Revenge For Love

Revenge For Love
Jatuh kedua kali


__ADS_3

Aluna masih berdiri di depan kamar Axel.


Sedari tadi ia menunggu kedatangan Axel yang belum pulang.


Jujur saja, Aluna sangat khawatir dengan pria itu.


Ia takut terjadi apa-apa pada Axel.


Sementara Axel sedang berada di dalam mobilnya.


Setelah berhasil menenangkan dirinya, ia memutuskan untuk kembali.


Namun ia sama sekali tidak berniat masuk ke dalam hotel.


Ia tidak mau momen kemesraan Russel dan Aluna kembali membayanginya.


Dan bisa ia pastikan, saat ini Russel berada di dalam kamar Aluna.


Axel memijat keningnya.


Ia kemudian bersandar di bangku mobil dan meletakkan tangan kanannya di kepalanya.


Axel perlahan menutup kedua matanya.


Aluna semakin gusar.


Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dini hari.


Ia tidak akan bisa menunggu Axel dan berdiri seperti itu sampai besok.


Aluna kembali menatap kamar Axel.


Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya.


Ia memutuskan akan menemui Axel besok.


Keesokan paginya, Axel terbangun dari tidurnya.


Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 Pagi.


Axel kemudian membawa jaketnya dan keluar dari mobil.


Axel masuk ke dalam hotel.


Ia berjalan menuju lift.


Setelah lift terbuka, Axel melangkahkan kaki menuju kamar.


Saat berada di depan kamarnya, sekilas ekor matanya menoleh ke arah kamar Aluna.


Sebelum perasaan itu kembali menghinggapinya, ia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Satu jam kemudian, Axel keluar dari kamarnya.


Lagi-lagi ia tidak ingin berlama-lama di kamarnya.


Ia akan pergi untuk melupakan segalanya tentang Aluna.


Ia baru menyadari bahwa tidak seharusnya ia kembali menaruh perasaan pada gadis yang sudah menghianatinya.


Sinar matahari membangunkan Aluna dari tidurnya.


Aluna perlahan mengedipkan kedua matanya yang terkena silau matahari.


Tidak lama kemudian, Aluna langsung bangun dari tidurnya.


Ia melangkah dengan cepat keluar kamarnya.


Aluna kemudian mendekati kamar Axel.


Ia tersenyum tatkala melihat kamar Axel terbuka.


Ia langsung mesuk ke dalamnya.


Namun senyumannya memudar saat tidak melihat Axel di sana.


Seseorang tiba-tiba muncul.


"Apa Nona mencari Tuan Axel?"


Aluna langsung mrnganggukkan kepalanya.


"Tuan Axel keluar pagi-pagi sekali Nona.


Dan beliau belum kembali sampai saat ini.


Kebetulan saya bertemu dengan Tuan Axel saat keluar dari kamarnya."


"Apa ia mengatakan sesuatu padamu?"


"Tuan Axel pergi tanpa mengucapkan apapun Nona."


Aluna menarik napas panjang.


Ia kemudian menekuk wajahnya.


"Baiklah, terima kasih."


"Sama-sama Nona."


Aluna keluar dari kamar Axem dengan raut wajah gusar.


Apa Axel sengaja menjauhinya karena kejadian semalam?


Aluna benar-benar tidak bisa melakukan apapun saat ini.


Ia juga sudah menghubungi Axel, namun pria itu sama sekali tidak menjawab panggilannya.


Sementara saat ini Axel sedang berada di apartemen salah satu teman dekatnya yang bernama Rexi.


Axel perlahan membuka matanya setelah tidur berjam-jam.


Sebenarnya saat keluar dari hotel, ia masih sangat mengantuk.

__ADS_1


Hanya saja ia memaksakan dirinya untuk pergi.


Ia kemudian berganti posisi menjadi duduk.


"Kau sudah bangun?


Kau makanlah. Kau belum makan apapun sejak datang kesini."


Rexi meletakkan tampan yang berisi makanan di depan Axel.


Axel mulai memakan makanan itu.


"Kau belum cerita mengapa kau datang seperti ini ke apartemenku.


Bukankah sebelumnya kau mengatakan padaku bahwa kau datang ke kota ini untuk melakukan salah satu aksi balas dendam mu pada Aluna?"


Axel tidak menjawab pertanyaan Rexi.


Ia sibuk menghabiskan makannya.


"Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Aluna."


"Diamlah Rexi.


Dan tolong jangan sebut nama gadis itu lagi."


Rexi mencoba memikirkan sesuatu.


Dari raut wajah Axel, bisa ia pastikan ada sesuatu yang tidak beres.


"Apa kau masih memiliki perasaan pada Aluna?"


Kalimat Rexi menghentikan kegiatan Axel.


Ia kemudian menatap Rexi dengan tatapan kesal.


"Aku sudah tidak berselera makan lagi karenamu."


Axel kemudian berdiri dan melangkah keluar dari apartemen Rexi.


Rexi berdiri dan menatap kepergian Axe.


"Hey, ayolah Axe.


Kau harus mengatakan sesuatu padaku."


Rexi menyunggingkan senyumnya.


Tingkah Axel benar-benar lucu dan hal itu cukup membuatnya bertanya-tanya.


Setelah kedatangannya yang tiba-tiba, dan sekarang ia kesal hanya karena ia menyebutkan nama Aluna.


Rexi keluar dari apartemennya dan langsung menyusul Axel yang sudah turun ke bawah.


Beberapa menit kemudian, mobil Axe terparkir di suatu tempat.


Axel keluar dari mobilnya.


Ia kemudian menghampiri Axel.


"Aku tidak menyangka kita akan datang ke tempat ini lagi sejak setahun terakhir."


"Ayo masuk." ucap Axe.


(Dia memang benar-benar ada masalah rupanya)


Axel dan dirinya sudah berteman selama 2 tahun ini.


Awalnya mereka saling mengenal karena bisnis yang pernah mereka jalankan.


Hingga akhirnya ia dan Axel berteman dekat.


Bukan hanya dengan Axel, tapi ia juga berteman dekat dengan James.


Jadi ia sudah cukup mengenal bagaimana Axel.


Axel dan Rexi masuk ke dalam bar yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.


Salah satu bar yang dikunjungi para kalangan atas tentunya.


Mereka kemudian duduk di salah satu meja yang telah dipesan.


Seorang pelayan datang membawa minuman untuk mereka.


Axel kemudian menuangkan salah satu botol ke gelasnya.


Tanpa menunggu lama, ia langsung meneguknya.


Ia kembali menuangkan botol itu ke dalam gelasnya hingga beberapa kali tegukan.


Hal itu membuat Rexi cukup tercengang.


"Kau benar-benar ada masalah Axe.


Kau harus menceritakannya padaku."


Axel berniat meneguk kembali minumannya, namun Rexi menghentikannya.


"Kau bisa mabuk jika terus begini Axe."


Axel melepaskan tangan Rexi, dan kemudian meneguk minumannya.


Rexi menarik napas panjang.


"Apa ini ada kaitannya dengan Aluna?"


Awalnya Axel tidak menjawab, namun ia akhirnya membuka suara.


"Saat ini gadis itu pasti sedang bersenang-senang dengah Suaminya." ucap Axel dengan nada datar.


Dari raut wajah Axel, Rexi yakin Axel masih mencintai Aluna.


Ada makna cemburu pada kalimat yang diucapkannya.

__ADS_1


"Apa itu sangat mengganggumu hingga kau bertingkah aneh seperti ini?"


"Tentu saja Rexi.


Rasanya ia kembali menghianatiku.


Tidak, sekarang lebih parah dari sebelumnya.


Dulu ia pergi dan menikah dengan pria lain.


Tapi tidak secara terang-terangan.


Dan sekarang ia bermesraan dengan pria itu di depan mataku."


"Kau benar-benar masih mencintainya Axe.


Jika kau tidak mencintainya, kau tidak akan bereaksi seperti ini.


Sebaliknya, kau pasti akan semakin teguh untuk balas dendam."


"Aku tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.


Gadis itu berhasil membuatku jatuh untuk kedua kalinya.


Rencananya memang berhasil."


"Kau tidak harus membalaskan dendammu jika kau memang mencintainya Axe."


"Tidak, aku tidak akan membuat semuanya berakhir sia-sia Rexi.


Aku akan tetap balas dendam padanya.


Aku sudah mengorbankan segalanya hingga berakhir sejauh ini.


Dan kali ini, aku juga pasti bisa mengorbankan perasaanku." ucap Axel dengan tatapan tajam.


--


Hari sudah semakin malam.


Namun kedua pria itu masih berada di tempat yang sama.


Axel kembali meneguk minumannya.


"Kau sudah mabuk Axe.


Jika kau melanjutkannya, kau tidak akan bisa berkendara dengan kondisi seperti ini."


"Tenanglah Rexi.


Kau membuatku kesal sedari tadi."


"Baiklah, aku akan berhenti.


Kau puas?"


Axel kemudian berdiri.


"Kau mau kemana?"


"Aku akan pergi ke kamar mandi."


Axel berjalan sambil memijit keningnya.


Kepalanya mulai terasa sakit akibat banyak minum.


Setelah sampai di kamar mandi, ia langsung mencuci wajahnya.


Ia melihat ke arah cermin.


Tiba-tiba wajah Aluna muncul di cermin itu.


Axel mengepal tangannya dengan erat.


Ia kembali mencuci wajahnya namun wajah cantik itu masih berada di sana.


Hal itu membuat Axel begitu kesal, hingga ia menghancurkan cermin itu menggunakan tangannya.


Darah segar keluar dari tangan Axel.


Namun hal itu tidak membuatnya kesakitan.


Axel kembali mengepal tangannya.


Rexi begitu terkejut melihat tangan Axel yang berlumuran darah.


"Axe apa yang terjadi dengan tanganmu?"


"Aku ingin pulang.


Tolong bayar tagihannya, aku akan menggantinya nanti.


Selanjutnya aku pasti akan menghubungimu terlebih dahulu sebelum datang ke apartemenmu."


Axel kemudian berlalu pergi meninggalkan Rexi yang masih begitu terkejut dengan tangannya.


"Axe...


Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Dasar!!!"


Setelah sampai di parkiran, Axel langsung masuk ke dalam mobilnya.


Ia melajukan mobilnya menuju hotel.


Kali ini ia akan kembali ke sana.


Ia tidak akan mungkin merepotkan Rexi dengan perbuatannya.


Dan mulai besok, ia akan bersikap biasa pada Aluna.


Seolah tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2