Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Simbiosis Mutualisme


__ADS_3

Pagi ini Anna benar-benar merasa senang, pasalnya dia akan pergi nonton dengan Salman.


"Kok aku senang kayak gini, ya? Padahal cuma pergi nonton dengan Pak Salman yang bukan siapa-siapa aku," monolog Anna sambil memandang wajahnya di pantulan cermin.


"Apa tebakan aku salah? Gak mungkin kalau Pak Salman gak punya perasaan apa-apa sama aku. Dia begitu perhatian dan juga ngapain coba ngajak aku nonton kalau memang bukan untuk pendekatan," lanjut Anna bermonolog.


"Hus ... kamu jangan jadi cewek geer, Anna. Mana mungkin Pak Salman suka sama anak ABG labil kayak aku. Mungkin Pak Salman hanya ingin menghibur aku yang bete gara-gara si Adit."


Anna menepis pikiran tentang kemungkinan Salman yang menyukai dirinya. Dia tidak ingin dianggap terlalu percaya diri dan juga geer sendiri gara-gara cuma diajak nonton.


Anna buru-buru turun. Rambutnya diikat ke atas hingga terlihat leher jenjangnya yang putih, rok pendek selutut dan atasan t-shirt pendek menambah kesan kecantikan alami Anna.


"Mau kemana lagi kamu?" tanya Raina yang selalu over protective pada Anna.


"Mau pergi sama temen, Mi ... otak aku butuh refreshing biar gak mumet habis UAS kemarin," sahut Anna santai sambil bergelayut manja di lengan Maminya itu.


"Jangan terlalu sore pulangnya. Kayak kemarin Mami suka," sahut Raina mencubit hidung mancung Anna.


"Emang kemaren aku gimana?" Anna terlihat berpikir.


"Pulang sebelum waktu kamu habis, Mami suka ... Kalau kayak gitu jadi Mami gak perlu repot-repot ceramahin kamu," jelas Raina yang seketika membuat Alex tersenyum mendengar istrinya akur dengan anak bungsunya.


"Iya, dong ... aku tuh kalau di kasih kepercayaan sama Mami gak bakalan nyia-nyiain, Mi. Makanya Mami harus percaya sama aku, kalau aku itu udah bisa membagi waktu aku. Lagian sekarang UAS udah selesai jadi aku gak bakalan ke sekolah kalau gak ada urusan mendesak ... lebih baik prepare buat liburan."


Anna paling bisa mengambil hati Maminya, tanpa hambatan apa pun, Anna mendapatkan ijin keluar dari rumah dengan begitu lancar.


Anna berjalan ke depan komplek dengan hati senang. Tepat jam 9 Anna sampai di halte, dan melihat sudah ada Salman yang saat ini tengah menunggunya sambil duduk di halte.


"Kirain gak bakalan datang," ucap Salman seraya berdiri ketika melihat Anna yang berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Anna meraih tangan Salman dan mencium punggung tangan laki-laki yang saat ini tengah terpana melihat penampilan dirinya.


"Mana mungkin aku gak datang ... kan, Bapak udah janji bakalan ngajakin nonton sebagai ganti hari kemarin yang super duper bikin aku bete," sahut Anna setelah mencium punggung tangan Salman.


"Bisa aja kamu," sahut Salman tersenyum.


"Terus selain itu aku juga kasihan kalau nantinya Bapak bakalan nonton sendirian. Jadi, ya, anggap saja kita ini sedang menjalankan prinsip simbiosis mutualisme, Pak. Bapak senang aku juga," lanjut Anna dengan tersenyum menggemaskan.


"Hahaha ... kamu emang paling bisa, ya."


Salman tersenyum seraya membuka pintu mobil untuk Anna.


"Makasih, Pak." Anna masuk setelah Salman membukakan pintu mobil untuknya.


"Kamu bilang apa sama Mami kamu?" tanya Salman seraya menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya.


"Sekarang Maminya udah gak banyak tanya?" lanjut Salman yang entah kenapa memanggil maminya Anna sudah sangat begitu lancar.


"Enggak. Mami aku tuh orangnya simpel ... kalau aku gak melanggar kepercayaannya, aku aman pergi kemana pun juga, asal jangan pulang bikin Mami marah," jelas Anna.


Salman menyimak semua hal yang dikatakan oleh Anna tentang maminya. Dia jadi banyak tahu tentang bagaimana orang tua Anna memperlakukan Anna dengan begitu istimewa, dan juga tahu jika ternyata selain dari kelonggaran yang Anna bicarakan ternyata Anna begitu dikelilingi oleh banyak aturan. Namun, ketika Salman menyimak semua obrolan Anna, dia malah makin jatuh hati karena kehangatan keluarga Anna.


"Kamu beruntung punya orang tua yang support kamu, Zea. Makanya jangan pernah menyia-nyiakan apa yang orang tua kamu harapkan," ucap Salman ketika mengingat jika dirinya tidak bisa sebebas Anna.


Salman yang notabene hanya punya ibu, dia merasakan kebebasannya terkekang. Apalagi setelah tahu dirinya dijodohkan dengan wanita yang usianya lebih tua darinya, Salman ingin sekali menolak. Namun, apa daya Salman tidak punya kekuatan apa-apa hingga akhirnya dengan bermerek balas budi, Salman menikah muda dengan wanita yang tidak pernah dia cinta.


"Memangnya keluarga Bapak gimana?"


Deg, Salman tidak pernah mengira jika Anna akan melemparkan pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"Saya tidak bisa sebebas kamu, Zea. Saya hanya punya ibu dan sebagai seorang anak laki-laki ... saya harus selalu ingat jika ibu akan selalu menjadi panutan saya dan harus selalu mematuhi setiap ucapan ibu, karena sejatinya anak laki-laki harus selalu patuh dan berbakti pada ibu. Beda lagi dengan anak perempuan, baktinya akan berubah ketika sudah menikah. Laki-laki tidak," jelas Salman seakan ingin mengatakan isi yang ada di hatinya.


"Iya, juga sih. Papi aku juga selalu bilang kayak gitu, Pak. Meskipun Papi sudah nikah dan punya anak, Papi masih harus berbakti pada nenek, tapi kalau Mami ... harus berbakti pada suami." Anna pun tersenyum ketika sang Papi yang selalu memberikan nasihat-nasihat disela obrolan ringannya.


Salman tersenyum dan makin jatuh hati lagi pada Anna ketika dengan dewasanya menyikapi setiap ucapan Salman.


"Seandainya aku punya kesempatan, aku pasti akan memintamu pada kedua orang tuamu dengan senang hati, Zea," batin Salman.


Tidak lama mereka sampai di tempat nonton yang biasa mereka gunakan. Salman membeli tiket dan juga cemilan untuk mereka berdua.


"Mau nonton apa?" tanya Salman memberikan pilihan.


"Nonton horor aja, Pak. Aku pengin tahu sampai sejauh mana aku berani," sahut Anna.


"Ah ... daripada harus keluar di tengah-tengah lebih baik nyari film normal aja. Saya gak mau nanti disalahkan karena selepas pulang dari sini kamu jadi penakut," tolak Salman sambil menarik tangan Anna untuk melihat daftar film yang akan tayang.


"Ya, udah nonton film normal aja," sahut Anna sambil cekikikan, karena sebenarnya dia memang masih belum berani untuk menonton horor.


"Aku minumnya mau cola," sambung Anna memberi penawaran.


"Baik Tuan Putri," sahut Salman yang begitu senang, karena saat ini Anna seperti sudah terbiasa jalan dengan dirinya.


Anna dan Salman duduk seperti biasanya. Ada banyak pasangan lain yang juga duduk satu baris dengan Anna.


"Pak, bisa tukeran kursi?" ucap Anna ketika sudah duduk.


"Kenapa?" sahut Salman sambil mengerutkan keningnya.


"Di pinggir aku ada cowok ... aku takut nanti dia salah bersandar karena dikira aku pacarnya," bisik Anna tepat di telinga Salman, yang Anna sendiri tidak sadar jika perbuatan Anna barusan membangkitkan gairah hasrat Salman yang terpendam.

__ADS_1


__ADS_2