
Anna sudah dipindahkan ke ruang rawat, wajahnya masih terlihat pucat tapi Anna berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.
"Ponsel aku mana?" ucap Anna ketika sejak tadi Salman tidak mengembalikan ponselnya.
"Kalau lagi sakit jangan dulu mikirin ponsel," sahut Salman sambil duduk di kursi di sisi Anna.
"Aku mau ngabarin si Bibi, biar si Bibi bisa nemenin aku di sini," jelas Anna.
"Kenapa? Gak mau kalau aku yang nemenin?" sahut Salman cepat.
"Aku hanya merasa tidak nyaman saja, takut ada yang salah paham," jelas Anna dengan wajah kesal.
"Tenang saja, semuanya aman," jawab Salman.
"Tapi aku tidak enak," tegas Anna.
"Kamu tuh keras kepala sekali, Zea." Salman geleng-geleng kepala seraya menyerahkan ponsel Anna.
Anna pum segera menggulirkan ponselnya, dia menghubungi asisten rumahnya untuk membawakan pakaian ganti dan juga semua kebutuhannya.
Salman menatap lekat gadis belia yang saat ini tengah mengadukan semua yang dia rasakan pada seseorang di seberang telepon.
Anna dekat dengan asisten rumahnya karena baik Fais maupun Anna diasuh juga oleh asisten rumah mereka.
"Kamu boleh pulang, Bi Marni sebentar lagi akan datang," ucap Anna sambil menyimpan ponselnya.
"Kalau aku tidak mau gimana?" sahut Salman enteng.
"Kamu sengaja bikin aku kesusahan?" hardik Anna.
"Kesusahan apa? Emang aku nyusahin," sahut Salman dengan menahan tawanya.
"Kalau si Bibi tanya gimana?" Anna menatap tajam Salman.
"Ya bilang aja aku pacar kamu, gampang, kan?" tegas Salman seraya menaikkan satu alisnya.
"Hati-hati kalau bicara, ucapan kamu tuh bisa membuat orang lain salah paham. Lagian siapa juga yang mau jadi pacar kamu, laki-laki egois," ketus Anna.
"Kenapa mesti hati-hati, kalau laki-laki dan perempuan mempunyai perasaan yang sama itu bisa dikatakan sedang pacaran, kan," sambung Salman.
"Enak aja. Pacaran itu ada komitmen dari kedua belah pihak, bukan hanya sekedar tahu perasaan saja. Lagian kata siapa kita punya perasaan yang sama? Mimpi kamu," kilah Anna.
__ADS_1
"Hahaha ... gara-gara sakit jadi lupa, ya," sahut Salman sambil tertawa dan mengacak rambut Anna.
"Apaan sih," Anna mengerucutkan bibirnya.
"I love you, Zeanna ... I love you more," ucap Salman yang seketika membuat pipi Anna merona.
Anna tersipu malu. Ini untuk yang kedua kalinya Salman mengungkapkan perasaannya pada Anna. Jika dulu Anna menjawab dengan I hate you, sekarang Anna memilih untuk diam tidak menjawab.
"Diam berarti sama," sambung Salman seraya tersenyum.
"Sotoy," sahut Anna sambil melengos.
"Kamu tahu, Zea ... setelah kembali ke sini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku terus teringat padamu ... aku begitu rindu bahkan jika aku menuruti egoku, rasanya aku ingin menyusul kamu dan menarik kamu. Tapi, aku sadar itu hal yang sangat mustahil," ucap Salman serius.
"Cukuplah bersikap seperti biasanya, itu sudah lebih dari cukup untukku," lanjut Salman.
"Jangan membenci aku, Zea. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu membenci aku," sambung Salman lagi.
"Aku akan berusaha semampu aku untuk melupakan kamu, jika itu yang kamu mau. Tapi aku tidak janji jika aku bisa melupakan kamu," tegas Salman.
"Jangan membebani aku seperti itu. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Aku tidak ingin rumah tangga kamu hancur hanya karena ego kamu yang hanya menyukai aku untuk sesaat." Anna menatap dalam Salman.
"Kita hanya perlu melaluinya selama satu tahun. Setelah aku lulus nanti ... aku yakin perasaan itu akan hilang dengan sendirinya sebab kita tidak akan bertemu lagi," sambung Anna.
"Jika nanti kita bertemu dengan pasangan kita ... maka pura-puralah untuk tidak saling mengenal satu sama lainnya," tegas Anna.
"Segitu tidak inginnya kamu berjuang bersama aku?" tanya Salman.
"Kamu sudah beristri, dan aku tidak ingin menyakiti siapa pun juga," jawab Anna cepat.
"Lalu bagaimana dengan aku? Apa kamu tidak peduli jika di sini akulah yang orang tersakiti," tegas Salman.
"Itu lebih baik karena kita sama-sama merasakan sakit yang sama. Impas, kan?" jelas Anna.
"Katakanlah jika kamu mencintaiku juga, Zea ... please," ucap Salman memohon.
"Untuk apa? Untuk kamu jadikan alasan jika itu sebuah komitmen?" selidik Anna.
"Bukan ... aku hanya ingin mendengar saja jika perasaan aku tidak bertepuk sebelah tangan," jelas Salman.
Anna hanya tersenyum. "Maaf," jawab Anna dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Bapak harus ke sekolah lagi, gara-gara aku Bapak jadi tidak masuk kelas," sambung Anna seraya menahan rasa sesak di dadanya.
"Aku tidak akan pergi," tegas Salman.
"Dasar keras kepala," cibir Anna.
"Kita punya kesamaan ternyata, keras kepala," sahut Salman.
Tidak dipungkiri, dengan adanya Salman di sisi Anna bisa menjadikan mood booster bagi Anna untuk tetap terlihat sehat, tapi Anna merasa khawatir jika orang lain akan salah paham dengan semua ini.
Anna seperti ini karena dia juga mencintai Salman, tapi dia tidak ingin menyakiti istri Salman. Jika saja Anna menuruti egonya, dia ingin pacaran dengan Salman. Namun, bayangan cemoohan pelakor langsung membayang-bayangi Anna jika nanti ketahuan oleh orang lain. Terutama jika ketahuan oleh keluarganya, bisa habis Anna saat itu juga.
Anna dan Salman saling diam. Diantara mereka tidak lagi berbincang seperti tadi, hingga suara pintu kamar rawat Anna terbuka mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu.
"Anna," ucap Bi Marni.
"Bibi, lama banget sih," keluh Anna yang langsung ditanggapi oleh Salman.
"Sama orang tua gak boleh kayak gitu."
"Ini siapa?" tanya Bi Marni.
"Saya Salman," jawab Salman dengan tersenyum.
"Maksud Bibi ...." Belum juga Bi Marni melanjutkannya ucapannya, Anna sudah lebih dulu menyelanya.
"Dia guru aku yang bertugas nganterin siswa yang sakit," ucap Anna yang seketika membuat Salman menaikkan satu alisnya.
"Oh, terima kasih, Pak Guru ... maaf jika sudah merepotkan," ucap Bi Marni yang dia tanggapi dengan senyum manis oleh Salman.
"Bapak kalau mau kembali ke sekolah silahkan ... aku udah ada yang jaga. Terima kasih atas bantuannya," ucap Anna yang secara tidak langsung menyuruh Salman untuk segera pulang dan keluar dari kamarnya.
"Baiklah, saya akan kembali dulu ke sekolah ... NANTI SORE SAYA KE SINI LAGI." Salman sengaja menekankan kalimatnya untuk datang lagi pada Anna.
"Permisi," pamit Salman sambil langsung keluar dari ruang kamar rawat Anna.
"Anna ... gurunya ganteng, ya," ucap Bi Marni.
"Ish apaan sih, Bi. Ingat loh suami di rumah ... entar aku bilangan, baru tahu rasa," tegur Anna yang tidak ingin membahas Salman.
"Kenapa aku senang jika dia bakalan datang lagi," batin Anna.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyerah, selama kamu punya perasaan yang sama untukku, maka aku akan berjuang," batin Salman.