
Aluna tersenyum melihat layar handphonenya.
Ia mendapat panggilan dari Axel.
"Halo Kak."
"Halo sayang.."
"Ada apa Kak?
Bukankah pagi ini Kakak akan berangkat untuk perjalanan dinas?"
"Hem..
Aku hanya merindukanmu Luna."
Aluna tersipu mendengar kalimat Axel.
"Aku harap Kakak tidak meninggalkan satu barang pun."
"Aku sudah memeriksa semuanya Luna."
"Syukurlah kalau begitu Kak."
"Apa yang sedang kamu lakukan pagi ini Luna?"
"Seperti biasa, aku sedang memasak makanan untuk makan siang Kak."
"Benarkah?
Tiba-tiba aku menjadi rindu masakanmu Luna.
Bagaimana jika kamu memasakkan sesuatu pada Kakak saat pulang nanti?"
"Kalau begitu, Kakak harus pulang secepatnya."
Axel terkekeh.
"Kamu benar sayang.
Besok aku langsung ke sana sepulang bekerja."
"Oh ya, besok aku juga akan memberikan kejutan untukmu Luna."
"Kejutan?
Kejutan apa itu Kak?"
"Kamu akan mengetahuinya besok sayang.
Kamu hanya perlu menunggu, hem?"
"Baiklah Kak.
Aku akan menunggu."
"Aku akan mematikan panggilannya sayang.
James sudah menungguku di dalam mobil.
Pria itu sedang menatap tajam ke arahku."
Aluna terkekeh.
"Baiklah, hati-hati Kak.
Aku doakan kalian selamat dalam perjalanan."
"Terima kasih sayang."
Aluna meletakkan handphonenya di meja dan kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya.
--
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Semua makanan sudah terhidang di atas meja.
Namun Ariana belum datang juga.
Tadi pagi mereka berencana akan menonton film bersama di apartemen pada malam harinya.
Tiba-tiba bel berbunyi.
Aluna tersenyum, ia yakin Ariana sudah pulang.
Ia membuka pintu dengan semangat, namun seketika semangatnya berubah melihat seorang gadis yang berdiri di hadapannya.
Dugaannya ternyata salah.
Gadis itu menatapnya datar.
Aluna mencoba mengingat.
Sepertinya ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
"Hai.
Maaf aku tidak mengenalimu.
Apa tujuanmu memang ingin bertemu denganku?
Atau kau mengira apartemen yang salah?"
"Aku memang ingin bertemu denganmu Aluna."
Aluna menatap gadis itu dengan bingung.
Bagaimana ia bisa mengetahui namanya?
"Sebelumnya aku pernah bertemu denganmu sekitar 6 bulan yang lalu.
Saat itu aku ingin bertemu dengan Kak Axel.
Dan kau ada di sana menangis dan memohon pada Kak Axel."
Aluna akhirnya mengingat gadis itu.
Ya, gadis yang sempat ia pikir adalah Kekasih Axel.
Hari dimana ia bertemu dengan Axel pertama kalinya.
__ADS_1
Aluna masih mengingat bagaimana perasaannya saat itu.
Saat mengetahui bahwa Axel telah memiliki Kekasih.
Aluna tersenyum.
"Ya, aku mengingatmu.
Maaf sempat tidak mengenalimu sebelumnya.
Oh ya, aku Aluna.
Siapa namamu?"
Aluna mengulurkan tangannya.
Namun Vallie sama sekali tidak membalasnya.
Gadis itu bahkan masih menatapnya dengan tatapan datar.
"Apa aku boleh masuk ke dalam?"
tanya Vallie dengan nada datar.
Aluna perlahan menurunkan tangannya.
Ia masih memasang senyuman di wajahnya.
"Tentu saja.
Ayo masuk."
Mereke berdua masuk ke dalam.
Aluna kemudian mempersilahkan Vallie duduk di sofa.
Keheningan seketika menghinggapi mereka berdua.
Jujur saja, Aluna masih bertanya-tanya apa tujuan gadis itu datang menemuinya.
Tapi sepertinya ia memiliki tujuan khusus.
"Aku Vallie."
Aluna menatap Vallie.
"Senang bertemu denganmu Vallie."
"Aku adalah Kekasih Kak Axel."
Seketika Aluna diam membisu.
Ia tidak bisa berkata apapun setelah mendengar ucapan Vallie.
Namun ia mencoba mengontrol dirinya.
Ia mencoba berpikir positif, bahwa apa yang dikatakan gadis itu tidaklah benar.
"Apa maksudmu?"
"Tidak, lebih jelasnya aku adalah calon Istri Kak Axel."
"Apa?"
"Apa maksudmu mengatakan seperti itu?
Aku dan Kak Axe sudah memutuskan untuk kembali bersama dan kami akan memulai awal yang baru."
"Ya, aku sudah mendengar itu darinya.
Dia memberitahuku bahwa ia berhasil mengelabuimu.
Ia berhasil membuatmu kalah Aluna."
"Kau bohong!
Dia tidak akan mungkin melakukannya."
"Sayangnya aku memberitahukan kebenarannya Aluna.
Itu adalah salah satu rencana Kak Axel untuk membalas dendam padamu.
Ia ingin membuatmu yakin dan percaya padanya.
Dan setelah ia berhasil, ia akan pergi meninggalkanmu.
Setidaknya kau harus merasakan apa yang dia rasakan dulu saat kau meninggalkannya."
"Tidak, aku begitu mengenalnya.
Dia bukanlah pria yang jahat!"
"Kau begitu polos rupanya.
Apa kau tidak mengetahui apa tujuannya datang ke sini?
Tujuannya adalah untuk membalas dendam padamu.
Begitu banyak luka dan penderitaan yang sudah kau berikan padanya, apa kau pikir ia akan memaafkanmu begitu padanya?
Apalagi, jangan pernah bermimpi bahwa ia masih mencintaimu Aluna.
Nyatanya ia sangat membencimu."
Hati dan perasaan Aluna berkecamuk dan dipenuhi oleh banyak pertanyaan.
Di satu sisi ia ingin percaya bahwa gadis itu berbohong, tapi di sisi lain ia mulai ragu untuk mempercayai keyakinannya.
"Aku memberitahumu hal ini karena aku tidak ingin kau jatuh terlalu jauh.
Bagaimanapun aku juga wanita.
Aku tahu bagaimana rasanya nanti saat Kak Axel meninggalkanmu."
Aluna perlahan meneteskan air matanya.
Tangannya memegang erat bajunya.
Saat ini ia bingung harus mempercayai siapa.
"Terima kasih telah memberitahuku semuanya.
__ADS_1
Aku akan meminta penjelasan pada Kak Axel mengapa ia melakukan itu semua padaku."
Ya, tidak ada cara lain selain meminta penjelasan pada Axel.
Ia pikir itu adalah cara terbaik.
Paling tidak ia sudah menyiapkan diri untuk mendengar kebenaran dari mulut Axel nantinya.
Vallie mengepal tangannya.
Bagaimana bisa Aluna tidak terpengaruh sedikitpun dengan semua ucapannya?
Gadis itu bahkan masih tetap percaya pada Axel.
Aluna kemudian berdiri, berniat mengantar gadis itu keluar.
"Aku pikir Kak Axel pantas melakukan itu semua padamu.
Kau telah menyakitinya Aluna.
Seharusnya kau tidak masuk lagi dalam kehidupannya.
Kau sangat egois!"
Aluna membalikkan badannya.
"Kami saling mencintai.
Dan aku sangat menyakininya."
Vallie tertawa mendengar ucapan Aluna.
"Cinta?
Apa kau masih berpikir Kak Axel mencintaimu?
Setelah apa yang kau lakukan padanya?
Kau membuatnya masuk ke dalam penjara dengan tuduhan palsu.
Lalu kau meninggalkannya bahkan menghianatinya dengan menikah dengan pria lain.
Dan yang lebih parah, dia tidak bisa menghadiri pemakaman Neneknya sendiri karena tidak diperbolehkan keluar.
Itu semua karenamu Aluna.
Kak telah membuat Kak Axel sangat menderita.
Dan kau ingin memasuki kehidupannya kembali?"
Rasanya seperti tersambar petir saat mendengar bahwa Nenek Riana telah meninggal.
Hatinya begitu sakit mendengar hal itu.
"Apa?
Nenek telah meninggal?"
ucap Aluna dengan terbata-bata.
Air mata satu per satu keluar dari matanya.
"Kau mungkin tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh satu-satunya keluarga yang begitu kau sayangi.
Hari itu Kak Axel sangat terpuruk.
Ia bahkan tidak memiliki harapan untuk hidup lagi.
Selamat Aluna.
Kau berhasil membuatnya menderita."
Aluna perlahan terluruh ke lantai.
Ia tidak bisa menahan tangisnya.
"Aku memperingatkanmu untuk tidak masuk lagi dalam kehidupan Kak Axel.
Paling tidak pikirkan dirimu sendiri Aluna.
Kau sendiri akan menderita juga nantinya."
Aluna hanya diam sambil menangis.
Vallie tersenyum melihat kondisi Aluna.
Ia yakin rencananya berhasil.
Aluna akan berpisah dengan Axel.
Vallie kemudian keluar dari apartemen Aluna.
Aluna tidak bisa lagi membendung tangisnya.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Ia tidak menyangka bahwa dulu ia telah begitu jahat pada Axel.
Karena dia, Axel masuk ke dalam penjara.
Ia tahu itu adalah perbuatan Russel.
Namun semuanya itu karena dirinya.
Ia juga begitu merasa bersalah untuk Nenek Riana.
Ia tahu bagaimana menderitanya Axel pada saat itu.
Axel sangat mencintai Neneknya.
Axel pasti begitu membutuhkannya saat itu.
Sayangnya ia tidak bisa berada di sisi Axel.
Semua perbuatannya ditambah dengan kematian Nenek Riana, ia pikir sangat wajar bila Axel begitu membencinya dan ingin membalas dendam.
Dan sangat egois jika ia berpikir untuk kembali bersama Axel.
Axel berhak mendapatkan kebahagiaan lain, tidak bersama dirinya.
Ia begitu mencintai Axel, dan ia ingin Axel hidup bahagia bersama wanita yang jauh lebih baik darinya.
__ADS_1
Ya, ia akan melepaskan Axel untuk selamanya.