Revenge For Love

Revenge For Love
Berjanji


__ADS_3

Aluna memasukkan sebagian pakaiannya ke dalam kopernya.


Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Russel.


Selain untuk menjaga bayinya tetap aman, ia juga tidak ingin Russel curiga dengannya.


Ia juga sudah memberitahu Ariana soal hal itu.


Mereka akan kembali bersama saat malam nanti.


Sejenak Aluna menghentikan kegiatannya.


Ia memandang ke arah perutnya dan kemudian tersenyum.


Perasaannya kembali membuncah saat teringat dengan Axel.


Ia begitu merindukan Axel.


Di satu sisi, ia menyesali apa yang ia lakukan waktu itu.


Tapi di sisi lain, itu semua demi kebaikan Axel.


Aluna menghapus air matanya yang menetes.


Ia berusaha menguatkan dirinya.


Ia tidak boleh menjadi lemah.


Hal itu akan berpengaruh buruk pada bayinya.


Aluna kembali memasukkan pakaiannya.


Setelah selesai bersiap-siap, Aluna keluar dari apartemen sambil membawa koper.


Di luar supir sudah menunggunya.


Beberapa saat kemudian, Aluna sudah sampai di rumah Russel.


Supir membawa semua barang-barangnya masuk.


Tanpa disadari Aluna, Russel dan Frans melihat kedatangannya.


Mereka baru saja keluar dari ruangan Russel.


"Sudah berapa hari Aluna pergi?"


"Sekitar 1 minggu Pak.


Ariana juga ikut tinggal bersama Nona Aluna tingggal di apartemennya."


"Gadis itu semakin berbuat jauh.


Selama ini aku terlalu baik padanya."


"Apa saya perlu memantau pergerakan Nona Aluna Pak?"


"Tidak perlu Frans.


Untuk saat ini, biarkan seperti ini saja.


Aluna juga sudah kembali ke rumah."


"Baik Pak."


--


Ariana membuka pintu kamar Aluna dengan membawa hamburger di tangannya.


Aluna pasti akan sangat senang nanti.


"Aluna.."


Aluna memalingkan wajahnya.


Ia tersenyum melihat kehadiran Ariana.


"Kamu lihat?


Aku membawa hamburger untukmu."


Ariana menunjukkan plastik di tangannya.


Aluna mengerlingkan matanya.


"Benarkah?


Kebetulan sekali.


Aku belum makan malam Ariana."


"Aku sudah menduganya.


Kalau begitu, kamu harus memakannya sekarang."


Ariana memberikan plastik itu pada Aluna.


Aluna tersenyum.


Tanpa menunggu lama, ia langsung membuka plastik itu.


Tapi sebelum memakan hamburger, Aluna tiba-tiba merasa mual saat mencium baunya.


Ia langsung berlari menuju kamar mandi.


Ariana begitu terkejut melihat reaksi yang diberikan Aluna.


Ia juga mengikuti Aluna ke kamar mandi.


"Aluna, apa kamu baik-baik saja?"


Aluna membersihkan mulutnya dengan air.


"Aku tidak apa-apa Ariana.


Aku hanya masuk angin.


Sehingga saat mencium baunya aku langsung mual."


"Kamu yakin?


Tapi wajahmu sangat pucat.


Aku pikir kamu harus ke rumah sakit Aluna.


Kalau tidak, aku akan menghubungi dokter datang ke sini."


"Tidak.


Jangan lakukan hal itu Ariana.


Aku tidak apa-apa.


Aku sangat sehat.


Tidak perlu ke rumah sakit atau menghubungi dokter."


"Baiklah.


Kalau begitu, kamu harus segera makan malam.


Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu."


"Aku akan makan bersamamu Ariana."


"Hem, Aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu."


Ariana kemudian keluar dari kamar Aluna.


Aluna menatap nanar kepergian Ariana.


"Maafkan aku Ariana.


Untuk saat ini, aku belum bisa memberitahumu soal kehamilanku.


Suatu saat nanti aku pasti akan memberitahumu."


--


"Aluna, bagaimana keadaanmu?


Apa kamu sudah merasa baikan?"


"Hem, aku sudah merasa lebih baik Ariana."


"Syukurlah.


Oh ya, bagaimana jika hari ini kita pergi berbelanja?

__ADS_1


Sudah lama kita tidak belanja bersama.


Dan aku yakin, kondisimu akan jauh lebih naik nantinya."


Aluna terkekeh mendengar ucapan Ariana.


"Baiklah.


Aku akan mengganti pakaianku dulu."


Setelah selesai bersiap-siap, Aluna dan Ariana masuk ke dalam mobil.


Bukan supir yang akan mengantar mereka, melainkan mereka akan mengendarai mobil sendiri.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di mall.


Aluna dan Ariana berjalan menuju toko pakaian favorit mereka.


Sesampainya di sana, mereka memilih baju yang akan mereka beli.


Aluna tersenyum melihat Ariana yang tampak begitu semangat.


Gadis itu menghampirinya sambil membawa sebuah gaun putih.


"Aku rasa gaun ini sangat cocok untukmu Aluna."


Aluna menatap gaun itu.


Gaun yang begitu indah.


"Kenapa kamu menawarkannya padaku Ariana?


Gaun ini juga cocok untukmu."


"Gaun ini lebih cocok untukmu Aluna."


"Tapi.."


"Kamu harus mencoba gaun ini.


Aku ingin melihatmu mengenakannya." ucap Ariana dengan begitu semangat.


"Baiklah."


Ariana tersenyum puas.


Aluna masuk ke dalam ruang ganti dan kemudian mengenakan gaun yang dipilih Ariana padanya.


Dan benar saja, gaun itu begitu pas di tubuhnya.


Aluna tersenyum senang.


Ariana memang tidak pernah salah memilihkan baju untuknya.


Ia kemudian keluar dari ruang ganti.


Ariana tersenyum puas melihat penampilannya.


"Sudah aku duga, kamu akan begitu cantik mengenakannya.


Aku akan membeli gaun itu untukmu."


"Hem, baiklah.


Dengan senang hati aku menerimanya."


ucap Aluna dengan ekspresi konyol.


Mereka berdua akhirnya tertawa bersama.


Aluna kembali ke ruang ganti untuk melepaskan gaun itu.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, tiba-tiba kepala Aluna begitu sakit.


Aluna memegang erat gaun di tangannya.


Semakin lama pandangannya semakin buram.


Ia tidak bisa menahan tubuhnya sendiri.


Hingga berakhir jatuh di lantai.


Ariana melihat ke arah ruang ganti.


Sudah lebih dari setengah jam Aluna berada di sana, namun ia belum keluar juga.


Seketika perasaan Ariana berubah menjadi tidak enak.


Ia kemudian mendekati ruang ganti itu dan mengetuk pintunya.


"Aluna..


Apa kamu membutuhkan bantuanku?"


Sama sekali tidak ada jawaban dari Aluna.


Ariana kembali mengetuk pintu.


"Aluna.."


Perasaannya semakin khawatir.


Ia kemudian menyentuh gagang pintu.


Namun pintu itu terkunci dari dalam.


Ia langsung mendatangi salah satu karyawan toko.


"Aluna masih di dalam ruang ganti.


Aku sudah memanggilnya berkali-kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


Aku takut terjadi apa-apa padanya.


Boleh aku meminta kunci cadangan ruangan itu?"


"Tentu saja Nona.


Bentar saya ambilkan."


Karyawan itu kemudian membuka ruangan itu menggunakan kunci cadangan.


Ariana begitu terkejut melihat Aluna yang terbaring di lantai.


Ia langsung mendekati Aluna.


"Aluna.."


Ariana menepuk pipi Aluna, namun Aluna belum sadar juga.


"Tolong panggilkan seseorang untuk membawa Aluna ke rumah sakit."


"Baik Nona.


Tunggu sebentar, saya akan kembali secepatnya."


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Aluna?


Aku yakin kamu sedang tidak baik-baik saja."


Tidak lama kemudian, pertolongan datang dan kemudian membawa Aluna ke rumah sakit.


Ariana duduk di samping Aluna dengan wajah khawatir.


Ia memegang tangan Aluna dengan erat.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit.


Aluna langsung dibawa ke ruangan.


Ariana hanya bisa menunggu di luar.


"Apa yang harus aku lakukan?


Aku tidak mungkin memberitahu Russel ataupun Tante Alda.


Jika aku memberitahu James, Kak Axel juga akan tahu.


Aluna pasti akan marah padaku."


Ariana menatap ruangan itu dengan penuh kekhawatiran.


Ia berharap Aluna baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian, Dokter keluar dari ruangan Aluna.


Ariana langsung menghampiri Dokter tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Aluna Dok?


Dia baik-baik saja kan Dok?"


Dokter tersebut tersenyum.


"Gejala yang dialami Nona Aluna sangat biasa dialami oleh wanita hamil pada umumnya.


Apalagi mengingat usia kandungannya yang masih muda sehingga tidak boleh kelelahan."


Ariana begitu terkejut mendengar pernyataan Dokter tersebut.


"Apa?


Hamil Dok?"


"Iya Nona.


Usia kandungan Nona Aluna sudah memasuki usia 4 minggu. Jadi saya anjurkan agar pasien banyak istirahat dan tidak boleh melakukan pekerjaan berat.


Suami Nona Aluna juga harus mengetahui hal ini."


Penjelasan sang Dokter membuat Ariana diam membisu.


Ia masih belum bisa mempercayai hal itu.


Aluna hamil?


Itu berarti janin yang dikandung oleh Aluna adalah anak Axel.


Aluna tidak akan mungkin mengandung anak pria lain selain Axel.


Ia kemudian langsung berjalan menuju ruangan Aluna.


Ia perlahan membuka pintu tersebut.


Mata Ariana menatap ke arah Aluna yang masih belum sadarkan diri.


Ia duduk di samping ranjang Aluna.


Mata Aluna perlahan terbuka.


Ia melihat keseluruhan ruangan berwarna putih.


"Aluna kamu sudah sadar?"


ucap Ariana.


Aluna kemudian tersadar saat teringat dengan bayinya.


"Ariana, bayiku.."


"Jadi benar kalau kamu hamil.


Kenapa kamu tidak memberitahuku Aluna?"


"Maafkan aku Ariana.


Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu.


Aku hanya belum siap.


Aku juga baru mengetahuinya 2 hari yang lalu.


Aku mohon jangan marah, hem?"


Aluna perlahan meneteskan air matanya.


Ia tidak ingin Ariana marah padanya.


Dan entah mengapa akhir-akhir ini juga ia menjadi begitu sensitif.


Ia mudah menangis.


Mungkin karena pengaruh kehamilannya.


"Aku tidak akan mungkin bisa marah padamu Aluna.


Aku hanya tidak ingin kamu menyembunyikan apapun dariku.


Dan untuk anak yang kamu kandung, apa Kak Axel adalah Ayahnya?"


Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.


"Saat pertama kali mengetahui kehamilanku, aku tidak tahu harus berbuat apa Ariana.


Di satu sisi aku bahagia, tapi di sisi lain aku bersedih.


Karena saat anakku lahir nanti, ia tidak akan bisa merasakan kasih sayang dari Ayahnya.


Bahkan Ayahnya tidak akan pernah mengetahui kehadirannya."


"Aluna, aku sarankan kamu harus memberitahu Kak Axel soal ini.


Dia harus bertanggung jawab.


Dan bagaimanapun ia adalah Ayah dari bayimu.


Kamu tidak boleh menyembunyikannya dari Kak Axel."


"Tidak Ariana.


Aku tidak mau menjadikan anak sebagai alasan agar kami kembali bersama.


Aku sudah memutuskan untuk melepaskan Axel agar ia bisa menemukan kebahagiannya.


"Aku juga mohon padamu agar tidak memberitahu siapapun soal ini.


Termasuk pada Kak James.


Berjanjilah padaku, hem?"


ucap Aluna dengan tatapan memohon.


"Baiklah, aku berjanji padamu Aluna.


Tapi aku bertanya padamu.


Bagaimana jika Russel mengetahuinya?


Bukankah itu akan membahayakan bayimu juga?


Jika Kak Axel tahu, ia akan melindungimu dan bayi kalian."


"Aku akan berusaha lepas dari Russel.


Sebelum anakku lahir, aku harus bercerai dengannya."


"Kau yakin bisa lepas darinya Aluna?


Russel pria yang jahat.


Ia tidak akan segan-segan menyakiti kalian berdua."


"Aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan Ariana.


Semuanya terasa semakin sulit bagiku.


Tapi aku akan berusaha melindungi bayiku.


Aku tidak akan membiarkan Russel menyakitinya.


Mulai saat ini aku harus mencari cara agar bisa lepas dari Russel."


Ariana memegang tangan Aluana.


"Aku akan membantumu Aluna.


Kamu tenang saja.


Aku juga tidak akan membiarkan Russel menyakitinya.


Bayimu adalah Keponakanku.


Aku akan melindunginya."


"Terima kasih Ariana.


Hanya kamu satu-satunya yang bisa membantuku.


Terima kasih telah menyayangi kami berdua."


"Hem, mulai sekarang kamu harus menjaga kesehatan.


Kamu tidak boleh kelelahan ataupun melakukan pekerjaan berat.


Kamu juga harus memberitahukan apapun padaku.

__ADS_1


Kamu mau berjanji padaku?"


"Iya, aku berjanji Ariana."


__ADS_2