Revenge For Love

Revenge For Love
Keberanian


__ADS_3

Hari dimana pertemuan dengan para pemegang saham akhirnya tiba.


Ariana tampak sibuk mempersiapkan semuanya.


Aluna menghampiri Ariana yang sedang berbicara dengan salah seorang karyawan.


"Aluna.."


"Apa kau sudah mendapat kabar mengenai Russel?"


"Belum Aluna.


Aku juga sudah bertanya pada Frans.


Frans hanya mengatakan bahwa Russel tidak bisa diganggu saat ini.


Aku pikir kemungkinan besar Russel tidak akan hadir di pertemuan ini."


"Aku tidak mengerti jalan pikirannya.


Apa dia memang benar-benar ingin menghancurkan perusahaannya sendiri?"


"Tapi kita harus menghentikannya bukan?"


"Kamu benar Ariana.


Kita pasti bisa mempertahankan semua kerja keras kita selama ini.


Ngomong-ngomong, kamu sudah mempersiapkan semuanya kan?"


"Iya, semuanya sudah siap Aluna.


Kita tinggal menunggu kedatangan mereka saja."


Ariana mendekat pada Aluna dan kemudian memegang pundaknya.


"Kamu harus tetap semangat, hem?"


Aluna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


Sementara Axel sedang berdiri di cermin sambil merapikan jasnya.


Penampilannya sangat menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Direktur perusahaan terkenal di Indonesia.


Bibirnya tersenyum kala memikirkan bagaimana ekspresi Aluna saat melihatnya nanti.


"Kau sudah siap Axe?"


Axel membalikkan badannya dan menghadap James.


"Aku sangat siap James."


"Baiklah, kalau begitu kita harus berangkat."


Setelah keluar dari apartemen, mereka masuk ke dalam mobil.


"Ini dokumen yang kau perlukan Axe."


Axel melihat dokumen yang berisi profil para pemegang saham.


Ia berniat untuk merebut hati para pemegang saham agar mau menjual saham mereka padanya.


Oleh karena itu, ia harus mempelajari masing-masing dari mereka.


Saat semuanya berjalan dengan apa yang ia rencanakan, maka perusahaan itu akan jatuh ke tangannya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di gedung perusahaan Russel.


"Kau tunggu di sini Axe.


Aku akan memeriksa bagaimana keadaan di sana."


"Baik James."


James langsung keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung itu.


Saat James berjalan, seorang gadis tampak sangar kesulitan membawa berkas-berkas di tangannya.


James melihat ke arah gadis itu sebentar, dan kemudian kembali berjalan.


Tak disangka, semua berkas itu jatuh sehingga membuat James membalikkan badannya.


Ia langsung menghampiri gadis itu dan kemudian membantunya menyusun berkas-berkas itu.


Ariana melihat seorang pria tengah berjongkok di hadapannya sambil membantunya.


Ariana sudah mengumpulkan semua berkas itu dan saat ini ia sedang menatap pria itu yang masih menyusun berkas di tangannya.


Mata mereka seketika saling bertemu.


"Ini.. " ucap James sambil menyerahkan berkas yang berada di tangannya.


Ariana tersenyum.


"Terima kasih karena telah membantuku."


"Sama-sama Nona."


Mereka berdua kemudian berdiri.


James sempat memberikan senyumannya pada Ariana.


Setelah itu ia pergi meninggalkan Ariana


Ariana tersenyum melihat kepergian James.


Pria yang baik, pikirnya.


Ariana kemudian kembali ke ruangan pertemuan itu.


James telah sampai di depan ruangan pertemuan itu.


Ia kemudian menghampiri salah seorang karyawan Russel.


"Saya dari Perusahaan Vellas Group.


Apa saya bisa bertemu dengan penanggung jawab acara pertemuan ini?"


"Bisa Pak.


Sebentar, saya akan memanggil beliau Pak."


"Baik."


Ariana keluar dari ruangan itu bersama karyawan yang menemuinya tadi.


Tak disangka Ariana bertemu lagi dengan pria yang membantunya tadi.


"Apa anda penanggung jawab acara ini?"


Ariana tersenyum.


"Benar Pak."


"Kita bertemu lagi Nona."


Ariana kembali tersenyum dan kemudian mengulurkan tangannya.


"Saya Ariana.


Senang bertemu dengan anda."


James membalas uluran tangan Ariana.


"Saya James dari perusahaan Vellas Group.


Senang bertemu denganmu juga Nona."


Salaman mereka kemudian terlepas.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan pada saya?"


"Bagaimana persiapannya?


Apa semuanya berjalan dengan baik?"


"Semua berjalan dengan baik Pak.


Kita tinggal menunggu acaranya dimulai."


"Oh, baiklah.

__ADS_1


Saya akan memberitahu Direktur perusahaan kami soal ini."


"Tempat juga sudah dipersiapkan untuk kedatangan perusahaan Bapak."


"Terima kasih banyak Nona Ariana."


"Sama-sama Pak."


--


Acara akan dimulai.


Semua pemegang saham telah hadir, hanya saja perwakilan dari Perusahaan Vellas belum hadir juga.


Semua menunggu kehadiran sang Direktur Utama yang berhasil mendapatkan saham mereka dalam waktu yang cepat.


Tak terkecuali Aluna.


Ia penasaran dengan perusahaan yang menjalin kerja sama dengan mereka itu.


Pintu terbuka menampilkan seorang pria tampan memasuki ruang dimana pertemuan itu diadakan.


Sang pria berjalan begitu gagah, seolah menunjukkan statusnya sebagai seorang Direktur Utama.


Aluna membelakkan matanya.


Ia kemudian berdiri dari duduknya.


Lagi-lagi ia begitu terkejut menerima kenyataan ini.


Matanya tidak putus menatap sosok yang saat ini sedang mengambil tempat duduknya.


"Aluna..


Ada apa?" tanya Ariana.


Aluna semakin terkejut melihat kehadiran James yang menyusul Axel.


Tangan Aluna mengepal dengan erat.


Matanya mulai berkaca-kaca


Ia berusaha untuk mengontrol drinya sendiri.


Axel tersenyum puas melihat respon yang ditunjukkan Aluna.


Gadis itu terlihat begitu syok melihat kedatangan mereka.


Melihat Aluna yang masih berdiri, membuat Ariana ikut berdiri dan memegang lengan Aluna.


"Aluna, apa kamu tidak apa-apa?"


Aluna akhirnya tersadar.


Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan kemudian duduk kembali.


James juga melihat raut wajah yang ditunjukkan Aluna.


Terlihat kesedihan di sana.


Dan ia tahu Aluna berusaha menahannya.


Aluna memiliki paras yang semakin menawan.


Sehingga tidak heran, Axel mengatakan bahwa Aluna memiliki hidup yang sangat bahagia.


Dan hal itu tentu saja semakin membuat Axel membnci Aluna.


Acara dimulai dengan kata sambutan dari Aluna yang mewakili Russel.


Awalnya ketidakhadiran pria itu membuat semua orang bertanya-tanya padanya.


Beruntung ia sudah memiliki alasan yang tepat untuk menjawabnya.


Aluna melangkahkan kakinya.


Matanya menatap lurus ke depan.


Sesekali matanya dan mata Axel saling bertatapan.


Aluna bisa melihat senyum remeh yang ditunjukkan Axel padanya.


Pria itu seolah-olah ingin menghancurkannya.


Ia pikir tidak mungkin ini suatu hal yang kebetulan.


Axel melakukan kerja sama dengan perusahaan Russel dan kini pria itu memiliki beberapa saham darinya.


Kata sambutan Aluna diakhiri dengan tepuk tangan orang yang hadir di sana.


Termasuk Axel.


Setelah yang lain mendapatkan kesempatan untuk berbicara, kini Axel berdiri dan memberikan sambutannya.


"Seperti yang sudah anda ketahui, saya Axel Xaverus Abraham, Direktur Utama Perusahaan Vellas."


Axel menatap ke arah Aluna yang saat ini tengah menundukkan kepalanya.


Ia tersenyum di dalam hati, menertawakan kekalahan Aluna.


Sementara Aluna mengepal erat tangannya.


"Saya tidak menyangka bisa bekerja sama dengan orang-orang hebat seperti anda semua.


Saya berharap kita bisa menjalin hubungan yang baik kedepannya."


Axel memasang senyum kegembiraan.


Dia kemudian kembali ke tempat duduknya.


Axel melihat ke arah Aluna yang sedang menundukkan wajahnya.


"Kau akan kalah Aluna.


Aku bisa pastikan itu! " ucapnya di dalam hati.


Selama berlangsungnya acara, Axel menunjukkan kemampuannya dalam memikat hati para pemegang saham.


Sebagian besar dari mereka memuji pencapaian perusahaannya yang berkembang dengan pesat.


"Ini bagus.


Dengan begitu mereka akan tertarik dengan apa yang aku tawarkan nanti saat aku membeli saham mereka.


Kepercayaan mereka adalah kekuatan terbesarku untuk menghancurkan Aluna."


ucap Axel di dalam hati.


Tidak mau kalah dan menyerah terhadap Axel, Aluna menunjukkan penampilan terbaiknya.


Para pemegang saham juga turut memujinya yang dapat mewakili Suaminya dengan sangat baik.


Bahkan kualitas kepemimpinan Aluna juga dikenal sangat handal.


Kali ini Aluna berani menatap wajah Axel yang berada di hadapannya.


Jika niat Axel memang sengaja melakukan ini semua, ia akan menghadapinya.


Kerja sama dengan Axel juga merupakan kesempatan baginya untuk berdamai dengan masa lalunya.


Ia hanya ingin memiliki hubungan yang baik dengan Axel walaupun mungkin mereka tidak akan bersama lagi.


Beberapa jam berlalu, acara pertemuan akhirnya selesai.


Para pemegang saham mulai meninggalkan ruangan.


Termasuk Axel dan James.


Namun Aluna melangkahkan kakinya dengan cepat, menghampiri Axel yang hampir mencapai ambang pintu.


"Kak Axe... " panggil Aluna.


Ariana terkejut mendengar hal itu.


Apa Axel Xaverus Abraham, sang Direktur Utama Perusahaan Vellas adalah Axel yang dicintai Aluna selama ini?


Ariana mendekati mereka.


Axel dan James membalikkan badan dan menghadap Aluna.


Axel menatap Aluna dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Ada apa Ibu Aluna?


Apa anda ingin mengatakan sesuatu yang penting pada saya?"


"Kak Axe, Kakak tidak perlu berpura-pura padaku.


Aku tahu Kakak melakukan ini semua karena aku."


"Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?"


"Mengapa anda berbicara seperti itu layaknya kita memiliki hubungan yang dekat?"


tanya Axel lagi.


"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.


Tolong berikan aku kesempatan Kak.


Hanya sebentar, aku mohon."


ucap Aluna dengan wajah memelas.


"Oh aku mengingatmu.


Kau adalah gadis yang mengejar-ngejarku waktu itu.


Bukankah anda sudah memiliki Suami?


Apa Anda berniat selingkuh darinya?


Bagaimana bisa anda melakukan hal itu?


Oh, atau jangan-jangan anda memang suka mengejar pria-pria kaya?"


James terkejut mendengar ucapan Axel pada Aluna.


Tidak seharusnya Axel mengatakan hal itu.


Aluna mengepalkan tangannya dengan erat.


Ucapan Axel sangat menyakitinya.


Amarah di dalam diri Ariana mencuat saat mendengar hal itu.


Ia kemudian berdiri di samping Aluna.


"Bukankah anda tadi mengatakan bahwa anda tidak mengenal Aluna sebelumnya?


Bagaimana bisa anda mengatakan hal itu pada orang yang belum anda kenal?


Kehebatan yang anda miliki ternyata tidak menjamin anda untuk bisa menghargai orang lain.


Sayang sekali, rasa hormat itu perlahan berkurang."


"Hey nona, tolong ingatkan Boss mu untuk tidak mendekatiku lagi.


Aku menghormatinya sebagai Partner kerja.


Untuk hal yang di luar pekerjaan, aku tidak akan membiarkannya mendekatiku.


Jangan sampai ia berbuat lebih lagi."


ucap Axel dengan nada memperingati.


"Baiklah Tuan Axel Xaverus Abraham.


Senang bekerja sama dengan anda."


ucap Aluna.


"Oh ya, maaf sepertinya saya salah orang sebelumnya.


Anda memiliki wajah yang begitu mirip dengan pria yang saya kenal.


Hanya saja jika aku pikir lagi, sepertinya aku salah orang.


Dia memiliki sifat yang sangat baik dan tidak akan tega berbuat kasar padaku."


"Sekali lagi, saya minta maaf.


Hal itu tidak akan terulang kembali."


Axel melihat tatapan keberanian di wajah Aluna.


Sebelumnya kekecewaan jelas tergambar di sana.


Namun kini sudah berganti.


Axel memasang senyum smirk nya.


"Baiklah Nona Aluna Gracia.


Saya menerima permintaan maaf anda.


Semoga kita bisa menjalin hubungan yang baik."


"Sebagai partner kerja." tambah Axel.


"Saya juga berharap seperti itu." ucap Aluna.


Axel dan James kemudian pergi meninggalkan Aluna dan Ariana.


Setelah kepergian mereka, Aluna meneteskan air matanya.


"Aluna.. "


Aluna kemudian duduk di kursi dan menangis terseduh-seduh.


Ariana menghampiri Aluna dan berdiri di hadapannya.


Ia memberikan waktu pada Aluna untuk menenangkan dirinya.


Setelah beberapa saat, Aluna akhirnya bisa menenangkan dirinya.


Aluna menatap Ariana dan tersenyum pada gadis itu.


"Aku tidak apa-apa Ariana.


Bukankah kamu mengatakan bahwa aku gadis yang kuat?"


Air mata Aluna kembali jatuh membasahi pipinya.


Aluna langsung menghapusnya dengan cepat.


Ariana memegang pundak Aluna dan tersenyum.


"Hem, kamu gadis yang kuat Aluna.


Rasa cintamu padanya sudah menunjukkan bahwa kamu adalah gadis yang kuat.


Kamu tidak perlu memikirkan ucapan Kak Axel tadi.


Dia hanya tidak tahu kebenarannya.


Suatu saat nanti, ia akan begitu menyesali perbuatannya itu."


"Tapi aku tidak akan membiarkannya menyakitimu terus.


Aku akan melindungimu Aluna."


"Hem, aku tahu itu Ariana.


Terima, terima kasih banyak."


"Aku begitu menyayangimu."


Ariana memeluk tubuh Aluna dengan erat.


"Aku juga begitu menyayangimu Ariana."


Sementara di dalam mobil, James melihat ke arah Axel yang tidak berbicara dari tadi.


Kemarahan terlihat jelas di wajah pria itu.


Axel pasti tidak suka dengan keberanian yang ditunjukkan Aluna tadi.


Sahabatnya itu begitu terobsesi membuat Aluna kalah darinya.


(Baiklah Aluna.


Aku akan melihat sampai berapa lama kau akan memliki keberanian itu)

__ADS_1


Axel mengepal tangannya dengan erat.


__ADS_2