Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
I Love You VS I Hate You


__ADS_3

Salman hanya bisa menatap Anna sendu yang saat ini sedang mencoba untuk menahan tangisnya. Rasa sayang yang melebihi pada dirinya sendiri membuat Salman spontan membuka seat belt kemudian maju merengkuh tubuh Anna yang bergetar karena menangis.


Salman memeluk Anna dengan begitu hangat, dia mengusap-usap kepala Anna dengan lembut.


"Menangislah ... aku akan pura-pura tidak melihatnya," ucap Salman ketika merasakan emosi Anna akan meledak.


Anna benar-benar menangis, dia menangis di pelukan Salman. Tubuhnya bergetar begitu hebat meluapkan semua emosi dalam hatinya.


"Aku benci sama kamu, aku benci," ucap Anna sambil terus menangis di pelukan Salman.


"Iya, aku tahu ... aku akan mengingatnya," sahut Salman.


"Aku benci, benci." Anna yang merasa dirinya menyukai Salman, tubuhnya merespon dengan apa yang Salman lakukan, dia membalas pelukan Salman tapi otaknya menolak.


Salman makin mengeratkan pelukannya. Dia merasa bersalah, karena harus menarik Anna pada takdir dia yang rumit. Salman melonggarkan pelukannya dan menyeka air mata Anna.


"Maafkan aku, Zea. Semua ini aku yang mulai ... aku tidak pernah menyangka jika perasaan aku begitu dalam dan kuat untukmu." Salman kembali menyeka air mata Anna.


"Untuk saat ini aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Aku akan berusaha untuk berjuang mendapatkan kamu. Aku tidak akan menyerah!" tegas Salman.


"Aku benci sama kamu," sahut Anna yang saat ini sudah kembali cemberut.


Salman hanya tersenyum seraya mengusap kepala Anna. Dia paham betul dengan kata benci yang Anna ungkapkan bukan yang sebenarnya, melainkan ungkapan perasaan yang sama dengan dirinya.


"I love you, Zeanna ... I love you more," ucap Salman dengan mata yang menatap dalam ke arah Anna.


"I hate you," sahut Anna sambil melengos tidak berani menatap Salman.


"Terima kasih," sahut Salman sambil mengacak rambut Anna dan kembali menghidupkan mesin mobilnya.


Salman mengajak Anna ke tempat wisata, perkebunan teh yang mampu membuat emosi keduanya mereda, karena pemandangan alam yang begitu asri.


"Jangan menolak," ucap Salman ketika Salman meraih tangan Anna dan menggenggamnya.


"Dasar tukang maksa," cibir Anna.


Hari ini baik Salman ataupun Anna, tidak lagi saling bicara. Mereka berdua berpegangan tangan tapi bibir mereka berdua terkunci rapat, hingga akhirnya ketika melihat penjual minuman, Salman mengajak Anna untuk duduk di warung sederhana yang ada di perkebunan teh tersebut.


"Coklat panasnya dua," ucap Salman pada penjual minuman.

__ADS_1


Salman terus menatap Anna dan Anna seolah-olah menghindari berpandangan dengan Salman.


"Besok aku akan kembali, jadi anggap saja ini hari terakhir aku ngajak kamu jalan-jalan di sini," ucap Salman memecah keheningan yang terjadi antara dirinya dan Anna.


"Terserah," sahut Anna.


"Hari ini sampai sore, ya?" sambung Salman.


"Mau ngapain sampai sore, ini aja udah capek," keluh Anna.


"Capek apanya?" sambung Salman.


"Hati, puas!" seru Anna ketus.


Salman hanya tersenyum, sambil mengusap kepala Anna. Dia pun segera mengambil coklat panas untuknya dan juga Anna.


"Hatinya angetin dulu sama coklat, biar meleleh," goda Salman sambil menyerahkan coklat hangat.


"Makasih," sahut Anna lempeng.


Tidak ada lagi obrolan selain itu, sampai akhirnya mereka berdua kembali ke mobil.


"Apa tidak punya alasan?" sahut Salman yang saat ini masih ingin menghabiskan waktu dengan Anna.


"Di sini aku gak punya temen, kalau tiba-tiba aku pulang sore, yang ada nanti Nenek aku khawatir aku kenapa-kenapa," jelas Anna.


"Bilang aja kamu ketemu sama aku, guru kamu," sahut Salman.


"Hallo Pak Guru ... gak ada guru kayak kamu yang ngajak muridnya jalan-jalan kalau tidak punya kepentingan pribadi," cibir Anna lagi.


"Aku masih rindu, Zea." Salman benar-benar masih ingin bersama Anna.


"Gak usah bilang kayak gitu. Nanti kedengaran orang lain dikiranya kita ada apa-apanya," tegur Anna.


"Kan memang ada apa-apanya," sahut Salman enteng.


"Hati-hati kalau ngomong ... nanti aku di datangin sama bini kamu," ketus Anna.


"Tidak akan ... dia tidak tahu kalau kita sudah saling mengenal," jelas Salman.

__ADS_1


"Ish dasar laki-laki tidak tahu diri," cibir Anna lagi.


"Mau nganterin aku pulang atau aku harus naik angkutan umum dari sini?" gertak Anna yang sudah merasakan jika hatinya tidak akan pernah kuat untuk membenci Salman jika mereka terus seperti ini.


"Iya, aku anterin," sahut Salman sambil membuka pintu mobilnya.


Anna dan Salman pulang, benar-benar pulang tanpa ada obrolan apa-apa lagi.


Tiba di depan rumah neneknya, Anna yang hendak keluar ditahan oleh Salman.


"Jangan kamu pikirkan tentang kejadian yang sudah menimpa kita. Anggap kamu tidak pernah mendengar apa pun juga. Aku akan menunggumu di tempat biasa dan kamu tidak boleh melarang. Aku hanya ingin melihat kamu meskipun kamu sedang mengemudikan motor," ucap Salman.


"Terserah kamu, saja. Pokoknya setelah kita ketemu lagi, aku tidak ingin kamu melakukan hal seperti ini. Pertemuan ini adalah yang terakhir, bincang-bincang kita hari ini juga yang terakhir. Jangan mencari alasan apa pun untuk menemuiku lagi," tegas Anna.


"Akan aku usahakan," sahut Salman tenang.


Anna yang kesal tapi dia masih mempunyai nilai plus dalam bersikap.


Anna meraih tangan Salman kemudian mencium punggung tangan Salman.


"Selamat tinggal," ucap Anna sambil membuka pintu mobil.


Anna menarik napasnya panjang, dan ketika dia masuk ternyata di rumah tidak ada siapa-siapa, yang ada hanya asisten rumah neneknya.


"Bi ... Nenek lagi pada kemana?" tanya Anna.


"Lagi keluar sama Tuan, mungkin nanti sore bakalan balik," jelas orang yang bekerja di rumah neneknya Anna.


Anna masuk ke kamar. Dia menatap dirinya di pantulan cermin, mata sembab bekas sisa-sisa menangis masih tampak meskipun hanya tinggal sedikit.


"Aku juga mencintaimu, tapi aku takut jika aku mengungkapkannya aku bakalan jadi pelakor," gumam Anna.


"Bahkan ketika kita berpelukan pun aku begitu merasa tenang dan damai. Tapi aku tidak mungkin mengakuinya karena takut ketahuan oleh orang tuaku," batin Anna.


"Aku tidak membayangkan seandainya Mami dan Papi tahu aku menyukai bahkan mencintai laki-laki beristri, sudah sangat pasti aku bakalan kena semprot Mami, apalagi kalau Mami tahu orang aku suka itu orang yang ngasih jam tangan mahal itu," batin Anna menerka-nerka apa yang akan terjadi.


"Aku harus bisa menjaga perasaan aku. Aku tidak boleh lagi berinteraksi dengan dia agar aku bisa melupakannya dengan cepat." Anna terus membatin.


"Pak Salman ... kamu laki-laki pertama yang begitu menghormati aku, menyayangi aku dan juga care sama aku. Tapi kenapa kita bertemu ketika status kita tidak bisa bersama," batin Anna.

__ADS_1


__ADS_2