
Mata Anna dan Salman saling mengunci satu sama lain. Sentuhan yang diberikan oleh Salman membuat Anna begitu tenang ketika berada di samping pria yang 5 tahun lalu tidak sempat mengucapkan ulang tahun padanya, tapi kadonya masih melingkar indah di leher jenjang Anna.
Salman tersenyum seraya menetralkan rasa yang sempat membuncah dan hampir saja Salman mencicipi bibir ranum Anna, dia tidak berani melakukannya karena takut Anna akan menolaknya.
"Aku ingin datang dan menemui kedua orang tuamu, Zea. Aku ingin menjadikan kamu istri aku, dan aku ingin memintanya dengan baik-baik," ucap Salman lembut.
"Jalani aja dulu ... lagian kamu masih belum bisa jalan sendiri, bagaimana caranya nanti ketemu sama Mami dan Papi," sahut Anna.
"Apa kamu ragu?" selidik Salman.
"Aku hanya menunggu kamu untuk sembuh dulu, gak usah buru-buru karena aku gak akan kemana-mana," jelas Anna seraya terkekeh.
"Apa orang tuamu akan menerima aku dengan status aku sebagai pria yang pernah menikah?" tanya Salman yang merasa khawatir jika keluarga Anna akan menolaknya.
"Emang kenapa? Ada yang salah dengan status itu?" sahut Anna dengan menatap lekat Salman.
"Aku hanya takut saja keluarga kamu tidak akan menerima aku karena aku pernah menikah," jelas Salman mengungkapkan kekhawatirannya.
"Orang tuaku tidak seperti itu! Mereka pasti akan bertanya kenapa kamu sampai bercerai, tapi selama kamu jujur aku yakin Mami dan Papi akan paham ... tapi ...." Anna menggantungkan ucapannya.
"Kenapa?" sahut Salman cepat.
"Mami dan Papi pasti akan menyalahkan aku karena mereka akan menganggap jika dulu kamu menceraikan istrimu itu karena aku," lanjut Anna.
"Aku tidak menjadikan kamu sebagai alasan itu, Zea. Bahkan sebelum aku kenal sama kamu pun aku memang berniat ingin mengakhirinya tapi kebetulan saja aku jatuh cinta sama kamu," jelas Salman.
Anna hanya tersenyum seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Jangan dulu membicarakan hal kayak gitu, aku pusing," ucap Anna yang dia sendiri masih belum yakin apakah orang tuanya akan merestui hubungannya dengan Salman atau tidak.
"Lagian aku masih harus menyelesaikan magang aku, setidaknya 1 tahun ke depan. Sekarang kita jalani aja seperti biasa, setelah aku selesai baru kita pulang sama-sama untuk bertemu dengan Mami dan Papi, gimana?" sambung Anna.
"Aku takut khilap kalau menunggu selama itu," keluh Salman.
"Ya, udah gak usah ketemu aja, ribet amat," ketus Anna kesal dengan jawaban Salman.
__ADS_1
"Hahaha ... ternyata Bu Dokter masih aja gampang marah," goda Salman seraya menarik Anna ke pelukannya.
"Ish kamu tuh nyebelin." Anna membalas pelukan Salman.
***
Waktu terus bergulir dengan begitu cepat. Tak terasa hari ini adalah jadwal Salman untuk membuka gips-nya di rumah sakit. Anna yang kebetulan lepas dinas, dia pun menemani Salman untuk melepas gips-nya.
Setelah gips-nya dilepas, Salman berjalan tanpa bantuan alat meskipun masih pelan-pelan jalannya.
"Zea, kamu bisa nyetir mobil?" tanya Salman seraya berjalan dengan berpegangan tangan dengan Anna.
"Bisa, kenapa?" sahut Anna.
"Gak apa-apa," jawab Salman cepat.
Salman dan Anna kembali pulang, dan Anna tidak tahu jika hari ini Salman membawa Anna ke dealer mobil untuk mengambil mobil barunya karena miliknya yang kemarin kecelakaan.
"Loh ini kita mau ke mana?" tanya Anna setelah mengetahui jalan yang mereka lewati bukan arah jalan pulang.
"Aku ada urusan dulu, kamu temenin, ya," sahut Salman.
Anna hanya mengangguk dan ketika taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah dealer mobil, Anna baru sadar dengan pertanyaan Salman tadi.
"Kamu beli mobil?" tanya Anna.
"Iya, yang kemarin rusak parah dan meskipun di perbaiki tidak akan senormal awal lagi," jelas Salman yang kembali menggenggam tangan Anna.
Salman disambut oleh pegawai dealer. Gagan teman Salman sudah memesankan mobil untuk Salman, sehingga selama Salman menunggu gips-nya di buka, Salman juga menunggu proses surat-surat mobilnya selesai dahulu.
Salman sudah mendapatkan kabar sejak tiga hari lalu, tapi baru hari ini dia membawanya karena Anna yang bertepatan dengan lepas dinas.
"Semua surat-suratnya sudah selesai, Pak. Kami pikir mobilnya gak akan dibawa karena Bapak tidak kunjung datang," ucap salah satu sales mobil.
"Saya menunggu jadwal calon istri saya libur, jadi baru sempat hari ini," jawab Salman dengan santai dan jawaban Salman mampu membuat Anna tersipu malu.
__ADS_1
Setelah berbasa-basi akhirnya Salman pamit untuk membawa mobil barunya.
"Kamu yang pakai, ya? Kaki aku masih sakit," ucap Salman beralasan.
"Oke," jawan Anna seraya masuk ke dalam mobil baru Salman.
Sepanjang perjalanan Salman terus tersenyum melihat Anna yang tengah mengemudikan mobil, dia hanya beralaskan untuk tidak nyetir karena ingin bisa menatap Anna sepuasnya.
Sampai di apartemen, Anna dan Salman sudah terbiasa untuk masuk bersama. Anna yang baru menyelesaikan shift kerjanya tadi pagi, dia merasa kantuk dan ketika melihat kasur lantai yang terpasang di ruang televisi dia langsung saja merebahkan tubuhnya karena sudah sangat kantuk.
Bahkan Anna tidur tanpa menggunakan bantal. Salman yang melihat wanitanya sudah tidur, dia pun segera membawa bantal dari kamarnya kemudian mengangkat kepala Anna agar bisa tidur memakai bantal.
"Kamu kelihatan capek sekali, Zea," ucap Salman seraya mengaitkan anak rambut yang menghalangi wajah Anna.
"Jika aku melarangnya untuk bekerja pasti dia tidak akan terima ... tapi melihatnya kelelahan seperti ini aku tidak tega," batin Salman.
Salman yang justru terhipnotis ketika melihat Anna tidur, dia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di sisi Anna dengan menghadap Anna. Perlahan matanya terpejam, menyusul Anna di dunia mimpi.
Anna yang memang jarang bisa tidur nyenyak, dia pun terbangun. Matanya menyipit ketika melihat wajah Salman yang tengah tidur juga menghadap ke arahnya.
Perlahan tangan Anna bergerak mengusap wajah Salman. Dia tersenyum ketika melihat Salman yang malah ikut-ikutan tidur juga.
"Rasanya masih seperti mimpi," gumam Anna pelan sambil membelai wajah Salman.
Salman yang baru saja tidur langsung membuka matanya ketika merasakan ada sentuhan lembut di wajahnya.
Anna kaget ketika melihat mata Salman terbuka dan dengan segera dia menarik tangannya dari wajah Salman, tapi usahanya sia-sia karena Salman sudah lebih dulu menahannya.
"Jangan salahkan aku jika aku melewati batasnya," ucap Salman yang langsung mendaratkan bibirnya di bibir ranum Anna.
Anna kaget dengan gerakan cepat Salman. Dia diam membeku karena ini merupakan ciuman pertamanya.
Anna yang kaget berusaha untuk rileks hingga pada akhirnya Salman tidak melepaskan ciumannya begitu saja.
Salman mencium bibir Anna dengan begitu lembut, dia tahu ini adalah kali pertama untuk Anna, hingga pada akhirnya Salman merasa bersalah, karena tidak bisa menahan hasratnya untuk bisa mencicipi bibir wanitanya itu.
__ADS_1