Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Ketahuan


__ADS_3

Salman hanya mengangguk dan kemudian kembali mengganti pakaiannya.


"Kenapa aku mesti pakai pakaian resmi kayak gini?" gumam Salman yang tidak tahu alasan istrinya membeli pakaian formal seperti itu.


"Nanti malam kita harus menghadiri acara kantor, aku sekalian pengin ngenalin kamu sama rekan bisnis aku," ucap Vania sambil bergelayut manja pada Salman.


"Nanti malam?" ulang Salman.


"Iya. Tadi pagi aku mau bicara ... eh kamunya udah pergi duluan," jelas Vania.


"Tadi aku pergi jalan-jalan, rasanya kangen pengin menikmati udara pagi di kota ini," jelas Salman.


"Kapan-kapan ajak aku dong." Vania bermanja-manjaan pada Salman tapi Salman masih belum tersentuh hatinya.


"Iya," jawab Salman singkat dan cepat.


***


Sementara itu, Anna yang saat ini tengah tidur siang, dia tidak merasakan jika ponselnya bergetar. Fais berulang kali mencoba menghubungi Anna tapi hasilnya tetap Nihil.


"Ini anak ke mana sih?" gumam Fais yang akhirnya memilih untuk menyimpan ponselnya.


Fais tidak bisa menghubungi nenek dan kakeknya, karena saat ini sedang ikut mengurus untuk persiapan acara malam ini. Fais takut jika Anna yang tadi pagi dia tinggalkan di taman tidak tahu pulang ke rumah.


"Adek ... kamu tuh ke mana sih." Lagi-lagi Fais menggumam.


"Kamu lagi nelepon siapa?" tanya neneknya Fais ketika masuk ke ruangan Fais.


"Anna, Nek. Dia ke mana, ya? Aku takut Anna tidak tahu jalan pulang," jelas Fais khawatir.


"Anna ada di rumah. Tadi dia pulang dan kayaknya dia lagi tidur, soalnya tadi dia bilang ngantuk katanya," sahut neneknya Fais.


"Huh ... syukurlah ... aku khawatir jika Anna belum pulang." Fais merasa lega.


Waktu pun tidak terasa begitu cepat berlalu. Fais pulang sekitar jam 5 sore dan saat ini dia melihat adiknya yang sedang menonton televisi sambil memakan cemilan yang dia beli di supermarket.


"Dek, selepas magrib kamu siap-siap, ya. Pakai riasan yang natural aja," ucap Fais.


"Oh acaranya malam ini?" sahut Anna sambil terus memakan cemilannya.


"Iya. nanti jam 7 kita berangkat, tempatnya gak jauh jadi jadi 7.30.kita sudah berada di sana," jelas Fais.

__ADS_1


Anna pun melirik ke arah jam, sudah hampir mau magrib.


"Aku mandi dulu, ya," ucap Anna kemudian seraya beranjak dari duduknya.


Anna segera membersihkan tubuhnya. Merias wajahnya dengan riasan yang tipis serta gaun yang dibelikan oleh Fais.


Fais mengetuk pintu kamar Anna. Dia masuk dan melihat Anna yang sedang mencoba menata rambutnya.


"Bang, ini rambut enaknya diapain, ya?" tanya Anna yang masih belum siap dengan rambutnya.


"Digerai dan tinggal pakai aksesoris rambut udah bagus. Kamu udah cantik jadi meski gak ditata pun rambutnya wajah kamu tetap cantik," sahut Fais.


"Dih gombal," sahut Anna yang entah kenapa dia jadi ingat ucapan Salman tadi pagi.


"Berarti Pak Salman gak maksud bikin aku geer dong," batin Anna sambil tersenyum.


"Ayo!" ajak Fais setelah Anna selesai.


Anna dan Fais pergi ke pesta yang dibuat oleh tim sebagai tanda kerja sama dengan perusahaan lain. Fais yang masih belum mempunyai pacar, sudah pasti dia hanya bisa mengajak adiknya untuk menghadiri acara pesta tersebut.


"Abang ... emang harus kayak gini?" ucap Anna ketika Fais meminta Anna untuk melingkarkan tangannya di lengan sang kakak.


"Iya, makanya kamu tuh harus sering ke pesta, biar gak malu-maluin," goda Fais.


"Dih anak Mami bisanya cuma ngancam," sahut Fais sambil mencubit pipi Anna.


"Abang," Anna mengerucutkan bibirnya.


Tiba di lokasi, Fais mengenalkan Anna pada semua tamu yang hadir.


Anna terlihat menebar senyum manisnya. Dia dan sang Kakak terlihat seperti pasangan yang serasi, tampan dan juga cantik.


"Kenapa belum mulai," tanya Anna yang sudah sejak tadi dikenalkan pada rekan kerja Fais, tapi acaranya tidak kunjung dimulai.


"Kita lagi nunggu tamu yang jadi relasi Abang. Sebentar lagi sampai. Mendingan duduk aja dulu," ajak Fais mengajak Anna untuk duduk di meja yang dikhususkan untuk dia dan juga rekan bisnis Fais yang belum datang.


Suara riuh terjadi dan ketika Fais melihat orang yang dia tunggu datang, dia pun segera berdiri untuk menyambut.


"Selamat malam Ibu Vania," sapa Fais sopan.


"Malam ... maaf terlambat," sahut Vania sopan.

__ADS_1


"Oh, lupa ini kenalin suami saya, Salman," lanjut Vania mengenalkan Salman pada Fais.


"Mas Fais ke sini sama siapa?" sambung Vania.


"Saya sama adik, sebentar," jelas Fais dan segera memutar tubuhnya untuk mengajak Anna.


"Dek, ayo Abang kenalin sama Bu Vania dan suaminya," ajak Fais yang saat itu kebetulan Anna sedang duduk memunggungi para tamu.


Anna berdiri dan memutar tubuhnya untuk berkenalan dengan orang yang menjadi relasi kakaknya.


Anna berjalan tanpa menaruh curiga apa pun, karena saat itu Salman sedang terlihat sedang dikenalkan juga oleh Vania pada yang lainnya.


"Bu Vania, kenalin ini adik saya Zeanna," ucap Fais yang seketika membuat Salman diam mematung tanpa berani memutar tubuhnya ketika mendengar nama yang tidak asing di telinganya.


"Zeanna," gumam Salman yang perlahan berbalik dan melihat wanita yang saat ini tengah berjabat tangan dengan istrinya adalah wanita yang dia cintai.


Sama halnya dengan Anna. Dia kaget ketika melihat ada Salman di acara kakaknya, dan makin kaget lagi ketika wanita yang baru saja berjabat tangan dengannya sekarang bergelayut manja di lengan Salman.


"Kenalin ini suami saya, Salman Alkahfi," ucap Vania dengan senyum bangga.


Jeder, bagaikan disambar petir di siang bolong. Anna mendengar pengakuan status dari seorang wanita yang sekarang ada di depannya.


"Suami? Jadi dia sudah menikah dan istrinya adalah rekan Abang," batin Anna.


"Zea ... jadi kamu adiknya rekan bisnis Vania," batin Salman.


Baik Anna maupun Salman tidak ada yang merespon apa-apa. Keduanya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Tadi pagi mereka masih sempat menorehkan kebahagiaan di hati mereka masing-masing, dan sekarang sebaliknya.


"Jadi selama ini aku yang baper, aku yang salah mengartikan perhatian dia. Dia tidak menyukai aku karena dia sudah menikah," batin Anna.


"Kamu pasti kecewa sama aku, Zea. Maafkan aku. Aku tidak menyangka jika akan seperti ini akhirnya," batin Salman.


"Dek, salim," bisik Fais ketika Anna yang tidak menyapa Salman.


Anna menatap ke arah Fais, kemudian mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya menyapa Salman.


"Hallo ... Aku, Zeanna," ucap Anna seolah-olah ini adalah pertemuan pertamanya dengan Salman. Anna mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan dengan ragu Salman menerima jabat tangan Anna.


"Salman," jawab Salman dengan mata yang tidak lepas dari Anna.


Anna tersenyum dan buru-buru menarik tangannya agar tidak terlalu lama bersentuhan dengan Salman.

__ADS_1


"Kenapa rasanya sesak seperti ini," batin Anna yang seperti ingin menangis meraung-raung.


__ADS_2