Revenge For Love

Revenge For Love
Kesabaran berbuah manis


__ADS_3

2 hari kemudian Aluna sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.


Kondisi saat ini semakin baik sejak kehadiran Axel yang selalu menemaninya.


Axel sama sekali tidak pernah meninggalkan Aluna sedikit pun.


Bahkan selama 2 hari ia menginap di rumah sakit.


Ariana memasukkan semua pakaian Aluna ke dalam tas.


"Semua barang-barangmu sudah selesai aku masukkan."


Aluna tersenyum pada Ariana.


"Terima kasih banyak Ariana."


ucap Aluna dengan nada haru.


Karena bagaimanapun kebahagiaan yang dimilikinya saat ini adalah berkat Ariana.


"Oh sayangku, tidak perlu menatapku seperti itu.


Aku begitu menyayangimu Aluna.


Aku ingin yang terbaik untukmu.


Dan aku yakin saat ini pasti kau sangat bahagia.


Selamat Aluna."


Aluna kemudian memeluk Ariana dengan erat.


"Terima kasih.


Terima kasih Ariana."


"Sudah, jangan bersedih lagi.


Dia akan ikut sedih nanti."


Aluna melepas pelukannya.


"Mulai saat ini tidak ada tangis kesedihan, mengerti?"


Aluna tergelak dan kemudian tersenyum.


"Hem, tidak akan ada."


Beberapa saat kemudian, Axel dan James masuk ke dalam ruangan Aluna.


Alda juga ikut menyusul dari belakang.


Mereka ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Aluna dan Ariana.


"Mami.."


Alda menghampiri Aluna dan kemudian merangkulnya.


Ya, Aluna sudah berbaikan dengan Alda.


Bagi Aluna semua kesalahan yang dilakukan oleh Ibunya adalah masa lalu.


Jadi ia harus melupakan semua itu.


Bagaimanapun Alda juga adalah Ibunya.


"Aluna, aku sudah memutuskan untuk membawamu tinggal bersamaku."


ucap Axel.


Aluna mengerutkan keningnya.


Ia kemudian melihat ke arah Alda, James dan Ariana satu per satu.


"Iya sayang, ini semua untuk kebaikanmu.


Pertama kali kita akan mengurus perceraianmu dengan Russel.


Dan untuk melindungimu dari perbuatan buruk Russel, maka kamu harus tinggal dengan Axel.


Untuk keamanmu dan juga keamanan bayimu."


"Kamu mau kan tinggal bersamaku?"


tanya Axel.


Aluna tersenyum dan kemudian mengangguk.


Axel tersenyum puas.


"Tante Alda, Ariana dan James juga akan sering mengunjungimu."


"Benar, aku akan membawa semua makanan kesukaanmu tiap kali berkunjung."


ucap Ariana dengan nada riang.


Semua orang terkekeh melihat Ariana yang terlihat seperti anak-anak.

__ADS_1


--


"Apa kamu khawatir?"


tanya Axel di dalam mobil.


Saat ini mereka akan menuju apartemen Axel yang baru.


"Sama sekali tidak Kak.


Karena Kakak ada bersamaku.


Jadi aku tidak perlu khawatir ataupun takut."


Axel tersenyum dan kemudian mengelus kepala Aluna dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan selalu menjaga kalian berdua sayang."


"Iya, aku tahu itu Kak."


Axel kemudian menggenggam tangan Aluna dengan erat.


--


Saat ini Ariana dan James sedang berada di sebuah kafe.


Awalnya James yang mengajak Ariana ke sana.


Dan Ariana mengiyakan ajakan tersebut.


"Maaf karena tidak menjawab panggilanmu waktu itu."


"Tidak apa-apa.


Pada akhirnya kau juga membaca pesanku kan?


Aku senang akhirnya Aluna bisa bersatu kembali dengan Kak Axel."


"Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu?"


"Tanyakan saja."


"Mengapa kau memanggil Axel dengan sebutan Kakak, sementara kau memanggilku dengan nama.


Padahal aku lebih tua dibanding Axel."


ucap James dengan ekspresi kesal.


Ariana hampir tergelak mendengar pertanyaan James yang begitu lucu dan terkesan konyol.


"Aku hanya merasa nyaman memanggilmu dengan nama.


"Tentu saja."


"Jadi kau ingin memanggilmu dengan sebutan Kakak juga?"


"Tidak juga.


Aku ingin kau memanggilku dengan sebutan lain.


Aku harap kau mau menurutinya."


"Katakan saja.


Aku akan menurutinya."


ucap Ariana dengan polos.


Ia sama sekali tidak tahu apa maksud perkataan James barusam.


"Sayang, mungkin?"


Wajah Ariana langsung memerah mendengar hal itu.


Sungguh saat ini ia berusaha mengontrol dirinya sendiri.


"Tidak mungkin James.


Kita sama sekali tidak punya hubungan apapun.


Aku tidak mungkin memanggilmu dengan sebutan itu."


"Kalau begitu, apa kau mau menjadi Kekasihku?"


Ariana membelalakkan matanya.


Dirinya begitu terkejut mendengar pertanyaan James yang terkesan ingin mengajaknya berpacaran.


Jantung Ariana berdetak dengan cepat.


Jujur ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini.


Ia kemudian menundukkan wajahnya.


Mungkin saat ini wajahnya tampak seperti kepiting rebus.


Benar-benar memalukan!

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh tangannya.


Ariana menaikkan wajahnya dan menatap mata itu.


"Ariana, barusan aku sedang memintamu menjadi Kekasihku.


Aku tahu kau pasti terkejut karena aku sama sekali belum pernah menyatakan perasaanku padamu.


Tapi sekarang aku ingin menyatakannya padamu.


Aku mencintaimu Ariana.


Aku ingin memiliki hubungan serius denganmu.


Bukan hanya sekedar berteman ataupun berpacaran.


Aku ingin kau juga menjadi pendamping hidupku kelak."


"Aku..."


"Apa kau mau menjadi Calon Istriku?"


tambah James.


"Aku..."


Lagi-lagi Ariana tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Ia begitu terkejut sekaligus bahagia dengan lamaran James.


"Aku bahkan akan memaksa jika kau menolak lamaranku."


Ariana tersenyum.


"Baiklah, aku mau."


"Katakan sekali lagi.


Aku ingin mendengarnya lebih jelas."


"Aku juga mencintaimu.


Dan aku ingin menjadi Calon Istrimu sayang."


Perlahan senyum James mulai muncul di wajahnya.


Ia begitu bahagia mendengar jawaban Ariana.


Sebenarnya hari ini memang ia sudah berencana akan melamar Ariana.


Dan kabar bahagia, Ariana menerima lamarannya.


"Ini bukan mimpi kan sayang?"


"Tentu saja bukan."


"Kalau begitu aku akan memelukmu."


James kemudian beranjak dari kursi dan menghampiri Ariana yang tengah tersenyum padanya.


Ariana juga ikut berdiri.


James langsung memeluknya dengan erat.


"Terima kasih Ariana.


Terima kasih sudah menerimaku."


"Sama-sama James."


James melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Ariana.


"Mulai sekarang kau harus memanggilku dengan sebutan Kakak.


Aku iri dengan Axe dan Aluna yang terlihat romantis dengan sebutan itu."


"Baiklah Kak James.


Aku akan menurutinya."


"Oh sungguh Calon Istri yang sangat baik."


James kemudian mengelus kepala Ariana dengan lembut dan kembali memeluk gadis itu.


Ariana tersenyum di balik pelukan James.


Ia begitu bahagia saat ini.


Dimana hari yang ia tunggu akhirnya datang.


Pria yang dicintainya juga mencintainya.


Bahkan ingin memiliki hubungan yang serius dengannya.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Aluna, bahwa suatu saat nanti James akan menyatakan perasaannya padanya.


Dan itu benar-benar terwujud.

__ADS_1


Sungguh kesabaran yang akhirnya berbuah manis.


__ADS_2