Revenge For Love

Revenge For Love
Bertahan


__ADS_3

Russel terbangun dari tidurnya setelah mencium aroma masakan dari arah dapur.


Itu pasti Nenek Maria.


Ia memijit kepalanya yang terasa begitu sakit.


Ia menyadari apa yang ia lakukan semalam- setelah pergi dari rumah.


Alkohol yang menyebabkannya.


Russel kemudian melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air minum.


Namun saat di dapur, ia begitu terkejut melihat kehadiran Gwen di sana.


Bukan Nenek Maria, melainkan gadis itu yang saat ini memasak di dapur.


Russel langsung menghampiri Gwen, berniat memarahi gadis itu.


"Apa yang kau lakukan?


Bukankah aku sudah melarangmu melakukan pekerjaan rumah?"


Gwen mengalihkan pandangannya ke samping.


"Nenek Maria sedang menjenguk saudaranya yang sedang sakit.


Jadi aku mengizinkannya tidak datang bekerja."


"Tapi bukan berarti kau bisa melakukan semua ini.


Seharusnya kau memberitahuku agar aku mencari penggantinya."


"Sudahlah, itu tidak perlu.


Lagian aku baik-baik saja.


Kau lihat, memasak tidak akan menyakitiku."


ucap Gwen dengan nada kesal.


Ia menganggap Russel selama ini terlalu berlebihan, hingga melarangnya melakukan apapun.


Hal itu justru membuatnya sangat tidak nyaman.


"Maafkan aku.


Aku janji tidak akan melakukannya lagi."


Gwen menyadari ucapannya tadi yang mungkin saja membuat Russel semakin mengekangnya.


Tentu ia tidak mau hal itu terjadi.


Russel meneguk air minum yang ia ambil dari dalam kulkas.


"Makanan sudah siap.


Aku akan menyiapkan makanan untukmu."


"Tidak perlu.


Aku bisa melakukannya sendiri."


Russel kemudian menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.


Gwen hanya bisa diam melihat kelakuan Russel.


Gwen kemudian mengambil piring untuknya dan menyendok semua makanan ke dalam piringnya.


Tidak disangka, Russel malah mengambil piring itu dari tangannya dan membawanya ke atas meja.


"Kau..."


Gwen berniat protes, namun pria itu sudah terlanjur pergi.


"Dasar berlebihan!"


Gwen kemudian menghampiri meja makan dan duduk di kursi yang terletak di sebelah Russel.


Selama makan tidak ada sama sekali perbincangan di sana.


Sesekali Gwen melihat ke arah Russel yang terlihat begitu serius menikmati makanannya.


Russel memang pria yang tergolong dingin dan cuek.


Kehidupan keluarganya yang mungkin membuatnya seperti itu.


Saat anaknya lahir nanti, ia tidak ingin anaknya tumbuh seperti sosok Ayahnya.


Ia ingin kelak anaknya tumbuh menjadi pribadi yang periang dan baik hati.


Sebisa mungkin ia akan mengajarkan hal-hal baik pada anaknya.


Setelah menghabiskan makanan mereka, Russel langsung berdiri dan kemudian membawa piring-piring kotor itu ke tempat mencuci piring.


Gwen mengikuti Russel dari belakang.


"Hey, aku yang akan mencuci semuanya."

__ADS_1


"Tidak, perlu!"


"Tapi, aku.."


"Duduklah di sana.


Atau aku akan marah lagi padamu."


Terdengar nada peringatan pada ucapan Russel.


Akhirnya Gwen mengalah dan kembali ke kursi.


Gwen menatap punggung Russel.


Sangat lucu rasanya melihat pria seperti Russel mencuci piring kotor demi anaknya.


Ia tahu Russel melakukan itu agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada anak mereka.


Berlebihan memang.


Tapi ia senang karena anaknya mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya.


"Kau sebegitu menyayanginya ya?"


Senyum terlukis di bibir Gwen sambil mengelus lembut perutnya yang sudah memasuki usia 3 bulan.


--


Alda kembali mendatangi kamar Aluna.


Namun tetap saja, Aluna tidak ingin bertemu dengannya.


"Aluna masih tidak mau keluar?"


"Iya Tante.


Aluna juga tidak mau bertemu dengan siapapun selain denganku."


"Tante merasa sangat bersalah pada Aluna.


Tante pikir Aluna akan bahagia dengan semua apa yang Tante lakukan selama ini."


"Sama sekali tidak ada kebahagiaan yang Aluna dapatkan semenjak berpisah dengan Kak Axel Tante.


Karena Kak Axel adalah kebahagiaan Aluna.


Aluna bahkan tidak bisa melupakan Kak Axel walaupun mereka sudah berpisah.


Aluna sangat mencintainya."


Tante telah menyakiti Putri Tante sendiri hanya untuk mendapatkan harta yang berlimpah.


Tante juga bahkan berpikir bahwa Aluna akan bahagia dengan semua harta itu."


Alda menangis terisak.


"Aluna tidak akan pernah memaafkan Tante."


Ariana memegang tangan Alda.


"Tante..


Aluna gadis yang sangat baik.


Ia hanya perlu waktu untuk menenangkan dirinya.


Dia pasti sangat syok setelah mendengar itu semua."


"Apa yang harus Tante lakukan agar Aluna mau memaafkan Tante Ariana?


Tante tidak sanggup melihat Aluna menderita seperti itu."


"Untuk sekarang, kita hanya perlu menunggu waktu agar Aluna bisa kembali seperti sebelumnya Tante."


"Terima kasih Ariana.


Terima kasih telah berada di samping Aluna.


Jika tidak ada kamu, Tante tidak tahu harus berbuat apa lagi."


"Sama-sama Tante.


Bagaimanapun, aku sudah menganggap Tante dan Aluna seperti keluargaku sendiri."


Alda kemudian memeluk tubuh Ariana dengan erat.


Sungguh ia begitu menyesali perbuatannya.


Jika waktu bisa diputar, ia tidak akan memisahkan Aluna dari Axel.


Karena Axel adalah sumber kebahagiaan untuk Putrinya.


--


Ariana masuk ke dalam kamar Aluna.


Ia perlahan menutup pintu.

__ADS_1


Ia melihat ke arah Aluna yang saat ini sedang menatap lurus ke depan.


Pandanganya kosong dan terdapat sisa air mata di wajah cantik itu.


Ariana kemudian menghampiri Aluna dan duduk di sampingnya.


"Aluna..


Apa kamu memerlukan sesuatu?


Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan.


Tapi aku mohon jangan seperti ini."


Aluna hanya diam membisu.


Perlahan air matanya kembali menetes.


Apa yang ia alaminya selama ini sungguh membuatnya begitu terluka.


Rasanya ia ingin menghilang.


Namun saat ini ada sosok di dalam dirinya, yang membuatnya harus bertahan.


"Aluna, katakan sesuatu padaku.


Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua


Terutama dia, aku sangat khawatir dengannya.


Dia pasti ikut bersedih melihat Ibunya menangis."


Aluna kemudian terisak.


"Mengapa mereka melakukan semua itu padaku Ariana?


Mengapa mereka membuatku menderita seperti ini?"


"Aluna.."


"Apa salahku?


Mengapa mereka tega melakukannya padaku?"


Melihat Aluna menangis, Ariana juga ikut menangis.


Rasanya ia tidak sangguo melihat Aluna menderita seperti itu.


"Aluna, tenanglah.


Aku mengerti bagaimana perasaanmu Aluna.


Kamu pasti begitu menderita.


Jika aku menjadi dirimu, rasanya aku juga tidak akan sanggup lagi menjalani hidup.


Tapi kamu harus bertahan Aluna.


Kamu harus tetap semangat menjalani hari.


Kamu juga tidak perlu alasan untuk bertahan.


Karena kamu sudah memiliki dia.


Paling tidak, pikirkan anakmu Aluna.


Dia pasti tidak ingin melihatmu seperti ini."


"Kamu harus yakin, bahwa semua akan indah pada waktunya.


Suatu hari nanti, kebahagiaan akan datang padamu Aluna.


Kamu hanya perlu bersabar menunggu hari itu."


"Apa aku bisa Ariana?"


Ariana tersenyum.


"Tentu saja Sahabatku.


Kamu mencintainya bukan?"


Ia mengelus perut Aluna.


Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, kamu harus bertahan untuknya."


"Kamu benar Ariana.


Aku harus bertahan untuknya."


Aluna menampilkan senyumnya.


Dan Ariana begitu senang mendengar Aluna mau bertahan.


Ia yakin kelak Aluna akan hidup bahagia.

__ADS_1


__ADS_2