Revenge For Love

Revenge For Love
Pilihan


__ADS_3

Aluna perlahan membuka matanya.


Ia mengedipkan matanya sejenak sebelum menyadari apa yang terjadi padanya.


Sontak ia langsung terbangun dari tempat tidur.


Aluna memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Kemudian ia melihat sekelilingnya.


Ia menatap sekelilingnya dengan penuh tanya. Sekarang ia berada di ruangan yangl tidak ia kenali.


Dan mengapa ia bisa berada di sana?


Aluna mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tadi kemarin padanya.


Kemarin ia menunggu Axel di taman.


Dan di sana, ia bertemu dengan 2 orang penjaga yang mengurungnya dulu.


Ya, pasti mereka yang membawanya ke sini.


Dan Axel, Pria itu pasti menunggunya di sana.


Ia harus segera bertemu dengan Axel.


Aluna langsung turun dari tempat tidur, dan berjalan ke pintu.


Pintu ruangan itu terkunci.


"Buka pintunya!"


Aluna menggedor pintu itu.


Tiba-tiba seseorang membuka pintu itu dari luar.


Aluna memundurkan langkahnya.


Kali ini, siapa yang sedang mengurungnya?


Alda?


Bukankah Maminya itu sudah menyetujui hubungannya dengan Axel?


Kalau begitu, siapa lagi?


Tidak mungkin bila ia sedang diculik.


Rasa penasaran mulai menghantui Aluna.


Namun, saat melihat sosok yang berada di hadapannya ia begitu terkejut sekaligus marah di dalam hati.


Pria yang sempat membuatnya begitu kesal karena perkataannya di Malam itu.


"Kamu sudah bangun rupanya sayang.


Apa tidurmu nyenyak?"


Pria itu tersenyum padanya.


"Jadi kau yang telah menculikku?


Apa maksudmu membawaku ke sini? "


Russel mendekat pada Aluna.


Sontak hal itu membuat Aluna memundurkan langkahnya.


Ia tidak suka berdekatan dengan Russel.


"Kamu tahu? Kamu sangat cantik dengan ekspresi kesalmu itu."


"Aku tidak peduli dengan pendapatmu.


Jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku, lebih baik aku pergi dari sini."


Aluna melangkahkan kakinya.


Namun saat ia hampir berada di ujung pintu, Russel menarik tangannya.


"Jika kamu pergi, aku tidak akan segan-segan membunuh pria itu."


Aluna begitu terkejut mendengar perkataan Russel.


Ia langsung membalikkan badannya dan kemudian melepaskan tangannya dari Russel.


Aluna berdiri di hadapan Russel.


"Apa maksudmu? Siap Pria yang kau maksud?"


Russel tersenyum tipis dan kemudian menatap Aluna.


"Pria yang kemarin menunggumu di taman.


Dia sudah sekarat. Apa aku harus melakukannya lagi agar kamu tetap tinggal di ruangan ini?"


Aluna merasa kalut saat ini.


Aluna kemudian mendekat pada Russel dan menarik baju Pria itu.


Perkataan Russel membuatnya meledak-ledak.


"Apa yang telah kau lakukan pada Kak Axel?"

__ADS_1


Russel hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Aluna.


"Jawab aku!!


Mengapa kau menyakitinya? Apa aku berbuat salah padamu? Maafkan aku jika perkataanku Malam itu telah menyakitimu."


Aluna menundukkan wajahnya.


Napasnya tersenggal-senggal.


Ia menatap Russel lagi.


"Aku mohon jawab pertanyaanku." ucap Aluna dengan nada memohon.


Russel sama sekali tidak menjawabnya, hingga sinar yang muncul dari sampingnya membuat pandangan teralihkan.


Sebuah video diputar di sana.


Aluna perlahan melepaskan baju Russel.


Ia menatap ke arah video itu.


Hatinya begitu teriris melihat sosok yang begitu dicintainya sedang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai


Kepalanya bercucuran darah dan wajahnya babak belur.


Aluna memandang lekat video itu.


Ia perlahan meneteskan air matanya.


Hatinya hancur, sangat hancur.


Aluna menangis tersedu-sedu.


Ia kemudian menghapus air matanya dan berbalik menuju Russel yang saat ini tengah memandangnya dengan datar.


"Aku minta maaf.


Aku sangat minta maaf.


Perkataanku malam itu pasti yang membuatmu melakukan kejahatan ini."


Aluna berusaha mengontrol dirinya.


Ia berusaha agar tidak meluapkan kemarahannya lagi pada Pria itu.


Aluna tidak ingin membuat Pria itu melukai Axel lagi.


"Aku mohon lepaskan dia.


Di sama sekali tidak bersalah. Bahkan, ia tidak tahu apa-apa soal malam itu."


"Aku tidak akan melepaskannya."


Ia sangat ingin memukul wajah Pria jahat yang berada di hadapannya itu.


Russel mendekat pada Aluna.


"Kamu mengira bahwa aku melakukan semuanya ini karena perkataanmu malam itu?


Kamu begitu polos rupanya sayang."


"Brengsek!


Jadi apa yang membuatmu melakukan semua ini? Kau pria yang jauh lebih jahat dari perkiraanku tadi.


Bagaimana bisa kau melakukan semua ini, hah? "


Aluna meluapkan kemarahannya pada Russel.


Aluna tidak bisa menahannya lagi.


Pria ini telah melukai Axel.


"Aku akan melaporkanmu ke Polisi.


Aku tidak akan memafkanmu.


Jangan pernah berpikir bahwa aku akan melepaskanmu ********." ucap Aluna.


Ia langsung melangkahkan kakinya keluar kamar.


Namun saat ingin keluar, ia bertemu dengan Alda yang datang dari luar.


"Mami... "


ucap Aluna dengan nada terkejut.


Aluna menutup mulutnya.


"Apa Mami..."


"Sayang...


Russel juga membawa Mami ke sini.


Dia mengancam akan membunuh kamu dan Axel."


Aluna mengepalkan tangannya.


Alda mendekat pada Aluna.


"Apa dia menyakitimu sayang? Katakan pada Mami."

__ADS_1


Aluna menatap Alda dengan penuh tanya.


Apa pria itu juga nanti akan menyakiti Alda?


"Aluna tidak apa-apa Mi."


Russel tersenyum licik.


Alda dapat berakting sebagus itu rupanya.


Ia kemudian menghampiri mereka.


"Kau membawa Mami juga ke sini?" tanya Aluna. Ia tidak menyangka Russel akan melakukan perbuatan sejahat itu.


"Aku pikir, Ibumu belum mengatakan apapun padamu Aluna."


Aluna memandang Russel dan Alda satu per satu. Begitu banyak pertanyaan di pikirannya.


Alda kemudian tertunduk seolah-olah telah berbuat kesalahan.


"Ibumu telah meminjam banyak uang banyak padaku. Ia meminjam uang itu untuk menyelamatkan perusahaan kalian yang terancam bangkrut.


Saat itu ia tidak memberikan jaminan apa-apa padaku. Ia hanya mengatakan bahwa ia berjanji akan mengabulkan apa saja yang kuminta.


Dan sekarang aku ingin meminta janji itu."


Russel mendekat pada Aluna.


"Aku ingin kamu menikah denganku."


Aluna membelalakkan matanya.


"Aku tidak akan menikah denganmu.


Tidak akan! "


"Aku sudah mengetahu ini sejak awal sayang. Kamu pasti akan menolak lamaranku.


Makanya aku berbuat sejauh ini."


"Jadi ini alasanmu melukai Kak Axel?


Kau tahu, aku tidak akan pernah sudi menikah dengan pria jahat sepertimu.


Aku sangat sangat membencimu."


Russel sangat emosi mendengar ucapan Aluna padanya.


Ia kemudian memegang erat kedua lengan Aluna.


"Silahkan saja!


Aku akan membunuh Pria itu.


Dan.."


Russel menatap ke arah Alda.


"Aku akan mengambil perusahaan kalian.


Aku juga tidak segan-segan untuk membunuh Ibumu jika kamu menolak untuk menikah denganku.


Kamu tahu aku adalah pria yang yang sangat jahat bukan? "


Tubuh Aluna melemah.


Ia tidak tahu harus melakukan apa.


Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan.


"Kamu harus menentukan pilihanmu sayang.


Menikah denganku atau membiarkan Pria yang kamu cintai dan Ibumu menghilang dari muka bumi Ini."


Aluna menundukkan wajahnya.


Russel tidak akan bermain-main dengan keputusannya.


Axel, Pria yang dicintainya sedang sekarat di sana.


Bagaimana jika Russel benar-benar akan membunuh Axel?


Ia tidak akan sanggup kehilangan Axel.


Dan, ia tidak akan mungkin membiarkan Russel membunuh Alda.


Hanya Alda Keluarga satu-satunya.


Alda juga sangat berarti di dalam hidupnya.


"Aku akan memberikan waktu untukmu berpikir.


Tapi jangan membuatku menunggu terlalu lama sayang."


Russel tersenyum ke arah Alda dan kemudian keluar dari kamar.


Aluna meluruhkan tubuhnya ke lantai.


Ia kembali meneteskan air matanya.


Kebahagiaannya kini berganti menjadi penderitaan.


Ia tidak menyangka bahwa kebahagiaan yang dimilikinya kemarin hanya sementara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2