
Hari pertama masuk setelah menjadi seorang istri dari Salman Al Kahfi membuat Anna banyak ngomel pada Salman karena tidak bisa menutupi tanda merah yang sengaja Salman lukis di lehernya.
"Mas, ini gimana cara nutupinnya? Masa iya aku harus gak masuk cuma gara-gara ini," keluh Anna seraya mencari syal yang bisa dia gunakan untuk menutupi tanda merahnya.
"Gak ditutup juga gak apa-apa, Sayang. Kan itu udah jelas dibuatnya sama suami kamu sendiri bukan orang lain," sahut Salman enteng seraya memasang kancing kemejanya.
"Gak bisa kayak gitu, Mas. Nanti orang-orang bakalan ngeliatin aku terus," sambung Anna.
"Ya udah pakai plester gimana?" tawar Salman.
"Enggak! Nanti dikiranya aku terluka," tegas Anna.
Salman tersenyum. Anna tipe orang yang keras kepala, bicara seperti apa pun jika dia udah kekeh dengan pendapatnya sudah barang tentu kita gak bakalan bisa menambahkan atau mengurangi persepsinya.
Salman mengusap kepala Anna kemudian menarik Anna dengan tersenyum.
"Nyarinya jangan sambil marah-marah. Kalau kamu yakin punya syal pasti ada kok. Biar aku bantu, ya," ucap Salman membujuk.
Salman yang tahu sifat Anna pun dia membujuk dengan lembut. Sebagai seorang laki-laki yang berusia matang dia lebih banyak mengalah dari istrinya itu.
Salman mencari di tumpukan pakaian Anna, dan kemudian senyumnya terbit ketika menemukan syal yang Anna maksud.
"Ini udah ketemu," ucap Salman sambil memasangkannya di leher Anna.
"Kok tadi aku cari gak ada," sahut Anna.
"Jelas gak ada lah orang nyarinya sambil marah-marah," cibir Salman menggoda.
"Ish kamu nganggapnya aku tukang marah-marah ... awas aja," sahut Anna.
Kehebohan pagi ini pun terlewati dengan banyak drama.
Salman mengantarkan Anna ke rumah sakit. Hari ini Anna masuk shift pagi hingga dia begitu terburu-buru untuk bisa sampai di rumah sakit.
"Nanti aku jemput, ya," ucap Salman setelah Anna sampai di rumah sakit.
"Aku selesai jam 2 siang. Emang kamu udah pulang juga?" sahut Anna.
__ADS_1
"Belum, tapi aku pengin aja jemput istri aku," jelas Salman.
"Gak usah lebay deh. Urusan pribadi dengan pekerjaan harus terpisah alias profesional. Aku bisa naik taksi," sahut Anna.
"Ya, udah ... hati-hati, ya. Tunggu aku di rumah."
Akhirnya Salman mengikuti keinginan Anna.
Satu hal yang Salman selalu suka dari Anna. Dia tidak pernah mengeluh atau manja ketika harus pulang sendiri. Saat SMA kebanyakan anak selalu ingin di manja oleh orang tuanya, Anna justru sebaliknya. Dia meminta sepeda motor agar tidak menyusahkan Papinya setiap hari yang harus mengantarkannya ke sekolah. Bahkan Salman ingat betul ketika motor Anna tertabrak olehnya Anna langsung sigap untuk menyelesaikan semua urusan yang bisa dia selesaikan tanpa harus melibatkan orang lain.
"Jangan terlalu capek. Ingat loh nanti malam aku minta jatah," pungkas Salman sambil melambaikan tangannya pada Anna karena Anna tidak menjawab tapi malah melotot sambil keluar dari mobil.
"Anak ABG yang dulu ngatain aku punya SIM nembak ternyata malah ditembak cinta sama aku," gumam Salman mengingat masa-masa indah pertemuan pertamanya dengan Anna.
Anna berjalan masuk ke rumah sakit. Dia segera memakai jubah dokternya dan segera berjaga ke UGD.
Baru juga Anna standby, seorang pasien datang dengan keadaan sedang menangis.
"Apa yang terjadi?" tanya Anna seraya memeriksa keadaan pasien.
"Istri Anda Kenapa?" sambung Anna.
"Kami baru menikah kemarin dan semalam ...." Lagi-lagi suami pasien diam.
Anna melirik ke arah pasien yang mengaku sebagai pengantin baru. Dia bisa melihat tanda merah di leher dan bahkan hampir di seluruh tubuh membuat dia teringat dengan apa yang dilakukan oleh Salman padanya.
Anna memeriksa serangkaian diagnosis dan meskipun sebelum dia menyerahkan pada spesialis, Anna tahu jika area sensitif pasien ada yang sobek.
"Gila ini lakinya main kayak gimana? Malam pertama aja udah jebol kayak gini ... gimana nanti," batin Anna yang kembali mengingat suaminya begitu lembut dan hati-hati ketika meng-unboxing dirinya.
"Ini mah udah sakit, malu lagi ... sekelurahan tahu kalau udah malam pertama," batin Anna menahan senyumnya.
Hari yang super sibuk membuat Anna tidak sadar jika waktu shift-nya telah berakhir. Pukul 2 lebih dia baru menyelesaikan pemeriksaan pada pasien di UGD dan setelah itu dia melepas jubahnya.
"Ah lelahnya," gumam Anna seraya meregangkan otot-ototnya.
Anna bercermin pada cermin yang ada di dalam lokernya. Dia tersenyum melihat syal yang masih nempel di lehernya padahal tadi dia begitu sibuk mengurusi pasien.
__ADS_1
"Kayaknya aku harus beli lebih banyak lagi syal, gak mungkin dong seminggu syalnya masih sama, yang ada nanti orang-orang curiga," batin Anna sambil mengambil ponselnya dan melihat ke layar ponselnya.
"Mas Salman," gumam Anna ketika melihat ada pesan masuk dari Salman.
Anna tersenyum ketika melihat foto yang dikirim Salman padanya lewat aplikasi pesan. Dia pun segera bergegas karena tahu jika Salman sedang menunggunya di parkiran rumah sakit.
"Kenapa malah jemput segala, apa dia ikut-ikutan pulang cepat juga," gumam Anna sambil berjalan keluar.
Salman menyandarkan punggungnya di mobil. Senyumnya terbit ketika melihat sang istri tercinta berlari ke arah dirinya.
"Gak usah lari kayak gitu, nanti capek," ucap Salman ketika Anna sudah dekat.
"Aku takut kamu kesal nunggu aku lama," sahut Anna seraya meraih tangan Salman dan mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan hangat di kening Anna.
"Kenapa jemput? Kerjaan kamu gimana?" sambung Anna penasaran.
"Aku pulang cepat, lagian gak banyak kerjaan kok," jawab Salman santai.
"Enaknya ... kalau aku capek banget, Mas," keluh Anna.
"Nikmati saja, semua juga sama." Salman menarik lembut tangan Anna dan membuka pintu mobil untuk Anna agar masuk.
Anna menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi jok mobil. Tubuhnya benar-benar lelah dan dia membutuhkan waktu 5 atau 10 menit untuk merilekskan otot-ototnya agar bisa kembali normal.
"Aku tiduran sebentar, ya," ucap Anna dengan posisi yang sudah dibuat nyaman.
"Iya, lagian kita bakalan langsung pulang gak bakalan ke mana-mana lagi," jawab Salman.
"Loh, aku mau belanja dulu, Mas. Belanja kebutuhan kita sehari-hari," sahut Anna cepat.
"Aku udah belanja semuanya. Nanti kamu cek aja kalau misalkan ada yang kurang baru kita beli," jawab Salman dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
"Wah ... baiknya suami aku," sahut Anna yang langsung memeluk Salman dan mencium bibir Salman sekilas.
"Hahaha ... baru tahu kalau suami kamu ini baik," goda Salman.
"Andai saja aku sedang tidak nyetir ... pasti aku sudah membalasnya," batin Salman yang masih ingin mencium bibir Anna.
__ADS_1