Revenge For Love

Revenge For Love
Sangat takut


__ADS_3

Keesokan harinya,


Axel dan Aluna bersiap-siap menghadiri pertemuan dengan Direktur Perusahaan, yang tidak lain adalah teman Axel.


Aluna membawa semua berkas dan dokumen yang diperlukan sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.


Di saat yang bersamaan, Axel juga keluar.


Aluna langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan kemudian masuk ke dalam lift.


Axel kemudian menyusul dari belakang.


Setelah sampai di lantai bawah, keduanya berjalan menuju parkiran.


Namun Aluna meneruskan langkahnya ke jalan raya.


Ia akan memesan taksi untuk membawanya pergi ke pertemuan itu.


Kemarin terdapat kerusakan pada mobilnya, sehingga harus dibawa ke bengkel.


Tidak disangka, Axel malah datang menghampirinya.


"Dimana mobilmu?"


"Di bengkel." ucap Aluna dengan nada datar.


Sebenarnya ia enggan berbicara dengan Axel.


"Ikutlah denganku.


Kita akan pergi bersama-sama ke sana."


"Tidak perlu.


Aku akan menggunakan taksi pergi ke sana."


"Kau tidak perlu mencari alasan seperti itu.


Kau tahu, semua orang berpikir bahwa kita adalah satu tim. Walaupun kenyataannya berbanding sebaliknya.


Apa yang akan dikatakan mereka jika melihat kita pergi terpisah?


Dan asal kau tahu saja, aku melakukan ini bukan karena aku tertarik padamu."


"Terima kasih atas tawarannya.


Tapi aku akan tetap menggunakan taksi."


Aluna kemudian melangkahkan kakinya semakin menjauhi Axel.


Namun hal itu juga tidak membuat Axel menyerah.


Axel melangkahkan kakinya dengan cepat dan kemudian menarik tangan Aluna yang membuat tubuh mereka berhadapan.


Aluna sangat terkejut dengan perlakuan Axel tersebut.


Aluna kemudian menatap ke arah tangan Axel yang masih menempel di tangannya.


"Kau tidak ikut denganku, karena kau takut kan?"


Aluna menarik napas panjang.


Mengapa Axel selalu berpikiran seperti itu?


"Bukankah kemarin aku sudah mengatakan bahwa aku tidak pernah takut padamu?"


"Benarkah?


Kalau begitu buktikan.


Masuk ke mobilku dan pergi bersamaku!"


"Mengapa kau selalu memaksaku seperti ini?"


"Kau harus tahu, bahwa aku adalah pria yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa saja yang aku mau."


Axel kemudian mengarahkan pandangannya pada mobilnya dan menunggu jawaban Aluna.


Axel menyadari bahwa tangannya masih memegang tangan Aluna.


Ia kemudian langsung melepaskannya.


Aluna akhirnya menuruti perkataan Axel.


Ia berjalan menuju mobil Axel dan kemudian masuk ke dalamnya.


Axel tersenyum puas.


Ia langsung menyusul Aluna dan masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di tempat yang dituju.


Namun yang mengejutkan, tempat pertemuan yang dimaksud bukanlah kafe ataupun sejenisnya melainkan sebuah bar.


"Apa kita tidak salah alamat?"


"Tidak sama sekali.


Ini memang benar tempat kita bertemu dengan Direktur perusahaan itu."


"Tapi ini bukanlah tempat yang tepat untuk mengadakan pertemuan formal."


"Kau bisa menelponnya dan membatalkan pertemuan ini jika kau tidak setuju dengan tempat ini.


Tapi membatalkan pertemuan ini, sama saja dengan membatalkan kerja sama dengan perusahaan itu.


Bisa kupastikan, para pemegang saham akan kecewa denganmu."


Aluna berusaha menguatkan dirinya.


Sebenarnya ia sangat tidak ingin masuk ke tempat itu.


Tempat yang tidak pernah ia datangi selama hidupnya.


Karena ia tahu bahwa bar adalah tempat yang sangat berbahaya untuk dirinya.


Aluna kemudian melihat ke arah Axel.


Axel adalah orang yang dulu paling melarangnya masuk ke tempat itu.


Dan sekarang pria itu tampak biasa saja dengan hal itu.


Axel benar-benar sangat berubah.


"Bagaimana?


Kau mau masuk tidak?


Semua keputusan ada di tanganmu.


Kalau kau tidak mau masuk.."


"Aku mau masuk."


ucap Aluna dengan cepat.


Kali ini ia akan melawan prinsip yang ia pegang teguh selama ini.


Lagi pula, tujuannya datang ke tempat itu adalah untuk bekerja bukan untuk tujuan lain.


Axel memasang senyum smirk nya.


Ia sebenarnya tahu bahwa Aluna tidak pernah ke tempat itu.

__ADS_1


Namun ia sengaja memilih tempat itu agar membuat Aluna ketakutan.


Axel pikir lebih baik bermain-main dahulu sebelum membuat Aluna benar-benar kalah darinya.


Itu pasti hal yang sangat menyenangkan.


Mereka kemudian masuk ke dalam tempat itu.


Musik kencang dan lampu hinar-binar membuat Aluna sedikit khawatir.


Matanya menatap sekeliling yang dipenuhi oleh orang-orang yang asyik bergoyang.


Bahkan ia mencium bau alkohol dimana-mana.


Tidak sedikit dari mereka yang berdiri dengan sempoyongan karena mabuk.


Alune mendekatkan tubuhnya pada Axel.


Diam-diam ia ingin meminta perlindungan pada pria itu.


Ia takut salah satu dari orang itu melakukan hal yang tidak-tidak padanya.


Walaupun Axel mungkin sama sekali tidak peduli dengannya.


Axel menyadari ketakutan dari gerak tubuh Aluna.


Bahkan saat ini gadis itu mendekat padanya.


Memang tempat itu tidak tergolong tidak aman.


Namun dari awal ia memang sengaja melakukannya.


Axel dan Aluna terus berjalan hingga akhirnya sampai di meja yang telah dipesan Aron untuk mereka.


Dua orang gadis datang menghampiri mereka.


Tidak, tepatnya menghampiri Axel.


Mereka langsung memeluk lengan Axel dengan manja.


Mata Aluna tidak henti-hentinya menatap Axel bersama dua gadis itu.


Axel benar-benar suka bermain wanita.


Sebelumnya ia melihat Axel bersama gadis yang berbeda.


Selama ini ia pikir Axel sudah menemukan gadis pujaannya dan memiliki kisah cinta yang bahagia.


Ternyata kenyataannya berbanding sebaliknya.


Hatinya begitu sakit melihat Axel bersama gadis lain.


Bagaimanapun ia masih sangat mencintai Axel.


Seseorang menghampiri Aluna.


Pria itu tersenyum melihat Aluna yang masih berdiri di tempatnya.


Gadis yang sangat cantik, pikirnya.


"Nona Aluna Gracia..." panggil Aron.


"Iya?"


Aluna kemudian tersenyum pada Aron.


"Duduklah di sana Nona." tunjuk Aron pada sofa di meja mereka.


"Baiklah.


Terima kasih Pak."


Setelah duduk di sofa yang berada di samping Aron, Aluna kembali menatap ke arah Axel yang bermesraan dengan para gadis itu.


"Nona Aluna, perkenalkan saya Aron Collins, Direktur perusahaan Collins Grup."


Aluna menerima uluran tangan Aron.


"Saya Aluna Gracia.


Senang bertemu dengan anda."


Aron menatap mata Aluna.


Mata indah itu semakin membuatnya mengagumi kecantikan Aluna.


Hal itu membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aluna benar-benar berhasil menghipnotisnya dalam waktu sekejap.


Aluna menatap ke arah tangannya yang bertautan dengan tangan Aron.


Pria itu masih belum melepaskan tangannya.


Padahal ia sudah berusaha dari tadi.


Hanya saja tangan itu menggenggam tangannya dengan erat.


"Pak Aron?"


Menyadari perbuatannya, Aron langsung melepaskan tangannya dari Aluna.


"Maaf Nona Aluna."


Aluna tersenyum tipis.


Perasaan tidak suka kembali menyelimuti Axel saat melihat Aluna disentuh oleh pria lain.


Walaupun ia terlihat sibuk bermesraan dengan para gadis itu, namun mata dan pikirannya selalu tertuju pada Aluna.


Ia juga bisa melihat gerak gerik Aron yang menunjukkan ketertarikan pada Aluna.


Mereka kemudian memulai obrolan mereka terkait kerja sama yang akan mereka lakukan nantinya.


Aluna mulai menyampaikan ide dan gagasan yang telah dipersiapkannya pada Aron.


Selama Aluna berbicara, Aron sama sekali tidak mencerna apa yang dikatakan Aluna.


Karena sedari tadi, ia hanya fokus menatap wajah Aluna yang di terlihat begitu indah.


Rambutnya yang ikat menyisakan anak-anak rambut di sisinya sehingga membuat Aluna semakin menawan.


Kulit Aluna yang begitu putih bersih dan bibir indah yang dimilikinya membuat setiap orang yang melihatnya langsung mengaguminya.


Aluna meletakkan semua berkasnya, namun salah satu berkasnya tidak sengaja jatuh dari tangannya.


Aluna mengambil dokumen itu.


Tangannya sudah menggapainya.


Namun tidak disangka, Aron malah memegang tangannya.


Aluna dengan cepat langsung menjauhkan tangannya dari Aron.


Sentuhan tangan Aluna membuat jantung Aron berdetak dengan kencang.


Perasaannya untuk memiliki Aluna juga semakin bergejolak.


Aron kemudian berpindah ke sofa yang sama dengan Aluna.


Aluna cukup terganggu hal itu.


Bahkan semakin lama, jarak pria itu semakin dekat padanya.

__ADS_1


Aron menuangkan alkohol ke salah satu gelas dan memberikannya pada Aluna.


"Lebih baik kita bersantai sebentar Nona Aluna.


Ini, minumlah terlebih dahulu Nona."


"Maaf Pak, saya tidak minum alkohol."


"Benarkah?


Tapi ini rasanya sangat enak Nona Aluna.


Anda harus mencobanya."


Aron kembali menyodorkan gelas itu pada Aluna.


"Maaf Pak.."


Aluna sudah beberapa kali menolaknya, namun Aron tetap memaksanya meminum alkohol itu.


Axel tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan Aron.


Ia tidak boleh memaksa Aluna meminum alkohol itu.


Bahkan ia sendiri tidak akan memperbolehkan Aluna meminumnya.


Axel melepas kedua tangannya dari para gadis itu dan kemudian bersuara.


"Dia tidak menyukainya!


Kau jangan memaksanya seperti itu!"


Aluna mulai merasakan pusing akibat sikap Aron yang melewati batasnya sebagai seorang Client.


Aluna kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Saya ke toilet sebentar."


Aluna berjalan menuju toilet yang tidak jauh dari sana.


Sebenarnya ia takut pergi sendirian, hanya saja ia tidak tahu harus bagaimana lagi.


Tempat itu membuatnya begitu tertekan.


Sepeninggalan Aluna, Aron membuka suara.


"Dia gadis yang sangat cantik Axel, aku sangat menginginkannya."


Axel hanya diam, tidak menanggapi ucapan Aron.


"Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kau sangat membencinya?


Kau ingin menghancurkannya kan?


Aku punya cara yang membuat kau tidak perlu bersusah payah mengalahkannya.


Berikan ia padaku, dan aku akan melakukannya untukmu."


Axel seketika melihat ke arah Aron.


Ia mengerti maksud perkataannya barusan.


"Bagaimana Axel?


Kau tenang saja, malam ini aku akan membuatnya menjadi milikku.


Setelah itu, aku bisa pastikan bahwa ia akan benar-benar hancur dan menderita."


Axel mengepal tangannya dengan erat.


Hal itu sangat jauh dari apa yang direncanakannya dari awal.


Ia hanya meminta Aron berpihak padanya dan mengikuti apa yang di rencanakannya.


Tiba-tiba Aluna kembali dari toilet.


Aluna kemudian duduk di sofa yang berbeda.


Aron tersenyum ke arah Aluna.


Ia benar-benar harus menjadikan Aluna sebagai miliknya.


Mereka kembali melanjutkan perbincangan dan tidak terasa hari semakin malam.


Aluna melihat ke arah jam tangannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Terima kasih atas pertemuan ini Pak Aron.


Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya."


"Saya juga mengucapkan banyak terima kasih pada anda Nona Aluna.


Bagaimana sebagai ucapan terima kasih saya, saya mengantar anda pulang?"


"Terima kasih atas tawarannya Pak.


Tapi saya akan pulang sendiri."


Aron kemudian melihat ke arah Axel.


Ia mencoba memberi tanda agar Axel pergi dari tempat itu.


Aluna juga melihat ke arah Axel.


Ia berharap ia akan pulang bersama Axel.


"Aku akan mengantar mereka berdua pulang.


Kau bisa pulang sendiri kan?"


Aluna terkejut dengan ucapan Axel.


Mengapa Axel begitu tega membiarkannya pulang sendiri?


Apalagi ia merasa sangat tidak aman jika Aron yang mengantarnya pulang.


Aluna belum sempat mengatakan sesuatu pada Axel.


Axel langsung pergi bersama dua gadis itu,meninggalkan Aron dan Aluna.


Aluna menatap senduh punggung Axel.


"Kak Axe..." panggilnya dengan nada lirih.


Namun pria itu tidak berbalik dan tetap berjalan menjauhinya.


Aron tersenyum sangat puas.


Itu artinya ia akan melancarkan aksinya malam ini.


Aron menatap ke arah Aluna yang berdiri membelakanginya.


(Aku harus memilikimu Aluna!)


Saat ini Aluna merasa sangat takut.


Sekelilingnya dipenuhi oleh orang-orang yang mabuk.


Ia tidak memiliki siapapun di sana.


Ia takut terjadi hal yang buruk padanya.

__ADS_1


__ADS_2