
Keesokan harinya, Axel pergi ke kantor Aluna bersama James.
James mengikuti Axel dari belakang.
Sebenarnya apa maksud tujuan mereka datang kesini?
Axel sama sekali belum memberitahunya.
Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Aluna.
Sebelum ke ruangan Aluna, mereka bertemu dengan Ariana yang sedang berbicara pada salah seorang karyawan.
Ariana menyadari kedatangan mereka.
Ia begitu terkejut melihat Axel datang bersama Pria itu, yang tidak lain adalah James.
Mata mereka sekilas bertemu, dan kemudian Ariana mengalihkannya pada Axel.
Niat buruk apa lagi yang akan dilakukan oleh Axel?
"Sebenarnya apa tujuan anda datang ke sini?"
"Aku ingin bertemu dengan Aluna."
"Tidak bisa. Aluna sedang sibuk saat ini, sehingga tidak bisa diganggu."
"Aku pemegang saham perusahaan ini.
Apa dia tidak memiliki waktu untuk bertemu denganku?"
"Katakan padanya bahwa aku ingin bertemu dengannya."
"Aku tidak mau!
Aku lebih menuruti perintah Bossku dibandingkan perintah oleh seorang pemegang saham."
Gadis ini berbeda, pikir James.
Ia bisa melawan seorang pria yang sangat keras kepala seperti Axel.
Axel tersenyum.
Tidak disangka, Axel malah membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Aluna.
Ariana berniat menghentikan tindakan Axel, namun James menghalanginya.
Ariana menatap James dengan tatapan nyalang. Ternyata pria itu sama jahatnya dengan Axel.
Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain
"Sebelumnya kamu berperilaku manis padaku Nona."
"Tidak setelah aku mengetahui bahwa kau pria yang sama jahatnya dengan dia."
James mendekat pada Ariana.
"Kau mengatakan aku pria jahat?"
Ariana kemudian menatap James.
"Kau bersekongkol dengannya.
Apa itu bukan berarti kau sama jahatnya dengan dia?"
James tersenyum.
Tutur kata gadis ini benar-benar berubah dari sebelumnya.
Bahkan tidak ada lagi senyuman di bibir Ariana saat menatapnya.
__ADS_1
"Apa kamu mengenalku sehingga kamu berani berkata seperti itu padaku?"
"Maafkan aku.
Hanya saja setiap kali melihatmu bersamanya, aku merasa kau sama buruknya dengan dia.
Aku benci setiap kali ia menyakiti Aluna."
"Sejak kapan kamu bersama Aluna?"
"Anda tidak perlu mengetahuinya."
Sekarang nada bicara Ariana berubah lebih lembut dan tutur bahasa yang digunakan kembali menjadi formal sama seperti sebelumnya.
Ariana berniat pergi, namun suara James menghentikannya.
"Aku bersama Aluna selama 5 tahun." ucap James.
Ariana membalikkan badannya.
"Anda lebih lama bersamanya, tapi itu tidak menjamin anda benar-benar mengenalnya.
Aku bersamanya selama 2 tahun.
Dan aku benar-benar yakin bahwa Aluna adalah gadis yang sangat baik.
Sayang sekali kalian malah menyangka sebaliknya."
Ariana kemudian pergi meninggalkan James.
James menatap kepergian Ariana.
Apa benar dugaannya selama ini benar?
Bahwa Aluna punya alasan dibalik semua perlakuannya pada Axel?
Axel tersenyum melihat Aluna yang terlihat sangat sibuk bekerja.
Aluna menyadari kedatangan seseorang.
Ia mengira orang itu adalah Ariana yang membawakannya es krim kesukaannya.
Sebelum pergi dari ruangannya, Ariana tadi menawarkan es krim padanya.
"Mengapa kamu diam saja Ariana?
Kemarilah, berikan aku es krim kesukaanku.
Kali ini kamu tidak boleh melarangku.
Kamu sudah berjanji tadi."
Aluna tersenyum saat tidak mendapat respon dari Ariana.
Gadis itu pasti berniat untuk menggodanya.
"Ayolah Ariana.."
Aluna kemudian melihat ke arah yang ia yakini Ariana berada.
Aluna membelalakkan matanya.
Ia begitu terkejut saat melihat bukan Ariana yang berada di sana.
Melainkan Axel yang tengah berdiri memandangnya dengan tatapan datar.
Ariana langsung berdiri dari duduknya.
"Kau... "
__ADS_1
Axel tersadar dari lamunannya.
Ia kemudian tersenyum pada Aluna.
Lebih tepatnya senyuman meremehkan.
"Ternyata sangat mudah membuatmu tertipu.
Kalau begitu, bagaimana bisa kau melawanku?"
"Apa tujuanmu datang kemari?"
"Tenanglah.
Kau seharusnya tidak memasang wajah terkejut seperti itu melihat kedatanganku.
Kau harus menyambutku dengan baik.
Aku adalah pemegang saham perusahaan ini, aku memiliki kedudukan yang penting."
Axel menekan kalimatnya.
Axel kemudian duduk di hadapan Aluna.
Aluna juga kembali duduk di kursinya.
Ia menatap Axel.
"Sepertinya kau sedang bekerja keras untuk bersaing denganku."
"Aku sama sekali tidak berniat untuk bersaing denganmu.
Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi milikku."
Axel terkekeh mendengar penuturan Aluna.
"Benarkah?
Ya kau benar.
Semua orang pasti takut kehilangan kesenangan yang mereka miliki selama ini."
Aluna mengeratkan tangannya.
Axel pasti berniat untuk menghinanya kembali.
"Jangan mengira kau bisa melawanku Nona Aluna Gracia.
Aku tidak akan membiarkan orang yang berusaha menghalangi jalanku."
"Aku tidak akan pernah membiarkan perusahaanku jatuh ke tangan orang lain.
Aku juga sama sekali tidak takut dengan ancamanmu itu.
Bukankah kau tahu aku memiliki kedudukan penting di perusahan ini?
Kau harusnya lebih menghormatiku Tuan Axel."
"Keberanian anda ternyata cukup besar untuk melawan pria sepertiku Bu."
"Baiklah, kita akan lihat nanti siapa yang akan menang.
Aku pikir aku harus memiliki karyawan sepertimu saat nanti menjadi pemilik perusahaan ini."
Axel kemudian keluar dari ruangan Aluna.
Aluna mendengar pintu ruangannya tertutup.
Ia tahu sebenarnya tujuan Axel datang ke kantornya adalah untuk mengancamnya agar ia berhenti.
__ADS_1
Namun ancaman itu sama sekali tidak membuatnya takut.
Malah sebaliknya, keberanian semakin besar untuk melawan Axel.