Revenge For Love

Revenge For Love
Tunggu aku!


__ADS_3

Aluna membawa barang-barangnya keluar dari kamar.


Ia telah memutuskan untuk tinggal sementara waktu di apartemennnya.


Rasanya begitu sesak berada di rumah itu.


Selama ini ia mengalihkan semua rasa sakitnya dengan bekerja.


Dan sekarang, ia tidak tahu harus melakukan apa selain pergi dari rumah itu.


Paling tidak, di apartemennya ia bisa menenangkan diri.


"Aluna..


Sampai kapan kamu akan melakukan hal ini terus?"


Alda menghampiri Aluna yang hampir keluar dari pintu.


"Aku tidak tahan jika terus berada di rumah ini Mi."


"Bukankah ini rumahmu?


Bagaimana bisa kamu tidak tahan tinggal di rumahmu sendiri?"


"Ini rumah Pria itu Mi.


Dan aku tidak bahagia tinggal seatap dengannya."


"Aluna, cobalah mengerti.


Russel melarangmu bekerja, itu berarti dia tidak ingin kamu kelelahan dalam mengurusi pekerjaan kantor.


Sebaliknya, kamu seharusnya berterima kasih padanya.


Karena ia sangat peduli denganmu sayang.


Kamu harus membuka hatimu pada Russel.


Dengan begitu, pernikahan kalian akan baik-baik saja."


"Aku tidak pernah berpikir untuk menjalin pernikahan yang bahagia dengannya Mi.


Mami juga mengetahui bahwa aku tidak pernah mencintai Russel.


Dari awal aku tidak pernah mau menikah dengannya.


Dia yang memaksaku masuk ke dalam neraka ini.


Pria yang aku cintai hingga saat ini Kak Axe Mi.


Aku tidak akan bisa melupakannya.


Walaupun pada akhirnya kami tidak ditadirkan bersatu, aku akan tetap mencintainya selamanya."


"Aluna..."


"Tolong berikan waktu untukku sendiri Mi."


Aluna kemudian pergi dan langsung membawa barang-barangnya masuk ke dalam mobil.


Setelah itu, ia melajukan mobilnya.


Alda berdiri dengan tatapan kesal.


Apa yang harus ia lakukan?


Jika seperti ini terus, pada akhirnya Aluna akan berpisah dengan Russel.


Hal itu tidak bisa terjadi.

__ADS_1


Tapi saat ini ia tidak bisa apa-apa.


Russel juga mulai tidak peduli dengan ucapannya.


Bahkan pria itu sering tidak pulang ke rumah.


--


Salah satu suruhan Axel mengirim pesan padanya.


Ia tersenyum tatkala melihat gambar Aluna yang sedang masuk ke dalam sebuah apartemen.


Ya, ia memang menyuruh suruhannya untuk memantau Aluna.


Hingga ia memilki celah untuk bertemu dengan gadis itu.


Dan benar saja, Aluna pergi ke apartemennya.


Bisa ia pastikan juga bahwa Aluna akan berada di sana dalam waktu yang cukup lama.


Terlihat dari koper yang dibawa gadis itu.


"Tunggu aku Luna.."


Axel tersenyum menyeringai.


Aluna menerima panggilan dari Ariana.


"Hem, untuk sementara waktu aku akan tinggal di sini Ariana.


Aku ingin menenangkan diriku."


"Baiklah Aluna.


Aku akan menyusulmu besok setelah pulang dari kantor."


Aluna menutup panggilannya.


Ia memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam lemari.


Tiba-tiba rasa pusing mulai menghinggapinya.


Aluna mengambil obat dari kotak obat dan kemudian meminumnya.


Ia duduk di tepi ranjang.


Akhir-akhir ini ia sering merasa kelelahan.


Mungkin stres yang ia alami menjadi salah pemicunya.


Aluna menarik napas panjang.


Ia meneteskan air matanya.


"Apa yang terjadi denganku?


Mengapa akhir-akhir ini aku sering menangis tanpa sebab?


Ini pasti karena aku tidak tahu harus melakukan apa-apa.


Aku sudah terbiasa bekerja, dan sekarang aku berhenti.


Luna, kamu gadis kuat.


Kamu sudah terbiasa dengan semua ini.


Lalu mengapa sekarang kamu seperti ini?"


Aluna berusaha menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


--


(Besok aku akan menjemputmu ke kantor dan mengantarmu ke apartemen Aluna.)


Ariana tersenyum saat menerima pesan dari James.


(Baiklah, besok aku akan menunggumu)


balas Ariana.


(Kamu tidak perlu menunggu Ariana.


Besok sebelum kamu selesai bekerja, bisa aku pastikan aku sudah berada di sana.)


(Benarkah?


Aku senang mendengarnya.)


James terkekeh mendapat pesan dari Ariana.


Lagi-lagi Axel menggelengkan kepalanya.


Sedari tadi ia melihat James tersenyum setelah mendapat pesan.


Bisa ia pastikan bahwa gadis itu Ariana.


James menyadari tatapan geli Axel.


"Apa kau tidak mengirim pesan pada gadis itu?


Bukankah kau sedang berusaha mendekatinya?


Oh aku tahu Axe.


Kau bukanlah pria yang handal dalam percintaan.


Bahkan kau hanya berpacaran sekali.


Apa aku perlu mengajarimu?"


Axel terkekeh mendengar kalimat James.


Padahal James juga baru menjalin hubungan pertama kali.


Sahabatnya itu berbicara seolah-olah ia sudah pernah berpacaran sebelumnya.


"Kau tidak perlu mengajariku James.


Tanpa mengirim pesan padanya, hati kami sudah terhubung satu sama lain.


Jadi aku tidak perlu mengikuti cara konyolmu itu."


"Aku akui banyak gadis yang terpikat hanya dengan melihat pesonamu Axe.


Tapi aku tidak yakin gadis itu akan tahan dengan sikap dinginmu itu."


"Kau benar-benar.."


Axel memberikan tatapan kesal pada James.


James terkekeh geli melihat raut wajah Axel.


"Maaf Axe sepertinya aku tidak bisa bermain-main sekarang.


Aku harus membalas pesan Ariana dulu.


Kau bisa menonton film di sana.


Aku sarankan kau menonton film romance saja."

__ADS_1


"Sialan kau James!"


__ADS_2