
Axel kembali mendatangi apartemen Aluna.
Ia tersenyum melihat plastik yang berada di tangannya.
Ia membawakan Aluna banyak es krim kesukannya.
Kali ini ia menekan bel dan ingin Aluna sendiri membukakan pintu untuknya.
Sementara saat ini Aluna sedang memasak di dapur.
Tiba-tiba ia mendengar bunyi bel.
Ia kemudian melihat jam di tangannya.
Tidak biasanya Ariana kembali ke apartemen jam segini.
Aluna kemudian membukakan pintu.
Ia begitu terkejut melihat Axel tengah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
"Hai..
Selamat Pagi."
ucap Axel bermaksud menyapa Aluna.
"Kau...
Untuk apa lagi kau datang ke sini?"
Aluna berniat menutup kembali pintu, namun Axel menahannya.
"Aku datang untuk mengatakan sesuatu yang penting padamu."
"Baiklah, kita bicara di luar saja."
"Tidak, kita harus bicara di dalam.
Bagaimanapun aku adalah tamu.
Apa yang dipikirkan orang yang lewat nanti saat melihat kau tidak mempersilahkan tamumu masuk ke dalam."
Aluna berpikir apa yang dikatakan Axel ada benarnya.
Ia kemudian membuka pintu agar Axel masuk ke dalam.
Di dalam hatinya, Axel bersorak kegirangan.
Sungguh ia begitu lega Aluna mau membiarkannya masuk.
Aluna berdiri di hadapan Axel dengan tatapan datar.
Axel kemudian berjalan mendekati Aluna.
"Jangan mendekat!
Aku tidak akan segan-segan memukulmu jika kau berani berbuat seperti kemarin lagi."
Axel tersenyum.
"Kenapa?
Kau tidak menyukainya?"
Aluna mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Axel sudah berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengannya.
"Cepat, katakan apa yang ingin kau katakan padaku."
"Sebenarnya aku tidak ada yang ingin katakan padamu.
Itu hanya alasanku saja agar kau mau mengizinkanku masuk."
"Apa?
Jadi kau membohongiku?"
Axel mengangguk dengan cepat.
Ia kemudian memasang senyum lebar pada Aluna.
"Sepertinya kau sedang memasak.
Kebetulan sekali, aku belum sempat sarapan tadi."
Axel berjalan menuju dapur.
"Kalau begitu kau boleh sarapan di luar."
"Kau tidak mau memberikanku sedikit saja masakanmu?"
Aluna menatap Axel dengan kesal.
"Kau tidak lihat aku belum selesai memasak?
Kedatanganmu yang membuatku tidak bisa melanjutkannya."
"Hem, kalau begitu sebagai permintaan maafku aku yang akan melanjutkannya."
Axel mulai menyentuh alat-alat dapur.
"Apa?
Tidak perlu.
Aku bisa melakukannya sendiri."
__ADS_1
Aluna menghampiri Axel.
Sementara Axel malah menghalanginya.
Pria itu kemudian memegang pundaknya sambil memandangnya.
"Aku akan memasak untukmu.
Kau bisa duduk di sana.
Oh ya, aku membawa banyak es krim kesukaanmu.
Sambil menungguku, kau bisa menghabiskan semuanya."
Aluna hanya bisa terdiam.
Sikap Axel membuatnya tidak bisa berkata apapun.
Ia kemudian mengambil plastik yang berisi es krim itu dan duduk di kursi.
Aluna melihat es krim yang dibawa oleh Axel.
Matanya kemudian menatap ke arah Axel yang sedang memasak.
Pria itu benar-benar belum melupakannya.
Beberapa saat kemudian, semua masakan Axel sudah terhidang di meja.
Axel mempersilahkan Aluna mencicipi masakannya.
"Bagaimana?
Apa rasanya masih sama seperti dulu?"
Aluna menatap Axel dengan intens.
Sebenarnya apa tujuan Axel melakukan semua ini padanya?
Kemarin pria itu tiba-tiba datang ke apartemennya dan mengatakan kalimat yang membuatnya bertanya-tanya.
Dan sekarang, pria itu datang lagi tanpa alasan khusus.
"Ada apa Luna?
Apa rasanya tidak enak?"
"Kenapa kau melakukan semua ini padaku?
Sebenarnya apa tujuanmu?"
Axel mengerutkan keningnya.
Ia tidak mengerti apa maksud perkataan Aluna.
"Apa maksudmu Aluna?
"Bukankah kau sangat membenciku dan ingin membalas dendam padaku?
Mengapa kau bersikap seolah kau sudah melupakan semua kesalahan yang aku lakukan padamu?"
"Apa kau lupa?
Bukankah malam itu aku sudah mengatakan padamu bahwa kau adalah milikku?"
"Aku bukan barang yang seenaknya kau milIiki dan kau buang begitu saja."
"Kenapa kau berpikir seperti itu Aluna?
Kau bukan barang.
Kau sangat berharga untukku sehingga aku tidak mau kau dimiliki oleh pria lain."
"Tapi aku memang sudah menjadi Istri orang lain."
"Apa kau mencintainya?
Di malam kita bersama kau mengatakan padaku bahwa kau mencintaiku dan tidak pernah menghianatiku.
Dulu aku memang menganggapnya hanya bualanmu semata.
Tapi sekarang aku percaya padamu Luna.
Aku percaya bahwa kau mencintaiku.
Terlepas apapun alasanmu meninggalkanku dulu.
Dan kau juga sudah mengetahui bagaimana perasaanku padamu."
"Tapi malam itu kau dalam keadaan tidak sadar Kak Axe.
Hal itu membuatku tidak yakin bahwa kau memang mencintaiku.
Aku juga berpikir bahwa selamanya kau akan tetap membenciku."
"Walaupun aku dalam keadaan mabuk, tapi aku melakukannya dengan kesadaran penuh Luna.
Aku bahkan sama sekali tidak menyesalinya.
Karena malam itu, akhirnya aku menyadari perasaanku padamu.
Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu Luna."
"Kakak yakin tidak membenciku lagi?"
Axel tersenyum dan kemudian mengelus kepala Aluna dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa aku harus membenci gadis yang aku cintai, hem?"
Mata Aluna perlahan berkaca-kaca.
Rasanya ia sedang bermimpi sekarang.
Jujur saja, ia tidak pernah membayangkan bahwa harapannya selama ini akan terjadi begitu cepat.
"Apa aku sedang bermimpi?"
"Tentu tidak sayang."
Aluna langsung memeluk Axel dengan erat.
Ia begitu bahagia sehingga tidak tahu harus berkata apa.
Ia hanya ingin memeluk Axel dalam waktu yang lama.
"Aku mohon biarkan seperti ini Kak."
Axel tersenyum dan kemudian membalas pelukan Aluna.
Ia juga ingin memeluk Aluna dalam waktu yang lama.
Sungguh ia begitu merindukan Aluna walau kemarin mereka sempat bertemu.
Beberapa menit kemudian, Aluna melepaskan pelukannya.
"Aku akan mencari cara agar kau bisa lepas dari pria itu Luna."
"Tapi aku sangat khawatir Kak."
"Kenapa sayang?
Aku ada di sini bersamu.
Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Aku takut terjadi sesuatu padamu Kak."
Jujur saja, Aluna begitu takut kejadian 2 tahun lalu terulang kembali.
Ia tidak mau Russel melakukan hal buruk lagi pada Axel.
Pria itu akan melakukan segala cara untuk menyakitinya.
"Aku pria kuat Luna.
Tidak ada yang bisa menyakitiku.
Satu-satunya yang bisa menyakitiku adalah kamu.
Aku akan sangat menderita jika berjauhan denganmu."
Axel memegang erat tangan Aluna.
Tangannya kemudian terulur menyentuh pipi Aluna dengan lembut.
Axel kemudian mendekatkan wajahnya pada Aluna.
Bibirnya hampir saja menempel di bibir Aluna, namun Aluna langsung menjauhkan wajahnya dan berlari menuju wastafel.
Ia mendengar Aluna memuntahkan isi perutnya.
Sontak hal itu membuatnya khawatir.
Ia langsung menghampiri Aluna.
Axel berdiri di samping Aluna sambil menghusap punggung Aluna dengan lembut.
"Apa kamu baik-baik saja Luna?"
"Aku tidak apa-apa Kak."
"Kamu yakin?
Kakak akan membawamu ke rumah sakit sekarang."
"Tidak Kak.
Aku hanya masuk angin saja.
Apalagi kemarin aku sempat begadang Kak."
"Baiklah.
Kalau begitu, kamu harus minum obat dan setelah itu istirahat.
Kakak akan menemanimu di sini."
Aluna mengangguk setuju.
Axel kemudian menuntunnya ke tempat tidur.
Pria itu membawa obat dan gelas yang berisi air.
"Tidurlah."
Axel menyelimuti tubuh Aluna dengan selimut.
Aluna perlahan menutup kedua matanya.
Rasanya ia bisa bermimpi indah nanti.
Apalagi saat ini Axel menemaninya tidur.
__ADS_1
Saat ini ia begitu bahagia.
Ia hanya berharap saat ia bangun nanti, kebahagiaannya masih tetap sama.