
Aluna belum beranjak dari tempatnya.
Sedari tadi ia menunggu Axel di depan kamarnya.
Aluna memutuskan untuk menunggu sampai ia bertemu dengan pria Axel.
Ia tidak akan melewatkan kedatangan Axel lagi.
Aluna duduk sambil melipat kedua tangannya yang bertindih pada lututnya.
Aluna melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Axel pergi kemana hingga pulang terlambat seperti ini?
Axel melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel.
Setelah keluar dari lift, Axel berjalan menuju kamarnya.
Ia kemudian melihat darahnya yang menetes dari tangannya.
Rasanya begitu perih.
Aluna mendengar suara langkah kaki.
Ia langsung memalingkan wajahnnya ke arah sumber suara.
Ia tersenyum tatkala melihat Axel telah pulang.
Aluna langsung berdiri dan menghampiri Axel.
Ia tersenyum pada Axel.
"Kak Axe.."
Senyum Aluna menghilang tatkala melihat tangan Axel yang berlumur darah.
"Kak Axel tanganmu..
Apa yang terjadi denganmu Kak Axe?"
ucap Aluna dengan nada khawatir.
Aluna berniat menyentuh tangan Axe, namun pria itu langsung menjauhkan dirinya.
"Pergilah.
Aku tidak ingin melihat wajahmu!"
ucap Axel dengan raut wajah begitu dingin.
Aluna mencium bau alkohol pada Axel.
"Aku tidak akan pergi!
Aku harus mengobati tanganmu."
"Aku bilang pergi!"
Kali ini nada suara Axel terdengar begitu tinggi.
Hal itu membuat Aluna tertegun takut, namun ia tidak menyerah.
Ia tidak akan membiarkan Axel dengan kondisi seperti itu.
"Kau pernah mengobati lukaku sebelumnya.
Aku mohon biarkan kali ini aku mengobati lukamu Kak."
Hem?"
Aluna menatap Axel dengan tatapan senduh.
Ia berharap Axel mau diobati olehnya.
Axel mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ia kemudian berjalan membuka kamarnya.
Aluna tersenyum.
Ia senang melihat Axel akhirnya tidak menolaknya.
Setelah pintu terbuka, Axel masuk ke dalam kamarnya.
Aluna kemudian mengambil kotak obat yang berada di dalam kopernya.
Beruntung ia membawa banyak persediaan obat.
Aluna masuk ke dalam kamar Axel.
Ia melihat Axel sedang duduk di sofa.
Ia kemudian menghampiri pria itu dan duduk di sampingnya.
Aluna membuka kotak obat yang ia bawa.
Ia mengambil perban dan obat luka dari sana.
Aluna menatap Axel yang sedang menatap lurus ke depan.
Pria itu hanya diam tanpa mengatakan apapun padanya.
Ia kemudian mendekat pada Axel.
Tangannya menyentuh tangan Axel.
Hatinya begitu teriris melihat punggung tangannya yang berlumuran darah.
Seakan-akan ia juga ikut merasakan apa yang dirasakan pria itu.
Tentunya sangat perih dan sakit.
Pelupuk matanya perlahan berair.
Aluna tidak tega melihat Axel dengan kondisi seperti itu.
Namun ia berusaha untuk mengendalikan dirinya.
Aluna mulai mengobati luka itu.
Ia mengobatinya dengan penuh hati-hati.
Ia tidak mau Axel kesakitan.
Darah itu tidak berhenti keluar.
Aluna kembali menambahkan antiseptik dan kemudian menekan luka Axel dengan kain kasa.
"Apa luka ini karena aku?"
Axel mengalihkan pandangannya pada Aluna.
Mata senduh itu perlahan berkaca-kaca.
"Maafkan aku.
Aku selalu menyakitimu."
__ADS_1
Axel mendekat pada Aluna.
Ia kemudian menyentuh pipi Aluna dan mengelusnya dengan lembut.
Keduanya saling bertatapan dan larut dalam perasaan yang sama.
Axel perlahan memajukan wajahnya.
Namun langsung berhenti tatkala menyadari perbuatannya.
Sebelumnya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Aluna.
"Pergilah setelah selesai mengobati lukaku!"
Alune menganggukkan kepalanya.
Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Ia kemudian kembali mengobati luka Axel.
Kali ini ia memasang perban.
Setelah selesai, Aluna memasukkan kembali semua obat itu ke dalam kotaknya.
Ia kemudian membawanya dan berjalan meninggalkan Axel tanpa mengatakan apapun.
Ia tidak ingin semakin melukai Axel.
Namun saat ingin mencapai pintu, Axel menarik tangannya hingga tubuh mereka saling berhadapan.
Keduanya saling bertatapan.
Axel kemudian mengelus kepala Aluna dengan lembut.
Hal yang sering ia lakukan dulu.
Aluna terhanyut dengan perlakuan Axel.
Ia langsung menjatuhkan kotak obat di tangannya dan kemudian memeluk Axel dengan erat.
Axel juga membalas pelukan Aluna.
Mereka berdua saling meluapkan kerinduan.
Aluna tersenyum dibalik pelukannya.
Setelah lama bertemu, ini pertama kalinya ia bisa berdekatan dengan Axel.
Untuk saat ini tidak ada jarak yang memisahkan mereka.
Ia menangis terharu.
Beberapa saat kemudian, Aluna melepaskan pelukannya.
Perasaan canggung menghinggapinya saat menatap mata Axel.
Ia merasa bersalah karena telah memeluk Axel tadi.
Axel perlahan mendekat pada Aluna.
Ia kemudian menghapus air mata Aluna.
Hal itu membuat Aluna tertegun.
Ia kembali menatap manik itu.
Axel mencium kening Aluna dengan lembut.
Keduanya saling bertatapan.
Aluna menutup kedua matanya tatkala merasakan deru napas Axel.
Pria itu mencium bibirnya.
Axel merengkuh tubuh Aluna sehingga tidak ada jarak di antara mereka.
Tangan Aluna menempel pada dada Axel.
Jantungnya berdetak dengan kencang.
Axel mencium bibirnya dengan lembut.
Axel meluapkan kerinduannya pada Aluna.
Ciumannya kian berubah menjadi *******.
Rasanya ia tidak ingin melepaskan bibir itu.
Aluna perlahan mengalungkan tangannya pada leher Axel.
Ia begitu menikmati momen saat ini.
Beberapa saat kemudian, Axel melepaskan ciumannya.
Dengan posisi masih berpelukan, Axel mencium kening Aluna dengan lembut.
Matanya kembali menatap bibir Aluna.
Ia mencium bibir itu lagi.
Namun kali ini cukup menuntut.
Aluna mengeratkan pelukannya.
Axel langsung berhenti tatkala menyadari Aluna kehabisan napas.
Kening mereka saling bertaut.
Axel tersenyum mengingat Aluna tidak menolak ciumannya.
Axel kemudian menarik tangan Aluna menuju tempat tidur.
Axel mengangkat tubuh Aluna dan membaringkannya ke tempat tidur.
Lalu ia ikut naik ke atas.
Saat ini Aluna berada di bawah tubuh Axel.
Pria itu mencium kedua pipinya.
Axel kemudian teringat saat Russel mencium pipi Aluna.
Perasaanya kembali mendidih.
"Mengapa kau menghianatiku Aluna?"
"Aku tidak pernah menghianatimu."
"Aku sangat mencintaimu tapi mengapa kau meninggalkanku saat itu?"
"Maafkan aku Kak, tapi aku..."
"Apa karena uang?
Kau meninggalkanku karena uang?"
Terlihat kekecewaan di wajah Axel saat mengatakannya.
__ADS_1
"Kau mengatakan padaku bahwa kau sangat mencintaiku. Tapi mengapa kau menikah dengan pria lain, hah?"
Aluna kembali meneteskan air matanya.
Ia ingin menceritakan segalanya pada Axel.
"Apa dugaanku selama ini benar?
Kau memberikan tubuhmu pada pria itu untuk mendapat uang?"
"Jawab aku!"
Aluna menyentuh wajah Axel.
"Aku tidak pernah menghianatimu Kak.
Aku sangat mencintaimu."
Axel tersenyum menyeringai.
Ia tidak menyangka Aluna akan berkata seperti itu setelah apa yang terjadi selama ini.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau.
Harta dan kekayaan Russel sudah menjadi milikmu.
Dan sekarang kau mengatakan kau tidak menghianatiku?
Kau memberikan tubuhmu padanya.
Bagaimana jika aku menawarkan sahamku untuk bermalam denganmu?"
Seakan tertusuk pisau, Aluna begitu terluka mendengar kalimat Axel.
Itu artinya Axel menganggapnya wanita murahan.
"Aku tidak mau!
Aku bukanlah wanita murahan."
Aluna berniat beranjak dari tempat tidur.
Namun Axel menahan tubuhnya.
"Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kau sangat mencintaiku?"
"Benar, tapi aku mencintai dirimu yang dulu.
Saat ini kau telah banyak berubah."
"Benarkah?
Aku masih sama, kau yang telah berubah."
Kau menghianatiku, dan kau mengatakan aku berubah?
Aku berubah juga semua karenamu.
Kau tidak tahu betapa menderitanya aku saat itu."
Aluna kembali tertegun dengan kalimat Axel.
Ia menyentuh wajah Axel dan kemudian meneteskan air matanya.
Axel menghapus air mata Aluna dan mencium mata gadis itu.
Ia kemudian langsung mencium bibir Aluna.
Ciuman yang begitu lembut seperti sebelumnya sehingga mampu membuat Aluna terhanyut.
Axel kemudian melepaskan bajunya dan kembali mencium bibir Aluna.
Aluna langsung melepaskan bibirnya dari Axel tatkala menyadari tangan Axel bergerak melepaskan kancing bajunya.
"Tidak, Kakak tidak boleh melakukannya."
Axel tetap melancarkan aksinya.
Ia kemudian kembali mencium Aluna.
Aluna berusaha berusaha menghindari ciuman Axel, namun pria itu tetap menciumnya.
Ciuman pria itu kemudian turun ke lehernya.
Aluna memukul-mukul tubuh Axel agar pria itu berhenti.
Namun Axel semakin menyentuhnya.
Bahkan saat ini tubuhnya sudah telanjang.
Aluna menangis sejadi-jadinya.
Karena saat ini Axel menganggapnya sebagai wanita murahan.
Axel menyadari tangisan Aluna.
Ia kemudian menatap wajah Aluna yang dipenuhi oleh air mata.
"Aku mencintaimu Aluna."
Axel melepaskan seluruh pakaiannya dan kemudian menautkan kedua tangannya pada tangan Aluna.
Axel perlahan mulai memasuki Aluna.
Aluna memegang erat tangan Axel saat merasakan sesuatu di bagian bawahnya.
Ia mengalami kesakitan luar biasa karena ini adalah yang pertama baginya.
Aluna kembali meneteskan air matanya.
Axel sangat terkejut tatkala menyadari bahwa ia adalah pria pertama yang menyentuh Aluna.
Ia mengetahui kebenarannya saat melihat bercak darah yang keluar.
Axel menatap wajah Aluna yang terlihat sangat kesakitan.
"Maafkan aku Aluna.."
Ia menyentuh kedua pipi Aluna.
"Aku telah melukaimu."
Aluna hanya bisa menangis.
Ia telah memberikan dirinya untuk Axel.
Axel kemudian menutupi tubuh polos Aluna dan berbaring di sampingnya.
Aluna berbalik dan menjauhkan dirinya dari Axel.
Axel menyadarinya.
Ia kemudian mendekati Aluna dan memeluknya dari belakang.
Ia ingin menenangkan gadis itu, tapi ia yakin itu tidak akan berhasil.
Axel hanya bisa menatap Aluna dari belakang.
__ADS_1