Revenge For Love

Revenge For Love
Ancaman lagi


__ADS_3

Russel perlahan membuka matanya.


Rasa haus membangunkannya.


Ia melepaskan selimut yang berada di tubuhnya dan kemudian meminum air yang berada di atas meja.


Russel kemudian melihat ke sekelilingnya.


Ia mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya semalam.


Setelah bertengkar dengan Alda, ia pergi ke bar.


Dia bertemu dengan manajer bar itu dan menawarkannya seorang gadis baru.


Namun, semalam dia bukan meniduri gadis bayaran itu melainkan pelayan yang mengantarkan makanan padanya.


Russel memijit lengannya.


Semalam ia mengira gadis itu adalah Aluna.


Dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya sampai-sampai ia memperkosa gadis itu.


Ia masih mengingat bagaimana penolakan gadis itu saat ia ingin menyentuhnya


Gadis itu bahkan menangis dan memohon padanya agar dilepaskan.


"Sial!!!


Bagaimana bisa aku seceroboh itu?


Russel kemudian memakai pakaiannya.


Setelah berpakaian lengkap, ia kemudian menelpon Frans, orang kepercayaannya untuk datang menemuinya.


Setelah beberapa saat kemudian, suruhannya datang ke dalam ruangan itu.


"Semalam aku memperkosa seorang pelayan Frans.


Aku mengiranya Aluna sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri."


"Iya Pak, saya sudah mengetahuinya dari manajer bar itu."


"Seperti biasa, kau harus memastikan bahwa gadis itu tidak memberitahu media soal kejadian itu.


Berikan ia uang yang banyak agar dapat menutup mulutnya.


Kau mengerti?"


"Saya mengerti Pak.


Saya akan menemuinya malam ini dan melakukan sesuai apa yang Bapak minta."


"Bagus.


Dan, kau urus semua ini.


Aku akan kembali ke rumah."


"Baik Pak."


Russel langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan melangkahkan kakinya menuju parkiran.


--


Sementara Aluna dan Ariana sudah sampai di depan rumah.


Mereka berdua keluar dari mobil dan kemudian masuk ke dalam rumah.


Saat ingin pergi ke kamar, Alda datang menghampiri mereka dengan tatapan tajam


"Kamu sudah kembali rupanya.


Apa semalam kalian bersenang-senang, hem?"

__ADS_1


Aluna tahu bahwa Alda sedang menyindirnya.


"Kami akan ke kamar ke atas Mi."


Aluna menatap Ariana sebentar.


Kemudian mereka berdua berjalan melewati Alda.


Namun Alda tiba-tiba menarik tangan Aluna.


"Apa kamu tidak menyadari apa kesalahanmu Aluna?"


"Aku sama sekali tidak bersalah Mi."


"Kamu harus minta maaf pada Russel.


Kamu tahu, Russel kemarin marah besar karena tidak melihatmu di rumah.


Dan yang lebih parahnya, dia tahu selama ini kita telah menipunya.


Russel tahu kamu memiliki apartemen Aluna."


Hal itu tidak mempengaruhi Aluna sama sekali.


"Russel belum pulang ke rumah.


Dia pasti pergi dengan wanita ****** itu semalam."


Alda memegang tangan Aluna.


"Aluna, mama mohon minta maaflah pada Russel.


Kamu harus berubah sayang.


Mulai saat ini, kamu harus menjadi Istri yang baik untuk Russel, hem?"


Alda berharap caranya kali ini berhasil membuat Aluna menuruti permintaannya.


Ia pikir cara lembut mungkin akan bisa membuat Aluna berubah.


Sampai kapanpun Aluna tidak akan mau berhubungan dengan Russel."


"Aluna.."


Tiba-tiba Russel masuk ke dalam rumah.


Pria menatap mereka sebentar dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu lihat, ini semua karena kamu Aluna.


Russel tidak peduli lagi denganmu.


Sebentar lagi kamu akan menyesali perbuatanmu ini.


Tunggu dan lihat saja nanti.


Russel akan menggantimu dengan gadis lain."


Alda langsung meninggalkan Aluna dan Ariana.


Ariana kemudian mendekati Aluna dan memegang pundaknya.


"Apa kamu tidak apa-apa Aluna?"


"Aku tidak apa-apa.


Ini sudah biasa terjadi bukan?"


Ariana tersenyum tipis.


"Lebih baik kita masuk ke dalam kamar.


Aku ingin istirahat." ucap Aluna.

__ADS_1


"Baiklah, ayo Aluna."


--


Aluna keluar dari kamar mandi.


Saat ini ia sedang memakai bathrobe dengan handuk di kepalanya.


Aluna kemudian duduk di meja rias.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam Aluna.


Kedatangannya membuat Aluna begitu terkejut sekaligus waspada akan apa yang akam dilakukan pria itu di kamarnya.


Aluna merapatkan bathrobe yang digunakannya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Russel tersenyum melihat gerak-gerik Aluna yang menunjukkan ketakutan.


"Kamu tidak perlu setakut itu Aluna.


Aku bukanlah monster yang akan memakanmu."


"Kalau begitu katakan apa alasanmu datang ke kamarku!"


"Aku Suamimu Aluna."


Seharusnya seorang Suami tidak memiliki alasan untuk bertemu Istrinya."


"Tapi aku bukanlah Istrimu!


Kita memang menikah secara hukum dan agama.


Tapi tetap saja, aku dan kau hanyalah orang asing."


Perkataan Aluna menyulutkan emosi Russel.


"Aku bisa saja memaksamu untuk melakukan apa yang harusnya aku dapatkan selama 3 tahun ini.


Agar bisa membuatmu yakin bahwa aku adalah Suamimu Aluna."


"Lakukan saja.


Tapi sebelum kau melakukan itu, aku sudah pergi meninggalkan dunia ini.


Aku akan menyayat tanganku dengan luka yang lebih dalam, agar aku tidak merasakan semua penderitaan ini lagi."


"Aku sudah cukup sabar dengan semua perlakuanmu selama ini Aluna.


Jangan pernah berani untuk menipuku lagi.


Jika kamu melakukannya lagi, kali ini aku tidak akan menyakitimu.


Tapi mungkin dengan menyakiti orang-orang yang kau sayangi lebih baik sepertinya.


Kau pasti akan lebih menderita saat melihat mereka terluka."


Aluna mengeratkan tangannya.


"Kamu harus lebih kuat dari ini Aluna."


Russel tersenyum puas.


Ia kemudian keluar dari kamar Aluna.


Aluna perlahan meluruhkan tubuhnya ke kursi.


Russel tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Bagaimana jika Russel nantinya akan menyakiti orang-orang yang disayanginya?


Bukan hanya Axel, tapi juga Alda dan Ariana.

__ADS_1


Ia tidak akan sanggup melihat mereka menderita.


Sudah cukup Russel membuatnya kehilangan Axel. Dia tidak akan sanggup jika kehilangan Alda dan Ariana.


__ADS_2