Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Jangan Mimpi


__ADS_3

Anna kesal dengan ucapan Salman yang tidak bisa menjauhinya. Dengan keberanian yang sudah dia kumpulkan sejak tadi bangun tidur, Anna kembali bicara.


"Mau Bapak sebenarnya apa?" hardik Anna dengan wajah ketus.


"Saya ingin kamu tidak melarang saya untuk menemuimu," jawab Salman tegas.


"Untuk apa, Pak? aku tidak ingin orang lain beranggapan yang tidak-tidak sama aku," tegas Anna.


"Cobalah mengerti posisi saya, Zea," tegas Salman.


"Aku enggak ngerti dengan maksud Bapak," kilah Anna.


"Semalam ... apa yang kamu rasakan?" tanya Salman penuh selidik.


"Aku tidak merasakan apa-apa," jelas Anna cepat.


"Bohong! Kamu berbohong, Zeanna," sahut Salman menyebut nama Anna dengan lengkap.


"Terserah Bapak saja," ketus Anna.


"Saya tahu kamu terkejut dengan status saya," sambung Salman.


"Jangan sotoy, Pak," kilah Anna berusaha untuk tidak terprovokasi oleh Salman.


"Kalau gitu silahkan jelaskan apa yang kamu rasakan semalam," tegas Salman.


"Oke ... kalau Bapak ingin tahu perasaan aku semalam ... Bapak harus jawab dulu pertanyaan aku." Anna menatap tajam ke arah Salman.


"Apa maksud dari semua yang Bapak lakukan sama aku? Selama ini Bapak tidak pernah membahas urusan pribadi Bapak, kan? Iya ... aku akui aku memang kaget ketika tahu jika Bapak ternyata sudah beristri. Bukan tanpa alasan ... aku kaget karena selama ini apa yang Bapak tunjukkan dan apa yang Bapak lakukan ke aku itu mampu membuat aku salah paham." Anna menarik napasnya panjang.


"Aku salah mengartikan perhatian dan kebaikan Bapak. Aku terlalu naif jika aku mengatakan aku tidak merasakan apa-apa dengan apa yang sudah Bapak lakukan," sambung Anna.


"Bapak membawa aku seperti melayang ke langit ke tujuh dam semalam Bapak seakan menghempaskan aku ke dasar jurang yang begitu curam," lanjut Anna lagi.


"Aku meskipun bukan wanita dewasa, tapi aku cukup peka dengan apa yang Bapak lakukan pada aku, tapi nyatanya dugaan aku salah ... antara aku dan Bapak tidak lebih dari sekedar hubungan guru dengan muridnya," ketus Anna menahan rasa sesak.


"Aku hanya tidak mengerti dengan tujuan Bapak mendekati aku itu untuk apa? Apa maksud dari semua ini?" Anna terlihat berkaca-kaca.


"Mulai hari ini dan seterusnya, hubungan antara guru dan murid antara aku dan Bapak cukup hanya di sekolah saja. Di luar sekolah aku tidak ingin berhubungan apa-apa, aku takut orang lain akan salah menilai kita," tegas Anna.


"Kenapa tidak boleh? Apa salah saya?" sahut Salman yang justru malah membuat Anna emosi.

__ADS_1


"Kamu bilang apa salah kamu? Kamu tuh punya otak tidak!" seru Anna yang tidak lagi memanggil Salman dengan Bapak.


"Kamu tahu dengan apa yang sudah kamu lakukan? Kamu seolah-olah membangun sebuah pendekatan untuk aku, sedangkan kenyataan kamu hanya sekedar melampiaskan kesepian kamu karena harus berjauhan dengan istrimu." Anna melotot kesal.


"Dugaan kamu salah, Zea," sahut Salman cepat.


"Kamu sudah berhasil menjadikan aku wanita yang paling bodoh karena tidak peka dengan tujuan terselubung kamu," lanjut Anna.


"Aku tidak pernah punya niat seperti itu, Zeanna ... aku melakukan semua itu bukan tanpa alasan, aku menyukai kamu, aku benar-benar mencintai kamu, aku tulus mencintai kamu, Zeanna," tegas Salman berkata jujur dan mengubah panggilan dirinya dari saya jadi aku.


Plak!


Anna begitu berani menampar pipi Salman dengan keras ketika mengetahui alasan yang dilakukan oleh Salman padanya beberapa bulan terakhir.


"Jangan jadikan aku tidak sopan sama kamu!" tegur Anna sambil menunjuk Salman.


"Aku benar-benar mencinta kamu, Zea!" tegas Salman tidak mau kalah.


"Gila kamu, Salman." Ucapan Anna membuat Salman terpancing emosinya.


"Iya, aku gila karena mencintai kamu, aku gila karena aku harus menikah dengan wanita yang tidak pernah aku cintai," tegas Salman yang membuat Anna menyeringai.


"Aku tidak berbohong, Zea ... aku mencintaimu," ulang Salman sambil meraih tangan Anna, tapi Anna buru-buru menepisnya.


"Jauhkan tangan kotor kamu dari aku!" hardik Anna.


"Aku tidak akan pernah lagi ingin kenal sama kamu. Manusia paling egois," cibir Anna lagi.


"Kamu pikir dengan alasan kamu tidak mencintai istrimu aku akan luluh dan percaya sama kamu, hahaha ... kamu salah besar ... aku ilfeel mendengar kebohongan kamu!" tegas Anna.


"Aku ingatkan lagi ... ini adalah pertemuan kita yang terakhir Pak Salman Al Kahfi, jangan pernah mencari alasan atau menjadikan apa pun juga alasan untuk menghubungiku," tegas Anna.


"Dan aku ingatkan juga sama kamu, Zeanna ... aku tidak akan menyerah ... karena aku meyakini satu hal ... jika kamu mempunyai perasaan yang sama seperti aku padamu," tegas Salman.


"Jangan mimpi," ketus Anna sambil melengos.


"Jika dugaan aku salah, tidak mungkin semalam kamu terlihat begitu kesal," lanjut Salman.


"Aku kesal karena aku jadi wanita bodoh yang begitu dengan mudahnya percaya sama manusia tidak punya otak seperti kamu," cibir Anna.


"Kamu tidak bodoh, Zea ... justru tanpa aku harus menjelaskan perasaan aku, kamu pasti sudah lebih dulu menebaknya," jawab Salman.

__ADS_1


"Aku bodoh karena aku terlena oleh perhatian kamu," ketus Anna seraya hendak pergi meninggalkan Salman.


"Aku ingin kita berjuang, Zea," ucap Salman sambil menaham tangan Anna.


"Jangan mimpi," ketus Anna sambil menghempaskan tangan Salman.


"Apa kamu mencintaiku?" Lagi-lagi Salman berhasil menahan tangan Anna.


"Lepasin." Anna berusaha untuk melepaskan dirinya dari Salman.


"Aku ingin jawaban jujur dari kamu," tegas Salman.


"Aku benci ... sampai kapan pun aku benci sama kamu, Salman," ucap Anna tegas.


"Itu jawaban aku ... Puas!" ketus Anna sambil menarik tangannya.


Salman hanya tersenyum ketika mendengar Anna yang mengatakan kata benci untuknya.


"Aku akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan kamu, Zeanna." Salman yang masih merasa ingin bicara dengan Anna, dia mengekor Anna dari belakang.


Setelah dekat, Salman meraih tangan Anna dan menariknya untuk ke parkiran.


"Lepaskan tangan aku, aku mau pulang," ucap Anna sambil berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Urusan kita belum selesai, aku masih perlu menjelaskan hal yang lebih penting lagi sama kamu," sahut Salman sambil terus menarik tangan Anna.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semuanya sudah jelas," sahut Anna.


"Jika sudah jelas mana mungkin kamu masih marah," sahut Salman yang saat ini sudah sampai di parkiran.


Salman membuka pintu mobil dan menyuruh Anna untuk masuk.


"Masuk dulu, kita bicara di tempat lain," ucap Salman.


"Enggak! Aku tidak mau ikut sama kamu," tegas Anna.


"Di sini panas, Zea." Salman kembali menarik Anna.


"Aku gak mau! Aku mau pulang!" tegas Anna.


"Oke, kalau kamu menolak ... jangan salahkan aku jika aku menciummu di sini," gertak Salman yang sontak membuat Anna langsung masuk karena takut dengan ancaman Salman.

__ADS_1


__ADS_2