Revenge For Love

Revenge For Love
Kembali bersama


__ADS_3

Vallie masih menunggu kedatangan Axel walaupun mungkin mustahil Axel akan datang.


Acara pertunangan juga sudah batal.


Para tamu pun sangat kecewa mendengar kabar bahwa sang Pria tidak hadir.


Termasuk Simon, yang begitu kecewa dengan tindakan Axel.


Axel pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


Padahal sebelumnya Axel telah memutuskan untuk bertunangan dengan Vallie.


Vallie memegang tangannya dengan erat.


Air matanya telah merusak riasan yang digunakannya.


Sebelumnya ia begitu bahagia karena hari ini ia akan bertunangan dengan Axel.


Senyum menghiasi wajahnya.


Namun saat acara akan dimulai, Axel tidak ditemukan.


Ia sempat mendatangi tempat dimana Axel bersiap-siap, namun Axel tidak berada di sana.


Ia kemudian mencoba menghubungi Axel berulang kali, namun pria itu tidak menjawab satupun panggilannya.


Jantung Vallie berdetak dengan kencang.


Ia takut terjadi sesuatu yang buruk.


Dan benar, Axel pergi dan membatalkan pertunangan mereka.


Saat ini hatinya begitu hancur.


Vallie kembali menangisi dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Ia sudah berusaha membuat Axel mencintainya, namun tetap saja ia tidak memiliki tempat di hati Axel.


"Sayang.."


Simon memegang pundak Vallie yang bergetar.


"Maafkan Vallie Pa.


Vallie yang membuat semuanya menjadi begini.


Vallie memaksa Papa untuk membuatku bersatu dengan Kak Axel.


Dan nyatanya Kak Axel tidak pernah mencintaiku.


Aku salah."


Simon membawa Vallie ke dalam pelukannya.


"Vallie ini bukan salah kamu sayang.


Kamu begitu mencintai Axel dengan tulus.


Kamu juga berhak menerima cinta yang tulus dari seorang Pria.


Walaupun itu bukan dari Axel.


Cinta memang tidak bisa dipaksakan sayang.


Cinta hadir di antara 2 orang yang memang sudah ditakdirkan untuk bersama.


Papa yakin kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dari Axel dan bisa mencintai kamu apa adanya."


"Papa tidak marah pada Vallie setelah kekacauan yang telah aku lakukan?"


Vallie menaikkan wajahya.


"Tentu saja tidak sayang.


Papa tidak akan pernah bisa marah padamu."


"Terima kasih Pa.


Papa adalah satu-satunya Pria yang sangat mencintaiku."


"Tentu saja sayang."


Mereka berdua saling berpelukan erat.


--


Aluna perlahan membuka matanya.


Ia melihat sekelilignya yang bewarna putih.


Rumah sakit?


Ya, sekarang ia sadar bahwa kemarin ia terjatuh di kamar mandi dan dibawa ke sana.

__ADS_1


Bayinya?


Bagaimana keadaan bayinya saat ini?


Aluna kemudian menyadari tangan kanannya digenggam oleh seseorang


Ia melihat ke sampingnya.


Tampak seorang pria tidur di sisi ranjang dengan wajah membelakanginya.


Namun walaupun begitu, ia sangat mengenal sosok itu.


Aluna tersenyum melihat kehadiran Axel di sana.


Ia kemudian mengganti posisinya menjadi duduk dengan penuh hati-hati.


Ia tidak mau Axek terbangun.


Perlahan tangan kirinya mengelus kepala Axel.


Dan tidak disangka, sentuhannya membuat kepala itu bergerak.


Axel menggerakkan kepalanya.


Perlahan ia membuka matanya dan terbangun.


Ia menggeser posisinya ke samping dan akhirnya menyadari bahwa Aluna telah sadar.


"Luna.."


Axel langsung memeluk tubuh Aluna dengan erat.


"Syukurlah kamu sudah sadar.


Aku begitu bahagia Luna."


Aluna tersenyum di balik pelukan Axel.


Beberapa saat kemudian, Axel melepas pelukannya.


"Kakak menungguiku di sini?"


"Tentu saja.


Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan membiarkanmu sendiri."


Wajah Aluna berubah menjadi senduh.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi Aluna.


Walaupun kamu akan memaksaku lagi untuk berpisah darimu.


Aku akan selalu menjagamu dan anak kita."


"Kakak sudah mengetahuinya?"


Axel mengangukkan kepalanya.


"Aku sama sekali tidak marah padamu karena tidak memberitahuku sejak awal.


Sebaliknya aku bahagia karena sekarang tidak ada lagi alasan untuk kita berpisah.


Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Aluna meneteskan air matanya.


Ia kemudian memeluk Axel dengan erat.


"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu Kak.


Aku dan dia sangat membutuhkanmu."


"Aku tahu itu Luna.


Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu Luna."


"Hem?"


Aluna melerai pelukannya dan menatap Axel.


"Aku merasa sangat bersalah padamu Luna.


Maafkan aku."


Aluna menangkup wajah Axel.


"Ada apa Kak?


Kenapa Kakak menangis?"


"Aku sudah tahu semua kebenarannya Luna.


Selama ini aku sudah berbuat jahat padamu.

__ADS_1


Aku mengira gadis yang sangat buruk, bahkan tidak segan-segan melontarkan kata-kata menyakitkan padamu.


Ternyata kamu lebih menderita dari padaku.


Kamu berjuang dan mengorbankan diri untukku Luna.


Tapi aku malah menyakitimu dan menambah luka di hatimu.


Maafkan aku Luna.


Aku sama sekali tidak mau mendengar penjelasanmu waktu itu.


Aku sangat menyesal."


"Tidak apa-apa Kak.


Aku tahu Kakak melakukannya karena Kakak juga begitu menderita.


Kakak juga tidak tahu kebenarannya."


"Tapi aku begitu bodoh Aluna.


Bisa-bisanya aku menuduhmu melakukan semua itu seolah-olah aku tidak mengenalmu dengan baik.


Padahal James mengatakan padaku berulang kali bahwa kamu bukanlah dalang di balik semua itu."


Aluna tersenyum.


"Sudahlah semua itu tidak perlu kita bicarakan lagi Kak.


Semuanya hanya masa lalu.


Aku juga sudah memaafkan Kakak."


"Aku sebenarnya tidak pantas untuk dimaafkan olehmu Luna.


Tapi aku sangat bersyukur untuk hal itu.


Terima kasih."


Axel kembali memegang tangan Aluna.


"Aku begitu bahagia dengan kehadirannya Luna."


Axel kemudian mengelus perut Aluna dengan lembut.


"Aku sangat mencintainya.


Dan juga dirimu."


Aluna sangat terharu dengan ucapan Axel.


"Luna, apa kamu mau kembali bersama Kakak?"


"Vallie?"


tanya Aluna sedikit ragu.


"Tentu saja aku lebih memilihmu.


Nyatanya aku tidak bisa mencintai gadis lain selain dirimu.


Jadi aku mohon jangan paksa aku lagi untuk mencari gadis lain.


Aku hanya mencintaimu Aluna Gracia."


Lagi-lagi Aluna tersenyum.


"Aku juga mencintaimu Kak.


Dan aku mau kita kembali bersama."


Axel begitu bahagia mendengar jawaban Aluna.


"Terima kasih sayang."


Axel mengecup kening Aluna dengan lembut.


"Tidak ada lagi penghalang di antara kita.


Aku ingin kita bahagia dan hidup bersama selamanya."


Alda tersenyum melihat Aluna dan Axel dari luar.


Ia bahagia melihat Aluna akhirnya kembali bersatu dengan Axel.


Senyum yang terpancar di wajah Aluna menyiratkan bahwa Putrinya itu begitu bahagia.


Dan itulah yang ia harapkan.


Senyuman itu akhirnya kembali.


Alda akan terus berusaha membuat senyum itu selalu terpancar di wajah Aluna.

__ADS_1


__ADS_2