Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Have Fun


__ADS_3

Anna terus mengedarkan pandangannya berharap jika ketika dia masuk ke mall akan bertemu dengan Salman, guru yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


"Anna, mendingan kita cari makan dulu. Aku lapar belum makan," ucap Anita seraya mengapit tangan Anna dan juga Amara.


"Kalau aku sih barusan disuapi Mami, tapi cuma sedikit. Kita cari makanan yang cepet aja ... filmnya keburu mulai," sahut Anna menyetujui ajakan Anita untuk makan.


Mereka bertiga membeli tiket masuk bioskop terlebih dahulu, kemudian mencari makan dan makanan yang mereka makan hanya ayam tepung saja supaya makanannya cepat disajikan dan mereka tidak ketinggalan ketika nanti filmnya diputar.


Mereka asyik makan sambil berbincang-bincang dan alangkah kagetnya ketika ada suara yang begitu sangat ingin Anna hindari, Adit.


"Hai ... boleh gabung gak?" tanya Adit basa-basi seraya ikut bergabung duduk dengan tiga serangkai itu.


"Ya boleh aja, asal jangan mancing keributan aja," ketus Anna dengan mengerlingkan matanya.


"Biasa aja kali ngomongnya, Na. Kamu tuh kenapa jadi sewot gini," sambung Adit.


Anna menoleh ke arah Adit dengan tatapan tidak suka, dan ketika Anna akan bicara, Amara sudah lebih dulu menyela mereka.


"Udah deh, kalian tuh kalau ada masalah mendingan dibicarakan baik-baik bukan malah saling sewot kayak gini. Aku gak suka lihat kalian kayak gini, apa gak bisa akur kayak dulu lagi?"


"Teman kamunya yang sewot, Ra," sahut Adit cepat.


"Untung aja tadi disuapi Mami, kalau enggak pasti aku bakal kelaparan gara-gara dia datang dan menghilangkan selera makan aku," gerutu Anna dalam hati.


"Aku nunggu di depan bioskop, ya. Kalian habiskan dulu aja," ucap Anna seraya beranjak dan menggeser kursi agar bisa keluar.


"Kok gitu sih," sahut Anita tidak mengerti kenapa Anna memilih untuk pergi dan tidak menghabiskan makanannya.

__ADS_1


Anna berjalan dan tidak tahu malunya Adit justru malah ikut menyusul Anna, dia menarik tangan Anna dan menahan Anna agar menghentikan langkahnya.


"Na, aku ingin bicara serius sama kamu," ucap Adit sungguh-sungguh.


"Adit, kalau mau bicara ... ya tinggal bicara aja. Gak usah pakai pegang-pegang kayak gini," ketus Anna seraya menarik tangannya yang ditahan oleh Adit.


"Aku ingin balikan lagi sama kamu, Na. Aku masih cinta dan aku janji aku gak akan melakukan yang aneh-aneh pada kamu," jelas Adit penuh harap.


"Kejadian waktu itu benar-benar diluar kendali aku, aku menyesal ... sangat menyesal karena sudah memperlakukan kamu seperti itu. Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua itu, Anna," sambung Adit dengan memasang wajah penuh penyesalan.


"Adit ... aku juga benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa. Bukan karena masalah itu ... hanya saja aku tidak ingin lagi berbohong pada orang tua aku, aku sudah berjanji jika sebelum aku lulus SMA aku tidak ingin pacaran lagi. Tolong hargai keputusan aku," jelas Anna.


"Kita bisa pacaran secara sembunyi-sembunyi, Na. Aku gak masalah jika kita harus menyembunyikan hubungan kita dari orang lain. Aku gak peduli jika orang lain tidak tahu hubungan kita, tapi aku mohon ... mari kita mulai lagi dari awal, Na," pinta Adit dengan wajah memelas.


"Aku tetap gak bisa, Dit. Mau sembunyi-sembunyi, mau terang-terangan ... aku tetap tidak bisa, Dit," sahut Alifa dengan hati-hati takut Adit akan tersinggung.


Ketika mereka berdua berdebat tentang urusan hati, Anita dan Amara datang menghampiri Anna dan Adit. Dia mengajak Anna untuk segera menyusul mereka karena sebentar lagi filmnya akan segera diputar.


Sungguh di luar dugaan, ternyata Adit juga ikut masuk ke dalam bioskop. Anna malah makin menjadi kesal dan bad mood karena Adit yang seperti itu.


Acara nonton yang seharusnya mengasyikkan, justru malah sebaliknya. Anna tidak menikmati alur cerita film yang ditonton karena Adit yang terus-terusan ngajak bicara.


"Dit ... aku pengin konsen nonton, bisa gak sih kalau kamu diam dulu. Aku jadi gak bisa menikmati cerita Filmnya," ucap Anna dengan mendengus kesal.


Saat seperti ini, Anna kembali mengingat ketika dia nonton dengan Salman, bibirnya sedikit terangkat ketika teringat Salman yang menggenggam tangannya dengan tiba-tiba.


"Pak Salman kenapa berani pegang tangan aku? Tapi setelah itu Pak Salman bilang aku jangan bertanya ... sebenarnya sampai hari ini aku masih merasa penasaran dengan alasannya, tapi aku tidak bisa memaksanya untuk memberikan alasan karena dia sendiri udah menegaskannya dengan berulang kali," batin Anna teringat pada sosok Salman.

__ADS_1


Anna membayangkan ketika mereka berdua nonton film romantis yang berakhir dengan omelan, karena Salman terus-terusan mewanti-wanti agar Anna tidak boleh meniru adegan-adegan yang seharusnya tidak dilakukan.


"Pak Salman .. kira-kira lagi ngapain, ya," batin Anna mengingat Salman.


Entah karena sudah ada ikatan batin atau memang kebetulan, Anna yang memikirkan Salman tiba-tiba mendapatkan pesan masuk dari Salman.


Anna membulatkan matanya ketika melihat pesan dari Salman. Takut pesan yang Salman kirim akan terbaca oleh Adit, Anna buru-buru membuka ponselnya dengan jarak yang tidak mungkin bisa dilihat oleh Adit.


[Lagi apa? Tadi saya gak sengaja lihat kamu ketika di stop-an lalu lintas. Maaf jika isi pesan saya yang tadi menyinggung perasaan kamu, Zea. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung, hanya saja saya merasa takut jika ketika kamu keluar dengan pakaian seperti itu bukannya nyaman justru malah sebaliknya.]


Anna membaca pesan dari Salman, hatinya bergumam, "Kok seperti ada ikatan batin, aku mengingatnya dan dia langsung mengirim aku pesan. Apa artinya ini?"


Anna buru-buru membalas pesan dari Salman dengan perasaan yang sulit untuk diartikan.


[Gak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan aku. Aku senang loh Bapak ngingetin aku kayak tadi. Maaf tadi gak sempat balas chat Bapak, aku keburu masuk karena takut filmnya keburu diputar.]


Salman yang menerima balasan pesan dari Anna yang cukup cepat, dia juga begitu senang, tapi dia akhirnya jadi bingung sendiri karena Anna yang sedang nonton kok masih bisa membalas pesannya, padahal jika sedang nonton pasti Anna akan fokus pada filmnya.


[Have fun, ya. Hati-hati ketika nanti pulang.]


Sebaris pesan yang dikirim Salman lagi membuat Anna sedikit kecewa karena ternyata Salman sudah mengakhiri obrolannya.


"Huh ... padahal aku udah seneng dapat chat dari dia, tapi kenapa dia buru-buru mengakhirinya? biasanya juga suka banyak pertanyaan-pertanyaan aneh," batin Anna.


Anna tidak sadar dengan apa yang dia rasakan saat ini. Perlahan nama Salman menempati tempat khusus di hatinya dan entah dimulai dari sejak kapan, karena Anna sendiri belum menyadarinya.


****

__ADS_1


jangan lupa like n kasih komentar yang membangun, ya teman-teman.


__ADS_2