
Anna diam membeku ketika melihat Salman bergumam. Namun, tatapan Salman yang seolah-olah menatapnya seperti dalam mimpi membuat dia tidak menahan senyumnya, karena lega melihat Salman sudah siuman.
"Apa kabar?" ucap Anna dengan tersenyum.
"Wah, di mimpi pun dia masih perhatian sama aku, bahkan suaranya terasa nyaring dan menggema dalam telingaku. Zea ... apa kabarmu?"
Salman yang masih menganggap ini adalah bagian dari halusinasinya, mencoba memejamkan mata untuk menyadarkan dirinya sendiri.
"Apa aku seperti bayangan? Atau mungkin aku terlihat seperti tidak nyata?" ucap Anna lagi yang sontak membuat Salman kembali membuka matanya dan menatap ke arah Anna. Tidak sampai di situ, Salman pun mengucek-ngucek matanya dan memastikan apa yang dia dengar dan dia lihat adalah nyata.
"Ini aku, Pak ... Zeanna," ucap Anna lagi seraya mendekat ke arah Salman.
"Zea? Benarkah kamu, Sayang?" sahut Salman yang refleks akan bangun tapi tidak bisa bangun karena merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, di tambah kakinya di gips hingga dia tidak bisa bergerak bebas.
"Jangan dulu banyak gerak, Pak. Kakinya retak hingga harus bangun pelan-pelan," ucap Anna seraya mencoba membantu Salman untuk kembali ke posisi semula.
Salman menahan tangan Anna. Dia menatap lekat wanita yang sudah 5 tahun lebih tidak pernah dia lihat.
"Aku ingin duduk," ucap Salman pelan.
"Baiklah akan aku bantu," sahut Anna yang tidak merasa canggung karena profesinya sebagai dokter menuntut dia untuk selalu bisa membantu pasiennya.
Lagi-lagi Salman menahan tangan Anna. Dia masih belum percaya jika dia bisa bertemu lagi dengan Anna, wanita yang masih selalu ada di hatinya.
Mata Salman menangkap sebuah liontin yang tidak asing di matanya. Dia kemudian beralih menatap Anna yang jauh lebih dewasa ketimbang 5 tahun yang lalu.
"Apa benar ini kamu, Zea?" ucap Salman.
"Kalau bukan, mana mungkin aku bertanya sama kamu," sahut Anna dengan tersenyum.
"Kamu makin cantik," ucap Salman lagi.
"Lagi sakit aja masih ngegombal," sahut Anna seraya terkekeh.
"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Salman.
__ADS_1
"Aku kuliah di sini, dan sekarang sedang menyempurnakan profesi aku, magang di rumah sakit ini," jelas Anna lugas.
"Kamu kuliah di sini? Di mana?" sambung Salman yang seolah-olah melupakan semua rasa sakit akibat luka kecelakaan.
"Di universitas kedokteran," jawab Anna.
"Ya ampun, itu kampus padahal dekat dengan rumah aku," sahut Salman dengan mata tetap fokus menatap ke arah Anna.
Anna tersenyum. "Aku juga belum pernah melihat Bapak di sini," sahut Anna.
Salman tersenyum. Tangannya bergerak mengusap-ngusap pipi Anna dengan lembut. "Aku rindu, Zea ... sungguh aku sangat merindukanmu," ucap Salman.
"Apa kamu sudah menikah?" sambung Salman bertanya dan Anna menggeleng.
"Apa kamu sudah bertunangan?" lanjut Salman yang lagi-lagi mendapat gelengan kepala dari Anna.
"Apa kamu punya pacar?"
Pertanyaan terakhir Salman membuat Anna tidak merespon apa-apa. Dia takut jika saat ini Salman hanya mencoba mencari celah untuk mendekatinya lagi sedangkan Anna melihat dengan mata kepalanya sendiri, di pesta pernikahan Kakaknya, Vania membawa seorang anak kecil yang Anna yakini adalah anaknya.
"Zea, apa kamu punya pacar?" ulang Salman menunggu jawaban dari Anna.
"Aku butuh jawaban kamu, Zea," tegas Salman seraya menahan tangan Salman.
"Aku harus berkeliling mengontrol pasien, Pak," jelas Anna yang sebenarnya hanya ingin menghindar karena tidak bisa menjawab pertanyaan Salman.
"Jawab dulu pertanyaan aku, setelah itu aku akan istirahat," bujuk Salman.
"Jawaban apa yang ingin Bapak ingin dengar?" Sekarang Anna yang memilih bertanya.
"Apa kamu punya pacar?" ulang Salman dengan tatapan hangatnya pada Anna.
"Aku single, tidak punya suami, tidak punya tunangan dan tidak punya pacar. Puas?" ketus Anna.
Salman tersenyum lega dan tubuhnya refleks memeluk Anna. Dia meyakini jika Anna masih menyimpan rasa padanya, karena kalung yang dijadikan hadiah ulang tahunnya masih melingkar di leher jenjang Anna.
__ADS_1
"Aku suka, suka dengan jawaban kamu, bahkan aku sangat senang ... jika saja kaki aku tidak retak tentunya aku sudah jingkrak-jingkrak kegirangan mendengar jawaban kamu, Zea," bisik Salman tepat di telinga Anna.
Anna hanya tersenyum masam, dia tidak mungkin ikut senang karena pastinya rasa senang dirinya adalah sebuah kesalahan.
"Aku akan istirahat dan menunggu kamu lagi di sini," sambung Salman sambil melepaskan pelukannya.
Anna tidak bisa menjawab apa-apa. Jantungnya bertalu-talu ketika Salman memeluknya dengan begitu erat dan juga hangat. Dia merindukan Salman, tapi itu adalah rindu yang salah yang seharusnya tidak pernah muncul.
Anna keluar dari kamar perawatan Salman. Dia menarik napasnya panjang untuk menormalkan kembali detak jantungnya.
Anna berjalan ke arah UGD untuk kembali berjaga. Waktu jaganya sudah mau hampir habis tapi untuk berjaga-jaga Anna tetap ke ruang UGD untuk merampungkan tugasnya hari ini.
"Keluarga pasien yang atas nama Salman udah ada kabar?" tanya Anna ketika melihat perawat yang tadi mengambil data Salman.
"Rumahnya kosong, dan menurut tetangga dia tinggal seorang diri," jelas perawat.
"Seorang diri?" ulang Anna seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, bahkan tetangganya tidak ada yang tahu keluarganya yang lain, sebab tidak pernah ada orang yang berkunjung ke sana," lanjut perawat lagi.
"Oh, bisa minta KTP-nya," pinta Anna yang berencana akan mengembalikan KTP pada Salman.
Anna melihat jam yang melingkar di tangannya. Hampir jam 3 sore, itu artinya dia alan bertukar shift dengan dokter lainnya.
Anna melepas jubah dokternya kemudian mencuci mukanya dan melepas ikatan rambutnya. Dia menyisir rambutnya kemudian menyambar tasnya.
Dia melangkah lagi ke kamar Salman. Ada rasa ingin tahu yang lebih ketika mendengar penjelasan dari perawat tadi. Namun, Anna tidak mungkin langsung bertanya secara to the point.
Kakinya begitu ringan melangkah ke kamar Salman, tapi hatinya masih berat dengan kenyataan yang pasti tidak bisa dia pungkiri jika Salman tidak akan pernah jadi miliknya.
"Ingat, aku hanya sebagai dokter-nya. Aku bukan orang ketiga," tegas Anna dalam hatinya.
Anna membuka pintu kamar perawatan Salman. Dia menarik napas untuk mengumpulkan keberaniannya dan ketika melihat Salman yang tersenyum ke arahnya, hatinya meleleh dan tidak dia pungkiri jika dia senang bisa bertemu dengan Salman lagi.
"Jam dinas kamu sudah habis?" tanya Salman dengan hangat.
__ADS_1
"Iya, ini aku udah mau pulang," sahut Anna seraya menyimpan tasnya di atas nakas.
"Kenapa? Kok seperti ada yang ingin kamu tanyakan?" tebak Salman yang langsung membuat Anna terperanjat kaget karena Salman bisa menebak apa yang ada di kepalanya.