
Anna memilih diam. Penjelasan dokter tentang kemungkinan Anna masih bisa hamil terus terngiang di telinganya.
"Istri saya sebenarnya sedang mengkonsumsi pil KB, Dok. Kami sengaja karena istri saya sedang koas hingga kami memutuskan untuk menundanya sampai semuanya selesai." Salman merasa tidak mengerti dengan kejadian yang alami Anna.
"Istri Anda calon dokter pasti tahu tentang kasus ini, Pak," sahut dokter ramah.
"Pada beberapa kasus kehamilan, ibu hamil yang meminum pil KB terkadang meminumnya tanpa aturan atau sesukanya. Siklus haid biasanya adalah waktu yang paling sering digunakan saat wanita minum pil KB secara sembarangan. Inilah penyebab utama kenapa bisa hamil meskipun minum pil KB. Namun, saya yakin istri Anda lebih tahu masalah ini," jelas dokter lugas.
"Atau mungkin saja istri Anda meminum pil kontrasepsi hampir bersamaan dengan satu jenis obat lain atau lebih, kedua jenis obat itu terkadang dapat saling berinteraksi dan mengubah cara kerja pil kontrasepsi," lanjut dokter.
Deg!
Anna kaget ketika mendengar kalimat dokter yang barusan, ketika dia sakit, dia meminum pil KB berbarengan dengan antibiotik.
"Perlu Anda ketahui juga, mengonsumsi pil pencegah kehamilan, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menyerap kandungan obat ke dalam aliran darah dan bekerja. Jika istri Anda mengalami muntah selama setengah jam setelah minum pil, maka itu akan memiliki peluang untuk menjadi hamil jika Anda berhubungan badan nantinya."
Semua ucapan dokter memang jelas. Salman yang bukan dari kesehatan pun jadi paham cara kerja dari pil KB yang dikonsumsi oleh istrinya itu.
***
Tiba di rumah, Anna masih tidak bicara. Dia masih belum mau punya anak, terlebih mual yang tadi dia rasakan sungguh sangat menyiksa.
"Bantalnya mau ditinggikan?" tanya Salman ketika Anna yang memilih untuk istirahat di kamar.
"Enggak, aku cuma mau tiduran aja," sahut Anna dengan wajah yang datar.
Salman menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Dia duduk di samping istrinya yang saat ini tengah mencoba memejamkan mata, tapi terlihat susah.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Salman seraya meraih tangan Anna.
__ADS_1
"Mungkin aku menjadi salah satu orang yang bahagia di atas penderitaan kamu. Sungguh aku merasa jika kehadiran calon anak kita itu adalah anugerah yang selama ini aku nantikan, tapi maaf ... anal kita justru hadir ketika kamu belum siap," lanjut Salman.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menggugurkannya?" sahut Anna dengan tidak merasa bersalah mengatakan hal itu pada Salman.
"Apa yang kamu bicarakan, Zea?" Nada bicara Salman naik datu oktaf.
"Kamu, kan tahu aku belum siap, Mas. Lalu tadi kamu bilang kamu tidak ingin membebani aku dengan masalah ini. Apa salahnya jika kita menggugurkannya? Mumpung masih bisa dan itu tidak akan berdampak apa-apa!" seru Anna.
"Aku yang kena dampaknya, Zea. Apa kamu pernah memikirkan bagaimana pasangan suami istri yang ingin memiliki keturunan? Mereka bahkan rela berobat ke seluruh dunia hanya untuk memiliki buah cinta mereka, kita ... kita sudah diberi kepercayaan itu, dan kamu dengan begitu mudahnya ingin menghilangkan janin yang tak berdosa itu," tegas Salman dengan kilatan amarah.
"Tapi aku belum siap. Kamu tidak perlu khawatir dengan aku hamil seperti ini artinya kelak aku masih bisa punya anak," lanjut Anna.
"Jika Tuhan mengutuk gimana? Jika Tuhan tidak lagi memberikan kesempatan kita untuk punya anak gimana?" hardik Salman tegas.
Anna diam. Ucapan Salman sungguh membuat dia takut akan kemurkaan Tuhan padanya.
"Jika saja laki-laki bisa hamil, tentu aku akan lebih senang karena aku bisa menggantikan kamu merasakan apa yang kamu rasa saat ini," tegas Salman.
Salman emosi. Dia begitu kecewa atas ucapan Anna yang dengan mudahnya mengatakan hal menggugurkan padanya. Salman tidak pernah menyangka jika anugerah yang dia impikan justru malah di tolak oleh Anna.
"Gimana Anna, Man?" tanya Alex ketika melihat menantunya turun.
"Anna sedang istirahat," sahut Salman cepat.
"Papi ingin bicara," lanjut Alex dan Salman pun akhirnya duduk saling berhadapan dengan Alex di meja makan.
"Yakinkan Anna. Papi takut dia akan melakukan hal bodoh karena ketidaksiapannya."
Deg!
__ADS_1
Salman tidak menyangka jika mertuanya mampu menebak apa yang akan dilakukan oleh istrinya.
"Maaf, bukan Papi tidak percaya sama Anna, Man ... Papi lihat Anna berbeda, tidak seperti kakaknya yang akan selalu menerima apa pun dengan tulus. Anna kadang impulsif pada hal-hal yang dia anggap tidak suka," jelas Alex.
"Aku akan berusaha untuk meyakinkan Zea, Pi. Aku tahu dia punya sisi keibuan yang akan muncul dengan seiring berjalannya waktu. Aku mohon dukungannya dari Papi supaya ketika nanti Zea meminta hal aneh-aneh ... Papi bisa menguatkan argumen aku," sahut Salman.
"Tentu ... nanti pun Papi minta ijin sama kamu untuk bicara dengan Anna berdua. Papi ingin kembali mengingatkan fitrah dia sebagai seorang wanita. Papi bukan tidak memercayakan hal ini pada Mami-nya, tapi Anna dan Mami kadang suka berselisih paham, anak itu dekatnya dengan Papi," jelas Alex lagi.
"Terima kasih sudah memahamiku, Pi. Awalnya aku merasa sangat bersalah karena membuat Zea hamil, tapi kemudian aku berpikir mungkin saja ini adalah rencana yang di atas untuk lebih mengikat aku lebih erat lagi dengan Zea." Salman tersenyum.
Jika saja Anna bisa menerima hal ini seperti Salman, sudah tentu saat ini di rumah orang tuanya akan terpancar kebahagiaan yang mungkin membuat orang lain iri. Namun, hal ini justru malah sebaliknya.
Sementara itu, di dalam kamar, Anna menangis seraya memegangi perutnya. Dia merutuki kesalahannya sendiri ketika meminum pil KB dengan obat lain.
"Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu. Aku benar-benar belum siap."
"Mas Salman juga, dia kenapa gak ngerti jika aku belum siap," gerutu Anna.
Anna mengusap-usap perutnya yang masih rata. Dia menerawang jauh ke depan kemungkinan yang akan dia hadapi di masa mendatang.
"Jika aku gagal ujian koas, maka sia-sia semua usaha yang sudah aku lakukan selama ini," gumam Anna.
"Aku tidak ingin gagal. Aku harus bisa lulus menjadi dokter di tahun ini juga supaya aku bisa segera kerja."
Anna terus bermonolog sendiri. Membayangkan apa yang akan terjadi ketika dia terus melanjutkan koas dan juga memikirkan cara membujuk Salman agar mau merelakan bayinya.
"Jika Mas Salman tidak setuju, aku tidak mungkin bisa menggugurkan janin ini. Masa iya aku harus memalsukan tandatangan nya?" batin Zia yang saat ini otaknya diliputi oleh ambisi dan egonya.
***
__ADS_1
Maaf baru bisa update lagi. banyak pekerjaan di dunia nyata yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan hingga saya merelakan untuk hiatus kemarin. Alhamdulillah semuanya lancar.
Insyaalloh saya akan kembali untuk update rutin lagi.