
Cla berlari menuju ruangannya, berita tentang status Cla sebagai anak pemilik rumah sakit beredar dari mulut ke mulut. Namun lagi-lagi Cla mengabaikannya. Cla tidak peduli dengan apa yang bicarakan.
Sesampainya di ruangan, Cla menangis. "Kak Kevin, Kamu memang bukan anak kandung Uncle Ziano dan Aunty Vita. Tapi Kamu berhak bahagia Kak. Walaupun Kamu bukan lahir dari rahim seorang Ibu yang patut dibanggakan, tapi Kamu sangat layak untuk dibanggakan. Aku kecewa dengan masa lalu, Kamu hanyalah korban dari keserakahan orangtua mu. Tapi Kamu sama sekali tidak bersalah Kak" terbesit cerita orangtua nya beberapa hari yang lalu.
Di tempat lain Alea sedang sibuk menelpon nomor Kevin, namun tidak diangkat sama sekali. "Kak Kevin tidak angkat telpon ku. Kata Kak Cla dia sudah hampir sampai"
"Mungkin Kak Kevin menemui Cla terlebih dahulu"
"Iya benar"
Alea menceritakan hubungan Kevin dan Cla kepada Ziano dan Alex, Alex hanya tersenyum senang. Alex belum bisa berbicara banyak karena kondisinya saat ini.
"Lalu bagaimana reaksi Amanda dan Kendra?" Ziano menatap Vita.
"Mereka menyetujuinya, bahkan pada waktu kecelakaan mereka yang pertama kemari. Aku bersyukur mengenal mereka"
"Aunty Amanda mendonorkan darahnya untuk Daddy" Alana tersenyum menatap Ziano. Namun Ziano begitu terkejut, Ziano menatap Vita. Vita menganggukkan kepalanya.
"Kamu kehabisan banyak darah, Alea dan Alana bahkan mendonorkan darahnya untukmu. Karena masih kurang, Aku hendak mendonorkan darahku untukmu. Namun kondisiku saat itu sangat tidak memungkinkan"
"Aunty Amanda yang menyelamatkan Daddy" Alea tersenyum.
"Benar, Daddy langsung sadar ketika darah Aunty Amanda mengalir di tubuh Daddy"
"Ehm, baiklah sepertinya Daddy harus berterimakasih padanya. Juga pada Kalian. Terimakasih anak-anak hebat"
Alana dan Alea menganggukkan kepalanya bangga.
Ziano menggenggam tangan Vita "Terimakasih sudah mendidik anak-anak dengan sangat baik"
Vita menganggukkan kepalanya.
"Kak Kevin" Alex bergumam.
"Oh iya kenapa Kak Kevin belum kemari?"
"Aku akan menemui Kak Cla. Tunggu sebentar" Alea bergegas menuju ruangan Cla.
"Permisi, Kak..."
"Masuk"
Alea masuk, namun disana tidak ada Kevin. Hanya ada seorang Ibu yang tengah berbaring dan menyaksikan layar yang menampilkan bayi dalam perutnya.
"Waw hebat sekali. Ini bayi Ibu?" Alea menyapa Ibu yang tengah berbaring.
"Iya Non, anak Saya perempuan. Semoga secantik Non" Alea tersenyum.
"Baik Bu, ada yang ditanyakan lagi?" Cla mengakhiri pemeriksaannya.
"Tidak, terimakasih Dok. Semoga dokter kelak mendapatkan anak yang cantik, baik seperti dokter"
"Terimakasih Bu"
Ibu tersebut diantar keluar oleh perawat yang menemani Cla.
"Ada apa Lea?"
__ADS_1
"Wah Kak Cla hebat tidak salah memanggilku"
Cla tertawa, "Aku sudah kenal Kamu sekarang"
"Baguslah. Oh iya Kak, Aku mencari Kak Kevin. Kakak bilang tadi dia sudah hampir sampai?"
"Kak Kevin? Emm Aku tidak tau Lea, Aku kira dia sudah berada di ruangan kalian"
"Tidak, malah Kami kira Kak Kevin bersama Kak Cla disini"
"Kamu sudah coba telpon dia?"
"Sudah, namun tidak diangkat Kak"
Cla nampak khawatir, tidak mungkin dia menceritakan kejadian pagi tadi.
"Mungkin dia sedang sibuk. Bagaimana keadaan Alex?"
"Padahal Kak Kevin yang paling menantikan Alex sadar. Alex sudah mulai membaik, namun dokter masih tidak mengijinkannya pulang" Alea nampak sedih.
"Semoga Alex segera pulih ya" Cla memeluk Alea.
"Iya Kak, oh ya Daddy ingin bertemu denganmu"
"Uncle Ziano? Emm Aku nanti akan menemuinya. Tapi... Aku masih sibuk"
"Iya baiklah Kak, Aku permisi dulu ya Kak. Selamat bekerja" Alea meninggalkan ruangan Cla.
Cla kembali duduk di kursi miliknya "Kemana sebenarnya Kak Kevin?"
Cla mencoba mengirimkan pesan "Kak, Kamu dimana? Kamu baik-baik saja kan? Aku ingin bertemu, ada beberapa hal yang ingin Aku bicarakan denganmu"
Pesan terkirim, namun Kevin tidak membacanya sama sekali.
Cla melanjutkan aktivitasnya, hingga akhirnya janji temu dengan para pasiennya sudah berakhir.
"Sudah sore, pantas saja badan ku terasa pegal" Cla meregangkan tangannya.
"Oh iya Aku harus menemui Uncle Ziano" Cla keluar dari ruangannya, dia berpapasan bersama Qiara.
"Mau kemana Qiara?"
"Aku mendapat tugas untuk memeriksa Tuan Ziano, Kamu mau kemana Cla?"
"Kebetulan sekali Aku pun akan kesana" Mereka berjalan bersama.
"Cla, semua karyawan di rumah sakit ini sedang membicarakanmu" Qiara nampak ragu untuk menceritakannya.
"Oh ya? Kenapa?" Cla nampak santai.
"Mereka... Mereka mengetahui latar belakang keluargamu. Mereka mengetahui kalau Kamu adalah anak dari pemilik rumah sakit tempat mereka mencari nafkah. Tapi Cla, Aku bersumpah kalau mereka tidak mengetahuinya dariku. Aku tidak menceritakan apapun kepada mereka"
"Sudahlah biarkan saja, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya"
"Apa? Kamu tidak marah?"
"Tidak, kenapa marah?"
__ADS_1
"Huft... Syukurlah"
"Aku tidak ingin mereka menghormati ku karena latar belakang ku. Tapi bukan berarti Aku keberatan saat mereka tau yang sebenarnya. Biarkan mereka tau dengan sendirinya, bukan dari mulutku"
"Ahh Cla, Aku beruntung bisa berteman denganmu"
Cla tersenyum, mereka memasuki ruangan Ziano.
"Selamat Sore Tuan, Nyonya. Saya akan melakukan pemeriksaan kepada Tuan Ziano" Qiara memasang beberapa peralatan medis yang digunakannya.
Qiara melanjutkan memeriksa keadaan Ziano, "Keadaan sudah stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tetapi Anda tetap harus menjaga pola makan dan melakukan olahraga ringan seperti berjalan di taman. Jangan terlalu lelah, jika sudah terasa lelah, Anda bisa beristirahat kembali Tuan"
"Terimakasih dokter" Vita yang berdiri di seberang Qiara merasa sangat bahagia mendengar kabar Ziano.
"Iya sama-sama Nyonya. Karena hari ini dokter Jerry sedang sangat sibuk, Kami menyarankan Anda untuk beristirahat disini selama satu malam lagi. Dokter Jerry yang bisa memutuskan kapan Anda pulang Tuan"
"Baiklah, tetapi... Apakah Kami boleh memindahkan pasien bernama Alex ke ruangan ini? Saya merasa kesulitan untuk merawat mereka secara bersamaan"
"Oh tentu Nyonya, Saya akan meminta perawat untuk memindahkan Tuan Alex kemari. Permisi" Qiara keluar dari ruangan Ziano.
Syukurlah Uncle, Aku senang mendengar kabar ini" Cla menghampiri Ziano.
"Terimakasih princess. Dimana Kevin?"
"Kak Kevin? Dia tidak bersama ku Uncle, Aku baru saja selesai bekerja"
"Lalu dimana dia ya? Aunty mencoba menelponnya beberapa kali namun tidak diangkat sama sekali" Vita mencoba mengecek ponselnya, siapa tau Kevin ada memberikan kabar.
"Apa yang terjadi dengan dia? Biasanya dia akan sangat cepat mengangkat telpon darimu, walaupun dia sedang berada di ruangan meeting" Ziano merasa ada sesuatu dengan Kevin.
"Entahlah, semoga dia baik-baik saja"
Perawat mengetuk pintu dan memindahkan Alex ke ruangan yang sama dengan Ziano. Kini mereka di rawat di ruangan yang sama. Alex sudah nampak lebih sehat, dia tersenyum saat melihat Cla.
"Kak Cla"
"Hai Al, bagaimana kabarmu sekarang?"
"Sudah baikan, terimakasih ya Kak sudah menolongku"
"No, bukan Aku yang merawatmu. Aku merawat ibu hamil" Mereka pun tertawa bersama.
"Kak, lihat Kak Kevin?"
"Emm sebetulnya... Tadi pagi dia kemari, tapi..."
"Kemana dia sekarang?" Alea merasa bingung, tidak biasanya Kevin datang tetapi tidak menemuinya.
"Dia... Dia pergi kembali menggunakan mobilnya"
Vita nampak terkejut, dia duduk di atas sofa yang ada di kamar tersebut. "Kevin, dimana Kamu nak?"
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1