
Axel membuka pintu apartemennya.
Ia tersenyum tatkala melihat kedatangan Vallie.
"Duduklah.
Aku akan membuatkanmu kopi."
Vallie tersenyum.
Axel memang mengenalnya dengan baik.
"Kapan kamu datang Vallie?"
"Kemarin Kak."
"Bukankah kamu bilang kamu sibuk?
Lalu mengapa kamu datang ke Amerika?"
"Aku merindukanmu Kak.
Jadi aku datang ke sini hanya untuk bertemu denganmu."
Axel hanya tersenyum tipis.
Sangat wajar bila Vallie merindukannya.
Akhir-akhir ini mereka juga jarang berkomunikasi karena sibuk bekerja.
Mereka kemudian berdiri di balkon sambil menikmati kopi yang berada di tangan mereka.
Axel tersenyum tatkala mengingat momen saat di Skagit Valley.
Ia teringat saat dirinya dan Aluna minum kopi bersama.
Vallie melihat ke arah Axel.
Pria itu terlihat sangat berbeda hari ini.
Sedari tadi senyum selalu menghiasi wajah Axel.
"Sepertinya suasana hati Kakak sangat baik.
Kakak terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Apa yang terjadi Kak?
Kakak harus memberitahuku berita baik apa yang bisa membuat Kakak tersenyum seperti ini."
"Tidak ada berita baik apapun Vallie."
"Jadi?"
"Jika seorang pria tersenyum tanpa alasan, menurutmu apa yang terjadi dengannya?"
"Jatuh cinta?"
Vallie refleks mengatakan apa yang di pikirannya.
Axel kembali tersenyum.
"Kamu akan mengalaminya saat jatuh cinta dengan seseorang Vallie."
Senyuman Vallie perlahan memudar
Itu karena pernyataan Axel barusan.
__ADS_1
Pria yang dicintainya telah mencintai gadis lain.
"Benarkah Kak?
Siapa gadis itu?"
Vallie berusaha menerima hal itu.
Hatinya memang begitu sakit, namun melihat Axel bahagia, ia akan ikut bahagia juga.
Kebahagiaan Axel adalah yang paling utama untuknya.
"Kamu akan mengetahuinya nanti Vallie."
Axel kemudian masuk ke dalam dengan senyuman yang merekah.
Vallie menatap kepergian Axel.
Ia perlahan meneteskan air matanya.
Dadanya terasa sesak.
Ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
Ia sempat mengira bahwa seiring berjalannya waktu, Axel akan mencintainya.
Namun kenyataan sangat berbanding terbalik.
Kini pria itu sudah menemukan gadis pujaannya.
--
Keesokan harinya, Axel pergi ke kantor Aluna.
Ia datang pagi-pagi sekali, agar bisa bertemu dengan Aluna.
Ariana terkejut melihat kedatangan Axel.
"Kau?
Apa yang kau lakukan di sini?"
"Dimana Aluna?
Bukankah seharusnya dia sudah datang jam segini?"
Axel mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari Aluna.
"Aluna tidak akan pernah datang lagi ke kantor."
"Apa maksudmu?"
"Suaminya melarangnya datang ke kantor.
Dan bisa dipastikan, mulai hari ini Aluna sudah berhenti bekerja."
"Kau berbohong!"
"Aku tidak berbohong.
Kau bisa menanyakan seluruh karyawan di sini.
Dan aku yang akan menggantikan Aluna untuk menangani perusahaan.
Mulai saat ini, kau bekerja sama denganku.
Jika ada sesuatu, kau harus menghubungiku.
__ADS_1
Bukan Aluna."
Ariana menekan kalimatnya.
Axel berkacak pinggang.
Ia kemudian menarik napas panjang.
Rasanya ia benar-benar marah saat ini.
Itu artinya mulai saat ini ia tidak akan bisa bertemu dengan Aluna.
Di dalam mobil, Axel mencoba menghubungi Aluna berkali-kali.
Namun gadis itu tidak menjawab panggilannya.
Ia mulai mengirim pesan pada Aluna.
(Apa alasanmu berhenti bekerja?
Apa kau berniat menjauhiku dengan cara seperti itu?)
Axel kembali menunggu balasan dari Aluna.
Matanya tidak berhenti menatap layar handphonenya.
Hingga beberapa menit kemudian, gadis itu belum juga membalas pesannya.
(Aku mohon jangan seperti ini.
Paling tidak balas pesan dariku Aluna.)
Aluna menatap layar handphonenya.
Axel kembali mengirim pesan padanya.
Namun ia tidak ingin membalas pesan itu.
Rasanya seperti ini lebih baik.
Ia tidak perlu berhubungan lagi dengan Axel.
Apalagi Russel sudah mengetahui tentang Axel.
Pria itu juga sempat menaruh rasa curiga padanya.
Ia takut Russel kembali menyakiti Axel.
Walaupun mungkin hatinya menyuruhnya untuk menjawab panggilan Axel serta membalas pesannya.
Ia juga sebenarnya tidak ingin keadaannya menjadi seperti ini.
Rasanya akan sulit baginya untuk tidak bertemu dengan Axel lagi.
Ia pasti akan sangat merindukan Pria itu.
Axel menghusap wajahnya dengan kasar.
Aluna sama sekali tidak menjawab pesannya.
Padahal hatinya berontak ingin bertemu dengan Aluna.
Ia begitu merindukan gadis itu.
Axel mengepal tangannya dengan erat.
Kali ini ia tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
Ia akan mencari cara agar bisa bertemu dengan Aluna.