Revenge For Love

Revenge For Love
Akhirnya


__ADS_3

"Kak Axe..." teriak Aluna.


Ia langsung terbangun dari mimpi buruknya.


Mimpi yang menggambarkan bagaimana Axel akan pergi jauh setelah bertunangan dengan Vallie.


Hal itu sangat membuatnya sedih hingga ia menangis dalam keadaan tidur.


Dan benar, malam ini Axel dan Vallie akan bertunangan.


Aluna tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya bila Axel benar-benar akan meninggalkannya.


Ia takut mimpinya akan menjadi kenyataan.


"Aluna kamu tidak apa-apa?"


ucap Ariana dengan nada khawatir.


"Aku tidak apa-apa.


Aku hanya mimpi buruk."


"Aku mendengar suara teriakanmu dari luar.


Aku pikir telah terjadi sesuatu yang buruk padamu."


Aluna menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu kamu harus mandi.


Piluh sangat membasahi tubuhmu."


"Hem, kamu benar Ariana.


Badanku terasa lengket.


Aku harus mandi."


Aluna beranjak dari tempat tidur dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Aluna tidak bisa mengendalikan pikirannya.


Pikirannya masih tertuju pada mimpi buruk yang ia alami tadi.


Setelah selesai mandi, Aluna memakai jubah mandi.


Aluna menatap wajahnya di depan cermin.


Ia menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba ia teringat dengan Axel yang akan pergi jauh.


"Tidak, aku mohon jangan tinggalkan aku Kak."


Aluna menutup kedua matanya.


Rasanya ia begitu bodoh.


Tentu saja suatu saat nanti Axel akan pergi meninggalkannya.


Bukankah itu yang ia inginkan selama ini?


Aluna kemudian menangisi dirinya.


Setelah meluapkan perasaannya, Aluna kembali mencuci wajahnya.


Ia kemudian berjalan menuju pintu kamar mandi, namun ia tidak memperhatikan jalannya sehingga tubuhnya terpeleset ke lantai.


Aluna merasakan sakit kepala hebat.


Kepalanya mengenai lantai dengan cukup keras.


Aluna tidak menghiraukan kepalanya.


Ia langsung memeriksa kondisi bayinya.


Aluna berusaha bangkit namun ia begitu terkejut melihat darah yang keluar dari pahanya.


"Darah..


Bayiku..."


"Tolong!"


Aluna teriak sekeras mungkin.


Ia tidak mau terjadi apa-apa dengan bayinya.


"Aluna..."


Alda masuk ke dalam kamar mandi.


Ia langsung menghampiri Aluna yang terbaring di lantai.


"Aluna sayang.."


"Mami tolong selamatkan bayiku."


"Tenang aayang.


Mami pasti bisa menyelamatkan bayimu."


"Aluna..."


Ariana begitu terkejut melihat kondisi Aluna.


"Temani Aluna.


Tante akan mencari bantuan."


Ariana mengangguk.


"Ariana, bayiku..


Aku takut terjadi apa-apa padanya."


"Aluna tenanglah.


Dia akan baik-baik saja.


Percaya padaku, hem."


Tidak lama, bantuan datang dan langsung membawa Aluna ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aluna langsung dibawa ke ruang UGD.


"Ariana, apa dia akan baik-baik saja?"


"Tentu saja Aluna.

__ADS_1


Aku akan menunggu di luar.


Kamu tenanglah, hem?"


Ariana melepas tangan Aluna setelah sampai di ruang UGD.


Perasaannya begitu gelisah saat ini.


Ia takut terjadi sesuatu pada Aluna dan bayinya.


"Tante..."


Arian memeluk tubuh Alda dengan erat.


"Aku takut terjadi sesuatu padanya."


"Dia akan baik-baik saja Ariana.


Kita harus berdoa untuk Aluna dan anaknya."


Ariana mengangguk.


Benar, yang harus ia lakukan saat ini adalah berdoa untuk kebaikan Aluna dan anaknya.


Ariana berjalan mondar-mandir di luar.


Ia masih menunggu hasil pemeriksaan Dokter.


Ariana kemudian melihat ke arah handphonenya.


Ia harus memberitahu Axel soal itu.


Bagaimanapun Axel adalah Ayah dari anak yang dikandung Aluna.


Walaupun sebelumnya ia sudah berjanji pada Aluna bahwa ia tidak akan memberitahu Axel soal kehamilannya, namun saat ini ia harus memberitahu Axel.


Ariana kemudian mencoba menghubungi Axel namun pria itu tidak menjawab panggilannya.


Ia kemudian menghubungi James dan hasilnya sama.


James juga tidak menjawab panggilannya.


Ariana kemudian memberi pesan pada James yang memberitahu soal kehamilan Aluna dan mengenai Aluna yang sedang berada di rumah sakit.


Dan memang benar, Axel sedang berada di tempat dimana pertunangannya akan dilaksanakan malam ini.


Dan handphone Axel tertinggal di mobilnya.


Ia sibuk mengurus persiapan pertunangannya sehingga lupa membawa handphonenya.


Sementara James sedang sibuk bekerja di kantor.


Ia tidak menjawab panggilan Ariana karena daya handphonenya sedang diisi ulang.


Hari hampir berganti malam.


James kemudian memeriksa handphonenya.


Dan ia begitu terkejut melihat banyak panggilan dari Ariana.


Ia juga melihat notifikasi pesan dari Ariana.


Ia kemudian membuka pesan itu.


James begitu terkejut membaca isi pesan Ariana.


Padahal pesan itu begitu penting.


James kemudian menghubungi Axel dan berniat memberitahu Axel bahwa Aluna sedang dirawat di rumah sakit dengan kondisi hamil anaknya.


"Sial!"


Axel tidak menjawab panggilannya.


James kemudian bergegas menemui Axel di tempat pertunangannya diadakan.


Ia yakin Axel berada di sana.


Setelah sampai di tempat itu, James langsung mencari keberadaan Axel.


"Apa kau melihat Axel?"


"Tuan Axel sedang bersiap-siap Tuan.


Beliau sedang berada di ruang ganti yang berada di sana."


James langsung berjalan menuju tempat yang ia tuju.


"Axe.."


Axel mengalihkan pandangannya pada James yang berusaha mengontrol napasnya.


"Kau..


Kenapa berlari seperti itu hanya untuk menemuiku?"


"Axe kau tidak boleh bertunangan dengan Vallie."


James masih berusaha mengatur napasnya.


"Jangan katakan itu lagi James.


Aku sudah sangat muak mendengarnya."


Axel masih sibuk memasang dasinya.


"Aluna hamil.." ucap James dengan lantang.


Ucapan Axel melepaskan dasinya dan kemudian melihat ke arah James.


"Apa maksudmu?"


"Kau pasti tahu siapa Ayah dari anak itu."


Jantung Axel seketika berdetak dengan kencang.


Tentu ia paham dengan apa yang diucapkan oleh James.


Aluna hamil anaknya!


"Kau tidak sedang bercanda kan?"


"Untuk apa aku bercanda dengan hal yang begity serius.


Dan asal kau tahu, saat ini Aluna sedang dirawat di rumah sakit."


"Apa?

__ADS_1


Apa yang terjadi dengannya?


Jawab aku James!"


"Dia terjatuh di kamar mandi dan langsung dibawa ke rumah sakit.


Maaf aku baru memberitahumu saat ini.


Aku juga baru mengetahuinya setelah membaca pesan Ariana."


"Aku harus menemui Aluna.."


Axel langsung bergegas keluar.


Ia sama sekali tidak peduli dengan acara pertunangannya.


Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Aluna dan anaknya.


Ia harus segera menemui mereka.


"Axe, tunggu aku."


Axel melajukan mobilnya begitu ngebut.


James hanya bisa mengelus dada.


Ia tahu Axel pasti ingin segera mengetahui bagaimana kondisi Aluna dan bayinya.


Sesampainya di rumah sakit, Axel langsung menanyakan dimana ruangan Aluna pada resepsionis.


Setelah mengetahuinya, ia bergegas menuju ruangan itu.


James menyusul Axel dari belakang.


Di depan ruangan Aluna ada Alda dan Ariana yang menunggu di luar.


"Kak Axel.."


Ariana langsung berdiri saat melihat kehadiran Axel.


Begitu juga dengan Alda.


"Aluna..


Bagaimana dengan kondisinya?


Dan bayi kami..


Apa dia baik-baik saja?"


Rupanya Axel sudah mengetahui kebenarannya.


"Bayi kalian baik-baik saja.


Beruntung kami membawanya dengan cepat.


Namun hingga saat ini Aluna belum sadarkan diri."


Axel akhirnya bernapas lega.


Ia benar-benar begitu mengkhawatirkan keduanya.


"Kak Axel, maafkan aku karena baru memberitahumu soal kehamilan Aluna."


"Tidak apa-apa.


Bagaimanapun aku harus berterima kasih padamu karena telah memberitahuku."


"Masuklah ke dalam Kak.


Aluna pasti menunggumu."


Axel melihat ke arah Ariana dan juga Alda.


Sungguh ini pertama kalinya ia bertemu dengan Alda setelah 2 tahun lamanya.


Axel mengangguk dan kemudian masuk ke dalam ruangan Aluna.


Di sana ia melihat Aluna dalam kondisi terbaring.


Axel menghampiri Aluna dan duduk samping ranjangnya.


Axel melihat ke arah perut Aluna.


Di dalam sana terdapat anak mereka.


Sungguh ia begitu bahagia mendapat kabar bahwa Aluna sedang hamil anaknya.


Karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah.


Axel tersenyum dan kemudian mengelus perut Aluna.


"Maafkan Papa sayang.


Papa baru mengetahui keberadaanmu hari ini.


Papa sangat bahagia dengan kehadiranmu.


Terima kasih."


Ia mencium perut Aluna.


Axel kemudian menggenggam tangan Aluna.


"Mulai saat ini aku tidak akan melepaskanmu lagi Luna.


Aku akan menjagamu dan anak kita.


Aku tahu kamu memiliki alasan mengapa tidak memberitahuku soal anak kita.


Aku begitu bahagia Luna.


Terima kasih telah memberiku hadiah yang begitu istimewa."


Axel meneteskan air matanya.


"Aku mohon sadarlah.


Aku ingin segera memelukmu dan melihatmu tersenyum.


Aku sangat mencintaimu."


Axel mencium tangan Aluna dengan lembut.


Axel memandangi wajah Aluna yang masih belum sadar.


Sungguh ia ingin kedua mata indah itu segera terbuka.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu Aluna."


__ADS_2