Revenge For Love

Revenge For Love
Momen Berharga


__ADS_3

Aluna dan Axel kembali ke pintu masuk Skagit Valley.


"Kau harus pulang bersamaku."


Terdengar nada perintah di kalimat Axel.


Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.


Mereka kemudian berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka.


Axel fokus menyetir, sedangkan Aluna menatap ke arah jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan.


Axel melihat wajah Aluna dari kaca mobil.


"Kau belum mengobati lukamu?"


Aluna memalingkan wajahnya.


"Aku baru mengoleskan salap untuk meredakan nyeri."


"Kau harus segera mengobatinya."


"Baiklah."


"Kau memberitahu Suamimu tentang kejadian itu?"


Aluna terdiam sejenak.


Ia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tidak, aku tidak memberitahunya."


"Boleh aku tahu alasannya?"


"Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir."


Ada rasa cemburu menghinggapi Axel saat mendengar kalimat Aluna.


Axel memegang erat stir mobil berusaha mengontrol dirinya sendiri.


Ia tidak suka Aluna mengkhawatirkan pria lain.


Walaupun bahkan itu Russel yang merupakan Suami Aluna sendiri.


"Kau Istri yang sangat baik ternyata." ucapnya datar.


Aluna memandang lekat mata Axel yang tengah menatap lurus ke depan.


Ia ingin mengatakan pada Axel bahwa ia sebenarnya berbohong.


Ia mengatakan hal itu semata-mata adalah untuk tidak membuat Axel semakin berpikiran yang tidak-tidak padanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tanyakan saja."


"Apa gadis yang bersamamu saat kita pertama kali bertemu adalah Kekasihmu?"


"Hem.."


"Aku yakin dia pasti gadis yang baik."


"Sangat."


Sama halnya dengan Axel, Aluna juga begitu cemburu mendengar ucapan Axe tentang gadis lain.


Axel ternyata benar-benar sudah melupakannya.


Padahal apa yang mereka ucapkan sangat berbanding terbalik dengan kenyataannya.


Keduanya saling berbohong.


Axel mengatakan hal itu untuk membuat Aluna berpikir bahwa ia sudah melupakan dirinya dan mendapatkan gadis lain.


Nyatanya selama 2 tahun ia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.


Walaupun banyak gadis yang mengejarnya.


--


Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai di depan hotel.


Axel melihat ke sampingnya.


Aluna masih tertidur pulas sambil memegang rangkaian bunga yang diberikannya.


Ia perlahan menyunggingkan senyumnya melihat wajah Aluna yang begitu cantik saat tidur.


Wajah itu membuatnya tidak bisa berpaling ke objek lain.


Sejenak ia melupakan fakta bahwa Aluna sudah menjadi Istri pria lain.


"Aluna.." ucapnya membangunkan Aluna.


Aluna masih belum membuka matanya.


Axel kemudian mendekatkan wajahnya pada Aluna.


"Aluna..."


Mata lentik itu perlahan terbuka.


Masih di bawah pengaruh alam sadar, Aluna tersenyum tatkala melihat Axel berada sangat dekat dengannya.


Tangan kanannya kemudian terangkat memegang wajah pria itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Axel dengan nada lembut.


Ia berpikir bahwa Aluna sakit.


Aluna kembali menyunggingkan senyumnya.


Axel terlihat khawatir padanya.


"Hem, aku baik-baik saja."


"Kalau begitu kita harus keluar.


Kau bisa sakit jika terus berada di sini."


Aluna perlahan mengangguk dan kemudian melepaskan tangannya dari wajah Axel.


Axel keluar dari mobil dan kemudian membuka pintu di sisi Aluna.


Setelah Aluna keluar, mereka berjalan bersama masuk ke dalam hotel.


Sesampainya di depan kamar masing-masing, Axel mengeluarkan kalimatnya.


"Jika terjadi sesuatu, kau harus segera memberitahuku."


"Baiklah.


Terima kasih untuk hari ini Kak."


"Hem.


Masuklah."

__ADS_1


Aluna tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Setelah melihat Aluna masuk, Axel langsung membuka pintu kamarnya.


Aluna tersenyum melihat rangkaian bunga pemberian Axel.


Ia melihat sekelilingnya.


Kebetulan ada wadah yang bisa ia gunakan untuk bunga-bunga itu.


Aluna kemudian mengambil wadah itu dan kemudian mengisinya dengan air.


Ia menaruh semua bunga lily ke dalamnya.


Benar-benar indah, pikir Aluna.


Aluna meletakkan bunga itu di meja.


Ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Aluna duduk di depan meja rias.


Ia melihat luka di sisi bibirnya.


Kalimat Axel kemudian terlintas di pikirannya.


Ia memang sama sekali memberikan obat tambahan untuk lukanya.


Sepertinya ia harus keluar untuk membeli obat.


Saat ini Axel sedang menerima panggilan dari salah satu orang kepercayaannya.


"Bagaimana keadaan pria itu?"


"Ia sudah sadar setelah mengalami masa kritis Pak."


"Bagus.


Kau harus terus mengikuti perkembangannya, mengerti?"


"Bagaimana jika ia menuntut anda atas tindakan kekerasan yang anda lakukan Pak?"


Axel memasang senyum smirk nya.


"Itu tidak akan terjadi Max.


Jika ia berani melakukan itu, ia sendiri yang akan masuk ke dalam penjara.


Karena ia berniat melakukan tindakan pemerkosaan pada seorang gadis."


"Baik Pak.


Saya akan melakukan semua apa yang Bapak perintahkan pada saya."


"Hem.."


Axel kemudian menutup panggilannya.


Ia memegang handphone nya dengan erat.


Ia pastikan Aron akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.


Aluna membiarkan rambutnya tergerai.


Ia kemudian memakai jaket di tubuhnya.


Setelah itu, ia keluar dari kamarnya.


Namun ia begitu terkejut melihat Axel juga keluar di waktu yang bersamaan.


Pria itu menutup pintu kamarnya dan kemudian berjalan mendekatinya.


"Aku..


Aku hanya ingin membeli obat untuk lukaku."


"Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak pergi kemanapun sendirian?"


"Maafkan aku.


Tempatnya tidak jauh dari sini.


Jadi aku pikir, aku bisa pergi ke sana sendirian."


"Aku akan menemanimu.


Tidak ada sama sekali pengecualian."


Axel kemudian berjalan menuju lift.


Aluna menarik napas panjang.


Ia melangkahkan kakinya menyusul Axel dari belakang.


Setelah keluar dari hotel, mereka berdua masuk ke dalam apotik yang tidak jauh dari sana.


Aluna membawa obat yang telah dibayarnya.


"Aku akan mengobati lukamu."


Aluna terkejut dengan ucapan Axel barusan.


"Kita akan duduk di kursi itu."


Axel menunjuk ke kursi yang berada di depan supermarket.


Aluna masih diam menatap Axel.


"Ayolah Aluna."


Lagi-lagi Aluna hanya bisa mengikuti Axel dari belakang.


Mereka berdua kemudian duduk bersama.


Axel membuka obat itu dan kemudian menuangkannya pada kapas.


"Aku yakin sesampainya di kamar kau tidak akan mengobati lukamu.


Jadi aku yang harus melakukannya."


Axel mendekatkan dirinya pada Aluna dengan tangan yang mengarah pada luka gadis itu.


Sementara Aluna hanya diam memandangi Axel yang sedang mengobati lukanya.


"Ahh.."


Aluna merasakan pedih pada lukanya yang mulai mengering.


"Aku akan menyentuhnya lebih lembut.


Tenanglah, ini hanya sebentar."


"Aku bisa melakukannya sendiri."


Aluna mencoba mengambil kapas yang berada di tangan Axel.


"Diamlah.


Kalau tidak, aku akan menekannya lebih keras."

__ADS_1


Akhirnya Aluna hanya bisa pasrah dan membiarkan Axel mengobati lukanya.


Tidak lama, akhirnya Axel selesai mengobati luka Aluna.


Ia kemudian memasukkan obat itu ke dalam tempatnya..


"Terima kasih."


ucap Aluna.


Matanya kemudian menatap lurus ke depan.


Ia tersenyum sambil menelan ludah.


Axel mengikuti arah pandang Aluna yang tertuju pada 2 orang anak yang keluar dari supermarket dengan membawa es krim di tangannya.


Ia yakin Aluna juga ingin memakan es krim.


"Jangan bilang, kau juga menginginkannya."


Aluna menatap Axel dan kemudian mengangguk.


"Oh, ayolah Aluna.


Bibirmu sedang terluka. Aku tidak akan membiarkanmu makan es krim dengan kondisi seperti itu."


"Aku mohon Kak.


Aku sangat ingin memakannya.


Lukaku juga baik-baik saja.


ucap Aluna dengan tatapan memohon.


Melihat respon yang diberikan Axel, Aluna menundukkan wajahnya dengan bibir terpagut.


Axel melihat raut sedih di wajah Aluna.


Hal itu membuatnya tidak tega.


Ia kemudian menarik napas panjang.


"Baiklah aku akan membelikannya untukmu."


Aluna langsung menaikkan wajahnya setelah mendengar ucapan Axel.


Ia tersenyum dengan lebar.


"Benarkah?"


"Hem..


Ayo, aku akan membelikannya untukmu."


Aluna mengikuti Axel dengan langkah kegirangan.


Sesampainya di dalam supermarket, Aluna mengambil beberapa es krim kesukaannya.


Axel menatap Aluna dengan heran.


Gadis itu masih sama seperti dulu.


Mereka kemudian kembali duduk di kursi tadi.


Aluna makan es krim begitu lahap layaknya seorang anak kecil.


"Pelan pelan.


Kau tampak seperti anak kecil sekarang."


Axel menghapus sisa es krim yang berada di bibir Aluna menggunakan tissu.


Aluna terkekeh geli.


Ia kemudian melanjutkan kegiatannya.


Axel hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu Aluna.


"Kakak tidak ingin mencoba?"


ucap Aluna sambil menyodorkan es krim yang berada di tangannya.


"Tidak."


"Ayolah..


Kakak harus mencobanya."


Aluna langsung mendekatkan es krim itu pada bibir Axel.


Mau tidak mau, Axel akhirnya memakan es krim itu.


"Bagaimana rasanya?


Enak kan?"


tanya Aluna penasaran.


"Hem..."


Aluna terkekeh geli melihat ekspresi lucu Axel.


Ia kemudian memakan es krim itu kembali.


"Kakak harus memakannya lagi."


"Tidak Luna.."


Belum sempat menghindar, Aluna langsung mendekatkan es krim itu ke bibirnya.


Kali ini bibir Axel terlihat belepotan akibat perbuatannya.


Aluna kemudian tertawa terbahak-bahak.


Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.


"Kau menertawakanku, hem?"


"Kakak lucu dengan wajah seperti itu."


Tidak tinggal diam, Axel langsung mengoleskan es krim ke pipi Aluna.


"Kau harus mendapatkan balasannya."


Axel berniat mengoleskannya kembali, namun Aluna langsung menghindar.


"Jangan lakukan itu Kak."


"Wajahmu juga harus belepotan sepertiku."


Keduanya saling mengerjai satu sama lain hingga berakhir dengan wajah belepotan.


Mereka juga sama sekali tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang keheranan melihat perbuatan mereka.


Diam-diam Aluna begitu bahagia bisa bercanda bersama Axel.


Ia tersenyum melihat Axel tertawa di hadapannya.


Hari ini salah satu momen berharga di dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2