
Perasaan mual kembali dirasakan oleh Aluna.
Ia berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.
Ia memegang sudut wastafel dengan erat.
Ia memandang ke arah cermin yang memperlihatkan wajahnya yang begitu pucat.
(Apa jangan-jangan aku sedang hamil?)
Aluna merasa mual-mual yang dialaminya selama ini bukan hanya sekedar masuk angin biasa.
Tubuhnya juga akhir-akhir ini lemah dan mudah kelelahan.
Aluna juga baru menyadari bahwa selama sebulan ini ia belum menerima tamu bulanan.
Aluna menyentuh perutnya.
"Apa mungkin..."
Jika benar ia sedang hamil, maka janin yang ia kandung saat ini adalah anak Axel.
Apa yang ia harus ia lakukan nanti?
Di saat ia ingin menjauh dari hidup Axel, selalu ada sesuatu yang membuatnya kembali terikat dengan pria itu.
Tapi ia harus memastikan terlebih dahulu.
Mungkin saja anggapannya tidak benar.
Aluna kemudian mengambil dompetnya dan kemudian keluar dari apartemennya.
Ia akan pergi ke apotek untuk membeli test pack.
Setelah kembali ke apartemennya, Aluna masuk ke kamar mandi dan membawa test pack yang telah dibelinya.
Ia memandang alat itu dengan lekat.
Alat itu yang akan menunjukkan kebenarannya nanti.
Aluna kemudian memasukkan urinenya pada alat tersebut.
Ia menutup matanya, menunggu hasil yang akan ditunjukkan alat itu.
Setelah 15 menit, Aluna membuka matanya.
Perlahan tangannya mengangkat alat itu.
Dan hasilnya membuat Aluna begitu terkejut.
Ia menutup mulutnya, memandang alat itu.
Air mata menetes dari pelupuk matanya.
Hasilnya positif hamil.
Ia benar-banar sedang mengandung anak Axel.
"Apa yang harus aku lakukan?
Aku juga tidak akan mungkin bisa menyembunyikannya dari Kak Axe."
Ia mengelus perutnya yang masih rata.
"Semuanya telah terjadi.
Aku tidak boleh menghancurkan hidup Kak Axe dengan menjadikan janin yang kukandung sebagai alasan.
Aku akan merawatnya sendiri.
Setidaknya aku harus bisa lepas dari Russel terlebih dahulu.
Aku tidak mau Russel menyakitinya."
"Sayang, Mama akan melindungimu.
Apapun yang terjadi, kita akan bersama selamanya.
Mama juga tidak akan membiarkanmu kesepian.
Akan ada banyak orang yang begitu menyayangimu nantinya.
Walaupun mungkin Papa tidak mengetahui keberadaanmu.
__ADS_1
Tapi tidak apa-apa.
Ada Mama yang begitu menyayangimu."
Aluna menghapus air matanya.
Mulai saat ini, ia harus menguatkan diri untuk anaknya.
Ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya.
Kebahagiaannya kini telah hadir di dalam hidupnya.
Rasanya ia begitu bahagia karena sedang mengandung.
Menjadi seorang Ibu dari pria yang dicintainya adalah salah satu impiannya.
Dan kini impian itu terwujud.
Hanya saja kebahagiaan itu tidak akan lengkap tanpa keberadaan Axel di sisinya.
Pastinya akan sulit saat melewati proses kehamilan sendirian.
Tapi ia akan berusaha yang terbaik.
Ia yakin semua akan indah pada waktunya.
Tuhan akan melindunginya dan juga anaknya.
--
James menemui Axel yang barusan masuk ke dalam ruangannya.
"Axe, aku ingin berbicara padamu."
"Aku sedang sibuk.
Aku tidak punya waktu untuk bicara padamu James."
James tahu bahwa Axel sedang menghindari berbicara soal Aluna.
"Axe, aku tahu kau berbohong."
Axel tetap tidak menghiraukan James.
"Kita harus membicarakan soal hubunganmu dengan Aluna."
Axel menghentikan kegiatannya saat mendengar nama Aluna.
"Aku tidak mau mendengar nama itu lagi.
Jangan pernah ucapkan apapun tentangnya."
"Axe, apa kau memang serius dengan ucapanmu?
Kau benar-benar menyerah begitu saja?
Bukankah kau sangat mencintainya?"
"Aku serius.
Aku tidak akan mempertahankan hubungan dengan orang yang tidak mencintaiku."
"Apa?
Apa kau berpikir Aluna tidak mencintaimu?
Mengapa kau menjadi pesimis seperti ini?
Jika memang ia mengatakan seperti itu padamu, bisa kupastikan bahwa ia sedang berbohong."
"Aku tidak peduli.
Jika memang ia mencintaiku, ia tidak akan melepaskanku begitu saja."
"Aluna melakukan hal itu karena Vallie."
Axel menatap James keheranan.
Apa hubungan Vallie dengan semua ini?
"Sebelum kau kembali, Vallie datang menemui Aluna.
Ia mengatakan segala hal yang akhirnya membuat Aluna akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian.
__ADS_1
Aku yakin itu adalah cara Vallie agar kau mau menyetujui perjodohan itu.
Aku sudah mengatakan padamu Axe, bahwa Vallie benar-benar menaruh perasaan padamu.
Bahkan ia berniat memisahkanmu dari Aluna."
"Aku tidak peduli James.
Dari awal Aluna memang tidak ingin kembali bersamaku.
Aku tidak ingin mempertahankan cinta yang mudah begitu goyah.
Bahkan ia memintaku untuk mencari gadis yang lebih baik darinya.
Ia ingin aku membuktikan cintaku dengan melupakannya dan menikah dengan gadis lain.
Kau tahu bagaimana perasaanku saat mendengarnya mengatakan itu?
Aku hanya bisa diam dan tidak berdaya.
Bagaimana mungkin gadis yang kucintai cintai memintaku melakukan semua itu?
Bahkan aku tidak pernah berpikir itu untuk melirik gadis lain selain dirinya.
Namun bisa-bisanya ia meragukan cintaku."
Axel tersenyum masam saat mengingat perkataan Aluna waktu itu.
"Axe, kalau begitu kau jangan menyerah.
Kau harus membuatnya kembali lagi padamu."
"Kau ingin aku bersikap bodoh lagi James?
Kau ingin aku mengemis agar ia mau kembali padaku?"
"Axe, bukan itu maksudku.
Sebagai sahabatmu, aku tidak ingin kau kehilangan kebahagiaanmu."
"Kebahagiaan?
Seperti yang dikatakan Aluna, kebahagiaan bisa didapat dari gadis lain.
Dan dia benar.
Sepertinya mulai saat ini aku harus mencari gadis lain yang lebih baik darinya.
Oh, apa aku harus menerima perjodohan itu saja?
Vallie gadis yang baik. Ia juga mencintaiku.
Aku rasa akan bahagia menikah dengannya."
"Axe, kau jangan melakukan hal itu.
Itu sama saja dengan melukai dirimu sendiri."
"Kau mengenalku dengan baik James.
Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
"Axe.."
"Pembicaraan kita sudah selesai James.
Tolong jangan katakan hal itu lagi.
Jika memang kau sahabatku."
Axel menekan kalimat akhirnya.
"Kau bisa kembali ke ruanganmu."
James tidak bisa berkata apapun lagi.
Ia menarik napas panjang dan kemudian keluar dari ruangan Axel.
Setelah James keluar, Axel memijit keningnya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga tidak ingin semua itu terjadi.
Ia tidak mau berpisah dengan Aluna.
__ADS_1
Hanya saja Aluna sendiri yang memaksanya melakukan itu semua.