
Axel masuk ke dalam rumah dengan wajah gembira.
Tiba-tiba ia mendengar suara dari dapur.
Apa ada pencuri yang masuk ke dalam rumah?
Neneknya pasti sudah tidur jam segini.
Axel langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju dapur. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Neneknya.
Axel begitu terkejut saat melihat sosok yang berada di dapur.
"Nenek.. "
Axel melihat Neneknya sedang berdiri di depan meja makan dengan tangan yang memegang erat sisi meja.
Axel menghampiri Riana.
"Apa Nenek baik-baik saja? "
Riana tersenyum pada Axel.
"Nenek baik-baik saja Axe. "
"Mengapa Nenek belum tidur?
Tidak baik jika Nenek belum tidur selarut ini. "
ucap Axel dengan nada lembut.
"Nenek hanya ingin menunggumu pulang Axe. Rasanya Nenek begitu merindukanmu.
Akhir-akhir ini Nenek hanya beristirahat di kamar, jadi Nenek jarang menghabiskan waktu bersamamu Axe."
Axel tersenyum dan kemudian memeluk Riana.
"Axe juga begitu merindukan Nenek.
Axe berdoa agar Nenek segera sembuh dan kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi."
Axel melepaskan pelukannya.
"Apalagi Axe rindu nasi goreng buatan Nenek. Nenek juga tahu kalau Axe begitu menyukainya."
Riana memegang pipi Axel.
"Nenek janji Axe. Saat Nenek sembuh nanti, setiap hari Nenek akan memasak nasi goreng untukmu."
"Baiklah Nek.
Sekarang waktunya Nenek untuk istirahat. Axel akan mengantar Nenek ke dalam kamar."
Axel kemudian mengantar Riana ke dalam kamar.
Setelah Neneknya berbaring di tempat tidur, Axel menyelimuti Riana dengan selimut.
"Selamat tidur Nek."
Axel mengecup kening Riana.
"Selamat tidur Axe."
Axel kemudian keluar dari kamar Riana.
__ADS_1
Riana menatap kepergian Axe.
Perlahan ia meneteskan air matanya.
Ia sungguh tidak sanggup untuk meninggalkan Axel sendirian.
--
Seperti biasa, Axel bangun pagi-pagi sekali untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Mulai dari memasak hingga membersihkan rumah.
Setelah selesai memasak, Axe memasukkan bubur ke piring untuk Neneknya.
Tidak lupa sayur yang harus dikonsumsi oleh Riana.
Axe kemudian membawa semua makanan itu ke dalam kamar Riana.
Saat masuk ke dalam kamar, Axel melihat Neneknya masih tidur.
Axel tersenyum.
Ia meletakkan makanan itu ke atas meja dan kemudian mendekati Neneknya.
Ia bermaksud untuk membangunkan Riana.
Ini sudah waktunya untuk sarapan.
Neneknya tidak boleh terlambat sarapan.
"Nek.. " panggil Axel.
Riana tidak menggubris.
Axel berpikir itu karena Riana pasti tidur nyenyak.
"Nek, sudah waktunya Nenek sarapan... "
Namun hasilnya tetap sama, Riana belum bangun juga.
Axel kemudian memegang tangan Riana.
"Nek.. "
Perasaan khawatir mulai menyelimuti Axel.
"Nek... " panggil axel lagi.
Tidak biasanya Neneknya begini.
Ia kemudian memeriksa nadi Riana.
Axel menghembuskan napas lega.
Ia sempat berpikiran yang aneh-aneh tadi.
Namun perasaan khawatir masih menyelimutinya.
Axel langsung menelpon Bidan yang biasanya memeriksa kondisi tubuh Riana..
"Bagaimana kondisi Nenek saya Bu? "
Bidan itu menarik napas panjang.
__ADS_1
"Saya pikir, sebaiknya Ibu Riana dirawat di rumah sakit. Saya takut kondisinya semakin parah."
"Apa yang harus saya lakukan agar Nenek saya bisa segera sembuh Dok? "
"Saya hanya bisa menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit. Fasilitas yang saya punya juga belum bisa menjamin kesehatan Ibu Riana. "
"Baiklah, terima kasih Bu."
"Saya permisi."
Bidan itu langsung pergi meninggalkan rumah.
Axel duduk sambil menatap ke arah Neneknya yang masih menutup matanya.
Perlahan mata Riana terbuka dan kemudian menatap Axel yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Axe.. "
Axel langsung mendekat pada Riana.
"Axe senang Nenek sudah sadar.
Axel kemudian membantu Riana untuk duduk.
Setelah itu, ia mengambil makanan yang sudah ia hangatkan.
"Nenek harus makan dan minum obat.
Setelah ini, Axe akan membawa Nenek ke rumah sakit. "
"Rumah sakit? Nenek baik-baik saja Axe.
Nenek istirahat di rumah saja."
"Nek...."
Axel tidak mungkin memberitahu Riana tentang apa yang dikatakan Bidan tadi padanya.
Ia tidak ingin melukai hati Neneknya.
Yang harus ia lakukan saat ini adalah membawa Neneknya ke rumah sakit.
"Nek, fasilitas di rumah sakit lebih lengkap.
Pastinya, kesehatan Nenek lebih terjamin di sana. Axe khawatir dengan kondisi Nenek."
"Axe, Nenek tidak apa-apa sayang.
Nenek pingsan, karena semalam Nenek tidur larut malam. Nenek janji tidak akan melakukannya lagi.
Tapi, tolong jangan bawa Nenek ke rumah sakit, hem? "
Axel menatap wajah memohon Riana.
Sunguh ia tidak tega jika harus memaksa Neneknga untuk pergi ke rumah sakit.
"Baiklah, Nek.
Tapi Axe akan menjaga Nenek di rumah."
Riana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya alasan mengapa Riana menolak untuk pergi ke rumah sakit adalah karena ia ingin mengabiskan waktunya dengan Axel lebih lama lagi.
__ADS_1
Dan ia juga takut ketika dirawat di rumah sakit, ia tidak sempat untuk melihat wajah Axel.
Bersambung...