
Anna menghampiri Tuan Damien di kamarnya.
"Daddy" Mata Anna nampak berkaca-kaca.
"Sayang... Kenapa Kamu menangis? Apa Alex menyakiti mu? Katakan apa yang terjadi?" Tuan Damien nampak sangat panik. Dia menuntun Anna untuk duduk.
Anna menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Honey? Katakan pada Daddy"
"Aku ingin hidup lebih lama lagi Daddy"
Tuan Damien nampak semakin bingung. "Tentu saja Kamu akan hidup sangat lama. Jangan takut Babby, Daddy akan selalu menemani mu apapun yang terjadi"
"Aku mencintai Alex, Daddy"
Tuan Damien nampak sangat terkejut. "Alex?"
Anna menganggukkan kepalanya. "Dia juga mencintai ku"
"Ya Tuhan, bukankah itu berita bagus?"
"Tapi bagaimana jika kematian itu memisahkan Kita. Aku ingin hidup lebih lama Daddy"
"Honey, tenanglah. Segala usaha sedang Kita lakukan. Jadi percayalah, Kamu akan hidup sampai Kamu tua. Kamu akan hidup bahagia dan Daddy akan menjadi seorang Kakek yang bermain bersama cucu nya"
Anna memeluk Tuan Damien, "Aku takut Daddy"
"Jangan takut Sayang, kematian hanya memisahkan Kita untuk sementara"
Di tempat lain, Alex sedang merutuki dirinya sendiri. "Bodoh Kamu Al. Kenapa Kamu melakukan itu? Bagaimana kalau Anna tidak menyukainya dan malah pergi dari mu" Alex duduk di tepi tempat tidur.
"Apa yang harus Aku lakukan sekarang? Minta maaf ataukah harus berterimakasih?"
__ADS_1
Alex mengacak rambutnya "Bagaimana kalau Anna mengira Aku laki-laki tidak tau diri"
Alex meraih ponselnya dan segera menghubungi Anna.
"Hallo"
"An..."
"Iya Al, kenapa?"
"Aku... Aku minta maaf" Alex terbata-bata.
"Minta maaf? Kenapa Al?"
"Aku sudah kurang ajar pada mu An. Tapi Aku tidak bermaksud mempermainkan mu"
Anna tertawa "Al, Aku tidak mengira Kamu seperti ini saat pertama bertemu dengan mu. Kamu orangnya sangat cuek dan tidak peduli. Aku tidak menyangka Kamu minta maaf seperti ini kepada ku"
Anna terdiam "Aku senang Kamu sangat menyayangi Ibu mu Al. Aku memafkan mu, demi Ibu mu"
Alex nampak sangat lega. "Terimakasih ya An. Semoga perjalanan mu penyenangkan"
"Kamu juga Al"
Alex mengakhiri panggilannya, dia segera bergegas saat Ziano tiba di kamarnya.
"Sudah siap semuanya?"
"Sudah Daddy"
Alex dan Ziano pergi ke lobby kantor. Alex duduk di belakang kemudi mobil sedangkan Ziano duduk di sampingnya.
"Kalau Kamu lelah, berhentilah untuk istirahat"
__ADS_1
"Ayolah Daddy, Aku bukan anak kecil yang sedang belajar mengemudi" Alex dan Ziano tertawa.
Mereka memutuskan untuk pulang berdua karena Tuan Stefan yang masih mengawasi perusahaan di Kota X tersebut.
"Ya ampun, Daddy belum menghubungi Mommy mu"
"Aku sudah menghubungi Kak Kevin kalau Kita akan pulang malam ini" Alex sudah sangat mengetahui sifat Ziano, dia selalu lupa memberi kabar sehingga terjadi percekcokan kecil dengan Vita.
"Good job" Ziano kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas miliknya.
Sepanjang perjalanan Ziano mengajak Alex untuk berbincang. Tidak jarang Mereka tertawa bersama di tengah perbincangannya.
Hari sudah sangat larut. Ziano mulai mengantuk. "Tidurlah Daddy, Mommy bilang kalau Daddy harus beristirahat dengan cukup"
"Benarkah Mommy mu bilang begitu?"
"Betul, jadi jangan sampai Mommy memarahi ku karena Daddy kelelahan" Mereka akhirnya tertawa karena mengingat Vita yang selalu memperhatikan hal sekecil itu.
Akhirnya Ziano terlelap dalam tidurnya. Alex tetap fokus dengan kemudinya.
Namun tiba-tiba sebuah mobil besar yang nampak kehilangan kendali berada tepat di depan mobilnya. Cahaya lampunya tepat mengenai wajah Alex. Alex pun kehilangan keseimbangan dan kecelakaan tidak dapat dihindari.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Kaaaaannnn...
...Ayoo ceritakan kelanjutannya versi Kalian Zheyeeeenk 🥰🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan jejak ❤ dan Komentar Kaliaaaan 🥰🥰🥰...
__ADS_1