Revenge For Love

Revenge For Love
Salah tingkah


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama, mereka berjalan ke parkiran mobil.


"Aku akan mengantarmu Aluna.


Kamu terlihat tidak baik-baik saja."


"Tidak perlu Gerald, aku bisa pulang sendiri.


Lagian aku baik-baik saja."


Gerald tetap kekeh mengantar Aluna pulang.


Bahkan kali ini ia berani memegang tangan Aluna.


Aluna begitu terkejut saat menerima perlakuan Gerald.


Ia kemudian perlahan melepaskan tangannya dari Gerald.


Sudut matanya melihat ke arah Axel yang juga sedang menatap mereka.


Pria itu pasti semakin menilai buruk dirinya.


"Maafkan aku Aluna.


Aku hanya khawatir terjadi sesuatu denganmu.


Aku mohon pulanglah bersamaku Aluna."


"Baiklah Gerald."


Aluna merasa segan untuk menolak perlakuan baik Gerald.


Ia juga bisa melihat Gerald tulus menawarkan bantuan padanya.


"Sayang, ayolah.


Antar aku kembali ke apartemenku." ajak Rose pada Axel.


Sementara Axel hanya diam tidak menanggapi ajakannya.


Sedari tadi mata Axel menatap wajah Aluna yang memang terlihat begitu pucat.


Aluna juga tampak berbeda dari biasanya.


Sebelumnya gadis itu terlihat kuat di depannya bahkan Aluna selalu menanggapi setiap ucapan kasarnya dengan santai.


Namun hari ini sangat berbeda.


"Kita berpisah di sini Pak Axel.


Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya."


"Baik Pak Gerald."


Aluna langsung berjalan mengikuti langkah Gerald tanpa melihat ke arah Axel.


Ia tidak ingin melihat tatapan kebencian itu lagi.


Aluna dan Gerald masuk ke dalam mobil.


Dan kemudian Gerald melajukan mobilnya.


Setelah kepergian mereka, Axel masuk ke dalam mobilnya.


Rose berniat masuk ke dalam mobil Axel, namun ia tidak sempat karena Axel melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


"Sial!" ucapnya dengan nada kesal.


--


Ariana saat ini sedang belanja di supermarket.


Kali ini ia belanja sendirian mengingat Aluna akhir-akhir ini sibuk.


Sehingga ia tidak tega jika harus mengajak Aluna.


Aluna juga harus istirahat.


Setelah selesai membayar semua belanjaannya, Ariana kemudian mengangkat semuanya dengan kedua tangannya.


Ia tidak membawa troli karena ia pikir ia bisa membawa semuanya.


Namun hal yang terjadi malah sebaliknya.


Ariana tidak mampu membawa belanjaannya yang cukup banyak sehingga semuanya jatuh ke tanah.


"Apa yang harus kulakukan?"


Ariana melihat semua belanjaanya berserakan di tanah.


Berniat mengumpulkan semuanya kembali,seseorang malah mendahuluinya.


Pria itu membantunya mengumpulkan belanjaanya.


Hal yang pernah ia alami sebelumnya, saat dokumennya terjatuh dulu.


Dan tidak disangka, seseorang yang membantunya saat ini juga adalah pria yang sama dengan pria yang membantunya waktu itu.


Ariana memandang James dengan lekat.

__ADS_1


Tiba-tiba ia tersadar, dan kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Ia mengingat bahwa James adalah teman baik Axel.


"Terima kasih."


Ariana kemudian membawa belanjaannya satu per satu.


"Aku akan membantumu membawanya Nona."


"Tidak perlu Tuan.


Aku bisa membawanya semuanya sendiri."


Ariana berusaha menjangkau semua belanjaanya dengan kedua tangannya.


Walaupun ia tahu itu tidak akan berhasil.


Ia memang membutuhkan bantuan orang lain untuk membawa sebagian belanjaanya.


James tersenyum.


Ariana memang gadis yang sangat keras kepala.


Ia kemudian menarik sebagian belanjaan Ariana dari tangannya.


James sama sekali tidak menghiraukan tatapan Ariana yang akan pastinya ingin menolak bantuannya.


Ia kemudian berjalan meninggalkan Aluna.


Sesampainya di tempat parkir, James menghampiri Ariana.


"Dimana mobilmu?


Aku akan menaruh semua barang-barangmu di sana."


"Aku tidak membawa mobil.


Terima kasih bantuanmu.


Aku akan membawanya semuanya sendiri."


Ariana mendekati James, berniat mengambil belanjaanya.


Namun James malah menghindarinya.


"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak, aku bisa pulang menggunakan taksi."


Lagi-lagi James tidak menghiraukannya.


Pria itu malah berjalan ke mobilnya dan memasukkan belanjaanya ke sana.


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana Nona?


Masuklah. Aku akan mengantarmu pulang."


Ariana terdiam sejenak.


Namun akhirnya ia melangkahkan kakinya mendekati James dan masuk ke dalam mobilnya.


Lagi-lagi James tersenyum akibat tingkah lucu Ariana.


Selama di perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka.


Sesekali James melihat ke arah Ariana yang hanya diam sedari tadi.


Ia tahu dengan pasti mengapa respon Ariana sekarang sangat berbeda dari awal mereka bertemu.


Ariana pasti menganggapnya pria yang buruk sama seperti Axel.


Entah mengapa James tidak tahan dengan sikap yang ditunjukkan Ariana saat ini padanya.


Ia kemudian menepikan mobilnya.


Ariana juga menyadarinya.


Ia bingung dengan tindakan yang dilakukan James.


Ariana kemudian melihat ke arah James yang menatap lurus ke depan.


Lalu pria itu menatapnya.


"Kau masih menilaiku pria yang buruk, bukan?


Aku tahu bagaimana perasaanmu saat melihat Ariana terluka.


Sama dengan perasaan yang kualami saat melihat Axe terluka.


Kita berada di posisi yang sama.


Sama-sama tidak ingin melihat sahabat kita terluka.


Aku bersahabat dengan Axe, bukan berarti aku mendukung perbuatan buruknya.


Aku juga mengenal Aluna dan mengetahui bagaimana dirinya.


Aku menjadi saksi perjuangan cinta mereka.

__ADS_1


Dan aku juga sebenarnya tidak yakin bahwa Aluna tega melakukan semua itu pada Axe tanpa alasan apapun."


"Jika kau memang mengetahui semua kebenarannya, itu bagus Ariana.


Itu artinya dugaanku selama ini memang benar.


Bahwa Aluna tidak bersalah.


Dan sebagai sahabat, kita harus menyatukan keduanya kembali."


"Aku rasa itu tidak akan terjadi Tuan."


"Mengapa kau mengatakan seperti itu Ariana?"


Ariana mengerutkan keningnya.


Tidak biasanya James menyebutnya dengan namanya.


"Aku rasa kita tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu formal Ariana.


Aluna sudah kuanggap seperti adikku sendiri.Itu berarti kau sahabat adikku bukan?


Dan mulai sekarang kau juga harus memanggilku dengan nama."


"Baiklah.


Terserah kau sajalah."


James terkekeh melihat raut kesal di wajah Ariana.


"Dan sekarang kau boleh menjawab pertanyaanku tadi.


Mengapa kau mengatakan bahwa Aluna dan Axe tidak bisa bersatu kembali?"


"Kau mengetahui dengan pasti bagaimana perilaku buruk Kak Axel pada Aluna.


Kak Axel begitu membeci Aluna.


Bahkan ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Aluna untuk menjelaskan kebenarannya."


"Iya kau benar Ariana.


Namun apa yang kau pikirkan itu tidak sepenuhnya benar.


Aku yakin Axel masih sangat mencintai Aluna.


Hanya saja kemarahannya menutupi perasaannya.


Ia juga semarah itu karena ia begitu mencintai Aluna, bukan?


Bisa kau bayangkan apa yang Axel rasakan saat mengetahui bahwa gadis yang begitu ia cintai tega menghianatinya."


"Jadi apa yang harus kita lakukan James?"


"Untuk saat ini kita harus membiarkan Axe menyadari perasaannya sendiri.


Aku yakin perlahan perasaan itu akan tumbuh kembali."


"Hem, kau benar James.


Hal yang terpenting adalah mengembalikan perasaan mereka berdua."


"Ngomong-ngomong, apa kau sudah tidak marah lagi padaku?"


"Aku sama sekali tidak pernah marah padamu."


"Benarkah?


Tapi mengapa kau sangat berbeda dari pertemuan pertama kita?


Kau berubah sejak mengetahui bahwa aku adalah teman Axe."


"Tidak waktu itu aku hanya kesal saja.


Tapi aku tidak marah ataupun sekalipun membencimu karena Kak Axel."


"Baguslah.


Itu berarti, mulai saat ini aku akan mendapatkan senyumanmu kembali."


"Apa?"


Ariana tidak memgerti maksud ucapan James.


"Sebelumnya kau tersenyum manis padaku.


Namun setelahnya, kau berubah menjadi cuek padaku."


Ariana tersenyum mendengar jawaban konyol James.


Entah mengapa, James senang bisa melihat senyum itu lagi.


"Aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti itu."


Kali ini Ariana terdiam mendegar ucapan James.


Mereka berdua saling bertatapan.


Hingga suara klakson mobil dari belakang memutuskan kontak mata mereka.

__ADS_1


Keduanya tersenyum salah tingkah.


James kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan kembali melajukan mobilnya.


__ADS_2