
Axel menatap Aluna dan Gerald dengan tatapan tidak suka sambil mengepal erat tangannya.
Lagi-lagi Aluna memakai cara kotor untuk menarik perhatian Gerald.
Pria itu juga tampak sangat menikmati kedekatannya dengan Aluna.
"Ini sudah jam makan siang.
Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Aluna tampak berpikir.
Ia kemudian melihat ke arah Axel yang sedang memeriksa handphonenya.
"Kamu mau makan siang bersamaku kan Aluna?"
Aluna masih melihat ke arah Axel.
Ia tidak mau Axel semakin berpikiran yang tidak-tidak padanya.
"Bagaimana Pak Axel?
Apa anda mau ikut bergabung dengan kami?"
Aluna sangat berharap Axel mau ikut dengan mereka.
Ia sama sekali tidak pernah bermaksud untuk menggoda Gerald atau siapapun.
Karena hingga saat ini, hati dan perasaannya hanya tertuju pada Axel.
"Maaf Pak Gerald, saya tidak bisa.
Saya memiliki urusan penting."
"Baiklah Pak Axel."
Ada perasaan kecewa di hati Aluna saat mendengar jawaban Axel.
Axel pasti berpikiran yang tidak-tidak padanya.
Aluna menatap kepergian Axel.
Ia ingin menolak ajakan Gerald dan mengejar Axel.
Tapi ia tidak bisa melakukan itu.
"Aluna..."
Gerald melihat Aluna yang sedang melamun.
"Aluna.. " panggilnya lagi.
"Iya?"
Gerald tersenyum meihat Aluna yang akhirnya merespon panggilannya.
"Ayo kita pergi.
Aku tahu ada restoran yang tempatnya tidak jauh dari sini.
Makanannya juga sangat lezat."
Aluna tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, Aluna dan Gerald sudah sampai di restoran yang mereka tuju.
Tidak di sangka, Axel juga berada di sana untuk makan siang.
Axel sebenarnya tidak memiliki urusan apapun.
Ia berbohong pada Gerald.
Ia hanya tidak suka melihat Aluna yang berperilaku layaknya seorang penggoda.
Entah mengapa dirinya benci setiap kali melihat kedekatan mereka berdua.
Seorang gadis tiba-tiba memeluk lengan Axel dari belakang.
"Axel.. "
"Rose.. "
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu Axel.
Aku begitu merindukanmu."
Gadis itu bergelayut manja di tubuh Axel.
"Mengapa kau tidak pernah menjawab panggilanku atau membalas pesanku?"
"Aku sangat sibuk Rose. Jadi aku tidak punya waktu untuk merespon panggilan atau pesanmu."
"Kau bohong!
Kau sengaja menghindariku, kan?
Sebenarnya apa arti hubungan kita selama ini Axel?"
"Rose, kita berdua hanya teman.
Tidak ada hubungan serius di antara kita."
"Axel..
Mengapa kau selalu mengatakan itu padaku?
__ADS_1
Padahal kau tahu sendiri bahwa aku sudah lama mencintaimu."
Axel berusaha melepaskan pelukan Rose.
Namun matanya tiba-tiba menangkap Aluna dan Gerald yang berjalan ke arah mereka.
Aluna menatap lurus ke depan.
Ia melihat Axel sedang bersama seorang gadis.
Seorang gadis yang sepertinya memiliki hubungan yang dekat dengan Axel, terlihat dari tangan gadis itu yang melekat erat di lengan Axel.
Namun hal yang mengejutkan, gadis itu bukanlah gadis yang sama dengan gadis waktu itu.
Apa ini juga salah satu perubahan dari Axel?
Axel berubah menjadi pria yang suka bermain wanita?
Axel akhirnya membiarkan Rose memeluk erat lengannya.
Ia sengaja melakukan hal itu di depan Aluna.
"Pak Axel..
Oh saya mengerti.
Jadi urusan penting yang Bapak maksud tadi adalah berkencan dengan kekasih Bapak, benarkan?"
Rose tersenyum sumringah saat mendengar perkataan Gerald.
Secara tidak langsung Gerald mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Axel.
"Axel.. "
Rose tersenyum pada Axel.
Axel masih menatap Aluna.
Ia tersenyum tatkala melihat ekspresi Aluna yang menatapnya kebingungan.
Axel kemudian mengalihkan tatapannya pada Gerald.
"Anda benar Pak Gerald.
Urusan penting yang kumaksud tadi adalah bertemu dengan Rose."
Rose semakin mengeratkan pelukannya.
"Oh, perkenalkan saya Gerald, rekan kerja Pak Axel."
Gerald mengulurkan tangannya pada Rose.
"Saya Rose Seraphine, kekasih Axel."
Ternyata gadis ini benar-benar kekasih Kak Axe, pikir Aluna.
Axel yang ia kenal adalah Pria yang begitu baik dan setia.
Bahkan saat berpacaran dulu, Axel tidak pernah sekalipun melirik gadis lain.
(Apa karena aku lagi?
Apa aku penyebab yang membuatmu berubah sejauh ini?)
Aluna menatap senduh Axel.
Ia tidak menyangka semuanya akan terjadi seperti ini.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama saja?
Aku rasa kami harus mengenal kekasih Pak Axel lebih dekat lagi.
Benarkan Aluna?"
Aluna tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku rasa itu ide yang bagus." ucap Axel.
"Bagaimana sayang?
Kau tidak akan keberatan kan?" tanya Axel pada Rose.
"Aku sama sekali tidak keberatan sayang."
"Baiklah, mari kita duduk di meja sana." tunjuk Gerald pada salah satu meja yang berada di dekat jendela.
Mereka kemudian duduk di meja itu.
Rose dan Axel duduk bersampingan.
Sementara Aluna duduk bersampingan dengan Gerald dan duduk berhadapan dengan Axel.
Sambil menunggu pesanan, mereka mengobrol bersama.
"Boleh saya tahu apa yang membuat anda begitu mencintai Nona Rose?"
"Tentu saja Pak Gerald.
Sebenarnya alasan saya mencintai Rose adalah karena dia gadis yang sangat baik dan juga setia.
Dan terutama dia bukanlah gadis yang suka mengejar pria-pria kaya."
Axel menyebut kalimat itu sambil melihat ke arah Aluna.
Sebenarnya ia bermaksud untuk menghina Aluna.
__ADS_1
Aluna terbatuk saat mendengar jawaban Axel.
"Apa kamu tidak apa-apa Aluna?"
Gerald memegang pundak Aluna.
"Minumlah."
Gerald menyodorkan air putih pada Aluna.
Axel mengepal erat tangannya.
Hainya semakin memanas melihat pemandangan itu.
"Kamu tidak apa-apa Aluna?
Wajahmu pucat. Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu Gerald.
Aku baik-baik saja.
Aku akan ke toilet sebentar."
"Baiklah."
Aluna kemudian pergi ke toilet.
Sesampainya di toilet, Aluna langsung membasuh wajahnya.
Ia melihat wajahnya di depan cermin.
Selama ini ia selalu memasang wajah kuat di depan semua orang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun faktanya berbanding terbalik.
Ia ingin menangis di depan Axel setiap kali pria itu menghinanya dan meluapkan semua perasaan kecewanya saat Axel berpikiran yang tidak-tidak padanya.
Tapi ia tidak bisa.
Jika ia terlihat lemah, Axel akan dengan mudah mengintimidasinya serta melakukan sesuatu yang lebih jauh lagi dari apa yang dilakukannya selama ini.
Termasuk merebut perusahaan Russel.
Aluna tidak mau Axel akan sangat menyesali perbuatannya saat mengetahui kebenarannya nanti.
Beberapa saat kemudian, Aluna keluar dari toilet itu.
Aluna berniat kembali, namun suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Apa kau sudah puas menggoda pria itu?"
Aluna berusaha tidak menghiraukan perkataan Axel.
Ia melanjutkan langkahnya.
Namun tangannya ditarik ke belakang.
Kini ia berhadapan dengan Axel yang menatapnya dengan tatapan nyalang.
Ada kemarahan tergambar jelas di wajah Axel.
"Jadi dari awal kau memang berniat menggodanya, hem?
Kau mencoba mencari pengganti Russel dengan memakai cara ini?"
Aluna tidak tahan lagi.
Ia berusaha menahan perasaannya, namun perkataan Axel menyakitinya.
"Apa aku begitu buruk di matamu sehingga kau menganggapku sebagai wanita yang suka menggoda pria manapun?"
Aluna sudah lelah dengan semuanya.
Ia ingin menyerah saja.
Axel melihat tatapan senduh Aluna.
Tatapan yang menunjukkan kekecewaan.
Perasaan Axel kian melembut, namun ia langsung menepisnya.
Aluna pantas menerima perlakukan itu.
"Kau yang membuatku berpikiran buruk tentangmu.
Jangan salahkan aku jika kau harus menerima semua perkataan itu.
Aku rasa kau sangat pantas menerimanya."
Axel melepaskan tangannya dari Aluna dan kemudian pergi dari sana.
Aluna meneteskan air matanya.
Mengapa Axel tidak pernah memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan semua kebenarannya?
Bahkan Axel tidak pernah bertanya apa alasannya pergi meninggalkannya begitu saja.
Walaupun mungkin Axel mengira alasannya pergi adalah karena harta dan kekayaan.
Tapi bukankah mereka sudah berpacaran dalam waktu yang lama?
Mengapa dengan mudahnya Axel berpikiran buruk tentangnya?
Pria itu seharusnya mengenal dirinya dengan baik.
__ADS_1
Ia tidak akan mungkin pergi tanpa alasan.
Apa yang ia haruskan jika apa yang ia lakukan selama ini pada akhirnya sia-sia nantinya?