Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Guru Baru


__ADS_3

Anna diam mematung sambil melihat mobil yang tadi menabraknya hilang dari pandangannya. Dia menghela napasnya panjang kemudian melihat lampu motor belakangnya pecah.


"Aduh pake pecah lagi, kalau ketahuan Mami pasti gak bakalan ngasih aku ijin lagi naik motor. Dasar orang gak tanggung jawab, bukannya ngasih uang ganti rugi, ini malah ngasih kartu nama," gerutu Anna sambil kembali mengemudikan sepeda motornya.


Niat hati ingin beli cemilan, akhirnya harus berakhir di bengkel. Anna segera mengganti lampu belakang motornya yang pecah supaya tidak ketahuan oleh ibunya.


***


Pagi ini Anna seperti biasa berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda motornya. Anna sudah janjian sama Adit untuk jalan bareng ke sekolah. Meskipun mereka menggunakan sepeda motor yang berbeda, mereka tetap ingin pergi ke sekolah bareng-bareng.


Anna melihat Adit yang tengah menunggunya di dekat halte depan. Dia segera menepikan sepeda motornya kemudian menunggu Adit untuk menghidupkan mesin sepeda motornya supaya mereka bisa berangkat beriringan.


Anna berada di posisi depan dan Adit mengikuti Anna dari belakang. Meskipun cuma seperti ini, hati Anna jangan ditanya, dia super bahagia karena bisa jalan bareng pujaan hatinya.


"Sabtu ini kita nonton, yuk!" ajak Adit setelah memarkirkan motornya di parkiran khusus siswa.


"Aku usahain, ya. Biasanya kalau sabtu ada Nenek datang. Jadi, agak susah kalau ijin keluar," jelas Anna dengan tetap memberikan seulas senyuman.


"Kabari aku lagi, ya. Aku harap bisa nonton bareng kamu," sambung Adit.


Anna hanya mengangguk. Mereka berjalan beriringan untuk masuk ke area kelas mereka. Pemandangan yang baru saja mereka perlihatkan membuat Ferdy iri dengan kedekatan Adit dan Anna.


"Gue yakin ... Anna pasti bakalan jadi milik gue," gerutu Ferdy dalam hati.


Setelah bel masuk berbunyi Anna dan yang lainnya segera masuk ke kelas dan mulai bersiap-siap untuk belajar dengan Pak Daya. Namun, bukannya Pak Daya yang masuk, ini malah Kepala Sekolah bersama seorang guru laki-laki baru yang hendak masuk ke kelas Anna.


“Assalamualaikum,” ucap Kepala Sekolah yang serentak dijawab oleh semua murid yang ada di kelas. “Waalaikumsalam.”


“Loh … dia ‘kan orang yang kemarin nabrak motor aku?” batin Anna mencoba mengingat kembali wajah sang pengemudi mobil yang menabrak motornya.


“Anak-anak, Pak Dayat mulai hari ini tidak lagi bisa mengajar di kelas kalian. Pak Dayat harus pindah ke kota kelahirannya. Dan seperti yang telah kalian lihat, bahwa hari ini akan ada pengajar matematika baru, perkenalkan beliau adalah Pak Salman Al Kahfi, yang mulai hari ini akan mengajar matematika di kelas ini.” Bapak Kepala Sekolah memperkenalkan Salman sebagai guru baru.

__ADS_1


“Benar … dia memang benar-benar orang yang kemarin nabrak motor aku.” Anna yakin setelah mendengar nama yang disebutkan oleh Kepala Sekolahnya.


Semua murid wanita langsung heboh melihat guru baru mereka, karena memang wajah Salman yang terlihat cool dan juga kharismatik mampu membuat para muridnya langsung jatuh hati. Namun, tidak dengan Anna. Dia kesal dan marah pada guru yang ada di depannya karena tidak bertanggung jawab atas kejadian kemarin sore. Namun, dia sedikit agak malu karena sudah bicara sembarangan pada Salman kemarin.


Pertemuan pertamanya yang terang-terangan menyebut Salman nembak SIM, membuat nyali Anna menciut dan bahkan kalau bisa sembunyi rasanya dia ingin sembunyi karena merasa malu.


Salman mulai menatap satu-persatu murid yang ada di kelasnya, dan saat manik mata Salman melihat murid wanitanya yang sedang menunduk, dia mulai memperhatikan dengan seksama dan kemudian beralih pada murid yang lainnya.


Salman mencoba mengabsen satu-persatu muridnya untuk bisa mengetahui dan mengenal mereka. Saat giliran absen terakhir dia memanggil nama Zeanna dan dia mulai mencari orang yang mengacungkan tangan dan matanya menangkap pada gadis yang tadi menunduk.


Netra mereka bertemu dan sampai akhirnya Salman kembali mengingat-ingat wajah gadis yang ia temui kemarin di jalan raya.


“Oh … ternyata dunia memang sempit, anak yang ngatain aku dapat SIM secara nembak ternyata sekarang jadi murid aku,” gumam Salman dalam hati.


Absen Zeanna memang berada di urutan terakhir, Salman pun mengingat-ngingat nama muridnya yang terakhir itu sambil melanjutkan perkenalannya sampai selesai.


Salman kemudian langsung memaparkan materi yang akan diberikan hari ini. Kemudian Salman mencoba untuk menyuruh seseorang untuk maju ke depan agar menyelesaikan soal yang dia berikan.


Dengan perasaan yang campur aduk, antara marah dan malu, Anna akhirnya memberanikan diri untuk maju dan mencoba berpura-pura untuk tidak mengingat kejadian kemarin.


"Namanya siapa?" tanya Salman sambil memperhatikan Anna. Dia melihat sikut tangan Anna di perban, dan dia yakin jika itu adalah luka gara-gara kemarin.


"Zeanna," sahut Anna singkat sambil mengambil board maker untuk menulis jawabannya di papan tulis.


Anna menyelesaikan dengan baik soal yang telah diberikan oleh Salman di papan tulis, sebelum Anna duduk Salman malah memandang Anna dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Pantas saja dia berani ngatain aku nembak SIM, ternyata dia anak yang cerdas,” batin Salman.


Pembelajaran pun terasa begitu singkat bagi yang lainnya, tetapi begitu terasa lama menurut Anna.


“Sampai jumpa di pertemuan berikutnya. Jangan lupa kerjakan semua tugas dengan baik dan usahakan tidak meminta jawaban dari orang lain.” Salman menutup pembelajarannya hari ini dengan tersenyum ramah pada semua muridnya.

__ADS_1


“Akhirnya … gue bisa bernapas dengan normal.” Anna menarik napasnya dalam-dalam setelah Salman keluar dari kelasnya.


Waktu berjalan dengan begitu cepat, tak terasa bel waktunya pulang telah berbunyi, semua murid langsung berhambur keluar untuk pulang.


Anna yang masih terlihat menyelesaikan tugasnya, dia lebih suka menunggu pulang terakhir, karena supaya tidak saling berdesak-desakan di tangga.


Sekitar 15 menit telah berlalu dari waktu pulang, Anna baru membereskan bukunya ke dalam tas dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga.


Dia tidak bisa pulang bareng dengan Adit, sebab Adit harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler terlebih dahulu.


Anna berjalan menuju parkiran motornya dan saat akan mengenakan helm, Anna dikagetkan oleh seseorang yang menyapanya.


“Kenapa baru pulang?” sapa Salman pada Anna.


“Astagfirullah … Pak ngagetin ih.” Anna mengelus-ngelus dadanya.


“Kenapa mesti kaget, kamu gak fokus, ya? Kok beda, ya dengan saat pertama kali kita ketemu kemarin.” Salman terkekeh.


“Soal kemarin, saya minta maaf, ya … tapi bener kok kemarin itu, Bapak yang salah karena udah nabrak motor saya dari belakang. Pake acara kabur lagi.” Anna mendelik.


“Saya tidak kabur, ya … mana ada orang kabur ngasih kartu nama.” Salman mengamati sepeda motor Anna yang kemarin dia tabrak.


“Kartu nama bukan jaminan, Pak. Siapa tahu kartu namanya milik orang lain, ‘kan kita gak pernah tahu.” Anna mengendikkan bahunya.


“Untungnya itu milik saya, jadi kamu tidak usah khawatir.” Salman tersenyum.


“Motornya udah kamu perbaiki? Soalnya kalau saya lihat gak ada kerusakan sama sekali,” tanya Salman sambil memeriksa motor Anna.


“Udah saya ganti kemarin, lagian kalau kemarin gak saya ganti nanti malah bakalan ribet urusannya kalau ketahuan sama orang tua. Tenang saja nanti bonnya saya tagih ke Bapak.” Anna tertawa.


“Baiklah … saya akan ganti semuanya,” sahut Salman.

__ADS_1


__ADS_2