
Pagi-pagi Anna terbangun masih dalam posisi di pelukan Salman. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap wajah laki-laki yang membuatnya harus menangis lima tahun yang lalu tertidur dengan pulas.
Anna tersenyum kemudian balas memeluk Salman dengan begitu erat.
"Jika saja siang ini aku tidak dinas, rasanya masih ingin seperti ini," batin Anna.
Anna buru-buru melepaskan pelukan Salman dan dia masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dulu.
Jika semalam dia menggunakan celana pendek punya Salman, pagi ini dia melepas celana itu karena menurutnya kaos yang dia pakai masih bisa menutupi sebagian pahanya hingga akhirnya dia melepas celana pendeknya.
Anna pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Hidup terpisah dengan kedua orang tuanya membuat Anna bisa hidup mandiri dan menyiapkan segala sesuatunya sendiri.
Anna fokus memasak dan dia terkejut ketika ada tangan kekar Salman yang melingkar di perutnya.
Anna menoleh dan tersenyum ketika Salman memeluknya dari belakang. Sudah seperti pemandangan suami istri yang sedang menikmati masa bulan madu, di luar sedang hujan dan di dalam apartemen kehangatan tercipta karena kedua insan yang masih lengket berpelukan.
"Kamu bangun jam berapa?" tanya Salman sambil mencium aroma shampoo Anna.
"Tadi, jam 5," jawab Anna sambil terus melakukan aktivitasnya.
"Kenapa hanya pakai kaos saja? Aku udah bilang kamu jangan menggoda aku," bisik Salman dengan suara yang menahan hasratnya karena melihat tubuh Anna.
"Hahahaha ... aku sengaja," sahut Anna tertawa dan Salman langsung memutar tubuh Anna agar menghadap ke arahnya.
"Kalau seperti ini terus aku gak jamin bisa menahannya," sahut Salman seraya tersenyum jahil.
"Hahahaha ... awas aja kalau berani," ancam Anna seraya kembali berbalik dan menyelesaikan acara masaknya.
Salman hanya geleng-geleng kepala melihat Anna yang masih seperti dulu. Suka memakai pakaian pendek dan dia tidak pernah tahu jika semalam Salman dengan begitu susah menahan miliknya agar tidak ikut bangun ketika bersentuhan dengan Anna.
"Udah mendingan sekarang makan dulu aja, biar ada tenaga," ucap Anna seraya menata makanan yang sudah dia masak.
"Kamu jam berapa masuk?" sahut Salman seraya mengikuti gerak Anna yang menyusun makanan di meja.
"Jam dua, makanya aku bisa nginep di sini karena masuknya siang," jelas Anna seraya menarik kursi meja makan.
__ADS_1
"Pakai mobil aja, biar aman," sambung Salman.
"Enggak, ah ... repot parkir," tolak Anna langsung.
"Ya, udah aku anterin kamu pulang terus aku anterin ke rumah sakit dan nanti aku jemput," lanjut Salman memberikan pilihan.
"Udah kayak sopir aja," cibir Anna sambil tertawa.
"Aku khawatir kalau kamu pulang malam-malam, mana anak gadis lagi," ucap Salman memberikan alasan.
"Iya ... iya ... aku juga paham." Anna memilih mengalah daripada berdebat.
"Emang kamu gak masuk kerja lagi?" selidik Anna.
"Minggu depan aku baru mau masuk lagi, selama masih bisa dikerjakan di rumah aku milih kerja di rumah aja," jelas Salman.
"Oh," pungkas Anna hanya ber-oh ria sambil memakan sarapannya.
***
Waktu terus bergulir dengan begitu cepat. Hampir setiap libur Anna selalu memilih menginap di apartemen Salman dan Salman pun lebih memilih kerja di rumah jika ada Anna tidur di rumahnya.
Bukan tanpa sebab, Salman ingin buru-buru menikahi Anna karena takut khilap. Mereka sering tidur bersama meskipun hanya sekedar tidur tetap saja Salman tidak ingin jika dia kebablasan dan berujung pada penyesalan.
"Zea, kapan kamu pulang ke rumah? Aku ingin segera menemui orang tuamu," ucap Salman ketika malam ini Anna lagi-lagi menginap di apartemen Salman karena besok libur dinasnya.
"Kalau malam ini gimana?" sahut Anna antusias.
"Hah? Malam ini?" ulang Salman kaget.
"Kita belum beli tiket pesawatnya, Sayang," sambung Salman.
"Tuh, kan siapa yang banyak alasan?" cibir Anna.
"Ini bukan banyak alasan, Zea, untuk pulang kita butuh perencanaan terlebih dahulu, kecuali kalau pengin lewat darat, ayo sekarang berangkat," tantang Salman.
__ADS_1
"Ogah, lama di jalannya," tolak Anna.
"Kamu tuh niat gak sih, Zea ngajak aku ketemu sama orang tuamu?" Nada bicara Salman naik satu oktaf.
"Kalau gak niat ngapain juga aku sering nginep di sini," ketus Anna.
"Apa hubungannya? Aku tuh ngajak ketemu orang tuamu bukan ngajak tidur," jelas Salman.
"Udah gak usah pusing, besok Mami sama Papi akan datang ke sini. Jadi kita gak perlu jauh-jauh pulang," jelas Anna sambil naik ke atas tempat tidur.
"Besok? Kamu serius, Zea?" ulang Salman menyusul Anna yang saat ini sudah rebahan.
"Iya, mau menggerebek kita karena kita sering tidur bareng," goda Anna.
"Siapa takut malahan aku senang karena tidak perlu ada alasan lagi untuk langsung menikahi kamu," gertak Salman seraya menarik Anna ke dekapannya.
"Enak aja, aku pengin nikah secara terhormat Pak Guru," sahut Anna sambil memanyunkan bibirnya.
"Hahaha ... laganya aja sok mancing-mancing aku, baru di goda aja udah takut gimana kalau di coba?" goda Salman.
"Gila kamu." Anna melotot kemudian tertawa dan memeluk Salman.
"Aku udah ceritakan semuanya sama Papi, dan Mami marah karena aku baru cerita sekarang. Aku lebih terbuka sama Papi karena Papi orangnya netral, enggak kayak Mami yang suka main ngatur-ngatur aku. Aku cerita dari kejadian aku ketemu saat SMA sampai aku ketemu lagi sekarang." Anna memainkan jari-jarinya di dada Salman.
"Papi marah karena aku dianggap sudah menghancurkan rumah tangga kamu, tapi perlahan aku menjelaskannya sama Papi akhirnya Papi paham," lanjut Anna.
"Antara aku dan kamu tidak ada rahasia apa-apa, jadi aku harap kamu tidak perlu menutupi apa pun juga sama orang tuaku," sambung Anna.
"Aku tidak tahu kalau kamu sudah melakukan semua ini, Zea. Aku seorang laki-laki ... tidak mungkin aku menutupi apa pun pada keluargamu, kecuali satu," sahut Salman.
"Apa?" tanya Anna penasaran.
"Aku gak mungkin bilang kalau aku sudah tidur dengan putrinya," bisik Salman sambil tersenyum dan Anna tertawa.
"Kalau kamu berani mengatakan itu artinya kamunya udah ngebet pengin kawin," cibir Anna sambil tertawa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu?" lanjut Anna.
"Setelah aku bertemu dengan orang tuamu besok, aku akan segera pulang dan mengajak kamu untuk ketemu dengan ibuku. Jika nanti keputusan ibuku tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kamu tidak usah khawatir ... karena dalam pernikahan aku hanya butuh restu dari keluargamu. Aku seorang duda di mana menurut aturan aku bebas memilih pasangan hidup aku tanpa turut campur orang tuaku," jelas Salman.