Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Aku Save Ya


__ADS_3

"Dari mana kamu?" tanya Faisal, kakaknya Anna.


"Abang ... kapan datang?" Anna berhambur memeluk sang kakak.


"Tadi saat kamu pergi," sahut Raina ikut menimpali.


"Abang ... aku kangen." Anna masih betah bermanja-manjaan pada sang kakak yang jarang pulang.


Faisal sekarang sudah belajar meneruskan perusahaan kakeknya, yaitu ayahnya Alex. Dia dipaksa untuk terjun ke dunia bisnis karena Alex menolak untuk meneruskan bisnis papanya. Jadi, Mau tidak mau Faisal yang mesti menggantikannya.


Faisal sekarang sedang menuntaskan tugas akhir kuliahnya. Sambil kuliah Faisal sudah dibekali ilmu bisnis oleh kakeknya sehingga ketika sudah lulus, Faisal bisa menjalankan usahanya 100 persen.


"Kamu jangan keseringan keluyuran, hati-hati di luar sana banyak orang jahat," ucap Faisal seraya menarik tangan sang Adik untuk duduk.


Anna dan Faisal terus berbincang-bincang melepas rasa rindu antara adik dan kakak. Anna tidak menyadari jika di luar sana ada laki-laki yang sedang menunggu kabar darinya, siapa lagi kalau bukan Salman.


Salman terus menatap layar ponselnya. Tidak ada tanda-tanda pesan masuk dari Anna, gadis yang sudah membuatnya menunggu hanya sekedar menuliskan sebaris pesan untuknya.


Tak kunjung mendapatkan pesan dari Anna, akhirnya Salman memberanikan diri untuk mengirim pesan terlebih dulu.


[Zea ... sudah di rumah?]


Getaran ponsel Anna mengingatkan Anna jika hari ini dia sedang menunggu pesan dari Adit.


Anna langsung mengambil ponselnya dari dalam tas, dan saat membaca pesan masuk, dia langsung mengerutkan keningnya karena mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal.


"Siapa yang mengirim pesan seperti ini? Yang manggil aku seperti itu cuma Pak Salman." Anna mencoba mengingat-ingat siapa orang mengirim pesan padanya. Ingatannya tidak lama muncul ketika mengingat Salman yang mungkin saja mengirim pesan padanya.


[Pak Salman?]


Balas Anna cepat, dia sengaja menulis seperti itu karena takut bukan orang yang dia maksud yang mengirim pesan padanya.


[Iya, saya cuma khawatir takut terjadi apa-apa sama kamu, secara tadi saat kamu pulang, pikiran kamunya lagi gak tenang karena efek nonton sendiri.]


Salman rasanya belum berani jika harus mengakui jika dirinya sudah merindukan gadis SMA itu.


[Tenang saja, Pak. Aku bukan tipe orang yang baper. Bapak juga udah sampai di rumah?]

__ADS_1


Anna mengetikkan jawaban pesannya begitu lancar, dia senyum sendiri ketika dengan beraninya dia bertingkah seperti tadi siang pada gurunya.


[ Syukurlah kalau gak baper. Saya sudah tiba dengan selamat.]


Salman senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Anna yang menggemaskan seperti tadi.


[Alhamdulillah, aku save ya nomor Bapak, biar gak usah nanya lagi jika Bapak nanti ngirim pesan lagi.]


Anna tidak sadar dengan apa yang dia tulis, dia kembali membaca pesannya, dan dia baru sadar ternyata dia mengharapkan Salman akan menghubunginya lagi. Mau dihapus tetapi pesannya sudah keburu dibaca oleh Salman.


"Ah ... kenapa aku bisa kayak gini," gerutu Anna sambil memicingkan matanya sambil menanti pesan balasan dari Salman.


[Oke.]


Salman tadinya ingin menulis pesan yang panjang, tetapi dia urungkan takut apa yang dia lakukan akan semakin jauh.


"Oke." Anna membaca pesan Salman dan entah kenapa dia kesal karena Salman hanya membalasnya singkat seperti itu.


Hari Senin hari yang biasa paling tidak disukai oleh kebanyakan siswa sekolah termasuk Anna. Hari ini dia merasa malas bukan, karena harus mengakhiri liburannya tetapi karena malas bertemu dengan Adit.


Sejak kejadian di bioskop, Adit tidak pernah menghubungi Anna, padahal pesan yang Anna kirim jelas-jelas dibaca tetapi tidak ada balasan, sehingga Anna menarik kesimpulan sendiri jika Adit memang tidak berniat untuk membalas pesannya.


Saat upacara, Anna berada di barisan yang paling depan. Di depan sana Anna tidak menyadari jika ada laki-laki dewasa yang sedang memperhatikannya dengan seksama, siapa lagi kalau bukan Salman.


"Cantik juga," batin Salman memuji kecantikan Anna yang dia lihat dari depan.


Setelah upacara selesai, Adit berusaha untuk menunggu Anna. Dia ingin menjelaskan semuanya karena takut Anna akan salah paham pada dirinya.


"Anna," ucap Adit menghalangi jalan yang dilalui Anna.


Ada apa?" sahut Anna berusaha untuk bersikap biasa karena tidak enak dilihat orang lain jika sikapnya jutek pada Adit.


"Soal kemarin, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku disuruh Mama aku untuk mengantarkannya, dan aku lupa mengabari kamu karena ponsel aku ketinggalan," jelas Adit.


"Ooooo." Anna hanya membulatkan bibirnya saja tanpa bersuara.


"Maafkan aku, ya," sambung Adit.

__ADS_1


"Sorry ... aku harus masuk kelas, gak enak sama teman-teman aku udah nungguin," tunjuk Anna pada sahabat-sahabatnya yang sedang menunggunya untuk masuk ke kelas.


Anna tidak menunggu jawaban dari Adit, dia langsung pergi meninggalkan Adit, dan hatinya masih merasa marah serta kecewa karena menurut Anna alasan Adit tidak masuk akal.


"Kamu lagi marahan sama si Adit?" tanya Anita penuh selidik.


"Enggak," sahut Anna cepat.


"Tapi mukanya si Adit kayak yang berdosa gitu," sahut Amara ikut menimpali.


"Dia aja kali yang berdosa, gue enggak," celetuk Anna sambil mengapit tangan kedua sahabatnya untuk berjalan agak cepat sebab bel sudah berbunyi.


"Mungkin ini alasan Mami untuk menyuruh aku tidak pacaran, ternyata punya pacar ribet," batin Anna.


Sebelum Anna masuk ke kelas, Anna merasakan ponselnya bergetar, dia melihat ada pesan masuk dan dia segera membukanya karena memang masih belum ada guru yang masuk.


"Pak Salman," gumam Anna dalam hati ketika melihat nama orang yang mengirim pesan padanya adalah Salman.


[Jangan bawa urusan hati sama pelajaran.]


Sebaris pesan yang Salman kirim membuat Anna mencebikkan bibirnya, karena dia merasa jika gurunya itu tidak tahu siapa dirinya.


[Aku bukan orang yang baper ... tenang saja nanti Bapak bakalan bisa membuktikannya sendiri.]


Balas Anna cepat, dia tidak sadar jika jam pertama setelah ucapara adalah pelajaran Matematika, itu artinya Salman yang akan mengajarnya pagi ini di kelas Anna.


"Assalamualaikum," ucap Salman saat masuk ke kelas Anna, yang spontan langsung dijawab oleh semua murid yang ada di kelas Anna.


Anna langsung kaget, karena baru saja dia mengirimkan pesan balasan pada Salman, dan orangnya udah ada di kelasnya.


Salman menatap sekilas wajah Anna yang tampak kaget. Dia tersenyum dalam hati karena bisa mengerjai Anna seperti itu.


Sambil menunggu murid-muridnya siap, Salman membuka balasan pesan dari Anna. Dia makin ingin mengerjai siswinya itu, karena entah kenapa Salman merasa senang melihat wajah Anna yang menggemaskan.


"Hari ini kita akan belajar tentang rumus-rumus trigonometri. Materi ini berkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah Bapak jelaskan kemarin tentang Identitas trigonometri. Sebelum Bapak melanjutkan materi hari ini, Bapak ingin memberikan satu soal untuk kalian. Anggap saja sebagai kuis, ya," jelas Salman sambil menuliskan satu soal di depan papan tulis.


Anna yang memang masih belum siap, dia tampak tidak memperhatikan apa yang sedang Salman ucapkan, bahkan Salman melihat jika Anna masih belum mengeluarkan buku untuk belajar matematika bersamanya.

__ADS_1


"Zeanna ... apa kamu sudah selesai?" tanya Salman sengaja membuyarkan lamunan Anna yang Salman yakini jika Anna memang sedang baper oleh sikap Adit.


__ADS_2