingga hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Salman untuk menyelesaikan pembayarannya dan memberikan novelnya pada Anna.


"Ini." Salman memberikan novelnya pada Anna.


"Aku kok jadi gak enak gini, Pak. Aku yang ngajakin jalan tapi malah Bapak yang bayarin semuanya. Di beliin novel lagi," sahut Anna sambil memasang wajah imutnya.


"Gak apa-apa, asal jangan tiap hari saja. Anggap saja novel ini sebagai bonus karena kamu sudah bersedia menemani saya nonton plus makan juga," tegas Salman sambil tersenyum manis ke arah Anna.


"Iyalah gak bakalan tiap hari, kalau tiap hari sama aja aku merampok Bapak." Anna tertawa dan lagi-lagi Salman dengan beraninya malah mengacak-acak poni Anna.


"Coba saja rampok. Itu pun kalau kamu berani," tantang Salman sambil menarik tangan Anna untuk keluar dari toko buku.


"Eh ... ini kenapa malah narik-narik aku kayak gini." Anna berusaha untuk melepaskan tangannya, karena Anna sudah merasakan sesuatu yang lain pada sikap Salman hari ini padanya.


"Habisnya kamu malah ketawa aja. Keburu sore nanti Mami kamu marah dan gak bakalan ngasih ijin saya untuk ngajak kamu keluar lagi," jelas Salman yang justru membuat Anna larut dalam dunia halusinasinya.


Salman dan Anna meninggalkan area parkiran Mall. Anna berpesan untuk diturunkan di halte tempat Salman menjemputnya. Dia dengan terang-terangan mengatakan jika dia tidak ingin diantar sampai rumah, karena takut dimarahi Maminya.


"Hahaha ... nanti aku kasih bintang lima deh," sahut Anna yang justru malah membuat keduanya tertawa dan makin terlihat akrab.


Salman tidak pernah mengira jika dekat dengan Anna akan membuatnya bahagia seperti ini. Selama ini Salman sudah jarang tersenyum, karena hati dan pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang tidak dia sukai.


Anna yang terlahir dari keluarga yang begitu peka terhadap orang lain, dia dengan mudah berbaur dan beradaptasi dengan siapapun. Dia tipe orang yang ramah dan tidak pernah pilih-pilih teman, sehingga meskipun Salman baru dia kenal beberapa bulan saja, dia sudah bisa bersikap biasa tanpa mengurangi rasa hormatnya pada sang guru.


"Maaf aku gak ngajak Bapak ke rumah dulu. Hati-hati, ya," pamit Anna sambil meraih tangan Salman dan mencium punggung tangan Salman.


"Gak apa-apa. Mudah-mudahan saja lain kali saya bisa kamu ajak main ke rumah," sahut Salman bercanda.


Anna hanya tersenyum sambil berpamitan pada Salman. Dia keluar dari mobil Salman dan memilih untuk jalan kaki memasuki area komplek rumahnya.

__ADS_1


Anna terus senyum-senyum sendiri ketika mengingat kejadian hari ini. Sungguh di luar ekspektasi-nya jika hari ini dia menghabiskan waktu hampir seharian dengan Salman, guru barunya di sekolah.


Sesampainya di rumah, Anna langsung diserbu oleh Maminya yang sejak tadi menunggunya pulang. Anna mengacungkan novel yang dibelikan oleh Salman pada ibunya sebagai jawaban kenapa dia pulang hampir sore.


"Kamu tuh kalau udah keluar malah gak tahu waktu," ucap Raina sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Mami ... aku cuma pergi nonton, makan dan beli novel. nonton aja dua jam lebih, ditambah makan, kemudian ke toko buku. Mana mungkin aku bisa pulang cepat." Anna terus membela dirinya yang pulang agak sore.


"Udah, Mi. Biarkan Anna mandi dulu. Di baju Anna banyak virus yang nempel dari luar." Alex selalu menjadi penengah ketika anak dan istrinya beradu argumen.


"Ya, udah ... cepetan mandi. Jangan lupa belajar," sahut Raina.


"Belajar apa, Mi? Malam minggu ... harusnya aku pergi kencan," goda Anna sambil berlari menaiki anak tangga, karena sudah berani membangunkan singa yang tidur.


"Anna ... kamu tuh udah berani nyebut-nyebut kencan. Awas aja kalau ketahuan punya pacar ... Mami gak akan ngasih kamu uang jajan," teriak Raina mengingatkan.


"Mi ... jangan teriak-teriak kayak gitu. Nanti Anna ngikutin jejak kamu. Lagian kasih kepercayaan sama Anna. Papi yakin kok kalau Anna akan seperti kamu, dia gak akan salah menilai laki-laki," bela Alex.


"Beda, Pi. Zaman dulu dan sekarang beda. Dulu aja kamu udah berani cium-cium aku sebelum nikah. Apalagi sekarang, anak-anak pasti bisa melakukan hal yang lebih daripada itu. Mami hanya khawatir," jelas Raina.


"Jangan bawa-bawa masalah Papi yang udah ngambil ciuman Mami, dong. Papi berani melakukannya karena memang Papi serius sama Mami. Nah, sekarang pun mereka akan sama, mereka gak mungkin melakukan hal-hal yang dilarang jika belum waktunya." Alex menjeda ucapannya.


"Papi hanya takut jika kita terlalu ngatur atau mengekang Anna, dia akan diam-diam pacaran di belakang kita. Papi ingin Anna terbuka dengan apa yang sedang dia lakukan supaya kita tenang gak curiga terus-terusan sama Anna," tegas Alex.


"Mami akan memikirkannya dulu," pungkas Raina sambil beranjak dari duduknya.


***


Jangan lupa kasih komentarnya, ya, teman-teman.


Jika suka sama karya saya ajak teman yang lain untuk membacanya juga, ya. Terima kasih.

__ADS_1


Big hug,


Rosita Rasta


__ADS_2