
Russel berjalan menuju kamar Aluna.
Aluna dan Ariana yang tengah berbincang terkejut melihat kedatangan Russel yang tiba-tiba.
"Malam ini ada acara pertemuan dengan para pemilik seluruh perusahaan yang ada di Amerika.
Kau harus ikut denganku dan datang sebagai Istriku.
Dan ingat, kau jangan berulah lagi.
Kali ini aku tidak akan memaafkanmu!"
ucap Russel dengan nada memperingati.
Russel langsung keluar dari kamar Aluna.
"Aluna kamu akan datang ke acara itu bukan?"
Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.
"Mau bagaimana lagi Ariana?
Sebenarnya aku tidak ingin datang ke acara pertemuan yang melibatkan Russel.
Hanya saja aku tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah pria itu.
Aku tidak mau dia melakukan sesuatu yang buruk lagi."
"Iya, kamu benar Aluna.
Aku juga takut dia menyakiti kamu lagi.
Dan untuk acara malam ini, aku akan membantumu bersiap-siap."
Aluna tersenyum.
"Terima kasih Ariana."
Ariana mengoleskan satu per satu riasan pada wajah cantik Aluna.
Terlahir dengan wajah yang cantik, membuat gadis itu tidak perlu memakai riasan yang tebal.
Ariana tersenyum melihat hasil karyanya.
Aluna terlihat begitu cantik.
Rambutnya tergulung sempurna serta riasan natural yang menempel di wajahnya semakin menambah kecantikannya.
"Sempurna!
Kamu begitu cantik Aluna.
Aku yakin semua pria di sana akan terpukau dengan pesonamu."
"Kamu berlebihan Ariana.
Aku tidak seperti itu."
"Sekarang pakai gaunmu.
Aku yakin kamu akan terlihat seperti bidadari."
Aluna terkekeh mendengar pernyataan Ariana yang menurutnya terdengar sangat lucu.
Aluna kemudian mengenakan gaunnya.
Dengan balutan gaun bewarna merah yang membentuk lekuk tubuhnya semakin membuat Aluna terlihat sangat anggun.
Kulit putihnya juga tampak bersinar.
"Kamu benar-benar sangat cantik Aluna."
"Aku mohon jangan katakan itu lagi Ariana."
"Baiklah baiklah.
Tapi jangan sampai kau mencuri hati semua pria di sana."
"Ariana..."
Aluna berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan rumah.
Pengawal Russel membukakan pintu mobil untuknya.
Russel mengarahkan tatapannya ke samping.
Diam-diam ia mengangumi kecantikan Aluna.
Aluna terlihat sangat cantik malam ini.
Tidak, baginya Aluna memang wanita yang sangat cantik.
Kecantikan Aluna sangat berbeda dengan wanita lain.
Hanya saja hati dan pikiran wanita itu hingga saat ini belum bisa ia miliki.
Usaha yang ia lakukan selama ini bisa dikatakan sia-sia.
Walaupun sudah terpisah dari pria itu, Aluna tetap tidak memberikan kesempatan padanya.
Tapi walaupun begitu, Aluna akan selamanya menjadi miliknya.
Dia tidak akan membiarkan Axel merebut Aluna dari dirinya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan hotel dimana pertemuan itu diadakan.
Russel berjalan bersama Aluna.
Sebelum memasuki hotel, Russel menaruh tangannya pada pinggang Aluna.
Sontak hal itu membuat Aluna terkejut dan berniat menjauhkan dirinya.
"Kau datang sebagai Istriku.
Jadi kau harus bertingkah layaknya Istri yang sangat mencintaiku!
Ingat, kau tidak boleh bertingkah bodoh di sini.
Semua orang akan memantau setiap perilakumu!"
ucap Russel dengan nada memerintah.
Akhirnya Aluna menyerah dan membiarkan tangan Russel merengkuh pinggangnya.
Russel tersenyum puas.
"Tersenyumlah!
Riasan yang kau gunakan akan sia-sia jika kau memasang raut wajahmu seperti itu."
Aluna hanya diam dan kemudian mengikuti langkah Russel.
Semua mata tertuju pada Aluna dan Russel yang memasuki hotel.
__ADS_1
Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi.
Aluna yang terlihat sangat cantik dan Russel yang terlihat tampan.
Dan benar saja, semua pasang mata tidak henti-hentinya mengagumi kecantikan Aluna.
Bahkan semua wanita di sana iri dengan kecantikan yang dimilikinya.
Termasuk sang pria yang tengah menatap tajam pada dua orang yang menjadi pusat perhatian itu.
Pandangannya tertuju pada tangan Russel yang merengkuh erat pinggang gadis yang akhir-akhir ini sangat mengacaukan dirinya.
Hatinya panas melihat pemandangan itu.
Ia tidak suka Aluna disentuh oleh pria lain.
Terlebih saat ini Aluna terlihat sangat cantik.
Pasti banyak pria di sana yang begitu terpukau dengannya.
Russel menghampiri salah seorang rekan bisnisnya yang berdiri bersama Istrinya.
"Tuan Richard, selamat malam."
"Selamat malam Tuan Russel."
"Apa wanita cantik ini Istri anda Tuan Russel?"
tanya Istri Richard.
"Anda benar Nyonya Merry.
Wanita cantik ini Istri saya, Aluna."
"Senang berkenalan dengan anda."
Aluna memperkenalkan dirinya pada Richard dan Merry.
"Saya dengar, Istri anda ikut menjalankan perusahaan juga.
Dan bahkan mengalami kemajuan yang pesat karenanya."
Russel tersenyum dan kemudian melihat ke arah Aluna yang juga memasang senyumnya.
"Istri saya memang berpengaruh dalam kemajuan perusahaan saya Tuan Richard.
Selain cantik, ia juga wanita yang sangat cerdas."
Russel kemudian mencium pipi Aluna.
Aluna begitu terkejut dengah tindakan yang dilakukan Russel itu.
Ia ingin marah, namun ia tidak bisa.
Semua orang juga sedang melihat ke arah mereka.
Tiba-tiba mata Aluna menangkap Axel yang tengah berdiri tidak jauh mereka
Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam.
Jantung Aluja berdetak dengan kencang.
Seketika ia teringat dengan kejadian malam itu.
Sekian lama mereka tidak bertemu dan akhirnya dipertemukan di acara itu.
"Terima kasih sayang."
ucap Russel dengan nada mesra.
"Anda sangat beruntung memiliki Istri seperti Nona Aluna.
Kami berharap kalian memiliki anak secepatnya."
"Kami juga berharap seperti itu Nyonya Merry.
Sepertinya kami harus memiliki waktu berdua yang banyak lagi."
Richard dan Merry tertawa mendengar penuturan Russel.
Sementara Aluna hanya bisa tersenyum masam.
Rasanya ia ingin segera pergi dari tempat itu.
Selama berjalannya acara, Aluna memaksakan dirinya tersenyum di depan orang banyak.
Russel tidak henti-hentinya mengajaknya mengobrol bersama rekan kerjanya.
Akibatnya ia harus memasang topeng bahagianya.
Belum lagi ia harus menerima semua perlakuan Russel yang menunjukkan pada semua orang bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia.
Dirinya sangat tidak ingin berada di posisi itu.
Ia juga baru menyadari bahwa Axel juga berada di sana.
Pria itu pasti melihat semuanya.
Apa yang akan dipikirkan Axel tentang dirinya?
Entah mengapa sekarang ia merasa terikat dengan Axel.
Ya, memang karena kejadian malam itu.
Axel menjadi pria pertama yang menyentuhnya.
Tentu saja hal itu sangat mempengaruhinya.
"Aku ke toilet sebentar."
ucap Aluna pada Russel.
Russel melepaskan tangannya pada tubuh Aluna dan kemudian tersenyum tipis.
Aluna kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Rasanya ia begitu lega bisa lepas dari kondisi yang sedari tadi mengikatnya itu.
Aluna masuk ke dalam kamar mandi.
Ia meletakkan tasnya dan kemudian menghidupkan keran air.
Tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka dan kemudian dikunci dari dalam.
Merasa aneh, Aluna membalikkan badannya.
Dan ia begitu terkejut melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya.
"Kau...
Apa yang kau lakukan di sini?
Apa kau tidak tahu ini toilet wanita?"
__ADS_1
"Kau bersenang-senang malam ini?"
tanya Axel dengan nada datar.
Aluna menatap Axel sekilas dan kemudian mengambil tasnya berniat keluar dari sana.
Namun Axel menghentikan langkahnya.
Pria itu memegang erat tangannya.
"Lepaskan aku!"
Aluna berusaha melepaskan tangannya dari Axel.
"Jawab aku, apa kau benar-benar menikmati acara malam ini, hah?"
Nada bicara Axel berubah menjadi tinggi.
"Tentu saja.
Aku sangat menikmatinya!"
"Benarkah?
Bagaimana jika Suamimu tahu mengenai kejadian malam itu?
Apa setelah itu kau masih bisa menikmati acara ini?"
Ucapan Axel seketika membuat Aluna menjadi tegang.
Namun ia kemudian memasang raut wajah santai.
Seolah ia baik-baik saja.
"Kau berniat memberitahunya?
Beritahu saja.
Aku tidak takut sama sekali.
Kau tahu, Suamiku itu sangat mencintaiku.
Jadi walaupun nanti kau memberitahunya tentang kejadian malam itu, ia akan tetap menahanku di sisinya.
Ia tidak akan melepaskanku!"
Axel begitu marah dengan ucapan yang dilontarkan Aluna.
Gadis itu sama sekali tidak mengerti perasaannya.
Axel kemudian memasang senyuman menyeringai
"Benarkah?
Kalau begitu kita harus mengulang kembali kejadian malam itu di sini.
Aku ingin melihat seberapa besar cinta Suamimu itu padamu."
Aluna membelalakkan matanya.
Pernyataan Axel membuatnya takut.
Ia kemudian langsung melepaskan tangannya dari Axel.
Namun bukannya terlepas dari Axel, dirinya semakin menempel pada pria itu.
Axel menarik tubuhnya dan kemudian menciumnya dengan menuntut.
Aluna berusaha melepaskan dirinya dari Axel.
Ia memukul-mukul tubuh Axel.
Namun pria itu tidak juga berhenti.
Axel ******* bibir Aluna seolah mengutarakan perasaannya yang ia alami selama ini saat tidak bertemu dengan Aluna.
Bahkan ia juga begitu cemburu melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Aluna dan Russel tadi.
Rasanya ia begitu ingin membunuh pria itu.
Aluna sama sekali tidak berdaya saat ini.
Ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan Axel.
Lama berciuman, Axel kemudian melepaskan ciumannya.
Matanya menatap mata Aluna yang berair.
Ia kemudian menghapus air mata itu dengan lembut.
"Aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih jauh dari ini Aluna.
Dan asal kau tahu, aku sama sekali tidak menyesali kejadian malam itu.
Bukan Suamimu tapi aku pria yang pertama menyentuhmu.
Jadi dia sama sekali tidak berhak atas dirimu.
Aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu."
Aluna hanya bisa diam dan menundukkan wajahnya.
"Apa kau sengaja menghindariku?
Waktu itu kau bahkan pergi tanpa mengatakan apapun padaku."
"Jawab aku Luna.
Mengapa kau menghindariku seperti ini?"
Aluna menatap wajah Axel.
Terlihat raut kekecewaan di sana.
Axel kemudian membawa Aluna ke dalam pelukannya.
"Aku mohon jangan seperti ini."
Aluna perlahan melepaskan pelukan Axel dari tubuhnya.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan."
Ia kemudian mengambil tasnya.
Sekilas ia melihat ke arah Axel dan kemudian melangkahkan kakinya.
"Kau milikku.
Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi!"
Aluna menghentikan langkahnya sebentar dan kemudian kembali berjalan.
Aluna keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Axel juga langsung keluar dari kamar mandi.
Jangan sampai ada yang curiga melihatnya keluar dari toilet wanita.