
Axel dan Valie sedang berada di mall untuk berbelanja.
Vallie masuk ke dalam toko pakaian dan Axel mengikuti Vallie dari belakang.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?"
tanya seorang karyawan toko itu.
"Hem, aku masih melihat-lihat dulu.
Nanti aku akan memanggilmu kalau ada yang aku perlukan."
"Baiklah Nona."
Vallie kemudian melihat ke arah Axel yang sedang berdiri dengan tangan terlipat.
Sementara pikiran Axel masih dipenuhi oleh Aluna.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Aluna di sana.
Pada saat gadis itu memanggilnya, rasa penasaran dan kemarahannya bercampur menjadi satu.
Penasaran bagaimana keadaan gadis itu setelah meninggalkannya.
Setelah melihat Aluna, bisa ia pastikan bahwa Aluna sangat baik-baik saja.
Gadis itu tampaknya begitu bahagia dengan kehidupan barunya.
Hingga membuat kemarahan Axel muncul kembali mengingat Aluna menghianati cintanya dan kemudian pergi meninggalkannya.
Pada saat Aluna mendekatinya, memeluknya dari belakang dan memegang tangannya, membuat kemarahannya semakin bertambah.
Aluna pasti berniat untuk mendekatinya kembali setelah melihat perubahannya sekarang.
Air mata gadis itu hanya sandiwara semata.
Aluna mencoba untuk menipunya lagi.
Hingga kedatangan Vallie ia manfaatkan untuk membuat Aluna terluka karena rencana busuknya itu tidak berhasil.
Ia bisa melihatnya dari mata Aluna saat menggenggam tangan Vallie.
Axel tersenyum puas.
(Ini baru awalannya saja Aluna.
Kau akan menerima luka yang lebih besar dari ini.)
Tiba-tiba Vallie menghampirinya.
"Kakak akan berdiri seperti itu sampai kita pulang?
Ayolah Kak. Aku mohon bantu aku memilihkan pakaian yang tepat untukku."
ucap Vallie dengan wajah memelas.
"Baiklah Vallie.
Kakak akan membantumu."
Vallie tersenyum gembira.
Sesuai dengan apa yang ia katakan, Axel memilihkan sebuah gaun bewarna putih untuk Vallie.
"Sepertinya kamu aku akan cantik menggunakan ini."
"Aku juga menyukainya Kak.
Aku akan mencobanya ke ruang ganti."
Vallie kemudian membawa gaun itu dan masuk ke dalam kamar ganti.
Vallie mencoba gaun itu.
Dan benar saja, gaun itu sangat pas di tubuhnya.
Vallie tersenyum melihat penampilannya.
Ia kemudian keluar dari sana.
Vallie meghampiri Axel yang sedang melihat-lihat pakaian.
Kedatangannya mengalihkan perhatian Axel.
Axel tersenyum melihat Vallie yang terlihat cantik menggunakan gaun pilihannya.
"Kamu terlihat cantik saat ini."
Pujian Axel membuat Vallie tersipu.
Ini pertama kalinya Axel memuji penampilannya.
Biasanya jika ia bertanya pada Axel mengenai penampilannya, Axel hanya mengangguk dan tersenyum.
Namun tidak kali ini, Axel langsung menyatakan pendapatnya.
"Terima kasih Kak."
"Nona, Tuan..
Toko kami memiliki baju pasangan terbaru.
__ADS_1
Saya pikir, sangat cocok untuk pasangan manis seperti Tuan dan Nona."
Wajah Vallie memerah mendengar ucapan karyawan itu.
Sementara Axel hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Memang banyak orang yang mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.
Ia sudah cukup terbiasa dengan itu.
Tak disangka, Vallie malah memegang lengannya dengan erat.
"Sepertinya kita harus mencobanya Kak."
"Vallie..
Bukankah Kakak sudah memberitahumu kalau aku..."
"Ayolah Kak.
Kita berdua tidak pernah memiliki pakaian yang sama."
ucap Vallie dengan wajah memelas.
"Benar Tuan.
Sepasang Kekasih akan terlihat lebih romantis saat menggunakan pakaian yang sama.
Benarkan Nona?"
Vallie langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah."
Axel akhirnya memilih untuk menyerah.
Karena jika ia menolak lagi, Vallie akan tetap memaksanya.
Jawaban Axel membuat Vallie semakin gembira.
"Baiklah, bawakan kami pakaian-pakaian itu Nona.
Kami akan memilihnya."
ucap Vallie pada karyawan itu.
"Sebentar kami ambilkan Nona."
Setelah mendapatkan pakaian yang cocok, Axel dan Vallie kemudian mencobanya.
Pilihan mereka jatuh pada hoodie dengan bawahan celana jeans.
Mata Vallie berbinar melihat penampilan Axel.
"Kakak terlihat berbeda dengan pakaian ini."
Kakak sangat tampan."
Axel hanya tersenyum tipis.
"Kakak harus sering menggunakan pakaian seperti ini.
Apa Kakak tidak bosan menggunakan kemeja terus saat berpergian?"
"Aku tidak mungkin memakai pakaian seperti ini ke kantor Vallie.
Aku harus memakai jas dan kemeja."
"Kenapa tidak Kak?"
"Bukankah Kakak Boss nya?"
"Lagian aku tidak menyukainya."
"Kenapa Kak?"
Axel hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Vallie.
Ia tidak pernah memakai pakaian seperti itu saat berpergian karena itu akan mengingatkannya pada pribadinya yang dulu.
Pria yang polos sehingga seorang Aluna dengan mudahnya menghianatinya.
Ia tidak ingin terjebak dengan masa lalu lagi.
Ia harus hidup dengan lembaran baru dengan Axel yang sekarang.
Axel yang sudah memiliki ambisi dan tujuan yang jelas.
Seseorang yang tidak mudah tertipu lagi pastinya.
"Apa Tuan dan Nona tidak mengambil foto berdua?"
Karyawan itu mendatangi mereka lagi.
"Itu ide yang bagus.
Boleh kamu mengambilnya untuk kami?"
"Tentu saja boleh Nona.
Saya akan mengambil foto Tuan dan Nona."
__ADS_1
"Baiklah ini kameraku."
Vallie kemudian mendekat pada Axel dan memegang lengannya.
"Kita akan menyimpan foto ini Kak.
Jadi bergayalah dengan baik.
Kakak mengerti?"
"Hem." singkat Axel.
"Kakak jawablah dengan benar!"
"Baiklah Vallie."
Vallie tersenyum puas mendengar jawaban Axel.
Vallie mulai bergaya, sementara Axel hanya menampilkan senyumnya dari tadi.
Tapi hal itu sudah cukup bagi Vallie.
Ia begitu bahagia melihat foto-foto itu.
Ia berjanji akan menyimpannya dengan sangat baik.
Setelah Axel membayar semua belanja Vallie,
Vallie mengajaknya membeli es krim yang berada tidak jauh dari sana.
Namun ia hanya berdiri dan membiarkan Vallie pergi sendiri.
Sekilas momen bersama Aluna dulu muncul di pikiran Axel.
Aluna yang dulu sering memintanya untuk membeli es krim kesukaannya.
Kalau ia tidak mengizinkannya, Aluna akan merengek dan berusaha membujuknya.
Axel langsung menepis kenangan itu.
Lagi-lagi Aluna masuk ke dalam pikirannya.
Axel mengepal tangannya dengan kuat.
Ia sangat membenci semua kenangannya bersama Aluna.
Setelah membeli es krim, Vallie langsung menghampiri Axel.
Ia tadi sempat terkejut saat tidak melihat Axel di dekatnya.
Ternyata Axel membiarkannya pergi sendiri.
"Aku pikir Kakak ikut membeli es krim tadi.
Apa Kakak mau aku membelikannya untuk Kakak?"
Axel menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu Kakak harus mencoba ini."
Vallie menyodorkan es krim yang berada di tangannya pada Axel.
"Tidak Vallie."
"Ayolah Kak."
Vallie tetap mengarahkan es krim itu pada Axel.
"Aku bilang tidak!"
Vallie terkejut saat mendengar Axel membentaknya.
"Kak aku.. "
Axel memijit keningnya.
"Maafkan Kakak Vallie.
Kakak tidak bermaksud membentakmu tadi.
Sebenarnya Kakak sangat tidak menyukai es krim."
"Maaf Kak. Aku baru mengetahuinya.
Lain kali, aku tidak akan melakukannya lagi Kak."
Axel tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita pulang.
Kakak akan mengantarmu."
Mereka kemudian pergi dari sana.
Vallie memandang ke arah Axel yang berada di depannya.
Masih banyak ternyata yang ia belum ketahui tentang Axel.
Walaupun sudah 3 tahun mengenal Axel, itu masih belum cukup untuk memahami apa yang pria itu suka dan tidak sukai.
Baiklah, mulai saat ini ia harus berusaha lebih keras lagi.
__ADS_1