Rantai Cinta Zeanna

Rantai Cinta Zeanna
Ketahuan


__ADS_3

"Jangan dekati aku lagi!" ketus Anna seraya mendorong tubuh Salman yang hendak memeluknya.


"Maafkan aku, Sayang ... aku hanya kaget aja mendengar kamu mengikuti KB tanpa sepengetahuan aku," sahut Salman dengan membujuk Anna agar tidak marah.


"Kamu pikir aku anak kecil yang bisa seenaknya saja kamu kecoh dengan maaf palsumu," sambung Anna ketus.


"Aku baru tahu jika ternyata kamu seperti ini. Aku ingin menuntaskan kuliah aku ... jika kamu keberatan aku bisa pindah dari rumah ini," sambung Anna dengan memutar tubuhnya untuk masuk ke kamar.


Rasa kantuk pun menguap begitu saja ketika harus beradu mulut dengan Salman. Anna yang awalnya ingin tidur, dia malah tidak bisa tidur.


Anna segera menyambar tasnya kemudian keluar dari kamar.


Melihat Anna yang hendak keluar, Salman menahan Anna.


"Kamu mau kemana?" tanya Salman lembut.


"Gak usah basa-basi, enek aku lihatnya!" cibir Anna dengan menghempaskan tangan Salman.


"Zeanna ... aku tanya sama kamu ... mau ke mana? Biar aku antar," sambung Salman dengan nada bicara yang naik satu oktaf.


"Aku mau istirahat, pusing kalau tinggal di sini," ketus Anna sambil memakai sepatunya.


"Siapa yang mengijinkan kamu pergi?" Salman menahan tangan Anna yang hendak memakai sepatu.


"Oh jadi aku tidak boleh pergi? Oke ... aku akan istirahat dan kamu jangan ganggu aku," tegas Anna dengan kembali melepas sepatunya dan masuk ke kamar kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


Anna menarik selimut sampai menutupi semua tubuhnya. Dia sudah seperti ulat yang meringkuk ketika masih jadi kepompong karena tubuhnya ditutupi oleh selimut.


Salman yang mengekor Anna pun dia hanya bisa geleng-geleng. Menikah dengan Anna menjadikan dia harus lebih banyak bersabar karena perbedaan usia yang cukup jauh.


Salman masuk dan ikut naik ke atas tempat tidur seraya memeluk Anna.


"Kalau kayak gini terus nanti pengap, Sayang," ucap Salman seraya mengusap-ngusap kepala Anna yang tertutupi selimut, tapi tidak ada sahutan apa-apa dari Anna.

__ADS_1


"Maafkan aku jika tadi aku bicara keras padamu. Aku hanya kaget mendengar kamu ikut KB. Bukannya tidak boleh, tapi aku ingin kamu berdiskusi dulu dengan aku, Sayang," lanjut Salman.


"Maafkan aku jika aku terlalu menuntutmu untuk segera punya anak, aku tidak bermaksud untuk memaksa hanya saja aku pikir kamu telat datang bulan karena ada buah cinta kita di sini," sambung Salman sambil mengusap perut Anna yang tertutupi selimut.


"Sayang ... maafkan aku, ya. Yuk buka selimutnya ... pengap loh kalau lama-lama kayak gini," bujuk Salman lagi.


"Karena kamu udah KB ... aku ijinin deh, tapi hanya sampai koas kamu selesai, setelah itu kamu harus melepaskannya. Gimana?" tanya Salman sambil berusaha untuk membuka selimut Anna.


Salman tersenyum ketika melihat Anna yang cemberut. Hidungnya kembang kempis karena kesal padanya.


"Maafkan aku, ya. Sampai kamu selesai ... aku ijinkan kami pakai KB, dan setelah itu aku harap kamu melepaskannya." Salman tersenyum.


"Aku udah tua ... jadi aku takut nanti ketika aku mati anak-anak aku masih kecil," lanjut Salman.


"Apaan sih? Kenapa jadi ngelantur kayak gini," hardik Anna tidak suka jika Salman menyinggung masalah kematian.


"Aku bicara realistis, Sayang ... aku ingin punya anak sekarang supaya aku masih punya tenaga untuk menjaga anak kita. Apalagi aku pengin punya anak 4," sahut Salman menggoda Anna.


"Hah ... 4?" ulang Anna terkejut.


"Tapi kamu beneran ikhlas kalau aku ikut KB?" ulang Anna meyakinkan.


"Iya. Asal setelah selesai koas ... kamu harus langsung melepasnya," tegas Salman yang disambut gembira oleh Anna.


"Terima kasih sudah mengerti, Mas."


Saking bahagia Anna langsung memeluk Salman dan menghadiahi banyak kecupan di wajahnya.


"Aku harus mengalah ... Zeanna masih belum sepaham dengan aku. Aku harus berusaha untuk membujuknya agar mau hamil," batin Salman.


"Meskipun usianya sudah dewasa, tapi bagiku dia tetap seperti gadis yang baru berusia 17 tahun. Gadis yang seperti pertama kali aku melihatnya, bahkan aku begitu ingat ketika manjanya dia ketika sakit dan marahnya dia karena kecewa," batin Salman mengingat kisah masa lalunya dengan Anna.


"Aku harus bisa membuatnya nyaman ... walau bagaimanapun juga aku yang sudah dewasa harus lebih memahaminya karena pada dasarnya dia memang masih labil."

__ADS_1


Salman tersenyum dan memeluk Anna. Dipeluk oleh suaminya seperti itu, membuat Anna merasa nyaman. Rasa kantuk yang sempat hilang pun sekarang muncul lagi dan dengan menggesek-gesek hidungnya ke dada bidang Salman, Anna pun perlahan memejamkan matanya hingga akhirnya dia terlelap dalam pelukannya Salman.


"Tidurlah ... aku akan menemanimu di sini," ucap Salman seraya mengecup puncak kepala Anna.


"Aku tidak boleh terlalu menuntut. Aku harus ingat bagaimana susahnya aku mendapatkan Zeanna. Aku harus lebih memahaminya jika tidak bisa-bisa dia kabur dan pergi meninggalkan aku," batin Salman.


***


Berbulan-bulan kemudian.


Hari ini Salman dan Anna kedatangan tamu spesial, siapa lagi kalau bukan ibunya Salman yang sudah ingin bertemu dengan anak dan menantunya.


"Istrimu kapan pulangnya?" tanya ibunya Salman ketika melihat ke jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 sore tapi Anna masih belum datang.


"Biasanya pukul 3 juga udah di rumah. Kayaknya hari ini dia masih tanggung sama pasiennya," sahut Salman yang sebenarnya dia juga khawatir karena Anna belum pulang.


"Apa Anna sudah ada tanda-tanda hamil? Kalian itu nikah udah cukup lama tapi masih belum mengirimkan Ibu kabar baik," lanjut ibunya Salman.


"Kami sedang berusaha, Bum doakan saja semoga kami segera punya momongan," sahut Salman menutupi hal yang sebenarnya terjadi.


"Biasanya kalau dokter paham dengan kesuburan mereka masing-masing, tapi kenapa Anna masih belum hamil?" sambung Ibunya Salman mengorek informasi.


"Kami sedang berusaha, Bu. mudah-mudahan secepatnya kami akan memberikan kabar baik pada Ibu," pungkas Salman mengakhiri obrolannya.


Dia segera menghindar dari perbincangannya dengan sang bunda. Dia tahu jika ibunya akan terus memaksa Salman untuk bicara hingga pada akhirnya dia menghindar agar tidak keceplosan bicara.


Tak lama kemudian, Anna datang dengan membawa kantong kresek berisi belanjaan bulanannya.


"Ibu, apa kabar?" tanya Anna ramah.


"Baik, kamu gimana?" sahut ibunya Salman.


"Aku juga," jawab Anna yang berbarengan dengan ada satu bungkusan plastik yang terjatuh dan ternyata yang jatuh adalah obat KB Anna.

__ADS_1


Ibunya Salman yang sedang bicara dengan Anna pun segera mengambil obat yang jatuh, dan matanya membulat ketika melihat pil KB yang dia yakini jika obat tersebut milik Anna.


"Siapa yang minum obat penunda kehamilan?" selidik ibunya Salman dengan mata yang menyelidiki ke arah Anna.


__ADS_2